Kategori: Kesehatan

Popular

Berita Terbaru

Permalink ke PMI Pacitan Gelar Aksi “Ramadhan Bersedekah Donor Darah”
Headline, Kesehatan

PMI Pacitan Gelar Aksi “Ramadhan Bersedekah Donor Darah”

Aksi Donor Darah di alun -alun Pacitan. (Foto: PMI Pacitan/Twitter)

Pacitanku.com, PACITAN – Unit Tranfusi Darah (UTD) PMI Kabupaten Pacitan saat ini tengah menggelar aksi donor darah bertajuk “Ramadhan Bersedekah Donor Darah” untuk mengantisipasi menipisnya jumlah persediaan darah, selama bulan puasa ini.

Kegiatan donor darah tersebut digelar sejak Kamis (1/6/2017) lalu hingga Jumat (16/6/2017) mendatang dan digelar di tribun alun-alun Pacitan.

Kepala UTD PMI Pacitan, dr Errisa Maisurita Devi memimpin langsung kegiatan donor darah tersebut, yang bekerja sama dengan Perhimpunan Donor Darah Indonesia.

Tidak itu saja, PMI juga membuka pelayanan ekstra pada malam hari. Dengan cara ini, para pendonor yang akan menyumbangkan darahnya cukup datang ke kantor PMI setiap malam selesasi Sholat Tarawih.dan akan dilayani oleh petugas yang berjaga.




Hingga Senin (12/6/2017), unit transfusi darah PMI Pacitan sudah memperoleh pendonor sebnyak 315 kantong darah. Adapun rinciannya sebagai berikut: Golongan darah A sebanyak 64 kantong, B sebanyak 8, O sebanyak 166, dan AB sebanyak 4 kantong.

Menurut Kepala Kantor PMI Pacitan Misgiman, stok darah pada saat seperti sekarang ini cenderung terus menurun hingga kisaran 30 persen.

Dari total kapasitas tampung itu, komposisi idealnya 40 persen di antaranya adalah golongan darah O, sedangkan sisanya, masing-masing 20 persen bisa terdiri dari golongan A, B atau AB.

Di luar bulan puasa, UTD PMI Pacitan biasanya pendonor antara 10 sampi 15 orang perhari, sedangkan pada bulan Puasa ini jumlah pendonor hanya 1 sampai 5 orang. (RAPP002)

Permalink ke Bidan Calon ASN Pacitan Bakal Tak Terima Gaji Selama Tujuh Bulan
Headline, Kesehatan

Bidan Calon ASN Pacitan Bakal Tak Terima Gaji Selama Tujuh Bulan

Ilustrasi bidan

Pacitanku.com, PACITAN – Selang tiga bulan setelah lolos tes Calon Aparatur Sipil Negara (CASN, dulu CPNS), 60 bidan pegawai tidak tetap (PTT) di Pacitan ternyata belum terima gaji. Itu karena nomor identitas pegawai (NIP) mereka tak kunjung terbit.

Alhasil, mereka pun belum berhak menerima gaji PNS. Masalahnya, semenjak SK pengangkatan PNS 60 bidan tersebut terbit Maret lalu, mereka juga tidak lagi berhak menerima gaji sebagai bidan PTT. ‘’Daripada menuntut dengan ramai-ramai, kami harap bersabar dulu, menanti diterbitkannya NIP,’’ ungkap Kepala BKD Fatkhur Rozi, kemarin.

Kekacauan yang menimpa 60 bidan eks PTT itu tak lain karena miskomunikasi antara Pemkab Pacitan dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes)

Mulanya, Kemenkes, melalui Kemen PAN-RB, mengumumkan tes CPNS bagi bidan PTT di daerah, tahun lalu. Sebanyak, 66 bidan PTT di Pacitan kemudian mendaftar. Lalu, 60 di antaranya lulus tes.




Menurut Rozi, pada bidan dijanjikan gaji dari Kemenkes, setelah ditetapkan sebagai PNS. Ternyata, setelah SK pengangkatan PNS itu turun dari Kemenkes, gaji ternyata wajib ditanggung pemkab. ‘’Jujur kami kelabakan. Sebab ini belum direncanakan. Istilahnya, kami hanya ketempatan gawenya Kemenkes, tetapi yang berakhir menanggung beban malah kami,’’ katanya.

NIP atau nomor induk pegawai, lanjut Rozi, belum diterbitkan lantaran pemkab tidak punya alokasi anggaran untuk menggaji 60 bidan PNS tersebut.

