Desa Kasihan

oleh Sebar Tweet

Desa Kasihan adalah salah satu desa di Kecamatan Tegalombo. Desa ini merupakan bagian dari 11 desa di kecamatan Tegalombo dengan luas 1.585 hektare (ha). Desa Kasihan memiliki batas-batas di sebelah utara adalah Desa Tegalombo, kemudian sebelah selatan Desa Bubakan di kecamatan Tulakan, di sebelah timur Desa Pucangombo dan sebelah barat adalah Desa Ngreco.

Secara demografi, Desa Kasihan adalah desa dengan mayoritas wilayah berada di pegunungan dengan kondisi jalanan yang cukup banyak tikungan dan tanjakan. Adapun puncak tertinggi Desa Kasihan adalah Gunung Suralaya yang terletak di Pringapus, Dusun Salam.

Tugu batas Desa Kasihan di Dusun Klitik

Sementara, secara pembagian wilayah, Desa Kasihan sendiri terdiri dari tujuh Dusun, yakni Dusun Krajan sekaligus tempat balai desa berada, kemudian Dusun kalimojo, Dusun Glagahombo, Dusun Salam, Dusun Sidomakmur, Dusun Klitik dan Dusun Kalitengah.

Untuk jumlah penduduk desa Kasihan ini kisaran 8.234 Jiwa atau 2.210 Kepala Keluarga (KK) sehingga dengan jumlah penduduk tersebut menjadi desa dengan jumlah penduduk terbanyak di Kecamatan Tegalombo.

Dengan jumlah penduduk yang banyak tersebut, mayoritas warga Desa Kasihan memiliki kebun cengkih sebagai salah satu mata pencaharian. Jika musim cengkih tiba, banyak masyarakat Desa Kasihan yang menjual hasil bumi tersebut untuk dikonsumsi masyarakat Pacitan pada khususnya.

Untuk pusat ekonomi, Desa Kasihan memiliki kawasan Brakmilon dan Pasar Bunder. Kawasan Brakmilon terdapat pusat pertokoan desa, sementara Pasar Bunder juga menjadi salah satu pusat ekonomi masyarakat Desa Kasihan setiap pasaran Legi.

Kawasan Brakmilon

Sejarah Desa Kasihan

Mengutip dari beberapa referensi, Desa Kasihan mulai didirikan pada saat pemerintahan Kanjeng Jimat. Saat itu, diceritakan pemerintahan Kanjeng Jimat terjadi kekacauan yang sangat besar sehingga banyak menelan korban baik jiwa maupun harta benda. Kemudian Kanjeng Jimat membuat sayembera, siapa bisa menghentikan kekacauan tersebut makan akan di beri wilayah.

Singkat cerita,  terdengarlah sayembara tersebut pada seorang yang sakti mandraguna dari brang wetan (wilayah timur) yaitu dari daerah Tulungagung. Orang ini kemudian kelak akan memimpin Desa Kasihan dengan gelar Ki Demang Kinasih.

Awalnya, dengan bekal pusaka Kyai Sengkelat, Cindhe Sari dan Iket Beber Bumi, maka berangkatlah ia menuju wilayah Pacitan dan dan bertemu dengan Kanjeng Jimat untuk melaksanakan sayembara tersebut. Pada akhirnya, orang sakti  tersebut menuju ke medan pertempuran dengan dibantu oleh Setroketipo, Ki Ageng Posong dan Ki Tunggul Ametung dan berakhir untuk kemenangan orang sakti tersebut.

Sesuai perjanjian Kanjeng Jimat, beliau diberi wilayah kekuasaan di bawah kekuasaan Kanjeng Jimat. Pada awalnya, wilayah tersebut adalah hutan belantara yang banyak dihuni binatang buas. Namun dengan kesabaran beliau,  mulailah beliau membuka hutan untuk dijadikan tempat pemukiman dibantu lima saudaranya, sehingga pemukiman tersebut berhasil diwujudkan. Selanjutnya, mulailah para penduduk mendatangi wilayah baru tersebut yang aman dan tenteram.

Salah satu pegunungan di Kasihan

Ki Demang kemudian mencoba meminang  seorang putri dari Kraton Surakarta untuk dijadikan istrinya. Namun karena dia memiliki cacat pundak kiri tidak sama dengan pundak kanannya, maka sang putri awalnya menolak.

Setelah gundah karena ditolak oleh sang putri, Ki Demang kemudian bemrunajat agar dijodohkan dengan sang putri tersebut. Maka sejak itu beliau menamakan wilayahnya tersebut dengan nama “kinasih” artinya yang dicintai. Kemudian Daerah Kinasih menjadi wilayah makmur dan dengan hal itu mulai menyusun pemerintahan wilayah tersebut dengan di bantu oleh para pengikut beliau. Pada tahun kinasih mulai berdiri dan oleh Kanjeng Jimat bliau dinobatkan menjadi demang diwilayah Kinasih dengan gelar “Ki Demang Kinasih.”

Tak berhenti disini, perjalanan Ki Demang Kinasih memimpin, rupanya terjadi ontran-ontran alias geger, alias keributan yang disebabkan oleh seorang bernama Ki Bagor. Ki Bagor merampok harta benda dan membunuh banyak orang sehingga terjadilah kekacauan yang meresahkan masyarakat di wilayah kademangan Kinasih.

