Kategori: Peristiwa

Popular

Berita Terbaru

Permalink ke Angka Tilang “Operasi Patuh Semeru” di Pacitan Terendah, Polres Gencarkan Razia Kendaraan
Headline, Hukum dan Kriminal

Angka Tilang “Operasi Patuh Semeru” di Pacitan Terendah, Polres Gencarkan Razia Kendaraan

Sejumlah anggota Polres Pacitan menggelar razia operasi zebra semeru 2015. (Foto: POlres Pacitan)

Foto Ilustrasi, sejumlah anggota Polres Pacitan menggelar razia operasi zebra semeru 2015. (Foto: POlres Pacitan)

Pacitanku.com, PACITAN – Angka penindakan tilang dalam “Operasi Patuh Semeru 2017” di Pacitan menjadi yang terendah se Jawa Timur. Berdasarkan hasil evaluasi Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Pacitan, angka tilang di Pacitan diketahui kurang dari seribu. Sementara, daerah-daerah lain sudah menembus angka ribuan.

Kepala Satlantas Polres Pacitan, Ajun Komisaris Polisi Hendrix Kusuma Wardana kepada wartawan, baru-baru ini mengakui Pacitan sempat yang terendah saat evaluasi Senin (15/5/2017) lalu.“Namun, sejak saat itu terus kami gencarkan,hingga berakhirnya Operasi Patuh Jaya 2017, Senin (22/5) mendatang,”tandasnya.

Sebagai informasi, Polda Jatim merilis hasil sementara pelaksanaan Operasi Patuh Jaya 2017 di seluruh jajaran polres. Angka tilang di Pacitan diketahui kurang dari seribu, sehingga, atas data tersebut, Hendrix menginstruksikan untuk lebih gencar melaksanakan razia.

Setiap hari terhitung mulai Selasa (16/5) lalu, razia pun dilakukan pagi dan siang. ‘’Senin angkanya terendah, lalu mulai Selasa langsung gencar razia, hasilnya perlahan ada peningkatan,’’ ujarnya.

Dia mengatakan bahwa hasil tilang yang terendah se-Jatim bukan berarti buruk jika dilihat secara nasional. Pasalnya, hasil Operasi Patuh Jaya 2017 oleh Polda Jatim merupakan yang tertinggi di seluruh jajaran polda se-Indonesia. Disisi lain, masyarakat sudah banyak yang mempersiapkan kelengkapan berkendaranya.




‘’Mayoritas di Pacitan, masyarakat cukup bagus dalam merespon dilaksanakannya Operasi Patuh Jaya 2017. Dalam artian, mereka peduli dengan kelengkapan berkendaranya,’’ tandas Kasatlantas yang baru menjabat ini.

Dirinya meyakini masih ada kemungkinan terjadinya pelanggaran. Ia pun belakangan menyasar ke titik-titik lain yang dicurigai rawan pelanggaran. Hasil yang didapat, kebanyakan pelanggar merupakan pelajar. Mereka nekat mengendarai motor meski belum memiliki SIM.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya di Pacitanku.com, Satlantas Polres Pacitan menyebut bahwa masih banyak masyarakat terjaring razia dalam “Operasi Patuh Semeru 2017” karena tak memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM).

Kepala Urusan pembinaan Operasi (KBO) Satlantas Polres Pacitan Inspektur Polisi Dua (Ipda) Susilo Dwi P, dalam keterangannya seperti dikutip laman Polres Pacitan pada Jumat (19/5/2017) mengatakan bahwa masih banyak masyarakat yang terjaring razia sehingga harus di tilang.

“Pelanggaran terbanyak seperti pelanggaran tidak memiliki SIM, tidak bawa STNK dan pelanggaran kelengkapan kendaraan bermotor yang tidak sesuai dengan spek tek, masih banyak ditemukan masyarakat yang terjaring razia terutama tidak memiliki SIM sehingga oleh petugas harus diberikan tindakan tilang,” jelasnya.

Sebagaimana diketahui, Satlantas Polres Pacitan mulai menyelenggarakan Operasi Patuh Semeru 2017 selama 14 hari sejak 9 Mei hingga 22 Mei 2017. Operasi patuh Semeru 2017 mengusung tema “Meningkatkan Kesadaran dan Kepatuhan Masyarakat di Bidang Kamseltibcarlantas Dalam Rangka Melaksanakan Kebijakan Promoter Kapolri di Wilayah Hukum Polres Pacitan.”

