Kategori: Peristiwa

Popular

Berita Terbaru

Permalink ke Aduan yang Diterima Komnas HAM di Pacitan Sangat Minim
Headline, Sosial

Aduan yang Diterima Komnas HAM di Pacitan Sangat Minim

Ilustrasi kantor Komnas HAM

Pacitanku.com, PACITAN – Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) yang menyorot kabupaten Pacitan. Mereka menyambangi Pacitan, kemarin (20/4). Bukan karena kasus pelecehan seksual terhadap anak baru-baru ini, namun karena minimnya pengaduan dari Pacitan yang diterima oleh mereka. Hal itu dianggap janggal.

‘’Kedatangan kami ke Pacitan salah satunya untuk mengetahui kejanggalan itu. Mengapa dalam satu tahun, pengaduan yang kami terima dari Pacitan tidak lebih dari sepuluh,’’ ujar Kabag Duk. Pelayanan Pengaduan/Penyelidik Komnas HAM, Rima Purnama Salim, dilansir Radar Madiun

Rima mengungkapkan, hanya ada tiga aduan kasus yang diterima Komnas HAM dari Pacitan sepanjang tahun lalu. Dua kasus, di antaranya, merupakan sengketa tanah, antara masyarakat dengan pemerintah dan pihak swasta.

Sementara satu kasus lain yang diadukan ke Komnas HAM menyoal dana pensiun. Menurut Rima, biasanya setiap daerah dalam satu tahun, minimal mengirimkan sepuluh aduan kepada Komnas HAM.

Bahkan, di daerah yang relatif berkembang dan sudah maju, angka sepuluh aduan kasus HAM pun masih dianggap kecil. ‘’Umumnya soal hak kesejahteraan. Sebab, di daerah yang sudah relatif berkembang, hal yang tidak bernilai ekonomi bisa menjadi punya nilai ekonomi,’’ terangnya.

Menurut Rima, Pacitan merupakan daerah perlintasan, lantaran langsung berbatasan dengan Jateng. Umumnya di daerah perlintasan, kasus-kasus HAM yang dilaporkan ke Komnas HAM minimal ada sepuluh setiap tahunnya.




Itu karena masalah-masalah yang terjadi di sekitar masyarakat daerah perlintasan cenderung lebih banyak. Termasuk diantaranya yang menyangkut HAM. Rima menduga, ada kasus-kasus yang tidak tersampaikan pada Komnas HAM dari Pacitan. ‘’Dugaan awalnya, karena memang sedikit. Tetapi setelah berdiskusi dengan masyarakat, ternyata juga ada kasus-kasus lain yang tidak tersampaikan,’’ ungkapnya.

Ada tiga penyebab minimnya aduan kasus HAM dari Pacitan. Rima menyebut, penyebab pertama adalah akses. Masyarakat Pacitan masih menganggap akses untuk mengadu ke Komnas HAM sulit, lantaran kantornya berlokasi di Jakarta. Padahal, pengaduan bisa dilakukan melalui email atau surat konvensional.

Kedua, karena masih kurangnya pemahaman seputar HAM. Penyebab terakhir, diduga masyarakat takut melapor ke Komnas HAM. Menurut Rima, masyarakat tidak perlu takut untuk melapor. Masyarakat harus menyadari HAM yang mereka miliki.

‘’Tidak perlu takut melapor, jika mengalami pelanggaran HAM. Masyarakat Pacitan harus menyadari HAM itu melekat dalam diri mereka. Toh, mengakses kami juga tidak sulit,’’ ujar Rima. (naz/rif)

Permalink ke Waduh, Ada Penipu Mirip Dimas Kanjeng Taat Pribadi di Pacitan
Headline, Hukum dan Kriminal

Waduh, Ada Penipu Mirip Dimas Kanjeng Taat Pribadi di Pacitan

Ilustrasi penipuan

Pacitanku.com, PACITAN – Awalnya tidak kenal, namun Sriweni, warga Desa Widoro, Kecamatan Pacitan Kota, rela menyerahkan uang sebesar Rp 6 juta kepada Agus Purwadi. Perempuan manis ini sebelumnya tidak tahu keseharian dan sepak terjang Agus, pria yang juga tinggal di Kecamatan Pacitan Kota itu.

