Kategori: Kesehatan

Popular

Berita Terbaru

Permalink ke Selamat, Pacitan Masuk Daerah Kategori Bebas BAB Sembarangan
Headline, Kesehatan

Selamat, Pacitan Masuk Daerah Kategori Bebas BAB Sembarangan

Ilustrasi larangan BAB Sembarangan.

Pacitanku.com, JAKARTA – Kabupaten Pacitan, Jawa Timur masuk dalam kategori Kabupaten bebas Buang Air Besar Sembarangan (BABS) Tahun 2017. Pacitan masuk kategori bersama lima kabupaten lain yakni Kabupaten Gunung Kidul, Kabupaten Magetan, Kabupaten Grobogan, Kabupaten Ngawi dan Kabupaten Nganjuk.  Penetapan kategori ini diketahui berdasarkan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) Smart tahun 2017.

Menurut Direktur Kesehatan Lingkungan Dirjen Kesmas Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Imran Agus N mengatakan ada enam kabupaten yang sudah bebas dari BAB sembarangan. “Gunung Kidul, Magetan, Grobogan, Ngawi, Pacitan, dan Nganjuk. Satu tingkat Kota baru-baru ini Kupang,” tandasnya, Kamis (18/5/2017).

Imran mengatakan bahwa Pemerintah RI juga mencanangkan akses sanitasi dan air minum baik tahun 2019. “81 persen lebih untuk sanitasinya dan 89 persen. Kecamatan Adiluwih dan Banyumas juga sudah hampir semuanya. Ini juga harus digerakkan dari semuanya termasuk puskesmas. Lingkungannya jangan sampai tercemar,” jelasnya.

Penerapan lima pilar, kata dia, Stop BAB sembarangan, CTPS (cuci tangan pakai sabun), pengelolaan air minum, sampah, dan pengolahan limbah cair rumah tangga tidak hanya di masyarakat tapi dirumah tangga. “Saya cukup mengapresiasi yang dilakukan Kabupaten Pringsewu khususnya kecamatan Pagelaran. Saya juga bersyukur sekali. Semoga masyarakat dapat mengakses sanitasi dengan baik,” pungkasnya.

Sebagai informasi, agenda bebas BABS merupakan bagian Peraturan Presiden RI No 2 Tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Tahun 2015-2019, yakni Program 100 0 100. Pemkab Pacitan sendiri terus berupaya menyukseskan gerakan 100-0-100 di bidang permukiman dan lingkungan. Gerakan tersebut adalah bersama mewujudkan 100% akses air minum, 0% kawasan permukiman kumuh, dan 100% akses sanitasi.




Namun demikian, menurut Heru Wiwoho Supardi Putra, Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Pacitan, dalam menyukseskan gerakan tersebut, perlu adanya keterlibatan dan sinergitas pihak terkait dan masyarakat Pacitan.“Dalam penanganan kumuh, agar tercapai ‘Kota Pacitan Tanpa Kumuh 2019’ perlu adanya keterlibatan masyarakat dan peran pemerintah dalam mendukung program,” ungkapnya beberapa waktu lalu.

Sebagaimana Berdasar Keputusan Bupati Pacitan Nomor 188.45/604.A/KPTS/408.21/2015, Penetapan Lokasi Lingkungan Perumahan dan Permukiman Kumuh di Kabupaten Pacitan ada 6 lokasi di 5 desa/kelurahan dengan luas total 14,22 Ha dan akan dikembangkan dalam penanganan kumuh ini dengan lokasi kawasan minapolitan dan agropolitan.

Secara nasional, anggota Aliansi Kabupaten/Kota Peduli Sanitasi (AKKOPSI) telah mendeklarasikan komitmen bersama pada tahun 2019 mendatang, bangsa Indonesia tidak ada lagi warga Buang Air Besar Sembarangan (BABS), Kamis (23/11/2016) lalu. 

Deklarasi komitmen ini dibacakan oleh Ketua Divisi Advokasi AKKOPSI, Illiza Sa’aduddin Djamal. Dalam naskah deklarasi yang dibacakan Wali Kota Banda Aceh non-aktif, ada 6 poin komitmen. Seluruh komitmen itu penekanannya agar semua walikota dan bupati punya visi yang sama mengelola sanitasi dan air bersih yang layak. Termasuk, meningkatkan kualitas dan peran regulator serta operator layanan air limbah.