Sebenarnya, para bidan sempat beberapa kali mendesak supaya NIP mereka segera diterbitkan. Urusan gaji, bidan menyebut hal itu bukan jadi masalah. Tetapi lain bagi Rozi. ‘’Ketika NIP sudah melekat pada seorang PNS, ya mereka harus menerima gaji PNS. Lha ini kami tidak ada alokasi untuk itu,’’ tuturnya.

Rozi menyebut, pihaknya sebenarnya sangat koperatif terhadap gawe Kemenkes untuk mengangkat bidan PTT itu. Bahkan Pacitan, termasuk daerah yang segala prosedur tes CPNS-nya dilalui dengan cepat. Pada bidan juga, difasilitasi sampai ke Jakarta oleh BKD.

Namun, satu-satunya kendala yang membelit para bidan PNS itu adalah anggaran yang tidak dimiliki pemkab. ‘’Ini di tengahtengah tahun anggaran dan belum direncanakan. Komunikasi terakhir, Kemenkes kabarnya bersedia membantu penggajian mereka, tetapi belum ada penjelasan lebih lanjut,’’ terang Rozi.

Ditanya sampai kapan bidan PNS itu harus bersabar, Rozi menyebut paling lambat September mendatang. Itu, lantaran menunggu perubahan anggaran keuangan (PAK). Setelah PAK, lanjut Rozi, gaji terhadap 60 bidan PNS diupayakan cair.

NIP mereka pun bakal diterbitkan dan dibagikan langsung. Saat ini, BKD sudah mengusulkan alokasi penggajian itu kepada BPKA. Tiap bidan PNS, diperkirakan menerima gaji Rp 2 juta per bulan. Sehingga total per bulan, pemkab bakal mengeluarkan Rp 120 juta untuk menggaji mereka.

‘’Saat ini masih dihitung-hitung. Apakah mampu Pacitan membiayai. Kami minta para bidan yang lolos CPNS harap bersabar. Paling lambat, setelah PAK didok, mereka mendapat NIP dan gajinya,’’ janji Rozi. (JPRM/Naz/RAPP002)

Permalink ke RSUD dr Darsono Pacitan Buka Lowongan 16 Pegawai BLUD-Non PNS, Tertarik?
Headline, Kesehatan

RSUD dr Darsono Pacitan Buka Lowongan 16 Pegawai BLUD-Non PNS, Tertarik?

RSUD dr Darsono Pacitan kini memiliki CT Scan. (Foto: Ronny Wahyono/Facebook)

Pacitanku.com, PACITAN – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Darsono Kabupaten Pacitan bekerjasama dengan PUSDEMTANAS Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, mengadakan seleksi untuk mengisi formasi Pegawai BLUD Non-Pegawai Negeri Sipil (PNS) RSUD dr. Darsono Kabupaten Pacitan Tahun 2017.

Tak tanggung-tanggung, RSUD terbesar di Pacitan ini membuka 83 lowongan dari 16 formasi yang dibutuhkan. Adapun 16 formasi tersebut adalah Dokter Spesialis Urologi dengan pendidikan Dokter Spesialis Urologi sebanyak 1 orang. Kemudian Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik dengan Pendidikan Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik sebanyak 1 orang, Bidan dengan pendidikan D-3 Kebidanan 6 orang, Perawat dengan pendidikan D-3 Keperawatan atau S-1 Keperawatan (Ners) sebanyak 37 orang.

Berikutnya adalah analis Kesehatan dengan pendidikan D-3 Analis Kesehatan 2 orang, Fisioterapis dengan pendidikan D-3 Fisioterapi satu orang, Terapi Wicara dengan pendidikan D-3 Terapi Wicara satu orang, asisten Apoteker pendidikan D-3 Farmasi 10 orang, Perekam Medik dengan pendidikan D-3 Perekam Medik sebanyak 4 orang.




Selanjutnya Petugas Laundry dan Sterilisasi dengan pendidikan SMA Jurusan IPA atau SMK Kesehatan sebanyak 4 orang, Petugas Gas Medis pendidikan SMK Jurusan Teknik Mesin satu orang, Pramusaji dengan pendidikan SMK atau D-1 Tata Boga sebanyak 2 orang, juru masak dari pendidikan SMK atau D-1 Tata Boga sebanyak 2 orang, Petugas Klaim dan Verifikasi/Billing dengan pendidikan D-3 Kesehatan (semua jurusan) 5 orang, Petugas Listrik       dari SMK Jurusan Listrik 1 orang dan Satuan Pengamanan (Satpam) dengan pendidikan SMA atau sederajat lima orang.