Tak berhenti sampai disitu, Ki Bagor datang untuk merebut istri Ki Demang. Ki Bagor adalah orang yang sakti merupakan orang buruhan dari kerajaan Surakarta kemudian Ki Demang minta bantuan Mbah Kerta Jaya serta Mbah Salim dibantu juga oleh Jaya Baya untuk membunuh Ki Bagor. Maka terjadilah pertempuran antara Ki Demang, Mbah Malang Gati, Mbah Kerta Jaya serta Mbah Salim melawan Ki Bagor dan anak buahnya. Ki Bagor berhasil ditumpas oleh Ki Demang, setelah Ki Bagor berhasil ditumpas maka kepala Ki Bagor di penggal oleh Ki Demang dan diserahkan ke Kerajaan Surakarta sebagai tanda bukti bahwa ki Bagor telah mati  dalam pertempuran melawan Ki Demang dan jasad tanpa kepala diletakkan di dusun Glagahombo.

Saat itu, wilayah Kademangan Kinasih meliputi Bendo, Mbunder, Pluakan, Kalimojo, Kalitengah, Klitik dan wilayah Pucangombo. Sekitar tahun 1920, Jogoboyo Merto Karya yang masih saudara Ki Demang Kinasih ditunjuk untuk menjadi Demang di wilayah Pucangombo.

Setelah tua Ki Demang Kinasih pergi bersama istrinya ke Surakarta sampai meninggal dunia. Dan saat ini masih menjadi misteri adalah nama asli Ki Demang Kinasih.

Wilayah kademangan Kinasih kemudian dilanjutkan oleh Ki Lurah k Patmodiharjo yang dipilih oleh rakyat. Setelah Ki Demang Patmodiharjo bera memegang pemerintahan, beliau tidak lagi menjabat dan pemerintahannya diteruskan oleh Ki Demang Sarjono atau Ki Lurah Harjo. Pada masa pemerintahan Ki Lurah Harjo, banyak pembangunan masjid-masjid, diantaranya langgar agung yang dipimpin oleh ali Kasan.

Harjo Sentono seleasi tugasnya diteruskan Ki Lurah Jayus, pada saat pemerintahan Ki Jayus mulailah pembentukan pusat pe pusatkan di wilayah Mbanu (sekarang Krajan). Selepas Ki Jayus berkuasa maka digantikan dengan Lurah Barjan. Pada era Lurah Barjan inilah yang kemudian membangun Balai Desa Kasihan serta mengganti nama Kinasih menjadi Kasihan.

Mengapa berganti nama? Begini ceritanya. Saat itu, pada masa pemerintahan Lurah Barjan inilah, Desa Kasihan menjadi salah satu saksi sejarah peristiwa gerilya Jenderal Soedrman. Saat itu, sekitar tahun 1949, Kasihan didatangi oleh Santri Brang Kulon, yang merupakan kata sandi untuk Jendral Soedirman. Saat itu, sang Jenderal yang dalam peristiwa gerilya, berada di wilayah Pringapus, Dusun Salam di rumahnya Jogo Boyo Ponco Rejo selama tujuh hari.

Sehingga saat iu,  digantilah Kademangan Kinasih menjadi desa Kasihan, karena Lurah Barjan berharap agar Panglima Besar Jendral Sudirman dikasihan oleh Allah SWT dan selamat dalam bergerilya melawan pemerintah Hindia Belanda.

Pendidikan

Salah satu SD di Kasihan

Di Desa Kasihan ini terdapat beberapa lembaga pendidikan, yakni SDN Kasihan I, SDN Kasihan II, SDN Kasihan III dan SDN Kasihan IV. Selain lembaga pendidikan SD, juga terdapat lima Madrasah Ibtidaiyah (MI), kemudian dua SMP, yakni SMP Hasyim Asy’ari dan SMP PGRI Tegalombo dan satu lembaga pendidikan tingkat SMA yakni Madrasah Aliyah. Di Desa Kasihan juga terdapat beberapa lembaga keagamaan yakni Pondok Pesantren.

Pemerintahan

Ilustrasi Pilkades di Kasihan

Desa Kasihan menginduk ke Kabupaten Pacitan dengan pemimpin pemerintahan adalah Kepala Desa. Adapun silsilah Kepala Desa Kasihan diantaranya adalah Ki Demang Kinasih, kemudian Padmodiharjo (Dusun Krajan). Kemudian disusul Sarjono/Harjo Sentono dari Dusun Krajan.

Kepala Desa selanjutnya Desa Kasihan adalah Jayus (Dusun Krajan), Barjan (Dusun Kalimojo), Tunggak Sumito merupakan karetaker/penunjukan ABRI dari Madiun (Bungkal Ponorogo). Pada periode selanjutnya, Kades Kasihan adalah Miswan (Dusun Glagahombo  untuk periode 1991-1994 dan periode 1995-1999). Selanjutnya disusul Kades Kasihan adalah Umar (Dusun Salam periode 2000- 2006), Sunarno (Dusun Sidomakmur untuk periode 2007-2013), Sudirno, S.Pd (2014-2019) dan H. Masduki (2020-2025).

Wisata

Bukit Cakrawala

Desa Kasihan memiliki sejumlah kawasan wisata, baik wisata sejarah maupun wisata alam yang indah. Salah satunya adalah situs purbakala di antaranya situs Watu Ompak, Tugu Puncak Suralaya dan Masjid Jendral Sudirman di Pringapus. Selain itu, mulai tahun 2018 yang lalu, Desa Kasihan juga terus mengembangkan kawasan wisata Bukit Cakrawala yang terletak di Dusun Krajan.

Kawasan wisata Bukit Cakrawala ini dikembangkan oleh masa pemerintahan Sudirno sebagai Kades Kasihan. Pengembangan Bukit Cakrawala ini menggandeng sejumlah pihak dan insan pariwisata di Jawa Timur.

Referensi:

  1. Sindopos
  2. Wikipedia