Kategori: Kesehatan

Popular

Berita Terbaru

Permalink ke Terkena Gizi Buruk, Si Kecil Kevin yang Lucu Akhirnya Dirujuk ke Surabaya
Headline, Kesehatan, Sosial

Terkena Gizi Buruk, Si Kecil Kevin yang Lucu Akhirnya Dirujuk ke Surabaya

Kevin saat dijenguk jelang dirujuk ke Surabaya. (Foto: Polres Pacitan)

Pacitanku.com, KEBONAGUNG – Malang benar nasib Kevin Nurmadriansyah, anak balita berusia 2,5 tahun dari RT/RW 04/IX Dusun Banar, Desa Karanganyar, Kecamatan Kebonagung itu harus menghadapi cobaan dan terpaan gizi buruk di tubuhnya.

Kevin yang lucu itu menderita komplikasi sejumlah penyakit yang cukup parah. Diantaranya, gangguan syaraf, radang paru-paru, dan penyempitan usus.

Informasi yang dihimpun Pacitanku.com dari sejumlah sumber, Kevin menderita berbagai penyakit itu sejak lahir di Pekanbaru, Riau. Orang tua Kevin, Ketik Suwondo dan Linda Fitri tinggal disana. Sang ayah, Ketik bekerja sebagai seorang pekerja bangunan, sementara Linda dalam kondisi sakit-sakitan.

Awalnya, Kevin sebenarnya lahir dengan bobot normal, sekitar 2,2 kilogram. Namun, begitu lahir, dokter sudah memvonis Kevin menderita komplikasi. Penyakit yang dialami Kevin turut disebabkan karena kondisi sang ibu yang juga menderita penyakit paru-paru, salah satunya saat Linda mengandung Kevin. Kini, ibu Kevin sudah meninggal dunia akibat penyakit tersebut, sekitar sepuluh bulan setelah Kevin lahir.

Hingga saat ini, Kevin tidak bisa beraktivitas normal seperti balita sebanyanya. Selain itu, Kevin juga belum bisa mengucapkan sepatah kata. Untuk konsumsi makanan, selain makanan normal balita pada umumnya, Kevin harus mengonsumsi tiga jenis obat setiap harinya. Salah satunya obat penambah darah.

Dengan kondisi demikian, ibunya sudah meninggal, dan bapaknya hanya bekerja sebagai pekerja bangunan. Alasan tersebut yang menyebabkan sejak tahun 2016 Kevin diboyong ke Desa Karanganyar, Kebonagung.




Akhirnya, pada Selasa (7/2/2017) untuk melaksanakan pengobatannya, Kevin yang menderita komplikasi syaraf, paru-paru dan usus tersebut akhirnya dibawa berobat ke RSU Haji Surabaya menggunakan ambulans Polres Pacitan.

 Hal itu dipastikan setelah sehari sebelumnya Kapolres Pacitan mengecek kondisi Kevin dengan tenaga medis,  dokter  menyarankan agar Kevin segera ditangani lewat fasilitas medis yang lebih handal. Selain itu, 

Selanjutnya Polres Pacitan memberikan mengevakuasi Kevin untuk berobat ke Rumah Sakit Surabaya dengan diantarkan ambulans poli klinik Polres Pacitan dan didampingi pihak keluarga serta tenaga medis Polres Pacitan hingga Surabaya.

Kapolres Pacitan AKBP Suhandana Cakrawijaya mengungkapkan karena kondisi Kevin butuh penanganan cepat medis karena penyakitnya sudah cukup parah, maka sesegera mungkin kevin di kirim berobat ke rumah sakit Surabaya, ungkapnya.‘’Sebab, kondisinya menurut dokter semakin memburuk, dan harus cepat ditangani,’’ katanya, dilansir laman Polres Pacitan.

