Pacitan dalam Perspektif Pra Sejarah

oleh Sebar Tweet
Sungai Baksooka yang merupakan bagan dari geosite di Pacitan. (Foto : Arif Sasono/FB)
Sungai Baksooka yang merupakan bagan dari geosite di Pacitan. (Foto : Arif Sasono/FB)

Mungkin kalangan sejarawan atau para pelajar SD dan SMP pernah mendengar nama pacitan di sebut – sebut dalam buku sejarah sebagai salahs atu situs peninggalan manusia purba. Hal tersebut memang menjadi satu fakta bahwa memang Pacitan terkenal dengan bukit karst, yang identik dengan zaman batu. Bukit karst pacitan ini sendiri melingkupi wilayah  Kecamatan Punung, Donorojo, dan sebagian Pringkuku.  Kajian mengenai Pacitan pra-sejarah tersebut masih menjadi diskursus yang panjang dari ahli sejarah untuk menemukan titik temu yang jelas kondisi Pacitan zaman pra-sejarah.

Menurut berbagai sumber, karena melihat kondisi Gunung Sewu secara geologis dan geografis terpisah dari wilayah Pulau Jawa lainnya, Iklimnya kering menjadi aklasan kuat  menggunakan bukit karst kawasan gunung sewu ini, salah satunya Pacitan, sebagai tempat tinggal bagi manusia purba. Maka tak heran bahwa kemudian pacitan mendapatkan gelar ibukota pra sejarah dunia.

Dalam kajian pra–sejarah Pacitan, kita memahami bahwa walaupun kondisi geografis Kabupaten Pacitan adalah wilayah pesisir dan marginal, tapi tidak demikian dengan arkeologinya. Di wilayah ini ditemukan bengkel manusia purba terbesar dari kebudayaan paleolitikum.

Sekitar tahun 1935, dua warga asing GHR Von Koeningswald, seorang Paleontolog dan geolog dari Jerman serta temannya, Tweedie menemukan situs Kali Bak Sooka, di kecamatan Punung.

Situs itu merupakan bengkel manusia purba terbesar dari kebudayaan Paleolitik atau lebih dikenal sebagai budaya Pacitanian. Berbagai temuan arkeologi tersebut menunjukkan bahwa Pacitan sudah dihuni pada masa-masa pra sejarah. Benda yang ditemukan tersebut diduga merupakan alat kerja tingkat sederhana jaman Prasejarah yang digunakan pada masa berburu dan mengumpulkan makan, seperti misalnya kapak genggam, kapak perimbas, kapak penetak, mata panah, serut, alat-alat dari tulang (spatula) dan lain sebagainya.

Menurut data yang diperoleh dari Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kabupaten Pacitan, terdapat kurang lebih terdapat 261 lokasi situs prasejarah yang tersebar di Pacitan, baik yang sudah diekplorasi maupun baru sebatas tahapan survey, dan kemungkinan diperkirakan masih ada jutaan artefak prasejarah terkubur di lokasi situs tersebut. Besarnya perkiraan jumlah artefak mengacu pada temuan Gustav Heinrich Ralph von Koeningswald di satu lokasi, situs Kali Bak Sooka, Kecamatan Punung.

Sedikitnya, 3.000 artefak telah berhasil dikumpulkan. Meski sudah ditemukan sejak lama, upaya penggalian intensif baru dilakukan kembali mulai tahun 1992. Tim dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional yang dipimpin HT Simanjuntak menemukan 13kg batu rijang dan sejumlah alat pangkas di situs Song Keplek.

Kebudayaan Pacitanian

Pada tahun 1935 di daerah Pacitan ditemukan sejumlah alat-alat dari batu, yang kemudian dinamakan kapak genggam, karena bentuknya seperti kapak yang tidak bertangkai. Dalam ilmu prasejarah alat-alat atau kapak Pacitan ini disebut chopper (alat penetak).

Salah satu arkeolog kenamaan, Soekmono mengemukakan bahwa asal kebudayaan Pacitan adalah dari lapisan Trinil, yaitu berasal dari lapisan pleistosen tengah yang merupakan lapisan ditemukannya fosil Pithecantropus Erectus. Sehingga kebudayaan Palaelitikum itu pendukungnya adalah Pithecanthropus Erectus, yaitu manusia pertama dan manusia tertua yang menjadi penghuni Indonesia.