“Setidaknya mewujudkan stop perilaku Buang Air Besar Sembarangan (BABS) dalam kurun waktu 2016-2019, komitmen ini harus dijalankan di daerah dengan penuh disiplin dan kesadaran tinggi sebagai pengejawantahan layanan dasar yang sudah menjadi kewajiban kabupaten/kota untuk seluruh masyarakat,” ungkap Illiza.

Permalink ke Dokter Disebut Berperan Tingkatkan Harapan Hidup Masyarakat Pacitan
Headline, Kesehatan

Dokter Disebut Berperan Tingkatkan Harapan Hidup Masyarakat Pacitan

Pelantikan IDI Pacitan. (Foto: Humas)

Pacitanku.com, PACITAN – Bupati Pacitan Drs H Indartato MM menyebut bahwa dokter di Pacitan memiliki peran penting dalam peningkatan taraf kesehatan di Pacitan yang berujung pada tingginya angka harapan hidup masyarakat Pacitan.

Saat ini, menurut Indartato, angka harapan hidup masyarakat Pacitan adalah 71,05 tahun, lebih tinggi dari rata-rata provinsi Jawa Timur.

“Ini sebagai salah satu indikator meningkatnya taraf kesehatan masyarakat Pacitan. Salah satu yang berperan dalam meningkatkan taraf kesehatan itu adalah dokter,”katanya saat memberikan sambutan dalam acara Pelantikan Pengurus Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Pacitan periode 2017-2020, Jumat (6/5/2017) di Pendopo Kabupaten.

Dalam kesempatan itu, Indartato melantk pengurus IDI cabang Pacitan untuk periode 2017-2020 dengan ketua dr Agus Subianto.

Disisi lain, menurut Indartato, dokter di Pacitan juga memiliki peran besar terhadap turunnya angka kematian bayi dan ibu. “Rendahnya angka kematian bayi dan ibu juga salah satunya dari peran bapak ibu para dokter,”katanya.

Sementara, Ketua IDI wilayah Jawa Timur dr Poernomo Boedi Setiawan menegaskan kembali bahwa misi yang diemban IDI yaitu dokter sejahtera, dokter profesional, masyarakat sehat. “Untuk menyehatkan masyarakat Indonesia dokter harus sejahtera dan profesional dulu,”katanya.

Dia mengatakan bahwa tantangan dokter ke depan semakin luar biasa, sehingga butuh kerja keras dari para pakar kesehatan tersebut.

“Diantaranya adalah pemberlakuan JKN universal coverage, layanan medis yang sangat ditentukan pembiayaan dan lapangan kerja yang apakah nantinya juga akan diatur oleh BPJS,”tutupnya. (Humas/RAPP002)

Permalink ke Waduh, 19 Warga Pacitan Positif Terjangkit Antraks
Headline, Kesehatan

Waduh, 19 Warga Pacitan Positif Terjangkit Antraks

Pacitanku.com, PACITAN – Penyakit antraks wajib diwaspadai. Sebab, sudah ada tiga temuan warga Pacitan yang positif terjangkit antraks. Masyarakat perlu untuk lebih memerhatikan keamanan saat berinteraksi dengan hewan ternak atau saat beraktivitas di sekitar kandang ternak.

Luka terbuka di kulit bisa menjadi pintu masuknya bakteri bacillus anthracis untuk menginfeksi tubuh. ‘’Wajib menjaga kebersihan lingkungan yang dekat dengan kandang ternak, dan jika perlu, memakai alat pelindung diri (APD),’’ ujar Plt Kepala Dinkes, dr. Eko Budiono, dilansir Radar Madiun pada Senin (24/4/2017).

Tiga temuan positif antraks tersebut, diketahui dari 21 warga yang diobservasi oleh tujuh puskesmas. Sebanyak, 19 warga, di antaranya dinyatakan suspect. Menurut Eko, perbandingan satu positif dari tujuh warga yang telah terobservasi, menandakan tingkat infeksi penyakit tersebut mendekati tinggi.