Permalink ke Kenali dan Waspadai Penyakit Leptospirosis yang Mematikan
Headline, Kesehatan

Kenali dan Waspadai Penyakit Leptospirosis yang Mematikan

Pacitanku.com, PACITAN – Ancaman yang ditimbulkan leptospirosis tidak sepele. Lima orang di Pacitan terjangkit sejak 2016. Empat di antaranya meninggal. Sementara itu, seorang penderita lainnya masih dirawat intensif di ICU RSUD dr Darsono.

Catatan tersebut menandakan bahwa leptospirosis berhasil membunuh 90 persen penderita di Pacitan. Masyarakat diminta lebih waspada dan menjaga kebersihan lingkungan sekitar.

Sebenarnya, apa leptospirosis? Leptospirosis adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri yang menjangkiti banyak jenis hewan, termasuk burung, reptil, amphibi, dan mamalia. Leptospirosis merupakan penyakit hewan yang ditularkan ke manusia melalui air, makanan, dan lingkungan yang terkontaminasi.

Bakteri penyebab leptospirosis adalah spesies Leptospira yang termasuk dalam klasifikasi spirochaetes. Di daerah yang beriklim sedang, infeksi leptospirosis biasanya terjadi pada bulan Februari, Maret, Agustus, dan September.

Leptospirosis juga dikenal sebagai demam lumpur, demam rawa, dan penyakit penggembala babi. Bakteri penyebab infeksi keluar melalui urin pada hewan yang terinfeksi, yang kemudian akan bercampur dengan tanah dan sumber air terdekat.

Bakteri akan masuk dalam tubuh manusia saat air, tanah, ataupun makanan yang terkontaminasi kontak dengan kulit yang luka, mata, maupun membran mukosa. Pada banyak orang, leptospirosis tetap tidak menimbulkan gejala (asimptomatik) meskipun orang tersebut telah terinfeksi.




Bila pun ada gejala yang nampak, biasanya gejala tersebut tidak jelas dan mirip dengan gejala penyakit lain. Leptospirosis termasuk penyakit sistemik yang mempengaruhi tubuh secara keseluruhan.

Masa inkubasi leptospirosis adalah 2 hari sampai 4 minggu setelah terinfeksi. Seperti kasus infeksi lain, salah satu gejala yang paling menonjol dari leptospirosis adalah munculnya demam dan naiknya suhu tubuh.

Kondisi ini terjadi karena sistem kekebalan tubuh mencoba melawan bakteri. Infeksi bakteri terbagi dalam dua fase, dengan fase kedua lebih parah dari fase sebelumnya. Kedua fase dipisahkan oleh periode beberapa hari, dimana pasien merasa lebih baik.

Beberapa gejala leptospirosis yang biasa nampak pada fase pertama (fase akut) diantaranya sakit kepala parah, nyeri otot, menggigil, batuk, sakit tenggorokan, warna kulit kekuningan (jaundice). Kemudian mata kekuningan, mata berair, mata kemerahan, nyeri pada mata, ruam kulit, sakit perut, diare, muntah dan sensitif terhadap cahaya.

Gejala-gejala tersebut cukup umum sehingga membuat bingung dan sering dikira sebagai gejala dari penyakit lain. Identifikasi gejala leptospirosis pada fase awal sangat penting untuk menghindari komplikasi kesehatan yang parah. Jika dibiarkan tidak diobati dalam waktu yang lama, maka fase akut akan berlanjut ke fase kedua.

Gejala fase kedua dari leptospirosis meliputi kerusakan ginjal, meningitis (radang selaput otak), komplikasi pernapasan, dan gagal hati. Gejala-gejala fase kedua bisa mengancam jiwa, jadi seseorang yang menderita leptospirosis harus segera mendapatkan perawatan kesehatan. (RAPP002)

Permalink ke Empat Warga Pacitan Meninggal Dunia Akibat Leptospirosis
Headline, Kesehatan

Empat Warga Pacitan Meninggal Dunia Akibat Leptospirosis

Operasi di RSUD Pacitan. (Foto : SKPD)

Pacitanku.com, PACITAN – Ancaman yang ditimbulkan leptospirosis tidak sepele. Lima orang di Pacitan terjangkit sejak 2016. Empat di antaranya meninggal. Sementara itu, seorang penderita lainnya masih dirawat intensif di ICU RSUD dr Darsono.