Weni baru sadar telah menjadi korban penipuan berkedok penggandaan uang laksana Dimas Kanjeng Taat Pribadi. ‘’Entah mengapa saya percaya begitu saja, dan begitu mudah memberikan uang kepada Agus yang tidak saya kenal. Padahal, saya cukup selektif meminjamkan uang kepada orang lain,’’ tuturnya, dilansir Radar Madiun.

Kini, Agus Purwadi ditangkap polisi pada Minggu (16/4) lalu, atas perbuatannya yang menipu sejumlah warga Pacitan dengan alasan bisa menggandakan uang. Diperkirakan, uang yang sukses dikumpulkan Agus mencapai puluhan juta rupiah. Saat ini, kasus masih dalam penyidikan Polres Pacitan.

Ceritanya, waktu itu, Weni mengiyakan dan bersedia saja memberikan Rp 6 juta. Ia menuturkan, aksi penipuan terhadapnya itu terjadi Agustus tahun lalu. Sore itu, Weni sibuk memanggil-manggil anaknya yang masih balita untuk pulang ke rumah.

Saat itulah, dia melihat Agus tengah duduk-duduk tak jauh dari teras rumahnya. Weni masih ingat, saat itu,lelaki tersebut memanggilnya ‘’mbak’’, yang kemudian dijawabnya ‘’mangga pinarak’’ (mari silahkan). ‘’Itu kan biasa, sebagai formalitas membalas sapaan orang tidak dikenal,’’ ujarnya.




Siapa sangka, hanya berbekal kata ‘’mangga pinarak’’, keesokan harinya Agus langsung nangkring di depan rumah Weni. Ia pun kaget. Dia lalu diajak bersalaman. Setelah bersalaman, keanehan semakin dirasakan perempuan satu putra tersebut.

Apapun perkataan yang diucapkan Agus, dituruti oleh perempuan yang bekerja sebagai penyanyi itu. Siang itu, Agus meminta Weni menyediakan uang Rp 6 juta. Tetapi, saat itu hanya memiliki Rp 2 juta.

Dia pun langsung menuju ke bank, menarik Rp 4 juta dari rekeningnya. Weni dijanjikan uangnya berlipat menjadi ratusan juta rupiah. ‘’Saat diberi syarat uang tidak boleh dalam pecahan Rp 50 ribu, entah mengapa saya juga menuruti,’’ terangnya.

Setelah uang diserahkan, Agus meminta Weni menyediakan sehelai kain putih. Pria itu meminta kain tersebut disimpan di sebuah kamar yang tidak terpakai. Dia juga mewanti-wanti Weni untuk tidak memberitahukan kepada siapapun soal uang dan kain tersebut.

Malam harinya, Weni cemas. Dia tidak bisa tidur. Keesokan harinya, ia baru sadar telah menjadi korban penipuan. Namun meski sadar, dirinya tetap bersabar. ‘’Saya tunggu itikad baik dari Agus untuk mengembalikan uang saya. Tetapi meski telah lama ditunggu, nyatanya uang saya tidak kunjung dikembalikan,’’ ujarnya.

Aksi Agus tak berhenti di sini. Dia juga beraksi di Desa Semanten, Kecamatan Pacitan Kota. Korbannya adalah Jumingan. Bahkan, jumlahnya jauh lebih banyak. Dia dengan sukarela memberikan Agus Rp 17 juta.

Uang sebanyak itu diberikan secara berkala, setiap kali Agus meminta. Jumingan sampai-sampai harus menjual kayu sengon laut miliknya untuk menyediakan uang yang diminta Agus. Sama seperti Weni, Jumingan menuruti semua perkataan Agus setelah bersalaman dengan pria tersebut. ‘’Awalnya tidak kenal. Saya dikenalkan oleh seorang teman. Katanya orang pintar. Setelah bersalaman, saya selalu menuruti perkataannya (Agus),’’ terangnya.

Menurut Jumingan, uang sebanyak Rp 17 juta itu akan digunakan Agus untuk membeli sejumlah persyaratan dalam menarik benda pusaka. Mulai dari minyak zaitun, sampai memberi santunan kepada fakir miskin.

Dan parahnya, Jumingan bersedia memberi Agus uang atas alasan-alasan tersebut. Namun setelah berbulan-bulan, pusaka yang dijanjikan Agus tidak kunjung jelas rimbanya. Dia baru merasa tertipu setelah Weni, minggu lalu melaporkan Agus ke polisi.

