Kategori: News

Popular

Berita Terbaru

Permalink ke BNPB Inisiasi Hari Kesiapsiagaan Bencana Pada 26 April 2017
Headline, Nusantara

BNPB Inisiasi Hari Kesiapsiagaan Bencana Pada 26 April 2017

BPBD Pacitan saat menggelar simulasi penanganan bencana. (Foto: BPBD)

Pacitanku.com, JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menginisiasi Hari Kesiapsiagaan Bencana dengan mengajak semua pihak meluangkan satu hari untuk melakukan latihan kesiapsiagaan bencana secara serentak pada tanggal 26 April.

“Inisiasi dari BNPB menjadikan tanggal 26 April sebagai Hari Kesiapsiagaan Bencana bertujuan membudayakan latihan secara terpadu, terencana dan berkesinambungan guna meningkatkan kesadaran, kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat menuju Indonesia Tangguh Bencana,” kata Kepala BNPB Willem Rampangilei lewat keterangan tertulisnya yang diterima pada Selasa (25/4/2017).

Dia mengatakan kegiatan utama pada Hari Kesiapsiagaan Bencana adalah dilaksanakannya latihan atau simulasi serentak di seluruh wilayah Indonesia, seperti latihan evakuasi mandiri, simulasi kebencanaan, uji sirine peringatan dini, uji “shelter” dan lainnya.

Harapan dari latihan itu, kata dia, untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat mengenai posisi manusia di tengah kerentanan bencana serta risiko dan solusi dalam merespon risiko bencana tersebut.




Willem mengatakan kegiatan latihan evakuasi mandiri di seluruh Indonesia akan dilaksanakan secara serentak di sejumlah lokasi antara lain di lingkungan sekolah, fasilitas umum, instansi pemerintah, pusat perbelanjaan, perumahan dan lainnya.

Menurut dia, semua orang mempunyai risiko terhadap potensi bencana sehingga penanganan bencana merupakan urusan semua pihak. Oleh sebab itu, perlu dilakukan berbagi peran dan tanggung jawab dalam peningkatan kesiapsiagaan disemua tingkatan baik untuk anak, remaja dan dewasa seperti yang telah dilakukan di Jepang untuk menumbuhkan kesadaran kesiapsiagaan bencana.

Pemilihan tanggal 26 April sebagai Hari Kesiapsiagaan Bencana, kata dia, dilatarbelakangi 10 tahun ditetapkannya Undang-Undang No. 24 Tahun 2007 tentang Penangulangan Bencana yang jatuh pada 26 April 2017.

“Di mana Undang-undang ini sangat penting karena telah melahirkan berbagai legislasi, kebijakan dan program pemerintah yang mendukung kegiatan mitigasi dan kesiapsiagaan terhadap bencana. Sebagai titik awal perubahan paradigma dan mengubah cara pandang menyikapi bencana yang semula respon menuju paradigma pengurangan risiko bencana,” tuturnya.

Selanjutnya, kata dia, kegiatan itu akan dikembangkan secara nasional menjadi Hari Kesiapsiagaan Bencana di Indonesia yang diharapkan akan ditetapkan secara langsung oleh Presiden Joko Widodo pada 26 April 2018.

Upaya pengurangan risiko bencana melalui latihan kesiapsiagaan mitigasi struktural dan nonstruktural, lanjut dia, harus diperhitungkan sebagai investasi untuk keberlanjutan usaha dan pembangunan.

Permalink ke Akhirnya, Jalan Sempit Arjosari-Nawangan Segera Dilebarkan Bina Marga Jatim
Headline, Pacitan News

Akhirnya, Jalan Sempit Arjosari-Nawangan Segera Dilebarkan Bina Marga Jatim

BANYAK LUBANG: Selain sempit, jalan kabupaten Arjosari–Nawangan, Pacitan dipenuhi lubang serta bergelombang. (MUHAMMAD BUDI/RADAR PACITAN/JPG)

Pacitanku.com, PACITAN – Suara warga Nawangan dan Pemkab Pacitan ternyata didengar Pemprov Jatim. Tahun ini, pemprov memberikan sentuhan perhatiannya ke jalan sempit Arjosari-Nawangan. DPU Bina Marga Jatim UPT Pacitan akan melakukan uji coba pelebaran jalan di jalur tersebut.

