Kategori: Kesehatan

Popular

Berita Terbaru

Permalink ke Bupati Pacitan: Masyarakat Semakin Puas Pelayanan RSUD dr Darsono
Headline, Kesehatan

Bupati Pacitan: Masyarakat Semakin Puas Pelayanan RSUD dr Darsono

Bupati Indartato saat meresmikan sejumlah proyek kesehatan di RSUD dr Darsono. (Foto: Ronny Wahyono/Facebook)

Pacitanku.com, PACITAN – Bupati Pacitan Drs H Indartato MM menyebut bahwa masyarakat Pacitan semakin puas pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Darsono Pacitan. Hal itu disampaikan Indartato saat meresmikan proyek fasilitas kesehatan (Faskes), Kamis (12/1/2017) kemarin di RSUD dr Darsono, Jalan Ahmad Yani nomor 51, Pacitan.

“Alhamdulillah aduan terkait keluhan layanan di RSUD dr.Darsono sepanjang tahun 2016 berkurang. hanya kisaran 11 aduan saja dan ini menjadi indikator, masyarakat semakin puas,”katanya, dilansir laman Pemkab Pacitan.

Menurut Bupati, jika pelayanan sudah baik maka masyarakat tidak lagi ragu. Apalagi jika fasilitas fasilitas yang ada tak kalah dengan rumah sakit diluar kota. Atas kondisi itu, Indartato meminta pelayanan semakin meningkat seiring semakin lengkapnya fasilitas.




“Keberadaan RSUD dr.Darsono diharapkan mampu menjawab kebutuhan masyarakat dalam mendapatkan layanan kesehatan dengan baik,  lembaga ini harus meningkatkan kualitas pelayanan, baik melalui peningkatan SDM serta peningkatan infrastruktur,”tandasnya.

Sebagaimana diberitkan sebelumnya, faskes baru di RSUD dr.Darsono adalah ruang untuk scaning serta unit Hemodialisa untuk pasien gagal ginjal. khusus fasilitas ini disediakan 10 unit mesin cuci darah untuk pasien gagal ginjal.

Sementara, direktur RSUD dr. Darsono Iman Dharmawan menyampaikan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap layanan RSUD dr. Darsono Pacitan semakin meningkat. “Tingkat kunjungan dalam dua tahun terakhir mencapai 17,6 persen, dengan angka kunjungan sebanyak 57 ribu pasien pada tahun 2015 naik 67 ribu kunjungan di tahun 2016,”paparnya.

Namun demikian, Iman tak menampik bahwa masih ada keluhan yang kerap disampaikan dalam pelayanan di RSUD dr Darsono.  

“Beberapa keluhan yang masih kerap disampaikan diantaranya, keramahan petugas, lamanya waktu tunggu pasien rawat jalan serta mekanisme kunjungan BPJS, khusus layanan pasien BPJS RSUD dr Darsono tetap tidak bisa keluar dan harus patuh dengan aturan BPJS,”jelasnya.

Menurut Iman, saat ini rumah sakit terbesar di Pacitan itu memiliki fasilitas 169 tempat tidur pasien. Jumlah dokter spesialis sebanyak 27 orang dengan jenis spesialis sebanyak 18 item. Dari jumlah itu masih ada dua dokter di puskesmas serta 5 calon dokter spesialis yang masih menjalani tugas belajar. (RAPP002)

Permalink ke Faskes Semakin Lengkap, RSUD dr Darsono Pacitan Kini Miliki CT-Scan
Headline, Kesehatan

Faskes Semakin Lengkap, RSUD dr Darsono Pacitan Kini Miliki CT-Scan

RSUD dr Darsono Pacitan kini memiliki CT Scan. (Foto: Ronny Wahyono/Facebook)

Pacitanku.com, PACITAN – Dalam rangka penyiapan peningkatan status dari tipe C menjadi tipe B sekaligus memberikan pelayanan prima kepada masyarakat, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Darsono terus berbenah dengan melengkapi fasilitas kesehatan. Terbaru, RSUD dr Darsono kini memiliki computerized tomography atau biasa disebut CT scan. Tak hanya itu, bulan Maret 2017 mendatang, RSUD yang terletak di pusat kota Pacitan ini juga menyediakan 10 alat cuci darah Hemodialisis.