Catatan tersebut menandakan bahwa leptospirosis berhasil membunuh 90 persen penderita di Pacitan. Masyarakat diminta lebih waspada dan menjaga kebersihan lingkungan sekitar. ’’Leptospirosis bukan penyakit sepele. Harus diwaspadai, terutama pada musim hujan seperti sekarang ini,’’ tutur Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Pacitan Rachmad Dwiyanto.

Menurut dia, ancaman yang dibawa leptospirosis tidak dapat dianggap remeh. Dua di antara empat penderita yang meninggal positif terjangkit. Sementara itu, dua lainnya meninggal dalam keadaan masih terduga (suspect). Namun, mereka sudah menunjukkan gejala leptospirosis.




Rachmad menuturkan, beberapa gejala yang dapat diketahui adalah demam yang disertai panas tinggi serta nyeri otot. Di samping dua gejala itu, perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui tingkat leukosit penderita. ’’Ukuran leukosit itu bisa menjadi bukti apakah terjangkit leptospirosis,’’ ucapnya.

Mayoritas penderita yang meninggal terpapar penyakit dari lingkungan yang tidak sehat. Di antaranya, genangan di sawah serta tempat pembuangan sampah (TPS). Maklum, tempat-tempat tersebut menjadi media penyebaran urine atau darah tikus, anjing, sapi, dan babi yang membawa bakteri leptospira.

Rachmad menyebutkan, potensi persebaran leptospirosis semakin meningkat pada Januari. Curah hujan yang tinggi memicu banyaknya genangan air. ’’Jika tidak diimbangi pola hidup bersih dan sehat (PHBS), akibatnya bisa fatal,’’ ujarnya.

Menurut dia, PHBS wajib dijalankan. Dengan PHBS, persebaran tikus yang menjadi salah satu pemicu leptospirosis dapat berkurang. Sebab, tikus senang hidup di tempat-tempat yang cenderung kotor.

Selain itu, masyarakat diharapkan lebih waspada ketika melewati genangan atau tempat kotor seperti TPS. Pelindung diri perlu dikenakan untuk meminimalkan ancaman infeksi. ’’Intinya adalah menjaga PHBS. Pada musim seperti sekarang ini, ancaman bukan hanya leptospirosis. Diare atau demam berdarah mengintai di lingkungan yang tidak bersih dan sehat,’’ jelas Rachmad.

Sebagai informasi, leptospirosis adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri yang menjangkiti banyak jenis hewan, termasuk burung, reptil, amphibi, dan mamalia. Pada dasarnya leptospirosis merupakan penyakit hewan yang ditularkan ke manusia melalui air, makanan, dan lingkungan yang terkontaminasi. (mg4/rif/c18/end)

Sumber: Jawa Pos

Permalink ke Bupati Berharap Kualitas Pelayanan Puskesmas Bubakan Meningkat
Headline, Kesehatan

Bupati Berharap Kualitas Pelayanan Puskesmas Bubakan Meningkat

Bupati Indartato menyerahkan kunci mobil Pusling kepada ketua Puskesmas di Pacitan. (Foto: pekathik Kadipaten/Humas Pemkab)

Bupati Indartato menyerahkan kunci mobil Pusling kepada ketua Puskesmas di Pacitan. (Foto: pekathik Kadipaten/Humas Pemkab)

Pacitanku.com, PACITAN – Bupati Pacitan Drs H Indartato MM berharap kualitas pelayanan di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Bubakan, Kecamatan Tulakan terus meningkat seiring adanya peningkatan kualitas fisik berupa gedung baru Puskesmas tersebut.

“Puskesmas merupakan garda terdepan pelayanan kesehatan masyarakat, sudah semestinya memiliki fasilitas dan pelayanan yang baik,”katanya saat mengunjungi bangunan baru Puskesmas Bubakan Tulakan, Pacitan Rabu (18/1/2017) kemarin, dilansir laman Pemkab Pacitan.

