Tag: Pacitan

Permalink ke Sapa Warga Pantai Pidakan, SBY: Assalamualaikum, Apa Kabar Semuanya?
Headline, Wisata

Sapa Warga Pantai Pidakan, SBY: Assalamualaikum, Apa Kabar Semuanya?

SBY saat berada di Pantai Pidakan. (Foto: Humas Pemkab)

Pacitanku.com, TULAKAN – Presiden Keenam RI, Susilo Bambang Yudhoyono mengunjungi salah satu kawan pantai di Pacitan, yakni pantai Pidakan di Dusun Godek Kulon, Desa Jetak Kecamatan Tulakan pada Minggu (20/8/2017) kemarin.

Setelah pernah mengunjungi Pantai Klayar di Kecamatan Donorojo dan Watukarung (Pringkuku), hari ini SBY bersama Bupati Indartato dan rombongan datang ke Pantai Pidakan di Desa Jetak, Tulakan, Minggu (20/8/2017). “Assalamualaikum. Apa kabar semuanya,” sapa dia.

Sontak sapaan itu ditanggapi warga secara serempak. Sejumlah warga lain yang berada agak jauh dibelakang perlahan mulai mendekat dan mencoba kembali menyapa.

Saat SBY tengah mengobrol dengan Bupati Indartato dan masyarakat, putra bungsunya, Edhie Baskoro Yudhoyono menggendong anak keduanya Panca Sakti Maharajasa Yudhoyono mendekat ke bibir pantai.




Terlihat pula Ani Yudhoyono dan Aliya Rajasa bergabung untuk berfoto bersama. Keberadaan mereka pun menarik perhatian warga yang dengan segera mengacungkan telepon seluler dan beramai-ramai mengambil foto.

Setelah istirahat beberapa saat, Presiden RI ke-6 ini kemudian mempersilahkan warga untuk berkumpul dan berfoto bersama. Kesempatan itu tak disia-siakan. Segera saja mereka membentuk kelompok. Duduk dengan tertib didepan SBY.

Usai di Pantai Pidakan, rombongan kemudian bergeser menuju pantai Soge, Kecamatan Ngadirojo. Di pantai yang berada tepat disisi Jalan Lintas Selatan (JLS) itu warga kembali menyambut dengan meriah. Bahkan sekelompok seniman lokal mempersembahkan tarian Langen Bekso. (Humas Pemkab/RAPP002)

Permalink ke Ibas: Ekspresikan Hari Kemerdekan Lewat Futsal dan Voli
Headline, Sepakbola

Ibas: Ekspresikan Hari Kemerdekan Lewat Futsal dan Voli

Ibas saat bermain futsal di Pacitan. (Foto: Dok EBY)

Pacitanku.com, PACITAN – Anggota DPR RI asal Dapil VII Jawa Timur, Edhie Baskoro Yudhoyono atau akrab disapa Ibas mengaku senang dapat memperingati HUT RI ke-72 di Kabupaten Pacitan bersama keluarga besar mantan Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono, Minggu 20/8/2017.

Di Pacitan, Ibas menggelar turnamen futsal dan voli Piala Kemerdekaan EBY antar pelajar dan club olahraga. Ibas yang juga anggota Komisi 10 DPR RI yang membidangi kepemudaan dan olahraga ini mengaku optimis, potensi anak muda Pacitan yang dibidik dalam laga ini bisa memacuh semangat dan motivasi untuk berprestasi di bidang olahraga.

“Menang kalah bukan prioritas dalam ajang ini, yang terpenting semangat kebersamaan dan solidaritas khususnya dalam peringatan hari kemerdekaan ini,” terang Ibas.

Ketua Fraksi PD DPR RI ini menjelaskan kunjungannya ke Pacitan dalam rangkaian kegiatan peringatan HUT RI sekaligus ajang silaturahim dengan keluarga dan konstituen di Dapil VII Jawa Timur. 

“Pacitan kampung halaman leluhur keluarga kami, jadi memang setiap tahun berkunjung ke Pacitan apalagi memperingati HUT RI sangat terasa nuansa kampung halamannya,” tambahnya.