Sebagai informasi, CT scan adalah mesin pemindai berbentuk lingkaran yang besar, cukup untuk dimasuki orang dewasa dengan posisi berbaring. Alat ini dapat digunakan untuk mendiagnosis dan memonitor beragam kondisi kesehatan.

Menurut Bupati Indartato saat memberikan sambutan dalam peresmian proyek pelayanan kesehatandi RSUD dr Darsono, Jalan Ahmad Yani nomor 51, Pacitan, Kamis (12/1/2017) mengungkapkan bahwa  dengan semakin lengkapnya faskes di rumah sakit terbesar di Pacitan itu, pelayanan kesehatan untuk masyarakat akan semakin dimudahkan. “Dengan ini kami resmikan pelayanan kesehatan masyarakat, dan dengan lengkapnya fasilitas kesehatan, maka rakyat tidak perlu lagi belajar ke luar derah” katanya.

Penambahan faskes di Pacitan ini sendiri merupakan salah satu program yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Pacitan. Indartato juga mengatakan bahwa akan ada penambahan dokter spesialis agar pelayanan masyarakat semakin baik. “Saat ini RSUD Pacitan memiliki 18 dokter dengan keahlian khusus, upaya menyekolahkan dokter umum‎ menjadi dokter spesialis akan menjawab keluhan masyarakat akan pelayanan kesehatan selama ini,” tandasnya.

Selain CT Scan, dalam kesempatan tersebut Bupati juga meresmikan gedung rawat inap kelas III. Pemkab menggelontor anggaran sekitar Rp 11 miliar menuntaskan pekerjaan fisik yang sempat mandek tersebut. Dana Rp 11 miliar digunakan untuk melanjutkan proyek gedung rawat inap tersebut yang bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) 2016. Perinciannya, Rp 7 miliar untuk fisik bangunan. Sedangkan Rp 4 miliar untuk pengadaan alat kesehatan.




Direktur RSUD dr Darsono Pacitan Iman Darmawan mengatakan bangunan ruang rawat inap kelas III itu akan terdiri dari dua lantai. Penggunaannya untuk ruang rawat anak-anak dan sebagian ruang untuk penanganan pasien penderita stroke. ‘’Akan ditambah unit stroke, karena kecenderungan pasien untuk kasus penyakit stroke di Pacitan naik,’’ terangnya.

Sementara bangunan lama dibongkar dan dimanfaatkan sebagai ruang terbuka hijau (RTH) di lingkungan RSUD dr Darsono. Penyediaan RTH itu sebagai upaya untuk menata kondisi lingkungan rumah sakit. Mengingat jumlah RTH yang ada di sekitar RSUD dr Darsono masih terbatas. ‘’Ruang gizi itu akan kami pindah dan diganti menjadi RTH. Supaya lebih terang,’’ ungkapnya.

Bupati Indartato saat meresmikan sejumlah proyek kesehatan di RSUD dr Darsono. (Foto: Ronny Wahyono/Facebook)




Adapun, rincian pembangunan proyek tersebut, pada tahun 2016, sudah dialokasikan anggaran sebesar Rp 2,5 miliar untuk pembangunan tahap awal gedung utama RSUD dr Darsono. Gedung baru tersebut memiliki tinggi tiga lantai terdiri dari ruang manajemen, rapat, komite medik untuk dokter dan perawat. Untuk bekas ruang Soka dibongkar dan direhab dijadikan ruang poliklinik spesialis. 

Diungkapkan, pembangunan fisik rumah sakit pelat merah tersebut tidak akan berhenti di tahun 2017. Pembangunan bakal terus dilanjutkan hingga delapan tahun ke depan. Itu sudah sesuai dengan masterplan yang telah dibuat Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Pacitan. ‘’Seperti arahan bupati, pada 2020 nanti rumah sakit bisa menjadi tipe B,’’ ujar Iman.

Sebelumnya, pada tahun 2015, pemkab sudah menggelontorkan dana miliaran rupiah untuk meningkatkan fasilitas pelayanan RSUD dr Darsono. Mulai pembangunan pagar keliling rumah sakit senilai Rp 729 juta, ruang CT Scan Rp 404 juta, ruang pelayanan rawat inap kelas III Rp 7,2 miliar, serta rumah dinas dokter di Kelurahan Sidoharjo sebesar Rp 1,3 miliar.

