Kategori: Hukum dan Kriminal

Popular

Berita Terbaru

Permalink ke Mengaku Pegawai PLN, Gondol Uang Warga Rp 8,5 Juta
Hukum dan Kriminal

Mengaku Pegawai PLN, Gondol Uang Warga Rp 8,5 Juta

Ilustrasi uang

Ilustrasi uang

Pacitanku.com, PACITAN – Kusno (76) warga Lingkungan Kauman, Pucangsewu, Pacitan, Jatim, menjadi korban penipuan modus baru yang dilakukan perempuan dan laki-laki necis mengaku pegawai PLN, Kamis (7/9/2017) kemarin.

Pada sekitar pukul 10.00, pensiunan pegawai dinas pendidikan (dindik) itu didatangi seorang laki-laki dan perempuan berpakaian rapi di rumahnya di Lingkungan Kauman, Kelurahan Pucangsewu, Kecamatan Pacitan.

Mereka datang naik mobil minicar warna hitam berpelat nomor Jakarta (B). Setelah memarkir mobil itu di pinggir Jalan S Parman mereka langsung bergegas masuk ke dalam rumah Kusno.

Awalnya, Kusno tidak menaruh curiga sama sekali pada dua orang tersebut. Seingat dia, mereka menawarkan program kelistrikan. Berupa jaminan perawatan panel listrik 900 watt. Tapi Kusno tidak memperhatikan itu.

Dua orang tersebut kemudian semakin banyak berbicara. Mereka bersahutan untuk meyakinkan Kusno bahwa program tersebut merupakan dari pemerintah.




Kusno disebut sangat beruntung bila ikut program jaminan perawatan panel listrik itu. Syaratnya, Kusno membayar biaya perawatan selama 10 kali sebesar Rp 4 juta.

Entah kenapa, Kusno hanya mengangguk saja saat keduanya menjelaskan program tersebut. Dia mengaku seperti terbius.

Entah hipnotis atau bukan. Yang jelas, dia akhirnya merogoh uang Rp 8,5 juta. Dua orang tersebut lantas menjabat tangan Kusno serta memberikannya tanda terima.

Dan, meminta Kusno menunggunya di rumah. Mereka berjanji akan kembali datang setelah pemasangan besok.

Kedua orang itu kemudian pergi tanpa memberikan satu pun nomor telepon maupun alamat. Kusno baru menyadari kalau dirinya tertipu setelah satu jam kemudian.

Dia langsung menanyakan kebenaran program itu ke para tetangga. Namun, tidak ada satu pun orang yang membenarkan.

Oleh warga, dia kemudian diminta untuk mengklarifikasi program itu ke PLNUPJ Pacitan dengan membawa bukti kuitansi. Tapi, ternyata program yang dimaksud tidak ada.

Selanjutnya, Kusno melaporkan kejadian itu ke Satreskrim Polres Pacitan. ‘’Uang saya yang dibawa mereka Rp 8,5 juta,’’ akunya dikutip dari JPNN.

Di sekitar lokasi kejadian, warga setempat juga sempat menemukan kuitansi serupa. Bahkan, sebagian warga mengaku sempat melihat ciri-ciri pelaku.

Yang perempuan memakai hijab dan blazer hitam. Sementara, si pria mengenakan setelan kemeja warna putih dan celana kain. (her/eba)

 

Permalink ke Asyik Nonton Festival Ronthek, 2 Rumah Warga Pacitan Disatroni Maling
Hukum dan Kriminal

Asyik Nonton Festival Ronthek, 2 Rumah Warga Pacitan Disatroni Maling

Ilustrasi pencurian

Ilustrasi pencurian

Pacitanku.com, PACITAN – Semarak Festival Ronthek Pacitan tahun 2017 ternyata tak hanya dirasakan manfaatnya oleh warga. Adanya festival tahunan tersebut juga dimanfaatkan pencuri untuk melancarkan aksi kriminalnya, seperti yag dialami dua warga Pacitan, Senin (4/9/2017) kemarin.

Adalah Wangsit Kurniawan, warga RT/RW 01/III Dusun Bulu Desa Nanggungan, Kecamatan Pacitan, harus kehilangan barang-barang berharganya, yakni satu buah laptop dan uang Rp 25 juta saat dirinya bersama keluarga tengah asyik nonton Festival Ronthek.