Jumingan sudah dipanggil polisi untuk memberikan keterangan. ‘’Barang bukti berupa kain putih juga sudah saya berikan. Saya hanya ingin uang saya kembali, dan pelakunya dihukum setimpal,’’ kata Jumingan.

Saat ini, kasus penipuan berkedok penggandaan uang Agus ditangani Polres Pacitan. Polisi masih melakukan penyidikan atas kasus tersebut. Selain sudah menangkap Agus, polisi saat ini juga terus melakukan pendataan, siapa saja yang sudah menjadi korban penipuan Agus.

Serta, berapa total uang yang sudah disikat Agus dari para korbannya. Belum diketahui secara pasti modus-modus apa saja yang dilancarkan Agus kepada korbannya. ‘’Saat ini masih dalam penyidikan. Belum bisa memberikan keterangan,’’ kata Kasatreskrim Polres Pacitan, AKP Pujiyono, singkat.

Sumber: Radar Madiun

Permalink ke Jembatan Roboh, Pemdes Kebondalem Pasang Jembatan Darurat dari Bambu
Bencana Alam, Headline

Jembatan Roboh, Pemdes Kebondalem Pasang Jembatan Darurat dari Bambu

Jembatan Kebondalem diterjang banjir. (Foto: Isnandir/Pacitanku CJ)

Pacitanku.com, TEGALOMBO – Bencana demi bencana mengintai Pacitan. Terbaru, akses utama warga empat dusun di Desa Kebondalem, Kecamatan Tegalombo terancam terputus. Itu menyusul robohnya dua tiang penyangga jembatan Kebondalem di sungai Grindulu, minggu lalu.

Saat ini, warga dan pemerintah desa setempat berinisiatif memasang bambu sebagai tiang penyangga pengganti. Tidak diketahui berapa lama lagi bambu tersebut sanggup menahan beban jembatan dengan panjang 100 meter tersebut. ‘’Ambrolnya karena hujan lebat seminggu terakhir. Aliran air sungai Grindulu jadi semakin besar,’’ ujar Budi Kuswanto, warga yang tinggal tidak jauh dari jembatan Kebondalem, kemarin, dilansir Radar Madiun.

Budi menuturkan jembatan desa Kebondalem itu mulanya dalam kondisi baik-baik saja. Pada hari Minggu lalu, hujan lebat yang mengguyur sejumlah wilayah di Pacitan, membuat debit air sungai Grindulu menjadi lebih besar.




Masalahnya, aliran sungai Grindulu di sekitar jembatan tidak merata. Adanya penumpukan sedimen membuat seluruh debit air hanya bisa lewat di sisi selatan sungai. Karena lebar aliran air tidak sebanding dengan debit air yang bertambah, dua tiang penyangga jembatan pun roboh.

Tidak hanya itu, talut di selatan sungai tersebut juga ambrol. ‘’Warga dan pemerintah desa lalu memasang dua bambu sebagai pengganti tiang penyangga sementara,’’ terangnya.

Yang membuat semakin miris, dengan kondisi yang nyaris roboh, jembatan tersebut merupakan salah satu jalur akses utama warga desa. Kepala Desa Kebondalem, Mahrubin, menjelaskan jembatan desa tersebut menghubungkan empat dusun, yakni Mujing, Kitri, Pengkol, dan Tambaksari.

Kebanyakan warga yang mengendarai roda dua melewati jembatan tersebut. Sementara roda empat, memutar melalui Desa Gedangan, sejauh empat kilometer. Tidak hanya menghubungkan empat dusun, jembatan tersebut juga menjadi jalur alternatif menuju Desa Kalikuning, Tulakan. ‘’Banyak sekali warga yang melalui jembatan ini. Selain lokasinya yang dekat pasar, juga dekat dengan sejumlah sekolah,’’ jelasnya.

Selain memasang bambu sebagai pengganti sementara tiang penyangga jembatan, Mahrubin juga berharap Pemkab Pacitan melakukan pengerukan sedimen sungai Grindulu di sekitar jembatan. Tujuannya, memecah aliran air agar tidak menumpuk di sisi selatan jembatan.