Untuk pembangunan ruang pelayanan rawat inap kelas III, lanjut Iman, untuk meningkatkan kapasitas kamar pasien. Pada proyek yang diresmikan Bupati tersebut ada sekitar penambahan 96 kamar baru. Sebelumnya, rumah sakit hanya memiliki sebanyak 196 kamar rawat inap. Minimnya jumlah kamar tersebut, diakui mengakibatkan antrean pasien rawat inap menumpuk. Tak jarang, mereka akhirnya memilih berobat ke luar daerah karena telah kehabisan tempat atau kamar rawat inap. (RAPP002)

Permalink ke Bupati: Tak Ada Diskriminasi Pelayanan Kesehatan di Pacitan
Headline, Kesehatan

Bupati: Tak Ada Diskriminasi Pelayanan Kesehatan di Pacitan

Indartato saat meresmikan puskesmas Gemaharjo. (Foto: Djoko Putro Utomo)

Pacitanku.com, TEGALOMBO – Bupati Pacitan, Drs H Indartato MM menyebut bahwa Pemerintah Kabupaten Pacitan menjadikan pembangunan bidang kesehatan sebagai program prioritas. Sehingga, Pemkab tak akan diskriminasi pelayanan kesehatan untuk semua masyarakat Pacitan.

“Urusan kesehatan sangat penting karena berkaitan langsung dengan peningkatan kualitas harkat dan martabat hidup manusia,”katanya saat meresmikan sejumlah fasilitas kesehatan di kawasan Puskesmas Gemaharjo, Kecamatan Tegalombo, Kamis (29/12/2016).

Indartato menyebut bahwa pihaknya akan terus berupaya meningkatkan pelayanan kesehatan baik dengan peningkatan mutu maupun perluasan jangkauan layanan. “Yang terpenting adalah bagaimana semua ini sinergi dan masyarakat sadar akan pola hidup sehat,” tandasnya.




Menurut Indartato, Pemkab tak akan melakukan diskriminasi pelayanan kesehatan, terutama bagi masyarakat Pacitan yang tidak mampu. “Kami berharap dengan dibangunya gedung puskesmas baru ini dapat meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dengan baik, kami minta maaf karena masih banyak pusat kesehatan masyarakat yang belum terwujud karena keterbatasan anggaran,”pungkasnya.

Selain Puskesmas Gemaharjo, fasilitas kesehatan lain yang juga diresmikan  adalah Puskesmas Pembantu Desa Ketepung, Puskesmas Donorojo, Puskesmas Pakisbaru, Puskesmas Nawangan, Puskesmas Pringkuku, Puskesmas Sukorejo dan Puskesmas Bubakan.

Dalam peresmian tersebut, turut hadir Bupati Pacitan Indartato, Sekretaris Daerah Suko Wiyono, Ketua DPRD Pacitan Ronny Wahyono, Camat Tegalombo Djoko Putro Utomo dan sejumlah pejabat terkait. (RAPP002)

 

Permalink ke Duh, Ratusan Bumil di Pacitan Derita Kekurangan Energi Kronis
Headline, Kesehatan

Duh, Ratusan Bumil di Pacitan Derita Kekurangan Energi Kronis

Ilustrasi Remaja Hamil. (Foto : IST)

Ilustrasi Hamil. (Foto : IST)

Pacitanku.com, PACITAN – Ratusan ibu hamil di Pacitan diketahui menderita kekurangan energi kronis (KEK). Kondisi tersebut dapat mengganggu proses kehamilan dan mengancam kesehatan bayi yang dikandung. Selain kecacatan bayi juga berpotensi merenggut nyawa sang ibu.

‘’Bahaya KEK ini bayi bisa saja lahir dengan kekurangan berat badan dan ibu meninggal dunia saat melahirkan,’’ ujar Wawan Kasiyanto kabid kesehatan keluarga Dinas Kesehatan (Dinkes) Pacitan, kemarin (12/12).

Berdasar data dinkes, kasus KEK dialami 926 ibu hamil atau sekitar 19,68 persen dari total 4.706 orang ibu hamil yang diperiksa. Sementara di kategori wanita usia subur (WUS) dari sebanyak 1.752 orang yang diperiksa sekitar 440 orang di antaranya mengalami KEK.