Namun, dari total sepanjang 46 kilometer, yang akan dilebarkan di tahun ini hanya tiga kilometer saja. ‘’Tidak bisa langsung menyeluruh karena memang belum dianggarkan. Untuk keseluruhannya, sudah kami usulkan ke pemprov untuk tahun depan,’’ ungkap Kepala Seksi Pembangunan Jalan DPU Bina Marga Jatim UPT Pacitan, Budi Hari Santoso, kemarin.

Budi mengatakan, titik awal uji coba pelebaran jalan dilakukan di Arjosari dan Nawangan lantaran mempertimbangkan banyaknya beban arus lalu lintas menuju jalan provinsi tersebut. Pun, titik perbatasan dipastikan bakal selalu lebih padat, karena menjadi jalur keluar masuknya kendaraan.

Dari lebar 3,5 meter, jalan Arjosari-Nawangan bakal dilebarkan menjadi 6 meter. Pun, kendati baru tiga kilometer, tetapi proyek pelebaran jalan tersebut bakal menyedot duit senilai Rp 7 miliar dari APBD provinsi. ‘’Sebagai awalan, tiga kilometer terlebih dahulu, karena memang belum diprogramkan dalam anggaran tahun ini,’’ ujarnya.




Budi tidak bisa memprediksi berapa banyak anggaran yang akan digelontorkan pemprov jika seluruh 46 kilometer jalan Arjosari-Nawangan dilebarkan. Sebab, tidak semua ruas jalannya memungkinkan untuk dilebarkan.

Ada beberapa titik yang tidak bisa dilebarkan sampai enam meter, karena kondisi geografis di sekitar jalan tersebut. Penyebabnya, karena adanya tebing, atau kondisi tanahnya yang tidak terlalu kuat. Kemungkinan di titik-titik tersebut, pemprov harus merelokasi jalan.

‘’Jadi masih belum terhitung, akan berapa banyak anggaran yang akan dikeluarkan jika dikerjakan total sepanjang 46 kilometer. Karena dipastikan juga akan membuat jalan baru,’’ terangnya.

Sejak pertama bertugas di DPU Bina Marga Jatim UPT Pacitan tahun 2001 lalu, status jalan Arjosari-Nawangan sudah merupakan jalan provinsi. Sejak saat itu pula, hingga saat ini, lebar jalan masih kelewat sempit. Budi pun mengakui hal itu.

Sementara, di sisi lain, peningkatan beban arus lalu lintas terus bertambah dari tahun ke tahun. Pelebaran jalan pun tidak bisa ditawar lagi. ‘’Warga Nawangan, dan Pemkab Pacitan sudah lama meminta agar jalan Arjosari-Nawangan bisa dilebarkan. Kami juga mempertimbangkan permintaan mereka,’’ katanya.

Sumber/Foto: Radar Madiun

Permalink ke Tak Jadi Prioritas Pembangunan, Jalan Sepanjang 5 Km di Nawangan Rusak
Headline, Pacitan News

Tak Jadi Prioritas Pembangunan, Jalan Sepanjang 5 Km di Nawangan Rusak

BANYAK LUBANG: Selain sempit, jalan kabupaten Arjosari–Nawangan, Pacitan dipenuhi lubang serta bergelombang. (MUHAMMAD BUDI/RADAR PACITAN/JPG)

Pacitanku.com, PACITAN – Harus bersusah-susah dulu jika hendak berkunjung ke Kecamatan Nawangan, Pacitan. Kondisi dua jalannya, baik kabupaten dan provinsi, sangat jelek. Jalan provinsinya begitu sempit, sedangkan jalan kabupatennya dipenuhi lubang serta bergelombang.

Total, tak kurang dari 5 kilometer jalan kabupaten di Nawangan yang rusak. Sayang, Nawangan tidak punya pantai-pantai indah yang mampu menarik wisatawan sehingga anggaran perbaikan jalan di sana tidak diprioritaskan.

’’Bisa dikatakan RPJMD memarginalkan Nawangan. Tapi, tidak berarti kami tidak melakukan apa-apa. Kami tetap memberikan perhatian pada kondisi jalan kabupaten di Nawangan,’’ jelas Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (DPUPR) Pacitan Budiyanto, dikutip dari Jawapos pada Selasa (25/4/2017).




