Kategori: Hukum dan Kriminal

Popular

Berita Terbaru

Permalink ke Waduh, Ada Penipu Mirip Dimas Kanjeng Taat Pribadi di Pacitan
Headline, Hukum dan Kriminal

Waduh, Ada Penipu Mirip Dimas Kanjeng Taat Pribadi di Pacitan

Ilustrasi penipuan

Pacitanku.com, PACITAN – Awalnya tidak kenal, namun Sriweni, warga Desa Widoro, Kecamatan Pacitan Kota, rela menyerahkan uang sebesar Rp 6 juta kepada Agus Purwadi. Perempuan manis ini sebelumnya tidak tahu keseharian dan sepak terjang Agus, pria yang juga tinggal di Kecamatan Pacitan Kota itu.

Weni baru sadar telah menjadi korban penipuan berkedok penggandaan uang laksana Dimas Kanjeng Taat Pribadi. ‘’Entah mengapa saya percaya begitu saja, dan begitu mudah memberikan uang kepada Agus yang tidak saya kenal. Padahal, saya cukup selektif meminjamkan uang kepada orang lain,’’ tuturnya, dilansir Radar Madiun.

Kini, Agus Purwadi ditangkap polisi pada Minggu (16/4) lalu, atas perbuatannya yang menipu sejumlah warga Pacitan dengan alasan bisa menggandakan uang. Diperkirakan, uang yang sukses dikumpulkan Agus mencapai puluhan juta rupiah. Saat ini, kasus masih dalam penyidikan Polres Pacitan.

Ceritanya, waktu itu, Weni mengiyakan dan bersedia saja memberikan Rp 6 juta. Ia menuturkan, aksi penipuan terhadapnya itu terjadi Agustus tahun lalu. Sore itu, Weni sibuk memanggil-manggil anaknya yang masih balita untuk pulang ke rumah.

Saat itulah, dia melihat Agus tengah duduk-duduk tak jauh dari teras rumahnya. Weni masih ingat, saat itu,lelaki tersebut memanggilnya ‘’mbak’’, yang kemudian dijawabnya ‘’mangga pinarak’’ (mari silahkan). ‘’Itu kan biasa, sebagai formalitas membalas sapaan orang tidak dikenal,’’ ujarnya.




Siapa sangka, hanya berbekal kata ‘’mangga pinarak’’, keesokan harinya Agus langsung nangkring di depan rumah Weni. Ia pun kaget. Dia lalu diajak bersalaman. Setelah bersalaman, keanehan semakin dirasakan perempuan satu putra tersebut.

Apapun perkataan yang diucapkan Agus, dituruti oleh perempuan yang bekerja sebagai penyanyi itu. Siang itu, Agus meminta Weni menyediakan uang Rp 6 juta. Tetapi, saat itu hanya memiliki Rp 2 juta.

Dia pun langsung menuju ke bank, menarik Rp 4 juta dari rekeningnya. Weni dijanjikan uangnya berlipat menjadi ratusan juta rupiah. ‘’Saat diberi syarat uang tidak boleh dalam pecahan Rp 50 ribu, entah mengapa saya juga menuruti,’’ terangnya.

Setelah uang diserahkan, Agus meminta Weni menyediakan sehelai kain putih. Pria itu meminta kain tersebut disimpan di sebuah kamar yang tidak terpakai. Dia juga mewanti-wanti Weni untuk tidak memberitahukan kepada siapapun soal uang dan kain tersebut.

Malam harinya, Weni cemas. Dia tidak bisa tidur. Keesokan harinya, ia baru sadar telah menjadi korban penipuan. Namun meski sadar, dirinya tetap bersabar. ‘’Saya tunggu itikad baik dari Agus untuk mengembalikan uang saya. Tetapi meski telah lama ditunggu, nyatanya uang saya tidak kunjung dikembalikan,’’ ujarnya.

Aksi Agus tak berhenti di sini. Dia juga beraksi di Desa Semanten, Kecamatan Pacitan Kota. Korbannya adalah Jumingan. Bahkan, jumlahnya jauh lebih banyak. Dia dengan sukarela memberikan Agus Rp 17 juta.