Ke-21 warga yang telah diobservasi awalnya memiliki gejala mengarah pada penyakit antraks. Selain panas yang melebihi normal, mereka juga memiliki riwayat kontak dengan hewan ternak. ‘’Indikator yang paling utama, panas tubuh dan riwayat kontak,’’ sebutnya.

Uniknya, beberapa sample tanah di lokasi temuan suspect antraks dinyatakan negatif oleh tim peneliti dari Universitas Airlangga (Unair) dan Universitas Indonesia (UI). Artinya, juga ada kemungkinan warga yang positif antraks itu terjangkit saat berada di luar Pacitan. ‘’Hasil uji lab dinyatakan negatif. Sehingga masyarakat juga tidak perlu terlalu risau. Namun, tetap tidak boleh mengabaikan kewaspadaan,’’ jelasnya.




Menurut Eko, masyarakat perlu untuk tetap waspada. Selain harus menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal dan kandang ternak, mereka juga harus lebih proaktif menjaga diri. Hasil negatif di sejumlah sample tanah yang dikirim ke Unair dan UI tidak menjamin tanah di Pacitan terbebas dari antraks.

Agar lebih aman, penyembelihan hewan ternak sebaiknya dilakukan di rumah pemotongan hewan (RPH). Disana, ada standar pengecekan kesehatan sebelum hewan ternak disembelih. ‘’Ketika kontak dengan hewan ternak, diusahakan mengenakan APD. Toh, bakteri antraks tidak bisa menembus benda seperti plastik. Tidak ada salahnya melindungi diri, agar persebaran penyakitnya juga semakin diminimalisir,’’ terang Eko.

Penyebaran penyakit antraks ini sendiri terbilang kompleks. Pada suatu wilayah yang warganya terjangkit antraks, belum tentu hewan ternak di wilayah yang sama terjangkit penyakit tersebut. Begitu pula sebaliknya.

Sebagai contoh, salah satu penderita positif antraks di Kecamatan Tulakan, Pacitan  ternyata terjangkit antraks sewaktu dia bekerja di Sumatera. Dinas Pertanian (Disperta) memastikan, wilayah yang hewan ternaknya telah positif terjangkit antraks hanya di tiga kecamatan. Yakni, Pringkuku, Donorojo, dan Punung.

Total ada sembilan sapi yang sudah positif selama satu tahun terakhir. ‘’Yang paling baru di Sobo, Pringkuku, ada temuan satu sapi meninggal dengan suspect antraks. Namun, ternyata negatif,’’ terang Kepala Disperta, Pamuji.

Menurut Pamuji, penularan antraks ternyata tidak hanya bisa dari hewan ternak ke manusia. Sebaliknya, manusia pun bisa menularkan antraks ke hewan ternak. Hanya, pintu masuk penularan tersebut tidak banyak.

Antraks paling bisa menular melalui luka pendarahan terbuka pada fisik. Itu pun, juga tergantung daya tahan tubuh hewan atau manusia yang jadi sasaran penularan. ‘’Jika daya tahannya baik, masih ada kemungkinan bakterinya mati, dan gagal hidup di tubuh sasaran penularan,’’ ujarnya.

Pamuji mengatakan, upaya yang paling penting untuk meminimalisir penularan antraks adalah dengan menelusuri riwayat pembelian hewan ternak. Hewan-hewan ternak yang berasal dari daerah positif antraks seperti Wonogiri, patut dicurigai membawa bakteri tersebut.

Para peternak wajib lebih jeli dalam melakukan transaksi. Terlebih, migrasi hewan ternak cenderung begitu mudah. ‘’Bahkan, dari satu desa ke desa lain, sapi ternak mudah ditransaksikan,’’ kata Pamuji.

Upaya pencegahan kedua, adalah dengan melakukan vaksinasi. Pamuji menyebut, vaksinasi hewan ternak dilakukan sampai tiga ring. Di wilayah yang masuk ring satu, atau lokasi positif antraks, vaksinasi hewan ternak bahkan dilakukan sampai tiga kali.

Total, ada 24 ribu populasi sapi di Pacitan. Sebanyak delapan ribu diantaranya sudah divaksinasi. Pamuji menyebut, upaya vaksinasi akan terus dilakukan berkala, untuk semakin memperkecil peluang penularan antraks.