Menurut dia, yang seharusnya menjadi prioritas dalam merevitalisasi jalan di Nawangan adalah jalan provinsi. Sebab, jalan tersebut merupakan akses utama dari Arjosari ke Bandar, Nawangan, hingga Purwantoro di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Peningkatan kapasitas mutlak dibutuhkan.

Sementara itu, jalan kabupaten yang merupakan ’’sirip’’ jalan provinsi diperbaiki secara berkala. Namun, Budiyanto menegaskan, kendati hanya jalan sirip, jalan kabupaten punya peran penting, yakni menjadi akses jalan utama menuju ke pelosok wilayah Nawangan. ’’Jalan kabupaten memegang peran dalam peningkatan pertumbuhan wilayah di Nawangan,’’ katanya.

Budiyanto mengakui, 50 persen anggaran perbaikan jalan tahun ini diprioritaskan ke sejumlah wilayah di bagian barat Pacitan.

Di antaranya, Pringkuku dan Donorojo. Sebab, di sanalah lokasi sejumlah objek wisata favorit yang menjadi komoditas ’’dagangan’’ Pacitan. Mulai Pantai Srau, Watukarung, hingga Klayar atau Gua Gong. Sementara itu, 50 persen sisanya dibagi ke sepuluh kecamatan lain, termasuk Nawangan.

’’Perbaikan di Nawangan dilakukan secara segmented. Jika tidak seperti itu, titik kerusakan lain tidak kebagian anggaran untuk perbaikan,’’ ungkap Budiyanto.

Tahun ini, Nawangan mendapat jatah anggaran perbaikan jalan Rp 2,5 miliar. Budiyanto menyebutkan, ada enam pekerjaan perbaikan. Empat di antaranya merupakan titik utama dengan kerusakan terparah. Yakni, jalan penghubung Sempu-Ngromo, Penggung-Sidorejo, Tokawi-perbatasan Purwantoro, dan Nawangan-Ngunut.

Dua pekerjaan lainnya menyasar jalan pedesaan dan jembatan. Khusus jalan Sempu–Ngromo, biaya perbaikannya dianggarkan dari dana alokasi khusus (DAK), sedangkan sisanya dari APBD. ’’Sudah menjadi tugas kami menyokong akses utama untuk merangsang pertumbuhan di Nawangan,’’ ucapnya.

Kendati kurang memiliki potensi wisata, Nawangan lama dikenal sebagai wilayah agropolitan. Pertanian dan perkebunan terus berkembang di wilayah tersebut. Akibatnya, ada peningkatan beban lalu lintas.

Budiyanto menyatakan, pada 2005, belum banyak truk atau kendaraan roda enam yang berlalu-lalang di Nawangan. Lain cerita dengan sekarang. Perbaikan jalan perlu dilakukan untuk memperlancar akses bagi para pelaku usaha agropolitan di Nawangan.

’’Perbaikan jalan itu juga perlu dilakukan untuk membantu menekan biaya produksi mereka agar sektor agropolitan di Nawangan terus berkembang. Nanti, potensi wisata seperti Monumen Jenderal Sudirman ikut kena imbas positif,’’ ujar Budiyanto.

Permalink ke KH Mahmud Terpilih Jadi Ketua PCNU Pacitan Periode 2017-2022
Headline, Pacitan News

KH Mahmud Terpilih Jadi Ketua PCNU Pacitan Periode 2017-2022

Ketua PCNU Pacitan usai Koneferensi PCNU Ahad Kemarin. (Foto: Pachenews)

Pacitanku.com, PACITAN – KH Mahmud terpilih menjadi Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pacitan untuk periode tahun 2017-2022. Kepastian terpilihnya KH Mahmud tersebut diketahui dari hasil Konferensi PCNU Pacitan pada Ahad (23/4/2017) kemarin di Perguruan Islam Pondok Wates, Desa Widoro Kecamatan/Kabupaten Pacitan.

Konferensi bertema “Menguatkan struktur, membina kultur dan membumikan tradisi untuk Pacitan yang sejahtera” ini diikuti oleh seluruh MWCNU se-Kabupaten Pacitan dan perwakilan badan otonom.