Uang sebanyak itu diberikan secara berkala, setiap kali Agus meminta. Jumingan sampai-sampai harus menjual kayu sengon laut miliknya untuk menyediakan uang yang diminta Agus. Sama seperti Weni, Jumingan menuruti semua perkataan Agus setelah bersalaman dengan pria tersebut. ‘’Awalnya tidak kenal. Saya dikenalkan oleh seorang teman. Katanya orang pintar. Setelah bersalaman, saya selalu menuruti perkataannya (Agus),’’ terangnya.

Menurut Jumingan, uang sebanyak Rp 17 juta itu akan digunakan Agus untuk membeli sejumlah persyaratan dalam menarik benda pusaka. Mulai dari minyak zaitun, sampai memberi santunan kepada fakir miskin.

Dan parahnya, Jumingan bersedia memberi Agus uang atas alasan-alasan tersebut. Namun setelah berbulan-bulan, pusaka yang dijanjikan Agus tidak kunjung jelas rimbanya. Dia baru merasa tertipu setelah Weni, minggu lalu melaporkan Agus ke polisi.

Jumingan sudah dipanggil polisi untuk memberikan keterangan. ‘’Barang bukti berupa kain putih juga sudah saya berikan. Saya hanya ingin uang saya kembali, dan pelakunya dihukum setimpal,’’ kata Jumingan.

Saat ini, kasus penipuan berkedok penggandaan uang Agus ditangani Polres Pacitan. Polisi masih melakukan penyidikan atas kasus tersebut. Selain sudah menangkap Agus, polisi saat ini juga terus melakukan pendataan, siapa saja yang sudah menjadi korban penipuan Agus.

Serta, berapa total uang yang sudah disikat Agus dari para korbannya. Belum diketahui secara pasti modus-modus apa saja yang dilancarkan Agus kepada korbannya. ‘’Saat ini masih dalam penyidikan. Belum bisa memberikan keterangan,’’ kata Kasatreskrim Polres Pacitan, AKP Pujiyono, singkat.

Sumber: Radar Madiun

Permalink ke Polres Pacitan Tetapkan 8 Tersangka Kasus Pencabulan di Sudimoro
Headline, Hukum dan Kriminal

Polres Pacitan Tetapkan 8 Tersangka Kasus Pencabulan di Sudimoro

AKP Pujiyono Polres Pacitan saat press release.

Pacitanku.com, PACITAN – Jajaran Kepolisian Resor Pacitan menetapkan 8 tersangka kasus yang menimpa EW, warga Desa Karangmulyo, Kecamatan Sudimoro, Pacitan. Saat ini, delapan dari sepuluh pelaku pencabulan sudah ditetapkan sebagai tersangka. Sementara dua lainnya masih buron, lantaran diduga telah berada di luar Pacitan.

Kasatreskrim Polres setempat, AKP Pujiyono memastikan pihaknya telah mengumpulkan cukup bukti dari korban dan pelaku. Tetapi, penyidikan masih akan terus dilakukan pendalaman. ‘’Tujuannya, untuk memperbanyak bahan pertimbangan bagi majelis hakim saat kasus naik ke meja hijau nanti. Agar majelis hakim bisa memutus seadil-adilnya kasus ini,’’ ujarnya, dilansir Radar Madiun, Selasa.

Saat ini, Pujiyono menyebut syarat dua alat bukti sudah tercukupi. Termasuk, keterangan dari saksi ahli di bidang psikologi dan kesehatan. Salah satu fakta yang terkuak dari saksi ahli adalah, kondisi psikis EW yang ternyata normal.

Tidak seperti penuturan warga lingkungan sekitar EW. Keterangan-keterangan seperti itulah yang saat ini banyak dikumpulkan polisi. ‘’Kami ingin di persidangan nanti, majelis hakim dapat melihat kasus ini secara luas dan mendalam. Sudah tugas kami menyediakan kacamata itu bagi majelis hakim,’’ terangnya.




Sebab, menurut Pujiyono, kasus pencabulan EW dilatari masalah yang kompleks. Faktor ekonomi, geografi, hingga pengaruh teknologi yang menyebabkan sepuluh warga Karangmulyo itu nekat silih berganti berhubungan badan dengan EW.

Pujiyono yakin, anak perempuan seusia EW tidak akan nekat berhubungan badan dengan alasan ‘’menjual diri’’. ‘’Latar belakang masalahnya kompleks. Karena itu hakim juga harus melihat kasus ini secara menyeluruh,’’ ujarnya.