‘’Kami juga meminta para peternak untuk segera melaporkan ke desa dan Dinas Pertanian, jika ada gejala kematian hewan ternak seperti antraks. Jika cepat diketahui, dapat segera diuji lab dan dipastikan apakah hewan tersebut benar positif antraks atau tidak,’’ ujarnya. 

Sumber: Radar madiun

Permalink ke Penyakit Mematikan Tubercolusis Masih Hantui Masyarakat Pacitan
Headline, Kesehatan

Penyakit Mematikan Tubercolusis Masih Hantui Masyarakat Pacitan

Ilustrasi perawatan pasien di RS

Pacitanku.com, PACITAN – Tuberculosis (TB) masih menjadi momok bagi masyarakat Pacitan. Jumlah penderitanya dari tahun ke tahun selalu tembus angka ratusan. Sepuluh besar penyakit paling mematikan di dunia berdasarkan data WHO itu memang cukup mudah menular, dari satu penderita ke penderita lain.

Persepsi salah kaprah terhadap penyakit tersebut juga jadi biang tingginya angka penderita TB setiap tahunnya. ‘’Yang paling menentukan dalam penularan TB adalah penderitanya. Sementara saat ini masih banyak persepsi keliru di masyarakat terhadap TB,’’ ujar Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes), dr. Eko Budiono.

Angka penderita TB di Pacitan dari tahun ke tahun diakui Eko sulit terbendung. Sejak tahun 2014, angka penderitanya terus turun, konsisten pada angka puluhan hingga ratusan. Klaim data terakhir dari Dinkes, ada 33 penderita hingga pertengahan tahun lalu.

Menurut Eko, tingginya angka penderita TB tak lepas dari karakteristik penyakit tersebut yang mudah menular. Mycobacterium tuberculosis yang jadi biang penyakit tersebut, masuk ke paru-paru orang lain melalui bersin dan batuk seorang penderita TB. ‘’Mengetahui bahwa penyakit TB mudah menular, para penderitanya pun harus menjaga diri, sebisa mungkin tidak menularkan ke orang lain. Misalnya, dengan mengenakan masker,’’ jelasnya.




Karena mudah menular, Eko menyebut yang memegang peranan penting untuk meminimalisir penularan adalah penderitanya sendiri. Ada masa intensif selama satu bulan bagi penderita TB. Selama kurun waktu tersebut, penderita TB punya potensi lebih tinggi untuk menularkan penyakitnya kepada orang lain.

Saat masa intensif, pengobatan bagi penderita TB harus dilakukan secara tertib. ‘’Itu yang menentukan, apakah di bulan-bulan berikutnya, masih ada potensi penularan atau tidak,’’ ujar Eko.

Setelah masa intensif, penderita TB perlu untuk lebih memerhatikan lingkungan rumahnya. Persoalannya, masih banyak masyarakat yang merasa bahwa dengan pengobatan saja cukup. Padahal, bakteri TB akan tetap ada di dalam rumah, dan berpotensi menularkan ke orang lain jika tidak ‘’dibuang’’.

Cara paling sederhana menyingkirkan bakteri TB adalah dengan mengatur sirkulasi udara rumah dengan baik. Minimal, setiap pagi harus membuka jendela agar udara di dalam rumah bisa berganti. Disamping itu, tingkat pencahayaan rumah juga dapat berpengaruh. ‘’TB itu ada obatnya. Tetapi, bergantung pada pengobatan saja juga tidak baik. Untuk bisa meminimalisir penularan, kesehatan lingkungan juga harus diperhatikan,’’ jelasnya.

Sumber: radar madiun

Permalink ke Duta Sanitasi Pacitan Raih Prestasi Video Terbaik I Tingkat Jatim
Headline, Kesehatan

Duta Sanitasi Pacitan Raih Prestasi Video Terbaik I Tingkat Jatim

Tiga duta sanitasi asal Pacitan. (Foto: Tulus Wahyudi/Humas Pacitan)

Pacitanku.com, PACITAN – Tiga delegasi duta sanitasi Pacitan,masing-masing Angela Rezka Andua Putri dan Zahra Firdaus dari SMAN 1 Pacitan serta Tristania Faisa Adam dari SMPN 1 Pacitan meraih Juara I dalam lomba kampanye tentang sanitasi dalam bentuk video.