Kapolres Pacitan Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Suhandana Cakrawijaya mengatakan bahwa operasi ini bertujuan menciptakan situasi keamanan, keselamatan, ketertiban dan kelancaran lalu lintas sebagai upaya menciptakan situasi lalu lintas yang kondusif di wilayah Pacitan.

“Operasi Patuh merupakan operasi rutin yang dilaksanakan setiap tahunnya menjelang hari raya Idul Fitri guna menjaga kamseltibcar lantas dalam menyambut bulan suci Ramadhan 1438 H dan hari raya Idul Fitri 2017,”katanya.

Dalam pelaksanaan operasi tersebut, polisi akan mengedepankan penegakan hukum represif berupa tilang, terutama bagi para pelanggar lalu lintas yang berpotensi kecelakaan.

Editor: Dwi Purnawan

 

Permalink ke Hilang Saat Dicari Sang Anak, Jiwanto Gayam Ditemukan Meninggal Dunia di Sumur
Headline, Peristiwa, Sosial

Hilang Saat Dicari Sang Anak, Jiwanto Gayam Ditemukan Meninggal Dunia di Sumur

TNI bersama TRC BPBD melakukan evakuasi mayat Jiwanto tegalombo. (Foto: Sarwono)

Pacitanku.com, TEGALOMBO – Kejadian bunuh diri kembali terjadi di Pacitan. Kali ini kejadian nahas tersebut dilakukan oleh seorang warga bernama Jiwanto (54) warga RT/RW 01/IX Dusun Gayam, Desa Gemaharjo, Kecamatan Tegalombo pada Sabtu (20/5/2017) pagi.

Informasi yang dihimpun Pacitanku.com dari saksi Mohaman Solikin (35) di tempat kejadian perkara (TKP), awalnya Jiwanto dicari oleh Solikin yang merupakan anak dari Jiwanto karena sejak Sabtu pukul 03.00 WIB tidak ada dirumahnya.

Solikin bersama Deni Muhtadin (30) yang merupakan adiknya mencari di seluruh ruangan rumah tetapi tidak ada. Saat itu, Solikin mengatakan bahwa pintu rumah dalam keadaan terkunci dari dalam. Sang anak pun menduga ayahnya bunuh diri dengan masuk ke dalam sumur.“Kemudian kami berpikir bahwa beliau (Jiwanto-red) masuk ke dalam sumur ,”katanya.




Solikin berpikir demikian karena ayahnya mempunyai riwayat stres sejak usia SMP. Selanjutnya Solikin bersama Deni memberitahukan warga untuk menyedot air sumur dengan menggunakan mesin diesel.

Kemudian, setelah air disedot terlihat korban yang sudah dalam keadaan tertelungkup, berhubung kedalam sumur tersebut terlalu dalam kurang lebih 15 meter, kemudian warga menghubungi BPBD untuk mengeluarkan korban dari dalam sumur. Diketahui, setelah dikeluarkan dari dalam sumur korban sudah dalam keadaan meninggal dunia.

Dalam penemuan terhadap jenazah Jiwanto, hasil tes medis yang dilakukan oleh petugas mendapatkan temuan bahwa tidak diketemukan adanya tanda-tanda kekerasan. Korban pun memiliki riwayat Stres sejak SMP dan mempunyai sakit Glaukoma.

Kontributor: Sarwono
Editor: Dwi Purnawan

 

Permalink ke Pelanggar Terbanyak “Operasi Patuh Semeru” di Pacitan tak Punya SIM
Headline, Hukum dan Kriminal

Pelanggar Terbanyak “Operasi Patuh Semeru” di Pacitan tak Punya SIM

PELANGGARAN LANTAS. Polisi melakukan razia Operasi Patuh Semeru di Pacitan. (Foto:Polres Pacitan)

Pacitanku.com, PACITAN – Jajaran Satuan Lalu Lintas Kepolisian Resor Pacitan menyebut bahwa masih banyak masyarakat terjaring razia dalam “operasi Patuh Semeru 2017” karena tak memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM).

Kepala Urusan pembinaan Operasi (KBO) Satlantas Polres Pacitan Inspektur Polisi Dua (Ipda) Susilo Dwi P, dalam keterangannya seperti dikutip laman Polres Pacitan pada Jumat (19/5/2017) mengatakan bahwa masih banyak masyarakat yang terjaring razia sehingga harus di tilang.