Para tersangka pencabulan EW akan dikenakan pasal 81 dan 82 UU 35 tahun 2014, perubahan dari UU 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak. Mereka diancam hukuman minimal lima tahun penjara.

Pujiyono yakin, dilanjutkannya proses hukum atas kasus pencabulan EW akan menjadi pelajaran bagi masyarakat Pacitan. Bahwa, semua kasus yang melibatkan anak sebagai korban wajib diusut tuntas. Jika dibiarkan berakhir damai, hal itu akan menjadi preseden buruk penegakan hukum di Pacitan. ‘’Ditakutkan akan menjadi masalah sosial, jika ada kasus seperti ini namun dibiarkan damai. Yang paling rawan terdampak tentu anak, karena mereka korbannya,’’ jelas Pujiyono.

Upaya penegakan hukum Polres Pacitan mendapat dukungan dari wakil rakyat. Anggota Komisi II DPRD Pacitan, Triyani, menilai proses hukum yang dilakukan terhadap kesepuluh pelaku pencabulan EW akan menjadi pelajaran bagi masyarakat Pacitan.

Masyarakat perlu tahu, bahwa kasus kekerasan seksual yang melibatkan anak sebagai korban, tidak boleh berakhir damai. Jika kasus serupa dikompromikan secara damai, ditakutkan akan banyak lainnya yang mencoba meniru. ‘’Kasus kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur itu tidak ringan hukumannya. Mau bagaimana pun, salah jika korbannya adalah anak di bawah umur,’’ ujarnya.

Kasus pencabulan terhadap EW oleh sepuluh pria dipandang Triyani sebagai buntut kurangnya kepedulian lingkungan sekitar EW. Pengawasan keluarga, lingkungan sekitar, sampai sekolah, harus ditingkatkan untuk meminimalisasi kasus serupa.

Politisi Partai Demokrat itu menyarankan sekolah untuk secara periodek merazia handphone siswanya. Sebab, tidak dipungkiri, saat ini, anak bisa dengan mudah mengakses konten berbau pornografi.‘’Upaya yang dilakukan pemkab sebenarnya juga sudah maksimal. Hanya, pengawasan di lingkungan terdekat anak itu yang perlu ditingkatkan. Jika bukan orang terdekat, lalu siapa lagi yang akan melindungi masa depan anak?’’ kata Triyani. 

Sumber: Radar Madiun

Permalink ke Buntut Kasus Pencabulan Gadis Usia Sekolah, Polres Pacitan Panggil 10 Pelaku
Headline, Hukum dan Kriminal

Buntut Kasus Pencabulan Gadis Usia Sekolah, Polres Pacitan Panggil 10 Pelaku

Kapolres AKBP Suhandana Cakrawijaya saat memberikan keterangan pers. (Foto: Polres Pacitan)

Pacitanku.com, PACITAN – Jajaran Satreskrim Polres Pacitan melakukan pemanggilan terhadap saksi korban maupun pelaku pencabulan terhadap EW,14, warga Desa Karangmulyo, Kecamatan Sudimoro, Kamis (13/4/2017) kemarin.

Kepada para saksi korban maupun pelaku tersebut, polisi meminta keterangan. Polisi berhati-hati dalam mengusut kasus ini. ‘’Saat ini masih didalami penyidik. Akan kami sidik secara mendalam dan menyeluruh, sebelum memutuskan apakah kasus ini akan dilanjutkan melalui proses hukum atau tidak,’’ ujar Kasatreskrim Polres Pacitan, AKP Pujiyono, sebagaimana dikutip dari Radar Madiun, Jumat (14/4/2017).

Menurut Pujiyono, permasalahan ini kompleks. Kompleksnya masalah yang menimpa EW tak lepas dari banyaknya jumlah pelaku yang diduga telah berhubungan badan dengan EW. Pun, perbuatan bejat sepuluh pria itu juga sudah terjadi sejak September tahun lalu.

Disisi lain, fakta bahwa tiga pelaku diantaranya sudah berkeluarga, semakin memperumit penyebab kenapa EW yang masih belia itu sampai dicabuli. Untuk sementara ini, polisi memandang pencabulan terhadap EW merupakan perbuatan perseorangan, di lokasi dan waktu yang berbeda-beda. ‘’Jadi kami dalami satu per satu motif kesepuluh pelakunya ini,’’ terangnya.