Informasi yang dihimpun Pacitanku.com, kejadian tersebut berawal saat pada Senin (4/9/2017) sekitar pukul 19.45 WIB, dia dan keluarganya pergi melihat Festival Ronthek di jalan Ahmad Yani, Pacitan.

Usai melihat festival budaya tersebut, alangkah terkejutnya Wangsit saat melihat jendela kamar belakang terbuka. Pada pukul 23.45 WIB tersebut, Wangsit juga melihat pencuri mengacak-acak semua kamar dan mencuri satu unit laptop dan uang Rp 25 juta.




Di hari yang sama, aksi pencurian juga terjadi dan menimpa Jaenuri (58) warga RT/RW 3/I Desa Nanggungan Kecamatan Pacitan. Jaenuri yang berprofesi sebagai Pegawai Negeri Sipil Sopir Bupati Pacitan ini mendapat laporan dari ibunya, usai pulang dari melihat Festival Ronthek ada dua orang memasuki rumahnya.

Menurut keterangan ibu korban yang sudah berusia 75 tahun itu, rumah Jaenuri dimasuki dua orang berbaju hitam dan merah. Setelah itu Jaenuri mengecek jendela dan nako belakang rumah dalam keadaan dirusak oleh pelaku pencurian.

Beruntung, karena diduga pelaku diketahui oleh ibu korban, tidak mengambil barang-barang yang ada dirumah. Hingga saat ini, kejadian pencurian tersebut ditangani pihak kepolisian setempat. (RAPP002)

Permalink ke Empat Pedagang Ikut Tergugat dalam Sengketa Pasar Tulakan
Headline, Hukum dan Kriminal

Empat Pedagang Ikut Tergugat dalam Sengketa Pasar Tulakan

Anto Widhi Nugroho (kanan) berbincang dengan jaksa dan pihak tergugat sebelum sidang (Muhammad Budi/Radar Pacitan)

Pacitanku.com, PACITAN – Polemik pasar Tulakan, Pacitan terus berlanjut. Sidang sengketa tanah di selatan Pasar Tulakan pun masih terus berjalan. Pihak tergugat dan penggugat bersikukuh merasa benar.

Sidang dengan agenda pembacaan replik pada hari Rabu (30/8/2017) kemarin harus ditunda. Ini setelah empat pedagang yang jadi turut tergugat mangkir menghadiri sidang. ‘’Alhasil sidang pun ditunda karena tergugat tidak lengkap,’’ ujar Novia Wardhani, Kasubag Bantuan Hukum, Bagian Hukum Setda Pacitan.




Sedianya, pihak penggugat bakal membacakan replik. Namun hingga pukul 10.30 Wib, pihak tergugat masih belum lengkap. Sementara pihak penggugat hadir lengkap.

Dua kuasa hukum ahli waris J. Tasman, Sugiharto dan Joko Prabanto sudah siap mengikuti sidang. Sedangkan pihak tergugat yang hadir hanya Jaksa Pengacara Negara, Anto Widhi Nugroho, serta Novia yang mewakili tergugat Bupati Pacitan. ‘’Ditunda Rabu pekan depan dengan agenda sama, pembacaan replik,’’ terangnya.

Menurut Novia, jalannya sidang yang hingga kemarin sudah mencapai enam kali itu dirasa memberatkan bagi sejumlah tergugat. Terutama, bagi pedagang yang turut menjadi tergugat.

Maklum, dari keempat pedagang it, tiga di antaranya sudah tergolong lanjut usia. Sehingga mereka kerap memberikan kuasa kepada pedagang lain yang juga ikut tergugat. ‘’Dari keluh kesahnya pedagang, memang membuat mereka repot harus bolak-balik Tulakan-Pacitan. Terutama yang sudah lansia,’’ jelasnya.

Di lain pihak, kuasa pihak penggugat keluarga ahli waris J. Tasman, Sugiharto, menuturkan, pihaknya masih tetap keberatan atas jawaban tergugat yang disampaikan pekan lalu.

Dia menuding, jawaban tersebut hanyalah mengada-ada, dan punya tujuan mengaburkan tindakan melawan hukum yang dilakukan para pihak tergugat. ‘’Membangun kios dengan alasan untuk kepentingan warga, namun di atas tanah yang bukan haknya. Ini jawaban mereka (pihak tergugat) terkesan mengaburkan fakta yang sebenarnya,’’ ujarnya.