“Pelanggaran terbanyak seperti pelanggaran tidak memiliki SIM, tidak bawa STNK dan pelanggaran kelengkapan kendaraan bermotor yang tidak sesuai dengan spek tek, masih banyak ditemukan masyarakat yang terjaring razia terutama tidak memiliki SIM sehingga oleh petugas harus diberikan tindakan tilang,” jelasnya.




Dia mengatakan bahwa dalam kegiatan operasi terpusat Patuh Semeru di pekan kedua ini,  berbagai kegiatan dari giat preemtiv, preventif hingga giat penegakan hukum terus dilaksanakan.

“Pada kegiatan razia stasioner di jalan masih banyak ditemukan para pelajar yang tidak memilik SIM memakai kendaraan ke sekolah,”katanya lagi.

Untuk itu, dia menghimbau kepada masyarakat yang belum memiliki SIM akan segera membuat SIM di layanan SIM Polres Pacitan. Dan bagi para orang tua pelajar dihimbau agar tidak membiarkan anak anaknya ke sekolah memakai kendaraan bermotor. “Selain karena belum cukup memiliki SIM juga untuk keselamatan anak di jalan menghindari hal hal tidak diinginkan seperti laka lantas,”pungkasnya.

Sebagaimana diketahui, Satlantas Polres Pacitan mulai menyelenggarakan Operasi Patuh Semeru 2017 selama 14 hari sejak 9 Mei hingga 22 Mei 2017. Operasi patuh Semeru 2017 mengusung tema “Meningkatkan Kesadaran dan Kepatuhan Masyarakat di Bidang Kamseltibcarlantas Dalam Rangka Melaksanakan Kebijakan Promoter Kapolri di Wilayah Hukum Polres Pacitan.”

Kapolres Pacitan Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Suhandana Cakrawijaya dalam sambtannya mengatakan bahwa operasi ini bertujuan menciptakan situasi keamanan, keselamatan, ketertiban dan kelancaran lalu lintas sebagai upaya menciptakan situasi lalu lintas yang kondusif di wilayah Pacitan.

“Operasi Patuh merupakan operasi rutin yang dilaksanakan setiap tahunnya menjelang hari raya Idul Fitri guna menjaga kamseltibcar lantas dalam menyambut bulan suci Ramadhan 1438 H dan hari raya Idul Fitri 2017,”katanya.

Dalam pelaksanaan operasi tersebut, polisi akan mengedepankan penegakan hukum represif berupa tilang, terutama bagi para pelanggar lalu lintas yang berpotensi kecelakaan.

Editor: Dwi Purnawan

 

Permalink ke Enam Rumah Warga Terdampak Tanah Gerak di Tulakan
Bencana Alam, Headline

Enam Rumah Warga Terdampak Tanah Gerak di Tulakan

Tanah gerak di Desa Jetak Kecamatan Tulakan. (Foto: Juliantondo/Pacitanku CJ)

Pacitanku.com, TULAKAN – Pergerakan tanah di Dusun Krajan, Desa Gasang, Kecamatan Tulakan, Pacitan, tidak bisa dipandang sebelah mata. Dalam hitungan tiga bulan, enam rumah warga desa setempat dilaporkan rusak karena peristiwa tanah gerak tersebut.

Bahkan, sudah ada tiga rumah yang terpaksa dibongkar akibat rusak berat. Pun, penghuni rumah sudah mengungsi untuk sementara waktu. ‘’Khawatir bakal roboh. Lebih baik saya mengungsi menyelamatkan keluarga,’’ ujar Supri, salah seorang warga terdampak, baru-baru ini.

Salah satu rumah yang dibongkar adalah milik Supri. Warga Dusun Krajan, Desa Gasang itu sudah merobohkan rumahnya sejak bulan April lalu, saat pertanda tanah gerak mulai membahayakan. 

Selain Supri, Tini dan Juwarni juga sudah merobohkan rumah masing-masing. Sementara, Juwarni dan Tini merobohkan rumahnya tiga hari yang lalu.




Bahkan Juwarni juga merobohkan satu lagi rumah miliknya yang lain lantaran juga terdampak retakan. ‘’Dampak retakannya sangat parah,’’ tegas Supri.

Garis retakan diketahui membelah rumah Supri hingga sedalam 50 sentimeter. Dinding rumahnya langsung miring dan lantainya pun terbelah. Dari rumah Supri, garis retakan menjalar ke lima rumah lain yang ada di sekitarnya.

