Kategori: Peristiwa

Popular

Berita Terbaru

Permalink ke Tergilas Mesin Pengolah Batu Bara, Tenaga Bantu PLTU Sudimoro Meninggal Dunia
Headline, Peristiwa

Tergilas Mesin Pengolah Batu Bara, Tenaga Bantu PLTU Sudimoro Meninggal Dunia

PLTU Sudimoro Alami Gangguan, Senin (12/5/2014). (Foto : Dok.Pacitanku)

PLTU Sudimoro (Foto : Dok.Pacitanku)

Pacitanku.com, PACITAN – Sukatmin, seorang tenaga bantu (helper) di Pembangkit Listrik Tenaga Uap Jawa Timur 1 di Kecamatan Sudimoro, mengalami kecelakaan kerja dan mengakibatkan dirinya meninggal dunia pada Jumat (18/8/2017).

Informasi yang dilansir Pacitanku.com dari laman Pojokpitu,  Sukatmin dibawa ke kamar jenazah RSUD dr Darsono Pacitan sudah dalam kondisi tak bernyawa. Warga Desa Sukorejo, Sudimoro, Pacitan ini meninggal dunia akibat tergilas mesin pengolah batu bara unit 1 PLTU Sudimoro.

Musibah ini membuat keluarga Sukatmin terpukul. Apalagi mereka tidak mendapat laporan resmi dari pihak PLTU, melainkan hanya mendengar dari rekan-rekan korban.

Bahkan menurut Mispan keluarga korban, pasca kejadian tidak ada satupun anggota keluarga yang diperbolehkan masuk ke tempat kejadian.




Kecelakaan kerja terjadi ketika pria berusia 38 tahun , tengah membersihkan mesin bersama dua orang rekannya bernama Agus dan Yoga. Entah bagaimana ceritanya mesin pengolah batu bara yang sebelumnya mati tiba-tiba hidup.

Bapak dua anak yang tengah berada di dalam ruang mesin langsung tergilas hingga tewas.  Sementara Agus mengalami luka pada bagian kaki, dan Yoga selamat tanpa luka. “Kami berharap pihak PLTU Jatim 1 Sudimoro, bertanggung jawab atas musibah yang dialami korban,” kata Mispan.

Sementara, Adi Nugroho, GM PT PJB UBJOM Pacitan, usai menjalani pemeriksaan luar, jasad Sukatmin dibawa pulang ke rumah duka untuk dimakamkan. (Pul/Pojokpitu/RAPP002)

 

Permalink ke Pesawat Milik Koni DKI yang Mendarat Darurat Dibawa ke Pacitan
Headline, Peristiwa

Pesawat Milik Koni DKI yang Mendarat Darurat Dibawa ke Pacitan

Pacitanku.com, PONOROGO – Pesawat milik Koni DKI Jakarta yang mendarat darurat di persawahan Ponorogo akan dibawa ke Pacitan dengan jalan darat. Saat ini, teknisi tengah membongkar beberapa bagian pesawat.

“Sayap pesawat akan dilepas, kemudian akan diangkut dengan truk trailer,” jelas Kapolsek Sampung AKP Suwoyo dikutitp Detikcom, Minggu (13/8/2017) petang.

Hingga pukul 17.30 WIB, beberapa teknisi dari Koni Pacitan menurut kapolsek masih bekerja untuk melepas beberapa bagian pesawat. 

Diberitakan sebelumnya, pesawat warna merah dan putih dimiliki KONI DKI Jakarta itu terbang dari Pondok Cabe Jakarta hendak menuju ke Pacitan.

Namun saat sampai di Pacitan, cuaca di daerah tersebut mendung tebal. Pesawat yang dipiloti pensiunan TNI AU itu memutuskan untuk kembali ke Solo untuk mengisi bahan bakar.




Namun baru sampai di Ponorogo, indikator bahan bakar menyala yang menunjukan bahan bakar habis.

Pilot pun memutuskan mendarat darurat di area persawahan. Beruntung, pilot dan co pilot selamat tanpa cidera meski pesawat mendarat di area persawahan.

Sementara itu, lokasi pendaratan darurat pesawat jenis Aviat Husky masih dipenuhi warga. Mereka ingin melihat dari dekat kondisi pesawat. 

Permalink ke Gardu Induk Kediri Alami Gangguan, Listrik di Pacitan Padam
Headline, Peristiwa

Gardu Induk Kediri Alami Gangguan, Listrik di Pacitan Padam

Pacitanku.com, PACITAN – Mayoritas warga di Jawa Timur bagian selatan mengalami pemadaman listrik pada Kamis (10/8/2017) pagi.

Hal itu dikarenakan Gardu Induk Tegangan Ekstra Tinggi (GITET) 500 Kilovolt (Kv) Kediri mengalami gangguan di sistem Interbus Transformer (IBT) 500/150 Kv.

Manager PT PLN Distribusi Jawa Timur Area Ponorogo Rayon Pacitan, Adhib Ardiansyah N dalam keterangannya di grup percakapan Whatsapp, Kamis mengatakan bahwa seluruh Kabupaten Pacitan mengalami listrik padam karena gangguan tersebut.