Tidak hanya pelaku, motif EW sampai rela disetubuhi oleh sepuluh orang berbeda juga bakal didalami. Polisi rencananya akan melibatkan psikolog untuk memeriksa EW secara mendalam. Sebab, lingkungan sekitar EW menuding siswi salah satu MTs di Sudimoro itu mengalami gangguan mental.




‘’Kami harus mendengar pendapat psikolog mengenai korbannya juga. Menyusun kronologinya memang harus kuat, jika ingin mengangkatnya ke ranah hukum. Mengingat rumitnya masalah tersebut,’’ tandasnya.

Menurut Pujiyono, tradisi masyarakat Pacitan yang berusaha menyelesaikan masalah secara kompromi tidak selalu bisa dibenarkan. Terlebih, kasus yang coba diselesaikan damai adalah kasus yang menyangkut anak di bawah umur. Kendati mediasi yang dilakukan pihak desa Karangmulyo tidak melanggar hukum, tetapi salah jika mengabaikan fakta adanya insiden pencabulan tersebut.

‘’Seharusnya pihak desa meminta petunjuk. Karena masalah yang menyangkut anak itu khusus. Jangan serta merta damai kalau kasus pencabulan. Sejauh ini, kasus pencabulan yang dilaporkan, kami proses semua,’’ jelasnya.

Sementara, Kapolres AKBP Suhandana Cakrawijaya menilai penyelesaian masalah secara kompromi begitu digemari oleh masyarakat Pacitan. Hal ini, menandakan bahwa masyarakat belum sepenuhnya mendukung supremasi hukum aparat kepolisian.Terlebih, pada kasus-kasus yang butuh perhatian khusus seperti kejahatan seksual terhadap anak.

‘’Upaya kami dalam menegakkan hukum belum sepenuhnya didukung oleh masyarakat. Ini yang perlu menjadi perhatian,’’ ujarnya.

Secara khusus, Suhandana memandang kemiskinan merupakan akar dari masalah yang menimpa EW. Kemiskinan dapat mendorong timbulnya masalah sosial lainnya. Termasuk, tindak kejahatan seksual terhadap anak.

Masalahnya, kejahatan seksual terhadap anak merupakan kejahatan khusus. Pun, juga ada undang-undang yang secara khusus mengatur soal perlindungan terhadap anak. Karena itu, dia pun terjun ke desa-desa. Dari 160 desa di Pacitan, Suhandana sudah terjun ke 110 desa.

Dia memberi banyak sosialisasi. Mulai dari kamtibmas, sampai kejahatan terhadap anak. ‘’Setiap kami keliling desa, selalu mengingatkan tolong kasus yang melibatkan anak jangan sampai diselesaikan kekeluargaan,’’ jelasnya.

Sebagaiman diberitakan, EW kini hamil dua bulan dari hubungan seksual diluar nikah. Parahnya, sejak September tahun lalu, tak kurang dari sepuluh orang telah menggilir gadis yang sekolah di salah satu MTs di Sudimoro.

Seluruh pria yang menyetubuhi EW bekerja sebagai petani. Mereka di antaranya, WA, DV, BJ, BA, RU, RL, AG, dan AC. Tiga diantaranya sudah berkeluarga, dan tujuh lainnya sudah berusia di atas 17 tahun. Aksi biadab itu dilakukan di banyak tempat. Mulai dari rumah EW, rumah para pelaku, atau rumah kerabat. Aksi tersebut juga dilakukan setiap rumah dalam kondisi kosong atau sepi.

Sumber: Radar Madiun

 

Permalink ke Polres-Kodim Pacitan Gelar Razia Gabungan di Tempat Hiburan
Headline, Hukum dan Kriminal

Polres-Kodim Pacitan Gelar Razia Gabungan di Tempat Hiburan

Pacitanku.com, PACITAN – Sebagai aparat penegak hukum, pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat,wajib bagi seluruh personel harus memberi contoh perilaku maupun sikap yang tidak melanggar norma maupun hukum yang berlaku.

Hal itu seperti gelar razia yang dilaksanakan oleh tim gabungan anggota Propam Polres Pacitan gabungan bersama PM dan Provost Kodim 0801 Pacitan, untuk menertibkan anggota di tempat tempat hiburan malam dan kos kosan yang ada di Kabupaten Pacitan.

Dalam rangka penegakan ketertiban dan disiplin terhadap anggota, kegiatan razia dilaksanakan dengan menyasar anggota Polisi yang memasuki  tempat hiburan malam serta razia penyalahgunaan narkoba.