Ciri-ciri kapak genggam dari budaya Pacitanian di antaranya terdapat pangkasan di kedua sisi. Pangkasan itu menciptakan bentuk yang simetris poros dan dua sisinya retus menyeluruh, menurut keadaan serta bentuknya yang menonjol. Sedangkan kapak perimbas dikenali dari bentuk tajam hanya pada satu sisi dan digunakan untuk keperluan sehari-hari.

Tak hanya di situs Kali Bak Sooka, bengkel besar peralatan ditemukan pula di situs Ngrijangan, Desa Sooka. Di situs ini, para arkelog telah mengidentifikasi berbagai jenis beliung. Seperti, kapak persegi, kapak corong, kubur persegi, pahat neolitik dan serut. Situs Ngrijangan oleh para ahli Arkeolog disinyalir sebagai bengkel beliung pada masa neolitikum.

Dalam penemuannya, artefak di pacitan ada berbagai macam diantaranya Kapak Perimbas yang mempunyai multi fungsi, selain alat untuk mencari ubi juga untuk berburu. Dalam kegiatan berburu, terutama mulai pada masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut manusia juga menciptakan ujung anak panah dari batu. Temuan-temuan lainnya diantaranya adalah Kapak Genggam, Kapak penetak, mata anak panah, serut, dan alat-alat dari tulang. Pernah ditemukan juga manik-manik sebagai sarana yang dipakai sebagai perhiasan dan juga biasanya dipakai sebagai bekal kubur.

Manik-manik semacam ini mulai ada sejak masa bercocok tanam yang pada saat itu juga berkembang kebudayaan Megalithikum/batu-batu seperti dolmen, kubur batu, dan sebagainya. Situs-situs ditemukannya artefak-artefak tersebut diantaranya adalah situs Kali Bak Sooka, Song Keplek, Song Terus, situs Sungai Banjar, Sungai Karasan, Sungai Jatigunung di Kecamatan Tulakan, Kedung Gamping, Kedung Gamping dan Mantren.

Pengkajian mengenai situs pra sejarah ini kemudian berlanjut dengan penelitian yang dilakukan tim arkeolog dipimpin warga negara Prancis, Francois Semah. Tidak itu saja, pada penggalian di situs purbakala lainnya, Song Terus tim mendapati kerangka manusia purba dari ras Austrialid yang hidup sekitar 12.000 tahun sebelum masehi.

jika dibandingkan dengan penemuan di Ngawi dan Sangiran, temuan fosil manusia purba di Pacitan kalah banyak. Tetapi, dari segi peralatan unggul. Hal ini dapat dibuktikan dengan berbagai macam peralatan sebagian besar bisa ditemukan di wilayah Kecamatan Punung. Mulai kapak genggam, kapak perimbas, kapak penetak, mata panah, serut, alat-alat dari tulang (spatula) dan lain sebagainya. Selain di situs Kali Bak Sooka, peralatan juga ditemukan di situs Sungai Banjar, Sungai Karasan, Sungai Jatigunung (Tulakan) dan Kedung Gamping. 

Ciri-ciri kapak genggam dari budaya Pacitanian di antaranya terdapat pangkasan di kedua sisi. Pangkasan itu menciptakan bentuk yang simetris poros dan dua sisinya retus menyeluruh, menurut keadaan serta bentuknya yang menonjol. 

Sedangkan kapak perimbas dikenali dari bentuk tajam hanya pada satu sisi dan digunakan untuk keperluan sehari-hari. Tak hanya di situs Kali Bak Sooka, bengkel besar peralatan ditemukan pula di situs Ngrijangan, Desa Sooka. 

Di situs ini, para arkelog telah mengidentifikasi berbagai jenis beliung. Seperti, kapak persegi, kapak corong, kubur persegi, pahat neolitik dan serut. Situs Ngrijangan oleh para ahli Arkeolog disinyalir sebagai bengkel beliung pada masa neolitikum. 

Sementara itu, di situs Blawong Desa Mantren ditemukan bengkel mata anak panah. Untuk saat ini, berbagai situs purbakala tersebut dapat dilihat kembali di Museum Buwono Keling dan Song Terus.

Meski jumlahnya tidak banyak, paling tidak suguhan koleksi bisa menambah wawasan pengetahuan. Khususnya bagi para pelajar maupun mahasiswa yang menempuh studi arkeologi. Selain menyimpan benda prasejarah, di museum ini juga dipajang berbagai peralatan budaya tradisional.

Selain di Museum Buwono Keling, situs pra-sejarah kebudayaan pacitanian dapat anda lihat di Song terus.

Sumber: Buku Pacitan The Heaven of Indonesia