Untuk Pendaftaran peserta secara online dan pengiriman kelengkapan administrasi mulai tanggal 05 Juni 2017 s/d 10 Juni 2017. Info lengkap bisa unduh tata cara pendaftaran di sini.

Permalink ke Selamat, Pacitan Masuk Daerah Kategori Bebas BAB Sembarangan
Headline, Kesehatan

Selamat, Pacitan Masuk Daerah Kategori Bebas BAB Sembarangan

Ilustrasi larangan BAB Sembarangan.

Pacitanku.com, JAKARTA – Kabupaten Pacitan, Jawa Timur masuk dalam kategori Kabupaten bebas Buang Air Besar Sembarangan (BABS) Tahun 2017. Pacitan masuk kategori bersama lima kabupaten lain yakni Kabupaten Gunung Kidul, Kabupaten Magetan, Kabupaten Grobogan, Kabupaten Ngawi dan Kabupaten Nganjuk.  Penetapan kategori ini diketahui berdasarkan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) Smart tahun 2017.

Menurut Direktur Kesehatan Lingkungan Dirjen Kesmas Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Imran Agus N mengatakan ada enam kabupaten yang sudah bebas dari BAB sembarangan. “Gunung Kidul, Magetan, Grobogan, Ngawi, Pacitan, dan Nganjuk. Satu tingkat Kota baru-baru ini Kupang,” tandasnya, Kamis (18/5/2017).

Imran mengatakan bahwa Pemerintah RI juga mencanangkan akses sanitasi dan air minum baik tahun 2019. “81 persen lebih untuk sanitasinya dan 89 persen. Kecamatan Adiluwih dan Banyumas juga sudah hampir semuanya. Ini juga harus digerakkan dari semuanya termasuk puskesmas. Lingkungannya jangan sampai tercemar,” jelasnya.

Penerapan lima pilar, kata dia, Stop BAB sembarangan, CTPS (cuci tangan pakai sabun), pengelolaan air minum, sampah, dan pengolahan limbah cair rumah tangga tidak hanya di masyarakat tapi dirumah tangga. “Saya cukup mengapresiasi yang dilakukan Kabupaten Pringsewu khususnya kecamatan Pagelaran. Saya juga bersyukur sekali. Semoga masyarakat dapat mengakses sanitasi dengan baik,” pungkasnya.

Sebagai informasi, agenda bebas BABS merupakan bagian Peraturan Presiden RI No 2 Tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Tahun 2015-2019, yakni Program 100 0 100. Pemkab Pacitan sendiri terus berupaya menyukseskan gerakan 100-0-100 di bidang permukiman dan lingkungan. Gerakan tersebut adalah bersama mewujudkan 100% akses air minum, 0% kawasan permukiman kumuh, dan 100% akses sanitasi.




Namun demikian, menurut Heru Wiwoho Supardi Putra, Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Pacitan, dalam menyukseskan gerakan tersebut, perlu adanya keterlibatan dan sinergitas pihak terkait dan masyarakat Pacitan.“Dalam penanganan kumuh, agar tercapai ‘Kota Pacitan Tanpa Kumuh 2019’ perlu adanya keterlibatan masyarakat dan peran pemerintah dalam mendukung program,” ungkapnya beberapa waktu lalu.

Sebagaimana Berdasar Keputusan Bupati Pacitan Nomor 188.45/604.A/KPTS/408.21/2015, Penetapan Lokasi Lingkungan Perumahan dan Permukiman Kumuh di Kabupaten Pacitan ada 6 lokasi di 5 desa/kelurahan dengan luas total 14,22 Ha dan akan dikembangkan dalam penanganan kumuh ini dengan lokasi kawasan minapolitan dan agropolitan.

Secara nasional, anggota Aliansi Kabupaten/Kota Peduli Sanitasi (AKKOPSI) telah mendeklarasikan komitmen bersama pada tahun 2019 mendatang, bangsa Indonesia tidak ada lagi warga Buang Air Besar Sembarangan (BABS), Kamis (23/11/2016) lalu. 