Penghargaan tersebut diperoleh pada saat mengikuti Workshop and Gathering di Hotel Quest Surabaya pada Sabtu (1/4/2017) hingga Ahad (2/4/2017) lalu.  Dalam workshop and ghatering itu, ketiga delegasi asal Pacitan sukses mengalahkan 87 peserta, lain yang merupakan pelajar SMA/SMP se-Jawa Timur.

Adapun, dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh Satuan Kerja Penyelenggara Sistem Penyehatan Lingkungan Provinsi Jatim ini diantaranya workshop tentang public speaking, lomba kampanye tentang sanitasi dalam bentuk video, diskusi dengan materi tentang lingkungan hidup, dan lain-lain.




Selanjutnya seluruh peserta peserta dititipi selempang duta sanitasi, poster, dan stiker untuk diserahkan ke Dinas Pendidikan Kab/Kota masing-masing sebagai inventaris untuk digunakan pada saat kampanye tentang sanitasi.

Ketiga duta sanitasi asal Pacitan tersebut memang diketahui sangat getol mengkampanyekan tentang sanitasi, salah satunya adalah Trisnania Faisa Adam. Trisna yang duduk di SMPN 1 Pacitan ini telah menjadi Duta Sanitasi (Dusan) yang mewakili Jawa Timur hingga menjadi juara sebagai Dusan Indonesia 2016.

“Kisah yang saya lalui sampe menjadi juara Dusan ini berawal dari seleksi di tingkat kabupaten sejak kelas 7. Disitu saya banyak dibekali soal limbah dan drainase dari itu saya kembangkan jadi karya tulis,” kata Trisna, beberapa waktu lalu.

Setelah menjadi juara tingkat Pacitan, ia lantas mengikuti seleksi tingkat provinsi. “Saya ke Surabaya kumpul sama temen-temen untuk menjalani tes tingkat provinsi yang akhirnya terpilih dan terus menuju tingkat nasional di Jakarta,” jelasnya.

Tak berhenti disitu, ia pun melaju ke pemilihan Dusan tingkat nasional dan berhasil menjadi juara favorit tahun 2016. Usai terpilih menjadi Dusan Indonesia 2016, ia kini lebih banyak melakukan kegiatan-kegiatan berupa sosialisasi dengan metode bercerita atau mendongeng yang difokuskan pada anak Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah.

“Kalau di Pacitan biasanya dilakukan sosialisasi sambil jalan keliling dengan mencontohkan daur ulang dan juga melalui media sosial. Untuk selanjutnya sebagai Dusan ia akan melakukan program-program agar semuanya bisa terlaksana dengan baik.

Di samping itu Trisna juga berharap pada masyarakat agar selalu menjaga lingkungan sekitarnya untuk terciptanya lingkungan yang sehat dan bersih. Tak hanya itu, ia uga mengingatkan kiat 3R (Reduce Reuse dan Recycle) yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat. (Tulus Wahyudi/Humas Pacitan/RAPP002)

Permalink ke Pacitan Canangkan Gerakan Hidup Sehat dan Deklarasi Santun Mapan
Headline, Kesehatan

Pacitan Canangkan Gerakan Hidup Sehat dan Deklarasi Santun Mapan

Pencanangan Germas dan Santun Mapan. (Foto: WIra S)

Pacitanku.com, PACITAN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pacitan mencanangkan gerakan  masyarakat hidup sehat (Germas) dan Sanitasi Total Untuk Masyarakat Pacitan (Santun Mapan), Selasa (4/4/2017) di Pendopo Kabupaten Pacitan, Jalan Jaksa Agung Suprapto nomor 8 Pacitan.

“Kami sangat bangga karena  Germas dicanangkan pertama kali di Pacitan, dan kita memahami bersama bahwa kesehatan masyarakat dimulai dari berperilaku hidup sehat sehingga berdampak pada Kesehatan terjaga, produktif, lingkungan bersih, biaya berobat berkurang sehingga ekonomi bisa meningkat,”kata Bupati Pacitan Drs H Indartato MM, saat menyampaikan sambutannya.

Dikatakan Indartato, saat ini di Pacitan dalam upaya membangun kesehatan masyarakat telah menampakkan hasil meski belum mutlak. Salah satunya melalui parameter berupa usia harapan hidup, dimana saat ini skornya mencapai 71.