Selain KH Mahmud sebagai ketua PCNU, hasil Konfercab juga mengamanahkan KH Abdullah Sadjad sebagai Rais Syuriyah periode 2017-2022. Dalam sidang pemilihan Rais Syuriyah, yang dipimpin oleh Wakil Ketua PWNU Jawa Timur H Rubaidi tersebut menerapkan sistem Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa).

Hasil Ahwa memilih KH Abdullah Sadjad sebagai Rais Syuriyah PCNU, setelah melalui musyawarah yang beranggotakan lima Kiai Sepuh, diantaranya KH Burhanuddin HB, KH Faqih Sujak, KH Asmuni, KH Abdullah Sadjad, dan KH Busro Hawatif.

Sementara sidang pemilihan Ketua Tanfidziyah, secara aklamasi seluruh peserta sidang menyepakati dan memilih kembali KH Mahmud sebagai Ketua Tanfidziyah PCNU. Ini merupakan sejarah baru bagi NU Pacitan.

”Jarang terjadi pemilihan Rais dan Tanfidziyah, terutama Tanfidziyah yang seorang ketua Tanfidziyah terpilih secara aklamasi dalam kondisi dinamika sosial politik akhir-akhir ini di Jawa timur,”katanya sebagaimana dilansir Pacitanku.com dari Pachenews.com, Senin (24/4/2017).

Menurut Rubaidi, Pacitan adalah satu-satunya PCNU yang memilih ketua Tanfidziyah melalui musyawarah mufakat atau aklamasi.




”Terjadinya pemilihan yang kondusif ini, pertama didahului oleh proses kaderisasi yang berjalan secara masif, sehingga menjadi proses pendewasaan dan proses organisasi yang sudah mulai profesional dengan pengakuan seorang ketua yang sudah menjalankan satu periode itu diakui oleh para pihak terutama keluarga NU dan pengurus NU yang memiliki hak suara,” ungkapnya.

Dia berpesan agar PCNU Pacitan segera memanajemen potensi yang sudah ada, meneruskan berbagai kegiatan yang sudah bagus dan memaksimalkan potensi para kader, untuk bisa menjadikan NU sebagai organisasi yang lebih mandiri. “Ini tujuan yang penting. Sebab kemandirian NU adalah platfrom yang harus terjadi di seluruh pengurus cabang,” tandasnya.

Sementara, Rais Syuriyah terpilih KH Abdullah Sadjad menyampaikan ungkapan terimakasih kepada para peserta Konfercab utamanya kepada para Kiai yang telah mengamanahkanya untuk duduk sebagai Rais Syuriyah, yang merupakan posisi tertinggi dalam kepengurusan NU.

Pak Sadjad, demikian ia biasa disapa, menuturkan bahwa Nahdlatul Ulama memiliki peran dan posisi yang strategis dalam membina umat terutama yang berkaitan dengan pengembangan dalam bidang Dakwah, sosial, pendidikan, dan ekonomi. “Oleh karena itu, empat komponen ini yang akan dikerjakan secara maksimal,” ujarnya.

Berkaitan dengan program kerja, Pak Sadjad belum terburu-buru untuk menyusunnya. Ia berpandangan bahwa program kerja pengurus lama masih perlu dilanjutkan.

“Kita akan melihat dulu program yang lama. Kalau kita analisa itu potensial, ya tetap akan kita berdayakan,” tandasnya lagi.

Dirinya berharap kepengurusan PCNU periode 2017-2022 dapat berjalan sesuai dengan tugasnya. Komposisi kepengurusan, menurutnya, akan diisi oleh kader-kader terbaik dan yang potensial di bidangnya. “Harapanya NU Pacitan bisa lebih baik lagi. Dan untuk kepengurusanya ya tidak terlalu gemuk dan tentunya lebih profesional,” katanya.

Pewarta/Foto: Zaenal Faizin/Pachenews

Permalink ke Optimisme Pengelola Perpustakaan Gemaharjo Jadi yang Terbaik Tingkat Jatim
Headline, Pacitan News

Optimisme Pengelola Perpustakaan Gemaharjo Jadi yang Terbaik Tingkat Jatim

Pacitanku.com, TEGALOMBO – Perpustakaan cahaya Desa Gemaharjo, Kecamatan Tegalombo kembali masuk nominasi penilaian tingkat provinsi. Tidak hanya itu, Taman Baca Desa Gemaharjo juga berpeluang besar maju ke tingkat nasional karena sudah menempati 10 besar.