Yang paling parah, merusak rumah Tini dan Juwarni. Parahnya, pergerakan tanah terjadi begitu cepat. Supri mengaku pertama kali mengetahui rumahnya retak-retak sekitar bulan Februari lalu. ‘’Kejadiannya begitu cepat. Lha wong setiap kali hujan, amblas minimal lima hingga sepuluh sentimeter,’’ jelasnya.

Supri mengaku sudah melaporkan kejadian yang menimpanya ke pemerintah desa. April lalu, BPBD dan pemerintah kecamatan juga sudah meninjau rumahnya. Dirinya mengaku menerima bantuan Rp 1 juta atas musibah yang dialaminya.

Untuk sementara, dia membawa serta empat anggota keluarganya mengungsi, dengan mengontrak sebuah rumah di Kalikuning, Tulakan. ‘’Waktu itu diberitahu jika akan diberikan bantuan lagi, namun menyusul,’’ ujar Supri.

Lain kisah dengan Ginen Wiyono. Dia tidak termasuk tiga warga dusun Krajan, Gasang, yang sudah membongkar rumah masing-masing. Dampak kerusakan yang menimpa rumahnya juga terbilang parah. Garis retakan hampir memenuhi seluruh lantai dan dinding rumahnya.

Kendati belum membongkar rumahnya, Ginen dan dua anggota keluarganya sejak lima hari terakhir mengungsi di rumah kerabat. Rumah ditinggal tanpa ada perabot satu pun. Ginen mengaku rugi sedikitnya Rp 4 juta akibat kerusakan rumah yang dideritanya. ‘’Belum ada yang mengecek kerusakan di rumah saya,’’ katanya.

Kepala Seksi Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD, Pujono, mengatakan pihaknya sudah meninjau Dusun Krajan, April lalu. Saat itu, rumah yang sudah dirobohkan memang baru milik Supri.

Diirnya hingga saat ini belum menerima laporan tertulis terkait rumah Juwarni dan Tini yang juga dirobohkan. Pun juga terhadap tiga rumah warga lainnya yang mengalami nasib serupa. Indikasi sementara, ada sumber mata air di bawah pemukiman warga Krajan jadi penybab tanah gerak.

‘’Namun itu masih perlu dibuktikan oleh ahli geologi. Sementara bantuan terhadap para korban, kami meunggu laporan tertulis. Sejauh ini laporan yang masuk hanya ada satu korban (Supri),’’ katanya.

Sumber: Jawa Pos

 

Permalink ke Serius Tangani Tanah Gerak di Bandar, Pemkab Pacitan Segera Koordinasi dengan PVMBG
Bencana Alam, Headline

Serius Tangani Tanah Gerak di Bandar, Pemkab Pacitan Segera Koordinasi dengan PVMBG

Bupati Indartato saat berkunjung ke korban terdampak tanah gerak di Bandar. (Foto: Muryono/Info Pacitan)

Pacitanku.com, BANDAR – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pacitan akan segera melakukan langkah strategis dalam upaya penanganan bencana alam tanah gerak di Dusun Sepring, Desa Bangunsari, Kecamatan Bandar. Salah satu yang akan dilakukan adalah berkoordinasi dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) di Bandung, Jawa Barat.

Menurut Bupati Pacitan Drs H Indartato MM saat meninjau lokasi terdampak bencana tanah gerak di Dusun Sepring, Desa Bangunsari, Kecamatan Bandar, Selasa (16/5/2017), pihaknya berkoordiasi dengan tujuan untuk mengetahui dan mendapatkan data teknis terkait gerakan tanah di kawasan itu.

Dengan dasar itulah nantinya pemkab akan mengambil langkah lanjutan atas rekomendasi yang keluar. “Akan segera kami laporkan kepada lembaga lebih tinggi untuk medapatkan penanganan serius. Sehingga diketahui titik-titik mana yang berbahaya dan titik-titik mana masih dapat dihuni,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Indartato yang meninjau bersama unsur Forum Pimpinan Kecamatan dan perangkat daerah terkait juga menggelar doa bersama. “Kami barharap warga tetap waspada dengan perubahan kondisi lingkungan sekitar,” tandasnya.




Indartato mengatakanbahwa secara serius akan mengupayakan penanganan terhadap bencana alam yang satu itu. Tujuannya agar warga penghuni lokasi sekitar titik gerakan tanah dapat tinggal dengan tenteram. Selain tetap menjaga kewaspadaan, ia juga berpesan kepada warga setempat, khususnya anak-anak, untuk tetap memprioritaskan pendidikannya.