Menurut Sugiharto, sudah seharusnya pemerintah memberi contoh baik kepada masyarakat. Rakyat yang menuntut keadilan atas hak miliknya seharusnya bukan malah ditindas.

Dia ngotot bahwa sertifikat hak milik (SHM) nomor 5 tahun 1967 yang diterbitkan dan disahkan kantor pertanahan merupakan bukti sah atas tanah 1.225 meter persegi di selatan pasar Tulakan. ‘’Bukti itu jangan dinafikan. Karena SHM itu dinyatakan sah oleh negara,’’ jelasnya, dilansir dari Jawa Pos Radar Madiun. (RAPP002)

Permalink ke Terlibat Penipuan dan Penggelapan Mobil, 2 Warga Pacitan Diciduk Polisi
Headline, Hukum dan Kriminal, Jatim

Terlibat Penipuan dan Penggelapan Mobil, 2 Warga Pacitan Diciduk Polisi

Tiga pelaku penggelapan mobil dibekuk (Foto: Imam Wahyudiyanta/Detik)

Pacitanku.com, SURABAYA – Komplotan penipuan dan penggelapanmobil dibongkar Unit Reskrim Polsek Bubutan yang dibantu Satreskrim Polrestabes Surabaya. Dari pengungkapan ini, polisi telah menangkap 3 pelakunya. Mereka ditangkap setelah menggelapkan 19 unit mobil berbagai merek.

Para tersangka adalah Sholihudin alias Agil (36), warga Jalan Kyai Cempo, Sidoarjo; Fajar Susilo alias Silo (37), warga Tulakan, Pacitan dan Purwanto alias Kenthus (25), warga Tulakan, Pacitan.

Kasus ini berawal dari laporan anggota polisi bernama Nuriadi yang tiga mobilnya disewa oleh seseorang namun tak dikembalikan. Polisi pun kemudian melakukan penyelidikan.”Setelah menerima laporan, Polsek Bubutan segera melakukan penyelidikan,” ujar Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya AKBP Leonard Sinambela kepada wartawan, Kamis (3/8/2017).

Kasus ini memang ditangani Polsek Bubutan. Ketiga mobil itu sendiri hilang sejak April lalu. AKP Budi Waluyo selaku Kanit Reskrim melacak keberadaan tiga mobil itu melalui GPS yang terpasang. Ternyata diketahui mobil itu berada di Pacitan.

Tiga mobil itu yakni Toyota Kijang Innova W 1205 RN, Toyota Avanza W 1925 SM, dan Toyota Avanza W 1525 SN dapat diamankan. Polisi juga berhasil membekuk dua orang yakni Silo dan Kenthus.




Kepada penyidik Silo dan Agus mengakui bahwa mereka adalah perantara untuk menjualkan mobil tersebut. Sementara yang mencari mobil dari usaha penyewaan mobil adalah Agil.”Selama menyelidiki dan memburu Agil, kami menemukan barang bukti mobil lain sehingga total mobil yang kami temukan ada 19 mobil. Semua mobil berada di Pacitan,” kata Leo.

Agil sendiri akhirnya dapat ditangkap pada akhir Juli kemarin. Dia ditangkap di sebuah hotel di Madiun. Agil sempat berpindah-pindah lokasi tempat tinggal sehingga polisi membutuhkan waktu enam hari memburunya.

Kepada penyidik, Agil mengatakan bahwa dia selalu berhasil menyewa mobil karena nilai sewa yang cukup tinggi. Untuk Xenia dan Avanza, Agil berani membayar Rp 4,5 juta per bulan. Sementara untuk Innova, Agil berani membayar Rp 6,5 juta.

Sindikat ini dalam aksinya bermodus untuk bisnis rental atau mobil disewakan untuk mengerjakan proyek infrastruktur di Pacitan. Korban Nuriadi awalnya dihubungi Agil yang berminat menyewa tiga unit mobil miliknya untuk dijalankan bisnis rental. Korban dijanjikan mendapat keuntungan lumayan.

Mobil Toyota Kijang Innova tahun 2010, misalnya. Korban dijanjikan keuntungan senilai Rp 5,5 juta sebulan, Toyota Avansa tahun 2017 dijanjikan keuntungan Rp 6,5 juta per bulan. Akhirnya korban Nuriadi menyepakati kerja sama dan menyerahkan tiga mobilnya kepada Agil.