“Kita tim penilai akan melakukan visitasi guna melihat langsung kondisi dilapangan,”kata Sri Wahyu Hastarini salah satu tim juri provinsi saat kunjungan ke Gemaharjo, Jumat (21/4/2017) siang.

Dari hasil pantauan lapangan, lanjut Hastarini, nantinya akan dinilai lagi. Adapun yang mendapat poin  tertinggi berhak mewakili Jawa Timur di kancah nasional.

Bagi masyarakat Desa Gemaharjo kesempatan itu tdk akan disia siakan. Seperti disampaikan wakil Bupati Pacitan Yudi Sumbogo,  jika terpilih maka masyarakat akan tertantang menjadi lebih baik.




“Lomba memang bukan tujuan utama tapi jika kesempatan datang maka kita akan selalu siap,”tegasnya penuh semangat.

Optimisme yang tinggi dari Desa Gemaharjo menjadi yang terbaik bukan tanpa alasan. Perpustakaan cahaya sejak berdiri hingga sekarang terus berkembang. Bahkan, sentuhan tekhnologi informasi (TI) juga dikembangkan.“Kita terus berbenah semakin moderen,”ujar Sukiran, Kepala Perpustakaan Cahaya Desa Gemaharjo saat berbincang dengan Radio Suara Pacitan.

Selain 4000 koleksi buku berbagai jenis, Perpustakaan Cahaya telah mamiliki koleksi e-Book (buku elektronik) hingga 200 judul. Buku-buku digital tersebut dapat dinikmati melalau telepon pintar dengan alamat: perpustakaancahaya.wordpress.com.

Keberadaan perpustakaan ini sendiri juga mampu mendorong masyarakat berkembang. Misalnya, melalui pengetahuan membaca kini masyarakat Desa Gemaharjo telah berhasil mengembangkan peternakan sapi perah serta pengolahan susu, dan budidaya ikan lele. Dengan membaca jendela dunia terbuka, muaranya pertumbuhan ekonomi turut meningkat,”pungkasnya. (riz/ps)

Permalink ke Indartato: Bimbingan Pengawas untuk Peningkatan Mutu Pendidikan
Headline, Pacitan News

Indartato: Bimbingan Pengawas untuk Peningkatan Mutu Pendidikan

Bimtek Pengawas Pacitan. (Foto: Humas Pacitan)

Pacitanku.com, PACITAN – Peran pengawas sekolah untuk memajukan pendidikan tak kalah penting. Karena mereka ikut bertanggung jawab atas baik buruknya mutu pendidikan itu sendiri.

Hal itu dikatakannya Bupati Pacitan Indartato saat pelantikan pengurus Asosiasi Pengawas Sekolah Indonesia (APSI) Pacitan di gedung Karya Darma, Sabtu (22/1/2017).

“Bimbingan pengawas penting untuk mewujudkan peningkatan mutu pendidikan,” tandas Bupati Indartato.




Selain terkait mutu pendidikan, anggota APSI juga memiliki tugas pokok menyangkut manajerial di institusi pendidikan. Meski demikian, jabatan pengawas masih dianggap kurang bergengsi. Padahal kewajiban yang mereka emban juga berat.

Terlebih dalam RPJMD daerah menyebut tujuan tercapainya masyarakat yang sehat, pintar, dan sejahtera secara ekonomi.

Bupati mengatakan, pengawas ibarat sutradara dan orang pilihan. Karena bermain dibalik layar untuk membimbing guru dan sekolah agar lebih baik. “Tujuan pendidikan adalah menyediakan sumberdaya manusia yang mumpuni sekaligus bertaqwa,” katanya.

Untuk meningkatkan kemampuan pengawas sendiri pihak APSI melaksanakan pelatihan dan pemberlakuan sertifikasi sebagai pengawas. Dengan demikian mereka diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam upaya peningkatan mutu pendidikan di wilayahnya. (arif/tarmuji/danang/humaspacitan)