Dari hasil pemeriksaan kasus ibu hamil KEK paling banyak ditemui di Kecamatan Tegalombo dan Tulakan. Yakni, 88 orang ditangani Puskesmas Tegalombo dan 95 orang ditangani Puskesmas Gemaharjo. Sementara di Puskesmas Tulakan menangani sebanyak 137 ibu hamil KEK.

Wawan menjelaskan, ibu hamil KEK diketahui dari ukuran lingkar lengan atas (lila) di bawah 23,5 cm. Selain itu, berat badan sebelum hamil kurang dari 41 kg, tinggi badan kurang dari 145 sentimeter, berat badan ibu pada trimester ketiga kehamilan kurang dari 145 kg, indeks masa tubuh sebelum hamil kurang dari 17, dan ibu menderita anemia alias kurang darah dengan HB di bawah 11 gram.

Risiko ibu hamil penderita KEK, antara lain bayi lahir dengan berat badan rendah, yaitu 2,5 kg. Bayi lahir prematur, ibu bisa keguguran janin, proses persalinan yang sulit, pendarahan post partum dan kemungkinan operasi caesar. Sedangkan pemicu KEK antara lain jarak kehamilan pasien terlalu dekat. Pasien paritas alias banyak anak, kemudian usia bumil kurang dari 20 tahun.

Menurut dia, solusi terbaik adalah konsumi ibu KEK dengan makanan yang banyak mengandung kalori, seperti nasi dan kentang. Mengonsumsi makanan yang mengandung protein. Ibu hamil wajib memenuhi gizi seimbang serta menjaga energi setelah kehamilan.

‘’Pasien harus rutin memeriksakan kondisinya di puskesmas dan menambah asupan makanan. Asupan gizi harus dipenuhi sejak dinyatakan positif hamil,’’ jelasnya.

Untuk mengurangi jumlah ibu hamil KEK, lanjutnya, pihaknya meminta petugas di puskesmas rutin mengadakan konseling dan memberikan makanan tambahan berupa biskuit dan susu. Penanganan tambahan, yaitu kunjungan langsung ke rumah pasien untuk melihat perkembangannya. (her/yup/RAPP002)

Sumber: Radar Madiun

Permalink ke Penyebaran Penyakit HIV/AIDS di Pacitan Tunjukkan Peningkatan Signifikan
Headline, Kesehatan

Penyebaran Penyakit HIV/AIDS di Pacitan Tunjukkan Peningkatan Signifikan

hariaidsPacitanku.com, PACITAN – Penyebaran penyakit HIV/AIDS di Pacitan ibarat bom waktu yang bisa meledak setiap saat. Data orang dengan HIV/AIDS (ODHA) yang saat ini dimiliki Dinas Kesehatan (Dinkes) Pacitan menunjukkan peningkatan signifikan. Itupun diyakini baru sebagian kecil dari total jumlah penderita HIV/AIDS sesungguhnya.

Kabid Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinkes Pacitan, Bambang Widjanarko mengakui cukup banyak kasus yang belum terdiagnosis. Misalnya pada orang yang sesungguhnya sudah terinfeksi HIV/AIDS, namun mereka tidak mengetahui dirinya sakit karena tidak bergejala. Atau orang tersebut sudah memiliki gejala namun tidak tahu jika sakit yang dialaminya itu adalah infeksi virus HIV/AIDS. ‘’Sangat mungkin kasus di luar sana lebih banyak dibandingkan yang sudah teridentifikasi,’’ ungkapnya, kemarin (30/11).

Berdasar data yang dipublikasikan oleh dinkes setempat, tercatat sejak ditemukan pada 2005 silam hingga November 2016, jumlah penderita HIV/AIDS di Pacitan mencapai 259 orang. Sementara dari jumlah kasus tersebut, 116 penderita di antaranya telah meninggal dunia. Karena sistem kekebalan tubuh mereka digerogoti oleh Human Immunodeficiency Virus atau HIV.

Kecamatan Tulakan diketahui merupakan wilayah yang paling banyak penderitanya secara angka. Di Puskesmas Bubakan misalnya, ada 30 orang dengan HIV/AIDS (ODHA) yang masih menjalani perawatan maupun pengobatan secara insentif.