Lebih lanjut, Indartato menyampaikan bahwa jika fasilitas dan pelayanan kesehatan baik, masyarakatnya menjadi sehat dan pintar. “Ketika masyarakat pintar dan kondisinya sehat, maka akan bisa bekerja dengan nyaman, muaranya, hidup mereka sejahtera,”ungkapnya.




Sementara, Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Puskesmas Tulakan Rini Endrawati mengatakan bahwa sebenarnya di puskesmas yang dia pimpin saat ini masih ada beberapa kekurangan, diantaranya ruangan menyusui, arena bermain anak dan tempat arsip. “Tapi setidaknya, dengan peralatan dan fasilitas yang sudah dimiliki, dapat meningkatkan pelayanan lebih maksimal,”ujarnya.

Sebagai informasi, Puskesmas yang sedang proses akreditasi ini menjadi salah satu pusat layanan kesehatan di wilayah kecamatan Tulakan dengan fasilitas cukup memadai. Diantaranya dengan adanya laboratorium, rekam jantung dan peralatan pendukung medis lainnya.

Puskesmas yang didampingi Kinerja ADB mulai tahun 2016 ini sudah memiliki banyak perubahan. Semula, kondisi bangunannya kurang layak, sekarang jauh lebih baik. Pusat layanan kesehatan yang pernah mendapatkan penghargaan berkat inovasi hamil pintar dan intel HIV AIDS ini baru saja selesai direnovasi dengan anggaran Rp 1,1 miliar untuk bangunan seluas 17×18 Meter. (RAPP002)

Permalink ke Digelontor Dana Rp 5 M, Stok Obat di Pacitan Tahun 2017 Aman
Headline, Kesehatan

Digelontor Dana Rp 5 M, Stok Obat di Pacitan Tahun 2017 Aman

Ilustrasi Apoteker. (Foto: Republika)

Pacitanku.com, PACITAN – Stok obat-obatan di Pacitan untuk tahun ini dikaim lebih aman dibanding tahun lalu. Tahun ini, akan ada ratusan jenis obat-obatan tersedia untuk masyarakat Pacitan. Berbagai jenis obat-obatan itu ditebus pemkab Pacitan menggunakan dana alokasi khusus (DAK) senilai Rp 5 miliar.

Nominal tersebut dirasa cukup oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Pacitan untuk pemenuhan kebutuhan obat-obatan di sepanjang tahun ini. ‘’Stok obat-obatan tahun ini bisa kami katakan aman,’’ terang Kepala Dinkes Pacitan, Rachmad Dwianto, kemarin (18/1).

Rachmad menuturkan, anggaran yang dikeluarkan tahun ini untuk pemenuhan obat-obatan hampir sama dengan tahun lalu. Anggaran yang dikeluarkan tahun lalu juga mencapai sekitar Rp 5 miliar. Namun anehnya, dengan nominal sama, tahun lalu terjadi kelangkaan obat. Rachmad tidak menampik hal itu. Dia menyebut kelangkaan tahun lalu paling parah terjadi pada obat-obatan yang banyak dibutuhkan seperti parasetamol atau obat batuk. ‘’Kami akui itu, tahun lalu memang ada kekosongan untuk obat batuk dan parasetamol,’’ ujarnya.




Beruntung ketika menjelang akhir tahun lalu, stok parasetamol dan obat batuk kembali aman. Menurut Rachmad, kelangkaan kedua jenis obat tersebut bukan disebabkan karena Dinkes tidak memesan kedua jenis obat tersebut. Namun menurutnya, kelangkaan terjadi di tingkat produsen dan distributor.

Tidak ada barang di tingkat produsen dan distributor karena mereka kewalahan menangani permintaan kedua jenis obat tersebut dari berbagai daerah. ‘’Itulah kekurangannya melakukan pengadaan obat melalui e-catalog,’’ katanya.