Untuk jangka panjangnya, Mahrubin mengajukan rehab permanen di tahun 2018. Yang juga diinginkan, menambah lebar jembatan agar bisa dilalui kendaraan roda empat (R4). ‘’Karena jika setiap pagi dan sore, jembatan itu selalu macet. Yang lewat mulai pedagang, siswa sekolah, sampai karyawan,’’ terangnya. (naz/rif)

Permalink ke Polres Pacitan Tetapkan 8 Tersangka Kasus Pencabulan di Sudimoro
Headline, Hukum dan Kriminal

Polres Pacitan Tetapkan 8 Tersangka Kasus Pencabulan di Sudimoro

AKP Pujiyono Polres Pacitan saat press release.

Pacitanku.com, PACITAN – Jajaran Kepolisian Resor Pacitan menetapkan 8 tersangka kasus yang menimpa EW, warga Desa Karangmulyo, Kecamatan Sudimoro, Pacitan. Saat ini, delapan dari sepuluh pelaku pencabulan sudah ditetapkan sebagai tersangka. Sementara dua lainnya masih buron, lantaran diduga telah berada di luar Pacitan.

Kasatreskrim Polres setempat, AKP Pujiyono memastikan pihaknya telah mengumpulkan cukup bukti dari korban dan pelaku. Tetapi, penyidikan masih akan terus dilakukan pendalaman. ‘’Tujuannya, untuk memperbanyak bahan pertimbangan bagi majelis hakim saat kasus naik ke meja hijau nanti. Agar majelis hakim bisa memutus seadil-adilnya kasus ini,’’ ujarnya, dilansir Radar Madiun, Selasa.

Saat ini, Pujiyono menyebut syarat dua alat bukti sudah tercukupi. Termasuk, keterangan dari saksi ahli di bidang psikologi dan kesehatan. Salah satu fakta yang terkuak dari saksi ahli adalah, kondisi psikis EW yang ternyata normal.

Tidak seperti penuturan warga lingkungan sekitar EW. Keterangan-keterangan seperti itulah yang saat ini banyak dikumpulkan polisi. ‘’Kami ingin di persidangan nanti, majelis hakim dapat melihat kasus ini secara luas dan mendalam. Sudah tugas kami menyediakan kacamata itu bagi majelis hakim,’’ terangnya.




Sebab, menurut Pujiyono, kasus pencabulan EW dilatari masalah yang kompleks. Faktor ekonomi, geografi, hingga pengaruh teknologi yang menyebabkan sepuluh warga Karangmulyo itu nekat silih berganti berhubungan badan dengan EW.

Pujiyono yakin, anak perempuan seusia EW tidak akan nekat berhubungan badan dengan alasan ‘’menjual diri’’. ‘’Latar belakang masalahnya kompleks. Karena itu hakim juga harus melihat kasus ini secara menyeluruh,’’ ujarnya.

Para tersangka pencabulan EW akan dikenakan pasal 81 dan 82 UU 35 tahun 2014, perubahan dari UU 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak. Mereka diancam hukuman minimal lima tahun penjara.

Pujiyono yakin, dilanjutkannya proses hukum atas kasus pencabulan EW akan menjadi pelajaran bagi masyarakat Pacitan. Bahwa, semua kasus yang melibatkan anak sebagai korban wajib diusut tuntas. Jika dibiarkan berakhir damai, hal itu akan menjadi preseden buruk penegakan hukum di Pacitan. ‘’Ditakutkan akan menjadi masalah sosial, jika ada kasus seperti ini namun dibiarkan damai. Yang paling rawan terdampak tentu anak, karena mereka korbannya,’’ jelas Pujiyono.

Upaya penegakan hukum Polres Pacitan mendapat dukungan dari wakil rakyat. Anggota Komisi II DPRD Pacitan, Triyani, menilai proses hukum yang dilakukan terhadap kesepuluh pelaku pencabulan EW akan menjadi pelajaran bagi masyarakat Pacitan.

Masyarakat perlu tahu, bahwa kasus kekerasan seksual yang melibatkan anak sebagai korban, tidak boleh berakhir damai. Jika kasus serupa dikompromikan secara damai, ditakutkan akan banyak lainnya yang mencoba meniru. ‘’Kasus kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur itu tidak ringan hukumannya. Mau bagaimana pun, salah jika korbannya adalah anak di bawah umur,’’ ujarnya.