Sementara, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tri Mujiharto mengungkapkan pihaknya akan segera menemui PVMBG. Dengan demikian titik-titik rawan segera diketahui.

“Pemerintah akan terus mencarikan solusi atas permasalahan ini. Yaitu pada ahlinya, PVMBG. Mereka akan memetakan kondisi tanah sebenarnya. Apakah tanah masih layak atau tidak, sebagai acuan pengambilan keputusan,” ungkap dia.

Saat ini ada 31 kepala keluarga (KK) terdampak bencana gerakan tanah. Jumlah tersebut berdasarkan pengamatan lapangan dari pihak BPBD. Ketika hujan lebat turun, gerakan tanah bertambah, yakni antara 15 sampai 20 sentimeter.

“Kami telah meminta pada warga untuk segera menutup retakan agar tidak semakin melebar. Dan tetap waspada, utamanya bagi pemilik rumah yang kondisinya telah bergeser dari struktur awal,” tandas Tri.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya di Pacitanku.com, Bencana alam tanah gerak mengancam tak kurang dari 168 Kepala Keluarga di wilayah Dusun Sepring, Desa Bangunsari, Kecamatan Bandar, Kabupaten Pacitan.

Dusun Sepring, Desa Bangunsari, Pacitan dinyatakan sebagai daerah zona merah yang rawan akan bencana longsor. Dari hasil pemetaan BPBD, area terdampak tanah gerak di kawasan ini mencapai 25 hektar. Namun demikian, warga tetap berada di kawasan tersebut karena tak memiliki lahan lain untuk ditempati. (Humas/RAPP002)

Permalink ke BPBD: 50 Rumah Warga Terdampak Tanah Gerak di Lima Titik Baru Tahun 2017
Bencana Alam, Headline

BPBD: 50 Rumah Warga Terdampak Tanah Gerak di Lima Titik Baru Tahun 2017

Salah satu rumah terdampak tanah gerak di Purworejo Pacitan. (Foto: Pujono/BPBD Pacitan)

Pacitanku.com, PACITAN – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pacitan mendata ada lima titik baru fenomena alam tanah gerak yang terjadi di Pacitan pada tahun 2017. Akibatnya, sebanyak 50 rumah warga terdampak pergerakan tanah di lima titik tersebut.

“Di tahun ini titik bencana tanah gerak baru berada di Desa Bangunsari Kecamatan Bandar, Desa Karangnongko di Kecamatan Kebonagung, Desa Gasang, Desa Jetak dan Desa Ngile di Kecamatan Tulakan, dan menyebabkan sedikitnya terdapat 50 unit rumah warga terkena dampak pergerakan tanah dengan kerusakan ringan hingga berat,”kata Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Pacitan, Pujono, baru-baru ini.

Sebanyak 50 rumah terdampak tanah gerak tersebut diantaranya adalah enam rumah di Dusun Godeg Wetan, Desa Jetak, enam rumah di Dusun Krajan Desa Gasang dengan rincian tiga rumah rusak berat dan tiga lainnya rusak ringan.“Di Desa Ngile, Tulakan ini akibat tanah gerak juga merusak jalan penghubung antar desa,”katanya lagi.




Selain itu, Pujono menyebutkan bahwa di wilayah Kecamatan Kebonagung, tanah gerak membuat 14 rumah warga rusak berat dan ringan. Bahkan, akses jalan penghubung empat desa tersebut, kondisinya juga sangat membahayakan para pengguna jalan.

Di Desa  Karangnongko, Kecamatan Kebonagung ini, sebanyak 14 rumah mengalami retak-retakan akibat fenomena tersebut. Menjalarnya garis retakan hanya membutuhkan waktu tiga bulan sejak pertama kali ditemukan.

“Yang terbaru bencana tanah gerak  terjadi di Desa Bangunsari, Kecamatan Bandar yang merupakan kejadian tanah gerak terparah sepanjang awal tahun 2017. Terhitung ada 30 rumah warga mengalami kerusakan bagian lantai dan dinding,”ungkapnya.

Dengan bertambahnya titik tanah gerak tersebut semakin menambah panjang daftar fenomena tanah gerak di Pacitan. Sebelumnya, fenomena tanah gerak juga melanda titik lain di Pacitan kota yang menyebabkan 15 rumah warga di bawah lereng di Desa Purworejo, Kecamatan/Kabupaten Pacitan rusak.