Kasi Propam Polres Pacitan IPTU Suluri mengungkapkan jika kegiatan razia ini dilaksanakan gabungan dengan personel PM dan Provost Kodim 0801 Pacitan.

Menurtunya, kegiatan ini dalam rangka penegakan ketertiban dan disiplin dengan sasaran anggota yang sesuai aturan tidak boleh bermain di tempat hiburan malam kecuali ada surat perintah tugas, ungkapnya.


“Kami lakukan razia mendadak ini guna merazia dan menindak anggota yang kedapatan memasuki tempat hiburan malam tanpa tugas yang jelas. Tetapi dari hasil razia tidak ditemukan anggota yang bermain di tempat hiburan malam,” kata Kasie Propam Polres Pacitan, Kamis (13/4/2017), dilansir laman Polres Pacitan.

Kegiatan tersebut bertujuan merazia para anggota Polri dan TNI yang berada di tempat-tempat hiburan malam sehingga dapat menurunkan citra anggota Polri dan TNI di masyarakat yang dikhawatirkan terlibat penyalahgunaan narkoba dan minum-minuman keras.

Kegiatan yang berlangsung hingga tengah malam tersebut tidak menemukan adanya anggota yang berada ditempat-tempat hiburan malam, maupun yang mengkonsumsi narkoba dan minuman keras di kos kosan. (herry/mbah)

Permalink ke Sembilan Eks-DPRD Pacitan Ajukan PK Terkait Vonis Korupsi Dana Operasional
Headline, Hukum dan Kriminal

Sembilan Eks-DPRD Pacitan Ajukan PK Terkait Vonis Korupsi Dana Operasional

9 Anggota DPRD Pacitan. (Foto: Radar Madiun)

Pacitanku.com, PACITAN– Pantang mundur sebelum bebas. Sembilan dari 45 terpidana kasus korupsi dana operasional DPRD Pacitan tahun 2001, kemarin (29/3), kembali mengajukan peninjauan kembali (PK) terkait vonis yang dialamatkan kepada mereka.

Sembilan anggota DPRD Pacitan tersebut, kesandung kasus dugaan korupsi dana operasional DPRD Pacitan tahun 2001. Mereka terbukti menyebabkan kerugian negara mencapai Rp 1,6 miliar dari dana operasional bantuan jasa kerja para anggota DPRD Pacitan. Para mantan wakil rakyat itu mendapat dana sekitar Rp 50 juta untuk tunjangan kesejahteraan, penunjang kegiatan, bantuan listrik, telepon, serta air minum.  

PK diajukan melalui Pengadilan Negeri (PN) Pacitan. Alasan pengajuan PK kedua, lantaran PK pertama mereka Oktober tahun lalu tidak dapat diterima oleh Mahkamah Agung (MA). ‘’Bukan ditolak, tetapi tidak dapat diterima. Karena tidak ditolak, kami berhak kembali mengajukan PK,’’ sebut kuasa hukum sembilan terpidana pemohon PK, Muhammad Jamaah.

PK pertama sembilan mantan anggota dewan itu tidak diterima MA lantaran tanda tangan mereka di berkas PK tidak terlampir seluruhnya. Kendati kesembilan terpidana selalu mengikuti jalannya persidangan, namun pada tidak semuanya dapat hadir pada tahap terakhir sebelum pelimpahan. Hal itu dianggap cacat oleh MA.


Disamping itu, PK juga diajukan berdasarkan pada adanya diskriminasi vonis. Sebab, selain mereka, juga ada beberapa terpidana dalam kasus yang sama, yang telah mengajukan PK dan dibebaskan dari segala hukuman. ‘’Dari 45 anggota DPRD tahun 2001 yang divonis, ada tiga PK yang diterima dan para terpidananya dibebaskan,’’ jelasnya.

Jamaah mengatakan, sembilan kliennya mengajukan PK dengan berpegang pada bukti baru atau novum. Menurut Jamaah, Perda APBD nomor 1 tahun 2001 yang menjadi dasar dikeluarkannya tunjangan yang dinikmati para terpidana itu hukumnya sah.