Kasus pencabulan terhadap EW oleh sepuluh pria dipandang Triyani sebagai buntut kurangnya kepedulian lingkungan sekitar EW. Pengawasan keluarga, lingkungan sekitar, sampai sekolah, harus ditingkatkan untuk meminimalisasi kasus serupa.

Politisi Partai Demokrat itu menyarankan sekolah untuk secara periodek merazia handphone siswanya. Sebab, tidak dipungkiri, saat ini, anak bisa dengan mudah mengakses konten berbau pornografi.‘’Upaya yang dilakukan pemkab sebenarnya juga sudah maksimal. Hanya, pengawasan di lingkungan terdekat anak itu yang perlu ditingkatkan. Jika bukan orang terdekat, lalu siapa lagi yang akan melindungi masa depan anak?’’ kata Triyani. 

Sumber: Radar Madiun

Permalink ke Pelajar Terseret Ombak di Pantai Srau Ditemukan dalam Keadaan Meninggal Dunia
Headline, Peristiwa

Pelajar Terseret Ombak di Pantai Srau Ditemukan dalam Keadaan Meninggal Dunia

Detik-detik evakuasi jenazah Zidan di kawasan Dermaga Tamperan. (Foto: IST)

Pacitanku.com, PACITAN – Setelah melakukan pencarian selama kurang lebih 24 jam, tim dari Basarnas Pos SAR Trenggalek dan juga Tim Rescue Gabungan Pacitan berhasil menemukan korban tenggelam akibat terseret ombak di perairan Pantai Srau atas nama Ahmad Zidan Haris Siddiqy (17), warga Jalan Margo Rukun 32 Desa Kisik Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik pada Senin (17/4/2017) malam WIB.

Zidan yang merupakan pelajar ini ditemukan dalam keadaan meninggal dunia dengan lokasi penemuan di dermaga baru Pelabuhan Tamperan, Kecamatan Pacitan. Jenazah Zidan di evakuasi untuk dibawa ke RSUD dr Darsono guna melaksanakan visum.




Diberitakan sebelumnya liburan Tio Lutfi Hanafi, 20, dan kawan-kawannya di Pantai Srau, Desa Candi, Kecamatan Pringkuku, Pacitan, Minggu (16/4/2017) kemarin berakhir petaka. Pemuda asal Widang, Tuban, itu bersama kedua temannya digulung ombak setinggi dua meter, yang tiba-tiba menerjang Karang Bolong, spot favorit di Pantai Srau.

Tio dan Reza Amrullah, 18, warga Mojoarno, Jombang, berhasil selamat. Nahas, seorang teman lainnya, Ahmad Zidan Haris Siddiqy (17) warga Jalan Margo Rukun 32 Desa Kisik Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik dinyatakan hilang sebelum ditemukan dalam keadaan meninggal dunia.

Diketahui, insiden yang menimpa Tio dan kawan-kawannya terjadi sekitar pukul 08.00. Pagi itu, Tio dan tujuh temannya dari Tuban, Jombang, dan Gresik, sengaja berlibur ke Pantai Srau untuk refreshing, setelah mengikuti Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK), beberapa waktu lalu.

Di pantai tersebut, mereka memilih bermain air di spot Karang Bolong. Spot tersebut terbilang sepi, tidak terlalu banyak pengunjung jika dibanding spot utama. Tak disangka-sangka, saat Tio dan lima temannya tengah bersantai di Karang Bolong, ombak yang awalnya hanya 15 sentimeter, tiba-tiba datang menggulung dengan ketinggian satu meter. Para remaja itu langsung kocar-kacir. Tiga orang berhasil menyelamatkan diri.

Sedangkan Tio, Reza, dan Zidan, terjebak gulungan ombak. Ketiganya berpegangan pada karang. Belum sempat melarikan diri, datang ombak susulan setinggi dua meter. Zidan langsung terhanyut. Terjangan ombak begitu kencang membuat Tio sempat tak sadarkan diri karena kepalanya terbentur karang.

Oleh teman-temannya yang selamat, Tio langsung dilarikan ke RSUD dr. Darsono Pacitan. Sementara Reza dan beberapa temannya yang selamat berjaga di lokasi, meminta tolong warga dan petugas untuk mencari Zidan. Sekitar pukul 12.00, BPBD, petugas puskesmas, dan polisi, dan TNI tiba di lokasi.