“Sebelumnya kami mohon maaf atas ketidaknyamanan ini, informasi awal jaringan GITETdi daerah kediri ada gangguan, sehingga menyebabkan seluruh Pacitan padam, info selanjutnya mohon ditunggu, doanya semoga cepat teratasi,”katanya.

Menurut informasi yang dihimpun, daerah yang mengalami listrik padam pada Kamis pagi, sejak pukul 06.30 WIB adalah Kabupaten Ponorogo, Trenggalek, Pacitan, Madiun, Kediri, Tulungagung, Ngawi dan Nganjuk.

Belum diketahui secara pasti penyebab gangguan di GITET 500 Kv Kediri tersebut. Hingga berita ini diturunkan, listrik di mayoritas wilayah tersebut masih padam. 

Permalink ke Pemerintah Harus Memitigasi Bencana Tsunami Daerah Rawan
Bencana Alam, Headline

Pemerintah Harus Memitigasi Bencana Tsunami Daerah Rawan

Gelombang tinggi di pantai Srau. (Foto: Info Pacitan)

Pacitanku.com, JAKARTA – Pemerintah harus memitigasi bencana tsunami untuk wilayah-wilayah yang rawan terdampak seperti di pesisir selatan Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, kata pakar geologi dari Brigham Young University Ron Harris.

Harris dalam diskusi tentang mitigasi bencana tsunami di Jakarta, baru-baru ini, memaparkan mitigasi bisa dilakukan dengan penyediaan sarana dan prasarana evakuasi dan edukasi kepada masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana.

“Mengapa tsunami di Aceh memakan banyak korban? Masalahnya komunikasi, tidak ada orang di Aceh yang tahu tentang tsunami,” kata Harris.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukannya selama bertahun-tahun, Harris menyimpulkan prakiraan potensi terjadinya gempa berkekuatan di atas 9 skala Richter yang bisa menimbulkan tsunami yang sama seperti yang terjadi di Aceh pada 2004 bisa terulang di Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

“Apa kita mau korban tsunami di Aceh terjadi lagi di Pulau Jawa?” kata Harris.




Oleh karena itu dia menekankan pentingnya pemerintah melakukan mitigasi di daerah rawan seperti Pelabuhan Ratu dan Pangandaran Jawa Barat, Cilacap, Pacitan Jawa Timur, Denpasar dan Nusa Dua Bali, Lombok dan Sumba Nusa Tenggara Barat, pesisir selatan Pulau Timor, dan Waingapu Nusa Tenggara Timur.

Harris menjelaskan potensi terjadinya gempa besar yang mengakibatkan tsunami dengan rumusan “20-20-20”, yakni 20 detik lamanya gempa bumi untuk identifikasi potensi adanya tsunami, 20 menit jarak tempuh gelombang ke bibir pantai yang berarti waktu untuk evakuasi, dan 20 meter tinggi gelombang yang artinya masyarakat harus mencari tempat di ketinggian 20 meter untuk evakuasi.

Dengan kategori seperti itu dan kondisi yang ada saat ini, wilayah yang paling berbahaya adalah Denpasar dan Nusa Dua Bali.

“500 ribu orang tinggal di sana, 500 ribu orang yang berkunjung, satu juta orang ada di sana. Tidak ada tempat setinggi 20 meter dan harus evakuasi dalam 20 menit,” ujar Harris.

Berdasarkan simulasi model tsunami untuk wilayah selatan Bali, kawasan wisata di Denpasar dan Nusa Dua hampir dipastikan tenggelam oleh gelombang tsunami karena wilayahnya yang dekat sekali dengan air dan tak ada bangunan atau dataran tinggi.

Oleh karena itu Harris berharap pemerintah Indonesia segera membuat rencana evakuasi secara matang, tidak hanya untuk Bali namun seluruh wilayah rawan tsunami. (RAPP002)

Permalink ke Pakar: Gempa Bumi dan Tsunami Aceh Berpotensi Terjadi di Selatan Jawa
Bencana Alam, Headline

Pakar: Gempa Bumi dan Tsunami Aceh Berpotensi Terjadi di Selatan Jawa

Pacitanku.com, JAKARTA– Peneliti sekaligus pakar geologi dari Brigham Young University Profesor Ron Harris mengatakan gempa bumi dan tsunami yang terjadi di Aceh pada 2004 berpotensi terulang di selatan Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

Harris dalam diskusi terkait mitigasi bencana gempa bumi di Jakarta, baru-baru ini mengatakan potensi tersebut didasarkan dari penelitian endapan tsunami yang dilakukan pada 2016 di beberapa wilayah selatan Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

Harris mengungkapkan timnya mendapatkan pola endapan tsunami purba, yakni beerupa endapan pasir di dalam tanah yang terbawa saat terjadi gelombang, berupa dua garis endapan pasir.