Deklarasi komitmen ini dibacakan oleh Ketua Divisi Advokasi AKKOPSI, Illiza Sa’aduddin Djamal. Dalam naskah deklarasi yang dibacakan Wali Kota Banda Aceh non-aktif, ada 6 poin komitmen. Seluruh komitmen itu penekanannya agar semua walikota dan bupati punya visi yang sama mengelola sanitasi dan air bersih yang layak. Termasuk, meningkatkan kualitas dan peran regulator serta operator layanan air limbah.

“Setidaknya mewujudkan stop perilaku Buang Air Besar Sembarangan (BABS) dalam kurun waktu 2016-2019, komitmen ini harus dijalankan di daerah dengan penuh disiplin dan kesadaran tinggi sebagai pengejawantahan layanan dasar yang sudah menjadi kewajiban kabupaten/kota untuk seluruh masyarakat,” ungkap Illiza.

Permalink ke Dokter Disebut Berperan Tingkatkan Harapan Hidup Masyarakat Pacitan
Headline, Kesehatan

Dokter Disebut Berperan Tingkatkan Harapan Hidup Masyarakat Pacitan

Pelantikan IDI Pacitan. (Foto: Humas)

Pacitanku.com, PACITAN – Bupati Pacitan Drs H Indartato MM menyebut bahwa dokter di Pacitan memiliki peran penting dalam peningkatan taraf kesehatan di Pacitan yang berujung pada tingginya angka harapan hidup masyarakat Pacitan.

Saat ini, menurut Indartato, angka harapan hidup masyarakat Pacitan adalah 71,05 tahun, lebih tinggi dari rata-rata provinsi Jawa Timur.

“Ini sebagai salah satu indikator meningkatnya taraf kesehatan masyarakat Pacitan. Salah satu yang berperan dalam meningkatkan taraf kesehatan itu adalah dokter,”katanya saat memberikan sambutan dalam acara Pelantikan Pengurus Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Pacitan periode 2017-2020, Jumat (6/5/2017) di Pendopo Kabupaten.

Dalam kesempatan itu, Indartato melantk pengurus IDI cabang Pacitan untuk periode 2017-2020 dengan ketua dr Agus Subianto.

Disisi lain, menurut Indartato, dokter di Pacitan juga memiliki peran besar terhadap turunnya angka kematian bayi dan ibu. “Rendahnya angka kematian bayi dan ibu juga salah satunya dari peran bapak ibu para dokter,”katanya.

Sementara, Ketua IDI wilayah Jawa Timur dr Poernomo Boedi Setiawan menegaskan kembali bahwa misi yang diemban IDI yaitu dokter sejahtera, dokter profesional, masyarakat sehat. “Untuk menyehatkan masyarakat Indonesia dokter harus sejahtera dan profesional dulu,”katanya.

Dia mengatakan bahwa tantangan dokter ke depan semakin luar biasa, sehingga butuh kerja keras dari para pakar kesehatan tersebut.

“Diantaranya adalah pemberlakuan JKN universal coverage, layanan medis yang sangat ditentukan pembiayaan dan lapangan kerja yang apakah nantinya juga akan diatur oleh BPJS,”tutupnya. (Humas/RAPP002)

Permalink ke Waduh, 19 Warga Pacitan Positif Terjangkit Antraks
Headline, Kesehatan

Waduh, 19 Warga Pacitan Positif Terjangkit Antraks

Pacitanku.com, PACITAN – Penyakit antraks wajib diwaspadai. Sebab, sudah ada tiga temuan warga Pacitan yang positif terjangkit antraks. Masyarakat perlu untuk lebih memerhatikan keamanan saat berinteraksi dengan hewan ternak atau saat beraktivitas di sekitar kandang ternak.

Luka terbuka di kulit bisa menjadi pintu masuknya bakteri bacillus anthracis untuk menginfeksi tubuh. ‘’Wajib menjaga kebersihan lingkungan yang dekat dengan kandang ternak, dan jika perlu, memakai alat pelindung diri (APD),’’ ujar Plt Kepala Dinkes, dr. Eko Budiono, dilansir Radar Madiun pada Senin (24/4/2017).

Tiga temuan positif antraks tersebut, diketahui dari 21 warga yang diobservasi oleh tujuh puskesmas. Sebanyak, 19 warga, di antaranya dinyatakan suspect. Menurut Eko, perbandingan satu positif dari tujuh warga yang telah terobservasi, menandakan tingkat infeksi penyakit tersebut mendekati tinggi.

Ke-21 warga yang telah diobservasi awalnya memiliki gejala mengarah pada penyakit antraks. Selain panas yang melebihi normal, mereka juga memiliki riwayat kontak dengan hewan ternak. ‘’Indikator yang paling utama, panas tubuh dan riwayat kontak,’’ sebutnya.