Setelah dua bulan berjalan (Juni-Juli 2017, ternyata keuntungan yang dijanjikan tidak kunjung diterima. Agil setiap kali dihubungi juga selalu menghindar. Didatangi di rumahnya di Sidoarjo juga tidak ada. Korban Nuriadi melaoprkan ke Polsek Bubutan.

Keduanya ternyata merupakan komplotan Agil yang juga menggadaikan satu mobil milik seorang anggota polisi, Hermono. Selain empat mobil tersebut, Agil dkk juga menggelapkan15 mobil berbagai jenis milik korban lain dengan modus yang sama.“Totalnya kami mengamankan sebanyak 19 unit mobil milik berbagai korban. Ada lima korban,” ucap Leonard.

Kapolsek Bubutan Surabaya, Kompol Dies Ferra mengatakan, para korban rela melepas mobilnya untuk disewa lantaran dijanjikan mendapat keuntungan besar. Karena pelaku berani menyewa mobil dua kali lipa dari harga sewa rental pada umumnya.”Saya mengingatkan kepada masyarakat, supaya selalu berhati-hati jika ada orang yang mau menyewa mobil untuk kepentingan bisnis dan mendapat keuntungan besar,” terang Ferra.

Permalink ke Mediasi Sengketa Tanah Pasar Tulakan Gagal
Headline, Hukum dan Kriminal

Mediasi Sengketa Tanah Pasar Tulakan Gagal

GUGAT BUPATI: Ahli waris keluarga J. Tasman, penggugat hak kepemilikan tanah atas Pasar Tulakan, Pacitan, meninggalkan ruang sidang. (MUHAMMAD BUDI/RADAR PACITAN/JPG)

Pacitanku.com, PACITAN – Mediasi kasus sengketa hak kepemilikan tanah atas Pasar Tulakan, Pacitan pada Senin (31/7/2017) kemarin di Pengadilan Negeri (PN) Pacitan tak mencapai kesepakatan.

Hal tersebut dikarenakan pihak penggugat, keluarga ahli waris dari warga dan pihak tergugat Pemerintah Kabupaten Pacitan yakni bupati Pacitan yang diwakili Kabag Hukum Pemkab Kukuh Sutiyarto sama-sama berkeras sebagai pemilik sah atas aset tanah yang terletak di di Desa Bungur, Kecamatan Tulakan tersebut.

Dalam sidang mediasi tersebut, penggugat dari keluarga J. Tasman meminta pemerintah membeli aset tanah seluas 1.225 meter persegi, senilai Rp 4,9 miliar, namun ditolak oleh Pemkab, karena penggunaan aset tanah untuk pembangunan pasar tepat berada di atas tanah milik negara.

Atas kondisi tersebut, pemeriksaan perkara perdata ini pun dilanjutkan dengan pembacaan surat gugatan pada persidangan. Sidang gugatan perkara perdata ini akan kembali digelar pada pekan depan dengan agenda pembacaan tuntutan penggugat.

Sebagaimana diketahui, sengketa hak kepemilikan tanah atas Pasar Tulakan, Pacitan, tersebut bermula saat diklaim berdiri di atas tanah warga.




Berdasarkan keterangan Joko Prabanto –salah seorang ahli waris keluarga J. Tasman– menuturkan, selama 47 tahun Pasar Tulakan berdiri di atas tanah milik keluarganya. Klaim tersebut bukannya tanpa dasar. Joko memegang sertifikat tanah atas nama J. Tasman. Sertifikat atas tanah seluas 1.225 meter persegi itu disahkan Kantor Pertanahan Kabupaten Pacitan tertanda 15 Mei 2017.

Menurut Joko, sejak awal, keluarga J. Tasman membeli tanah tersebut lengkap beserta sertifikatnya. Sejak sertifikat tanah dikeluarkan pada 1967 hingga bangunan Pasar Tulakan berdiri selama 47 tahun, tidak ada pembicaraan apa pun antara pihak keluarganya dan Pemkab Pacitan.  Pemkab membangun pasar tanpa ada bukti kepemilikan tanah yang sah.

Sementara, Pemkab yang diwakili Kukuh menyebutkan, pihaknya sudah mempersiapkan langkah hukum mengenai sengketa dengan keluarga J. Tasman. 