Sejak diterbitkan, perda tersebut juga tidak pernah dibatalkan. Mengacu pada UU nomor 22 tahun 1999 tentang pemerintah daerah, anggota dewan berhak menyusun dan menetapkan suatu perda. Hak para anggota dewan pun termasuk di dalamnya. ‘’Itu bukan suatu bentuk pidana karena penyusunan hak bagi para anggota dewan itu sah,’’ sebutnya.

Sidang yang diketuai hakim Inri Nova Sihaloho itu dimulai sekitar pukul 13.00. Persidangan baru berakhir pukul 13.30. Termohon PK, Kasi Pidsus Kejari Pacitan, Marvelous, mengatakan pihaknya menghormati langkah yang dilakukan kesembilan terpidana.

Dia yakin vonis satu tahun yang ditetapkan majelis hakim terhadap sembilan mantan anggota dewan itu tidak cacat. Pun, telah terbukti adanya kerugian negara senilai Rp 1,6 miliar. Pihaknya sebagai jaksa dan eksekutor baru menjalankan eksekusi ketika sudah ada kekuatan hukum tetap. ‘’Karena sudah ada vonis itu, makanya kami lakukan eksekusi. Nah, PK tidak bisa menghalangi eksekusi. Kecuali setelah dikeluarkannya putusan dari MA menanggapi PK yang diajukan ini,’’ terangnya.

Sumber: Radar Madiun

Permalink ke Satgas Saber Pungli Pacitan Masih Ayem
Headline, Hukum dan Kriminal

Satgas Saber Pungli Pacitan Masih Ayem

Satgas Saber Pungli yang dilantik Indartato beberapa waktu lalu. (Foto: Humas Pemkab)

Pacitanku.com, PACITAN – Sejak dilantik dua bulan yang lalu, Satgas Saber Pungli seolah tidak tampak bayang-bayangnya. Hingga saat ini, satgas yang diketuai Wakapolres Kompol Suharsono masih ayem dan belum sekalipun menggelar operasi tangkap tangan (OTT).

Namun demikian, sang ketua beralasan satgasnya lebih banyak berkecimpung pada upaya preventif. Satgas Saber Pungli di Pacitan lebih banyak berupaya mencegah, daripada menangkap tangan aksi pungli. ‘’Tidak perlu diperlihatkan pergerakannya dong. Sejak dilantik kami sibuk sosialisasi pencegahan di berbagai kesempatan,’’ ujar Suharsono, dikutip dari Radar Madiun pada Rabu (29/3/2017).

Menurut Suharsono, sosialisasi dilakukan di berbagai kesempatan. Dia mengaku lebih menyukai pertemuan yang sifatnya non-formal di desa-desa. Selain itu, satgas juga banyak berkecimpung memberi sosialisasi lewat radio, maupun keliling antar organisasi perangkat daerah (OPD) dan tempat-tempat pelayanan publik seperti kantor pajak atau samsat.

Media sosial juga dimanfaatkan untuk memberi sosialisasi seputar pungli kepada masyarakat. ‘’Kalau perlu, dengan sosialisasi ini, semoga tidak perlu sampai melakukan penindakan. Karena diharapkan sudah tertib semua,’’ harapannya.

Anggapan sepinya Satgas Saber Pungli karena minim kasus ditepis Suharsono. Menurutnya, upaya preventif lebih dikedepankan sengaja untuk meminimalisasi adanya kasus pungli. Ketika bidikan yang kedapatan melakukan pungli sudah acap diingatkan namun tetap membandel, maka satgas baru bertindak tegas.


Salah satunya bisa dengan melakukan OTT. Namun Suharsono menyadari, penyimpangan seperti pungli sulit dideteksi. ‘’Ketika melakukan penyimpangan, mereka tentu tidak akan memperlihatkan kepada kami. Namun kami tahu itu. Dan ketika sudah diingatkan tetapi tetap membandel, baru kami tindak tegas,’’ jelasnya.

Kondisi di tempat-tempat pelayanan publik Pacitan sampai saat ini juga dinilai Suharsono masih kondusif. Yang menjadi acuan, belum ada laporan masuk dari masyarakat perihal kasus pungli. Namun demikian, Suharsono mengaku pihaknya tetap pasang mata pada tempat-tempat yang ditengarai rawan pungli.

Kepada mereka yang menjadi bidikan itu, sosialisasi terus diberikan secara lisan. ‘’Kalau tertulis, iya kalau mereka baca. Kalau sudah diberi imbauan tetapi tidak digubris ya percuma,’’ kata Suharsono. (naz/rif)