Bambang mengungkapkan, dari hasil pemantauan petugas kesehatan di lapangan ada perubahan pola penyebaran penyakit mematikan ini di masyarakat. Pada kurun sebelum tahun 2010 pemicu lebih disebabkan karena pemakaian jarum suntik atau narkoba. Sedangkan dalam enam tahun terakhir dipicu oleh perilaku warga lokal yang merantau ke luar daerah. Mereka diduga tertular virus HIV saat bekerja di luar daerah karena sering kali ‘jajan’ lantaran tinggal jauh dari istri. ‘’Sehingga ketika pulang ke kampung halamannya dan berhubungan dengan istrinya, kemudian tertularlah penyakit itu. Dan infeksi itu secara otomatis juga akan berdampak pada bayi mereka yang akan lahir,’’ jelasnya.

Selama kasus HIV/AIDS ini berkembang di Pacitan, lanjutnya, sudah ada sekitar 20 anak dalam kelompok usia 0-11 bulan dan 1-14 tahun yang sudah terinfeksi penyakit mematikan tersebut. Bambang mengatakan, faktor penulaan dari orangtualah yang kemudian membuat pihaknya sulit melakukan pendeteksian lebih dini. ‘’Kami terus upayakan lakukan proses screening untuk deteksi HIV/AIDS. Hanya sifatnya tidak memaksa, sukarela saja,’’ imbuhnya.

Dinkes juga telah melakukan penyuluhan kasus HIV/AIDS ini kepada sekitar 1.380 remaja usia 15-24 tahun pada 2015. Dan, tahun 2016 proses penyuluhan terus dilakukan dengan menyasar sejumlah sekolah. ‘’Karena perubahan pola hidup, bisa saja atau anak remaja saat ini menjadi sumber penyakit HIV/AIDS. Makanya kami tekankan bahaya penyakit sejak dini,’’ terang Bambang.




Bukan hanya itu saja, maraknya keberadaan sejumlah tempat karaoke di Pacitan yang menyediakan jasa pemandu lagu juga menjadi pantauan dari dinkes. Apalagi jika mereka belum sekalipun dilakukan proses screening darah. ‘’Nanti kami upayakan melakukan screening bekerjasama dengan kepolisian maupun Satpol PP.  Itu juga bagian langkah pencegahan,’’ ujarnya.

Sementara, Pemkab tampaknya butuh tenaga ekstra dalam menanggulangi penyebaran HIV/AIDS di Pacitan. Apalagi keberadaan Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) yang baru saja dibentuk belum maksimal fungsinya. Selain program belum tersusun secara terperinci, dukungan anggaran juga masih minim.

Ketua KPAD Pacitan Yudi Sumbogo mengakui, memberantas atau setidaknya mencegah penyebaran HIV/AIDS tidak semudah membalik telapak tangan. Karena penderita penyakit ini sulit terlacak keberadaannya. Sehingga, penyebarannya cenderung sulit dikendalikan. ‘’Sebab, perilaku penyebaran HIV/AIDS di Pacitan tidak terlokalisir di suatu tempat,’’ ujarnya.

Diungkapkan, pembentukan payung hukum berupa sebuah perda untuk menanggulangi penyebaran AIDS merupakan langkah tepat. Namun, Sumbogo menegaskan perlu adanya dukungan dari seluruh lapisan masyarakat agar semuanya bisa berjalan dengan baik. ‘’Selama ini penanganan atau proses deteksi AIDS hanya dilakukan petugas kesehatan di puskesmas saja,’’ ungkapnya.

Pria yang juga merupakan Wakil Bupati (Wabup) Pacitan itu menambahkan, semua stakeholder perlu  melakukan gebrakan untuk mengendalikan penyebari HIV/AIDS. Hal itu bisa diawali dengan screening bagi aparatur pemerintahan secara berkala. Selain itu, dapat juga dilakukan pada pasien-pasien yang melakukan pengobatan di pelayanan kesehatan milik pemerintah yakni rumah sakit atau puskesmas. ‘’Proses itu sudah berjalan baik di Puskesmas Bubakan. Bahkan, di Puskesmas Donorojo sudah ada deklarasi penanggulangan penyakit HIV/AIDS. Dan itu didukung pemerintah kecamatan setempat,’’ ungkapnya.