Sebelum ditemukan pada Senin malam, pencarian yang dilakukan sekitar pukul 15.00 tersebut dilakukan dilakukan di seputaran Karang Bolong. Pencarian dilakukan dengan menyelam di sekitar lokasi batu-batu karang. Petugas juga dibantu warga dalam melakukan pencarian. Setelah hampir satu jam melakukan pencarian di sekitar batu-batu karang tersebut, Zidan belum juga terlihat.

Pencarian kemudian dilanjutkan pada Senin (17/4/2017) dengan menyisir sepanjang garis pantai dan tebing, dan Zidan ditemukan di dekat dermaga pelabuhan Tamperan Pacitan.

Permalink ke Pasca Laka Laut, Disparpora Wacanakan Lifeguard di Pantai Srau
Headline, Peristiwa

Pasca Laka Laut, Disparpora Wacanakan Lifeguard di Pantai Srau

Karang dan Pasir Putih Pantai Srau (Dok.Pacitanku)

Tempat Wisata Pacitan, Karang dan Pasir Putih Pantai Srau (Dok.Pacitanku)

Pacitanku.com, PRINGKUKU – Insiden  yang menimpa Tio dan kawan-kawannya menjadi pelajaran berharga. Fungsi seorang petugas keamanan pantai (lifeguard) sangat penting, untuk mengawasi wisatawan di setiap pantai. Pasalnya, ombak laut selatan yang ganas memang menjadi salah satu ancaman utama deretan pantai-pantai eksotis di Pacitan.

Kendati sudah ada papan larangan, kenyataannya banyak wisatawan yang cenderung nekat dan menantang bahaya. Termasuk, spot Karang Bolong di Pantai Srau. ‘’Lifeguard itu hukumnya wajib ada di setiap pantai. Masalahnya, kami belum ada anggaran yang dialokasikan untuk lifeguard,’’ ujar Kepala Disbuparpora, Endang Surjasri, kemarin.

Menurut Endang, Pantai Srau merupakan salah satu pantai di Pacitan yang ombaknya terbilang ganas kala pasang. Ketika pasang, ketinggian ombaknya minimal mencapai dua meter. Karakteristiknya hampir sama dengan Pantai Klayar. Yakni, bibir pantai yang menghadap laut lepas.

Srau dan Klayar, pantainya berbeda dengan Pancer Door, yang bibir pantainya luas namun ada di dalam teluk. ‘’Pantai Srau langsung menjorok samudera, tidak berada di dalam teluk. Terlebih, disana banyak karang dan ada palung laut juga. Itu yang semakin membuat ombak menjadi ganas,’’ jelasnya.

Dari sekian banyak pantai yang ombaknya menggunung, saat ini, baru pantai Klayar yang sudah memiliki lifeguard. Disbudparpora mempekerjakan enam petugas di pantai tersebut. Namun, upah mereka tidak berasal dari APBD.




Menurut Endang, mereka dibayar lewat anggaran non-budgeter. ‘’Papan larangan itu saja sangat tidak cukup. Karena banyak wisatawan yang nekat. Termasuk di Karang Bolong pantai Srau, yang notabene zona larangan berenang,’’ terangnya.

Berkaca dari insiden yang menimpa Tio dan kawan-kawannya, Endang berharap upayanya mengajukan anggaran untuk lifeguard bisa segera goal di APBD. Saat ini, Disparpora sudah mengajukan telaah staf kepada Bupati Indartato.

Disamping itu, Endang juga terus melobi dewan untuk memuluskan realisasi penganggaran lifeguard tersebut. Pasalnya, menurut Endang, keselamatan wisatawan harus menjadi prioritas. Dia menyebut tahun lalu malah lebih parah.

Selain tidak ada lifeguard di seluruh pantai, juga tidak ada asuransi bagi para wisatawan. ‘’Kebutuhan lifeguard sudah semakin urgent. Perubahan musim saat ini membuat ombak semakin ganas. Sementara, di sisi lain, ada banyak hari libur panjang, yang membuat wisatawan semakin banyak berdatangan. Keselamatan mereka harus menjadi prioritas,’’ ujarnya.

Sumber: Radar Madiun