Uniknya, beberapa sample tanah di lokasi temuan suspect antraks dinyatakan negatif oleh tim peneliti dari Universitas Airlangga (Unair) dan Universitas Indonesia (UI). Artinya, juga ada kemungkinan warga yang positif antraks itu terjangkit saat berada di luar Pacitan. ‘’Hasil uji lab dinyatakan negatif. Sehingga masyarakat juga tidak perlu terlalu risau. Namun, tetap tidak boleh mengabaikan kewaspadaan,’’ jelasnya.




Menurut Eko, masyarakat perlu untuk tetap waspada. Selain harus menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal dan kandang ternak, mereka juga harus lebih proaktif menjaga diri. Hasil negatif di sejumlah sample tanah yang dikirim ke Unair dan UI tidak menjamin tanah di Pacitan terbebas dari antraks.

Agar lebih aman, penyembelihan hewan ternak sebaiknya dilakukan di rumah pemotongan hewan (RPH). Disana, ada standar pengecekan kesehatan sebelum hewan ternak disembelih. ‘’Ketika kontak dengan hewan ternak, diusahakan mengenakan APD. Toh, bakteri antraks tidak bisa menembus benda seperti plastik. Tidak ada salahnya melindungi diri, agar persebaran penyakitnya juga semakin diminimalisir,’’ terang Eko.

Penyebaran penyakit antraks ini sendiri terbilang kompleks. Pada suatu wilayah yang warganya terjangkit antraks, belum tentu hewan ternak di wilayah yang sama terjangkit penyakit tersebut. Begitu pula sebaliknya.

Sebagai contoh, salah satu penderita positif antraks di Kecamatan Tulakan, Pacitan  ternyata terjangkit antraks sewaktu dia bekerja di Sumatera. Dinas Pertanian (Disperta) memastikan, wilayah yang hewan ternaknya telah positif terjangkit antraks hanya di tiga kecamatan. Yakni, Pringkuku, Donorojo, dan Punung.

Total ada sembilan sapi yang sudah positif selama satu tahun terakhir. ‘’Yang paling baru di Sobo, Pringkuku, ada temuan satu sapi meninggal dengan suspect antraks. Namun, ternyata negatif,’’ terang Kepala Disperta, Pamuji.

Menurut Pamuji, penularan antraks ternyata tidak hanya bisa dari hewan ternak ke manusia. Sebaliknya, manusia pun bisa menularkan antraks ke hewan ternak. Hanya, pintu masuk penularan tersebut tidak banyak.

Antraks paling bisa menular melalui luka pendarahan terbuka pada fisik. Itu pun, juga tergantung daya tahan tubuh hewan atau manusia yang jadi sasaran penularan. ‘’Jika daya tahannya baik, masih ada kemungkinan bakterinya mati, dan gagal hidup di tubuh sasaran penularan,’’ ujarnya.

Pamuji mengatakan, upaya yang paling penting untuk meminimalisir penularan antraks adalah dengan menelusuri riwayat pembelian hewan ternak. Hewan-hewan ternak yang berasal dari daerah positif antraks seperti Wonogiri, patut dicurigai membawa bakteri tersebut.

Para peternak wajib lebih jeli dalam melakukan transaksi. Terlebih, migrasi hewan ternak cenderung begitu mudah. ‘’Bahkan, dari satu desa ke desa lain, sapi ternak mudah ditransaksikan,’’ kata Pamuji.

Upaya pencegahan kedua, adalah dengan melakukan vaksinasi. Pamuji menyebut, vaksinasi hewan ternak dilakukan sampai tiga ring. Di wilayah yang masuk ring satu, atau lokasi positif antraks, vaksinasi hewan ternak bahkan dilakukan sampai tiga kali.

Total, ada 24 ribu populasi sapi di Pacitan. Sebanyak delapan ribu diantaranya sudah divaksinasi. Pamuji menyebut, upaya vaksinasi akan terus dilakukan berkala, untuk semakin memperkecil peluang penularan antraks.

‘’Kami juga meminta para peternak untuk segera melaporkan ke desa dan Dinas Pertanian, jika ada gejala kematian hewan ternak seperti antraks. Jika cepat diketahui, dapat segera diuji lab dan dipastikan apakah hewan tersebut benar positif antraks atau tidak,’’ ujarnya. 

Sumber: Radar madiun