“Pencanangan ini sebagai bentuk dukungan pemerintah kabupaten juga menggulirkan program pembiayaan kesehatan bagi masyarakat kurang mampu. Selain itu kita juga akan mengupayakan peningkatan pelayanan kesehatan,”ungkapnya.

Saat ini, Indartato menyebut bahwa target pembangunan Kabupaten Pacitan adalah meningkatkan pertimbuhan ekonomi dan peningkatan kesehatan sehingga perekonomian meningkat masyarakat hidupnya sejahtera, anak anak dapat bersekolah dengan baik.”Tantangan pembangunan kesehatan kedepan di Kab. Pacitan yang harus kita perjuangkan membasmi Gizi buruk, anak tidak ada meninggal karena kelaparan, tidak ada anak miskin terabaikan,”katanya lagi.

Dalam kesempatan itu, Indartato memberikan apresiasi atas dukungan pihak desa dalam upaya mewujudkan masyarakat sehat. Sebab mereka juga merupakan bagian dari perpanjangan tangan pemerintah diatasnya.




Sementara, Pejabat Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pacitan Dr. Eko, M.Si dalam sambutannya mengatakan bahwa Germas bertujuan meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat, kesehatan dan pelayanan publik program dan kegiatan ini yang pertama kali dicanangkan di Pacitan dan Jawa Timur.

“Tujuan dari acara ini adalah  untuk meningkatkan tata cara hidup sehat dengan cara pembersihan lingkingan dengan sanitasi yang baik, meningkatkan kesehatan ibu dan anak, mebawa balita setiap bulan ke posyandu untuk mengetahui satatus pertumbuhan balita dan sebagai deteksi dini gangguan pertumbuhan belita serta penting bagi ibu-ibu untuk mendapat penyuluhan giszi pertumbuhan balita,”tandasnya.

Senada dengan Eko, Kepala Dinas Kesehatan Jatim dr. Kohar Hari Santoso mengungkapkan bahwa saat ini ada pergeseran jenis penyakit. “Penyakit tidak menular naik, beban ekonomi juga naik, peran organisasi perangkat daerah dan masyarakat penting untuk menciptakan kesehatan, prasyarat sehat itu manusianya dan lingkungannya. Jiwa harus berpikiran positif. Asupan gizi harus bagus,”jelasnya.

Selain itu, Kohar mengatakan bahwa  beban ekonomi saat ini makin meningkat akibat penyakit tidak menular seperti Jatung Strok, gagal ginjal, kanker dan akibat kecelakaan semakin meningkat hari demi hari. Kesehatan, menurutnya adalah keadaan sehat baik secara fisik mantal dan pikiran, pembangunan kesehatan bukan hanya dari Dinas.

“Tujuanya adalan meningkatkan kesadaran kemauan dan kemampauam hidup sehat bagi setiap orang dan disarankan agar anggota keluarga tidak ada yang merokok karena satu bang rokok dibakar 4000 zat kimia beracun dan 43 diantaranya mengandung zat karsinogenik, penyakit akibat rokok adalah stroke, penyakit jantung, kanker paru/ tenggorokan, penyakit paru kronis, tekanan darah tinggi, ganguan kehamilan dan janin serta impotensi,”ujarnya.

Dalam pencanangan ini turut hadir dr. Kohar Hadi Susilo (Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jatim),  Drs. H Indartato, MM (Bupati Pacitan), Drs. H Yudi Sumbogo (Wakil Bupati Pacitan) , Drs. Suko Wiyono, MM (Sekda Kab. Pacitan),  Indarta Nurbayu Aji (Ketua Komisi II DPRD Pacitan).

Kemudian juga camat se Kabupaten Pacitan, Kepala UPT Dinas Kesehatan se Kabupaten Pacitan dan Kepala Desa dan Kelurahan se Kab. Pacitan. Dalam kesempatan ini juga digelar, deklarasi Santun Mapan yang oleh kepala Desa  Bukuharjo Kecamatan Ngadirojo, Desa Ngile Kecamatan Tulakan, Desa Kebonagung Kebonagung dan penyerahan piagam oleh Bupati Pacitan.

Pewarta/Foto: Wira Swastika
Editor: Dwi Purnawan