Pemkab, tambah Kukuh, memiliki bukti bahwa Pasar Tulakan berdiri sah di atas tanah milik negara. Kukuh membenarkan bahwa selama ini belum ada pembicaraan antara pemkab dan keluarga J. Tasman. Dia menyebutkan, keluarga J. Tasman beberapa kali mencoba menghubungi pihak-pihak tertentu mengenai masalah sengketa itu. (RAPP002)

 

Permalink ke Pasar Berdiri di Atas Tanah Warga, Bupati Pacitan Digugat
Headline, Hukum dan Kriminal

Pasar Berdiri di Atas Tanah Warga, Bupati Pacitan Digugat

GUGAT BUPATI: Ahli waris keluarga J. Tasman, penggugat hak kepemilikan tanah atas Pasar Tulakan, Pacitan, meninggalkan ruang sidang. (MUHAMMAD BUDI/RADAR PACITAN/JPG)

Pacitanku.com, PACITAN – Sengketa hak kepemilikan tanah atas Pasar Tulakan, Pacitan, memasuki babak baru. Sekian puluh tahun pasar di Desa Bungur, Kecamatan Tulakan, tersebut, diklaim berdiri di atas tanah warga.

Rabu (5/7) gugatan keluarga ahli waris terhadap Pemkab Pacitan resmi disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) setempat. Sidang perdana dengan agenda pembacaan surat gugatan itu menghadirkan keluarga J. Tasman selaku penggugat dan tergugat bupati Pacitan yang diwakili Kabag Hukum Pemkab Kukuh Sutiyarto serta empat pihak tergugat lainnya.




Ketua PN Pacitan Dwi Yanto bertindak sebagai ketua majelis hakim. Karena dua di antara lima pihak tergugat tidak hadir dalam sidang, Dwi Yanto memutuskan menunda agenda pembacaan surat gugatan. Sidang ditunda hingga 12 Juli.’’Dua pihak tergugat tidak hadir, maka kami tunda hingga Rabu mendatang. Kami harap para pihak hadir seluruhnya,’’ ujarnya, dikutip Jawapos.com.

Ditemui setelah sidang, Joko Prabanto –salah seorang ahli waris keluarga J. Tasman– menuturkan, selama 47 tahun Pasar Tulakan berdiri di atas tanah milik keluarganya. Klaim tersebut bukannya tanpa dasar. Joko memegang sertifikat tanah atas nama J. Tasman.

Sertifikat atas tanah seluas 1.225 meter persegi itu disahkan Kantor Pertanahan Kabupaten Pacitan tertanda 15 Mei 2017. ’’Sertifikat tanah ini resmi disahkan kantor pertanahan. Pasar Tulakan berdiri di atas tanah milik keluarga kami,’’ ujarnya.

Menurut Joko, sejak awal, keluarga J. Tasman membeli tanah tersebut lengkap beserta sertifikatnya. Sejak sertifikat tanah dikeluarkan pada 1967 hingga bangunan Pasar Tulakan berdiri selama 47 tahun, tidak ada pembicaraan apa pun antara pihak keluarganya dan Pemkab Pacitan.  Pemkab membangun pasar tanpa ada bukti kepemilikan tanah yang sah.

’’Kami ini sebagai korban. Tanah kami diklaim, padahal sertifikat kami sah, kami hanya ingin keadilan. Kami ingin menunjukkan bahwa tanah itu sah mengacu sertifikat yang kami miliki,’’ tambahnya.

Di lain pihak, Kukuh menyebutkan, pihaknya sudah mempersiapkan langkah hukum mengenai sengketa dengan keluarga J. Tasman. Kendati demikian, dia ingin sengketa dapat selesai secara damai. ’’Sudah disiapkan langkah hukum jika tidak tercapai kata damai. Tetapi, belum bisa kami sampaikan,’’ ujarnya.

Pemkab, tambah Kukuh, memiliki bukti bahwa Pasar Tulakan berdiri sah di atas tanah milik negara. Pihaknya, ungkap dia, menunjukkan bukti-bukti tersebut pada sidang berikutnya.

Kukuh membenarkan bahwa selama ini belum ada pembicaraan antara pemkab dan keluarga J. Tasman. Dia menyebutkan, keluarga J. Tasman beberapa kali mencoba menghubungi pihak-pihak tertentu mengenai masalah sengketa itu.’’Pihak keluarga J. Tasman menginginkan menempuh jalur peradilan, ya kami ikuti. Kami lihat bagaimana ketetapannya. Yang jelas, kami juga memiliki bukti-bukti yang siap dihadirkan di sidang,’’ jelas Kukuh.