Pola endapan tersebut memiliki hasil yang sama di lokasi-lokasi penelitian, yakni Pelabuhan Ratu Jawa Barat, Pangandaran Jawa Barat, Pacitan Jawa Timur, Bali, Lombok dan Sumba Nusa Tenggara Barat, Timor dan Waingapu Nusa Tenggara Timur.

Gunanya mengetahui pola endapan pasir tsunami purba tersebut ialah untuk mengetahui terjadinya tsunami di masa lalu sekaligus memprediksi pengulangan tsunami di masa datang.

Harris menjelaskan, selama ini masyarakat Indonesia hidup di masa tanpa aktivitas gempa bumi dan tsunami, atau disebutnya berada pada fase “tidur”. Namun pada waktunya akan ada pada saat fase “bangun” di mana gempa-gempa bermunculan.




Harris yang kerap melakukan penelitian tentang tsunami di Indonesia menerangkan bahwa masa tanpa aktivitas gempa dan tsunami tersebut dikarenakan tumbukan dua lempeng tektonik, yakni Indo-Australia dan Eurasia, sedang saling mengunci.

Ilustrasinya, salah satu lempeng tersebut sedang mendorong lempeng yang lainnya. Sementara lempeng yang terdorong menjadi melengkung secara terus menerus, hingga pada akhirnya lempengan yang melengkung mendorong balik hingga akhirnya terjadi pergeseran lempeng tektonik yang menyebabkan gempa bumi dan tsunami.

Berdasarkan kalkulasi dari penelitian tersebut, pergeseran lempeng tektonik yang akan terjadi cukup berpotensi untuk menimbulkan gempa dengan kekuatan di atas 9 skala richter.”Potensi itu cukup membuat gempa berkekuatan 9,1 skala richter, atau mungkin 9,2, atau bahkan 9,5,” kata Harris.

 Gempa dengan kekuatan sebesar itu diprediksi akan berlangsung selama 20 detik, bisa menimbulkan gelombang maksimal setinggi 20 meter dengan kecepatan 620 kilometer per jam, dan bisa mencapai bibir pantai dalam waktu sekitar 20 menit. “Gempa di Indonesia itu unik, karena pusat gempanya sangat dekat dengan daratan,” kata Harris.

Waktu tempuh gelombang ke bibir pantai selama 20 menit didapat melihat dari pusat gempa yang pernah terjadi di Pangandaran berjarak 230 kilometer dari pantai.

Harris mempermudah potensi terjadinya gempa besar tersebut dengan istilah “20-20-20” yakni 20 detik durasi gempa, 20 menit lamanya gelombang mencapai pantai yang berarti masyrakat memiliki waktu tersebut untuk evakuasi, dan 20 meter tinggi maksimal gelombang yang artinya penduduk harus mencari tempat evakuasi dengan ketinggian 20 meter.

Gempa besar tersebut bisa terjadi sewaktu-waktu dan tidak bisa diperediksi kapan dan di mana letak pusat gempanya. Namun lokasi-lokasi yang berada dalam wilayah bahaya ialah Pangandaran, Pelabuhan Ratu, Pacitan, Banyuwangi, Madura, Denpasar dan Nusa Dua Bali, Lombok dan Sumba NTB, Waingapu dan pesisir selatan pulau Timor NTT.

Permalink ke Gelombang Tinggi di Perairan Jatim Capai 4 Meter, Pengguna Jasa Pelayaran Diminta Waspada
Bencana Alam, Headline

Gelombang Tinggi di Perairan Jatim Capai 4 Meter, Pengguna Jasa Pelayaran Diminta Waspada

Ilustrasi nelayan di perairan Pacitan. (Foto : Dok.Pacitanku)

Ilustrasi nelayan di perairan Pacitan. (Foto : Dok.Pacitanku)

Pacitanku.com, SURABAYA – Gelombang tinggi diprediksi terjadi di Perairan Jatim, Sabtu (5/8/2017) pagi. Gelombang bisa mencapai 4 meter. Pengguna jasa pelayaran diminta waspada.

Informasi resmi yang disampaikan BMKG Maritim Perak menyebutkan, gelombang tinggi ini diprediksi akan terjadi mulai pukul 07.00.”Tinggi gelombang di laut bagian Selatan Jatim antara 1,5 meter sampai 4 meter. Mohon waspada,” kata Eko Prasetyo, Kasi Data dan Informasi BMKG Maritim Perak.

Laut di sepanjang Pacitan, Trenggalek, hingga Jember menjadi daerah yang perlu peningkatan kewaspadaan. Begitu juga gelombang di Laut Pantura juga relatif tinggi.




BMKG yang fokus pada cuaca di perairan itu menyebutkan Gelombang di Laut Jawa (Pantura) antara 1,3 meter hingga 2,5 meter. Sementera Cuaca di perairan Jatim pada umumnya berawan.

Kondisi angin pada umumnya bergerak dari Timur ke Tenggara dengan kecepatan hingga 25 knots atau 45 km/jam. Sementera angin di Laut Jawa atau Laut Selaan kecepatannya lebih tinggi dan kuat. Kecepatan angin mencapai 30 knots atau 54 km/jam di Selatan Jatim. (Surya)