Rachmad menyebut, kondisi yang terjadi tahun lalu tidak akan terulang di tahun ini. Pasalnya, pihaknya memutuskan pengadaan obat tahun ini tidak lagi menggunakan e-catalog. Melainkan, lewat sistem lelang. Dia optimis pengadaan obat menggunakan sistem lelang tidak akan menimbulkan masalah.

Termasuk, jika sewaktu-waktu badan pemeriksa keuangan (BPK) mengaudit pihaknya. ‘’Dari sisi hukum, pengadaan lewat cara lelang juga aman kok. Lebih baik daripada e-catalog yang tidak ada jaminan barangnya bisa datang atau tidak,’’ sebut Rachmad. (mg4/rif/RAPP002)

Sumber: Radar Madiun

Permalink ke Bupati Pacitan: Masyarakat Semakin Puas Pelayanan RSUD dr Darsono
Headline, Kesehatan

Bupati Pacitan: Masyarakat Semakin Puas Pelayanan RSUD dr Darsono

Bupati Indartato saat meresmikan sejumlah proyek kesehatan di RSUD dr Darsono. (Foto: Ronny Wahyono/Facebook)

Pacitanku.com, PACITAN – Bupati Pacitan Drs H Indartato MM menyebut bahwa masyarakat Pacitan semakin puas pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Darsono Pacitan. Hal itu disampaikan Indartato saat meresmikan proyek fasilitas kesehatan (Faskes), Kamis (12/1/2017) kemarin di RSUD dr Darsono, Jalan Ahmad Yani nomor 51, Pacitan.

“Alhamdulillah aduan terkait keluhan layanan di RSUD dr.Darsono sepanjang tahun 2016 berkurang. hanya kisaran 11 aduan saja dan ini menjadi indikator, masyarakat semakin puas,”katanya, dilansir laman Pemkab Pacitan.

Menurut Bupati, jika pelayanan sudah baik maka masyarakat tidak lagi ragu. Apalagi jika fasilitas fasilitas yang ada tak kalah dengan rumah sakit diluar kota. Atas kondisi itu, Indartato meminta pelayanan semakin meningkat seiring semakin lengkapnya fasilitas.




“Keberadaan RSUD dr.Darsono diharapkan mampu menjawab kebutuhan masyarakat dalam mendapatkan layanan kesehatan dengan baik,  lembaga ini harus meningkatkan kualitas pelayanan, baik melalui peningkatan SDM serta peningkatan infrastruktur,”tandasnya.

Sebagaimana diberitkan sebelumnya, faskes baru di RSUD dr.Darsono adalah ruang untuk scaning serta unit Hemodialisa untuk pasien gagal ginjal. khusus fasilitas ini disediakan 10 unit mesin cuci darah untuk pasien gagal ginjal.

Sementara, direktur RSUD dr. Darsono Iman Dharmawan menyampaikan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap layanan RSUD dr. Darsono Pacitan semakin meningkat. “Tingkat kunjungan dalam dua tahun terakhir mencapai 17,6 persen, dengan angka kunjungan sebanyak 57 ribu pasien pada tahun 2015 naik 67 ribu kunjungan di tahun 2016,”paparnya.

Namun demikian, Iman tak menampik bahwa masih ada keluhan yang kerap disampaikan dalam pelayanan di RSUD dr Darsono.  

“Beberapa keluhan yang masih kerap disampaikan diantaranya, keramahan petugas, lamanya waktu tunggu pasien rawat jalan serta mekanisme kunjungan BPJS, khusus layanan pasien BPJS RSUD dr Darsono tetap tidak bisa keluar dan harus patuh dengan aturan BPJS,”jelasnya.

Menurut Iman, saat ini rumah sakit terbesar di Pacitan itu memiliki fasilitas 169 tempat tidur pasien. Jumlah dokter spesialis sebanyak 27 orang dengan jenis spesialis sebanyak 18 item. Dari jumlah itu masih ada dua dokter di puskesmas serta 5 calon dokter spesialis yang masih menjalani tugas belajar. (RAPP002)