Namun, Sumbogo meminta agar temuan penderita HIV/AIDS yang tergolong baru hendaknya diimbangi kesiapan stakeholder. Terutama dalam menyediakan suasana yang kondusif agar kerahasiaan pasien dan keluarganya dapat terjaga. Sehingga orang mereka tidak terdiskriminasi atau dikucilkan oleh masyarakat  sekitar. ‘’Selain itu, tak kalah pentingnya adalah usaha promotif atau sosialisasi untuk semua kalangan terutama yang risiko tinggi tertular,’’ paparnya. (Her/yup/RAPP002)

Sumber: Radar Madiun

Permalink ke Pacitan Raih Penghargaan Eliminasi Malaria, Indartato Berharap Kasus Malaria Nol Persen
Headline, Kesehatan

Pacitan Raih Penghargaan Eliminasi Malaria, Indartato Berharap Kasus Malaria Nol Persen

Indartato bersama empat daerah lain saat menerima penghargaan dari Kemenkes RI.

Indartato bersama empat daerah lain saat menerima penghargaan dari Kemenkes RI.

Pacitanku.com, PACITAN – Bupati Pacitan Drs H Indartato MM berharap dengan adanya prestasi berupa penghargaan sertifikat eliminasi malaria dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, Pacitan bisa bebas penyakit malaria beberapa tahun kedepan.

“Saya berharap capaian dalam menanggulangi kasus malaria bisa nol persen pada beberapa tahun kedepan,”katanya, Rabu (15/11/2016) dilansir laman Pemkab Pacitan.

Menurut Indartato, prestasi ini tak lepas dari peran warga Pacitan yang sadar dalam menjaga kesehatan. Terutama atas kesadaran masyarakat dalam bersama-sama menekan angka peredaran malaria.

Data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Pacitan, sepanjang tahun ini setidaknya 57 warga telah terjangkit penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk anopheles tersebut.

Jumlah penderita tersebar di delapan kecamatan. Meliputi Kecamatan Pacitan, Tegalombo, Tulakan, Arjosari, Kebonagung, Ngadirojo, Bandar, dan Nawangan. Sedangkan, wilayah yang masuk endemis terdapat di Tegalombo dan Tulakan.

Kepala Dinkes Pacitan Rachmad Dwiyanto menyebut bahwa persebaran penyakit malaria di Pacitan disebabkan oleh kaum boro. Yaitu, warga Pacitan yang merantau ke luar daerah seperti Sumatera dan Kalimantan.  Guna mencegah penyebaran Dinas Kesehatan membentuk pos malaria desa (maldes). Terutama di beberapa wilayah endemis. Dengan begitu, penyakit malaria bisa tertangani lebih dini.




Sebagaimana diberitakan sebelumnya di Pacitanku.com, Pacitan meraih penghargaan dari Kemenkes atas keberhasilan menanggulangi kasus malaria indigenous selama satu tahun terakhir. Apresiasi  tersebut berupa sertifikat Eliminasi malaria sebagai bentuk penghargaan terhadap capaian status eliminasi atau annual parasite incidence (API). Penghargaan diterimakan langsung kepada Bupati Pacitan Indartato kemarin (14/11). 

Selain Pacitan, empat kabupaten lainnya yakni Aceh Barat Daya dari Provinsi Aceh, Kabupaten Dairi Sumatera Utara dan Madiun Jawa Timur serta Kabupaten Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo.

“Acara ini mengangkat tema masyarakat hidup sehat Indonesia kuat. Tema tersebut mengingatkan akan pentingnya mengajak masyarakat agar berprilaku hidup bersih dan sehat, karena kesehatan sebagai investasi yang memang harus dipahami secara bersama sehingga tanpa kesehatan semua tidak ada artinya,” kata Menkes.

Menkes mengatakan, masyarakat hidup sehat akan tercapai apabila komonitas terkecil dalam melakukan berbagai upaya kromotif dan prafektif untuk mewujudkan warga sehat. “Tentu keberhasilan pembangunan kesehatan tersebut tidak semata-mata ditentukan oleh hasil kerja keras Dinas Kesehatan tetapi juga dipengaruhi oleh kontribusi positif sektor luar kesehatan,” ujar Menkes.

Dalam kesempatan tersebut, selain penghargaan eliminasi malaria, Menkes juga menyerahkan penghargaan Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) berprestasi, penghargaan Fasilitas Kesehatan rujukan berprestasi, penghargaan pelabuhan dan Bandar Udara sehat, penghargaan Penilaian Pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) dan penghargaan Widyaiswara kesehatan. (RAPP002)