“Sudah menjadi tradisi keluarga kami untuk merayakan peringatan HUT RI di kampung halaman. Nuansa peringatan kemerdekaan RI terasa berbeda karena banyak warga berkontribusi. Sangat antusias untuk berekspresi dan menyalurkan semangat peringatan HUT RI,” ujar Ibas di sela pertandingan futsal piala kemerdekaan di GOR Kabupaten Pacitan.

Sebelumnya di Kabupaten Magetan, Ibas juga melakukan agenda lomba panjat pinang dan ragam hiburan warga lainnya. Usai agenda di Magetan pada Jumat lalu, Ibas melanjutkan kunjungan ke Kabupaten Pacitan.

Sementara itu, dalam menanggapi peringatan HUT RI ke-72 tahun ini, Ibas memberikan sejumlah catatan dalam memaknai peringatan hari kemerdekaan RI. Menurut wakil rakyat asal Dapil VII Jawa Timur ini, dewasa ini, persatuan bangsa tengah diuji dengan berbagai dinamika politik, keamanan, masalah sosial, dan isu-isu nasional lainnya yang berpotensi memecah belah komponen bangsa.

“Dinamika nasional terus bergulir dan menjadi tantangan bagi persatuan bangsa. Semoga peringatan HUT RI ke-72 ini membawa bangsa kita semakin maju, merdeka dalam segala sektor dan rakyatnya sejahtera secara menyeluruh. Semangat persatuan masih menjadi faktor penting bagi bangsa kita dalam menangkal ragam tantangan dan ujian bangsa kita,” ujar Ibas usai laga persahabatan futsal melawan komunitas wartawan se-Kabupaten Pacitan.

Ibas juga mengingatkan agar seluruh komponen bangsa tidak henti-hentinya merenung dan mawas diri agar senantiasa menjadi bagian dari elemen pemersatu bangsa.

 “Sebagaibwakil rakyat, sudah semestinya untuk selalu koreksi dan introspeksi serta menjadi bagian dalam membangun bangsa. Momentum peringatan kemerdekaan RI, selalu menjadi saat yang tepat untuk saling mengingatkan dan memberikan masukan satu dengan yang lain, lintas elemen,” tambahnya. (RAPP002)

Permalink ke Nonton Panjat Pinang, SBY Beri Puluhan Juta untuk Pemenang Lomba
Berita SBY, Headline

Nonton Panjat Pinang, SBY Beri Puluhan Juta untuk Pemenang Lomba

SBY dan keluarga menonton lomba pucang dalam rangka HUT ke-72 RI. (Foto: Arif/Humas Pacitan)

Pacitanku.com, PACITAN – Kedatangan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ke kampung halaman membawa rejeki bagi para peserta lomba panjat pinang di alun-alun kota, Jum’at (18/8/2017). Ia mengucurkan bonus bagi para juara dengan nilai total hampir mencapai Rp 20 juta.

Tak hanya suami dari Kristiani Herrawati yang memberikan bonus. Agus Harimurti Yudhoyono, Edhie Baskoro Yudhoyono, Sartono Hutomo, Indrawati Sukadis, dan pengusaha lokal Sudiro juga ikut menyumbangkan hadiah.




Nilainya beragam, antara Rp 500 ribu sampai Rp 3 juta untuk 12 peserta. Total hadiah yang dibawa pulang masing-masing jawara cukup besar. Untuk juara 1 dari Kecamatan Donorojo mengantongi Rp 25 juta dan piala bergilir, juara 2 (Bandar) Rp 20,5 juta, serta juara ke 3 (Nawangan) sebesar Rp 17 juta.

Kedatangan SBY sendiri disambut meriah warga. Mulai dari perbatasan dengan Kabupaten Wonogori, Jawa Tengah warga berkumpul di pinggir-pinggir jalan yang akan dilalui putra almarhum R Soekotjo-Siti Habibah ini.

Antusiasme makin terlihat saat rombongan SBY sampai di lokasi lomba. Tak sedikit dari warga menyapa dan mengabadikan momen itu menggunakan kamera telepon selulernya.

Selain keluarga SBY, pada lomba panjat pinang itu tampak pula Gubernur Jawa Timur Soekarwo, Danrem 081 Dhirot Sahajaya, dan Bupati Indartato beserta anggota Forkopimda. (arif/tarmuji/danang/pranoto/humaspacitan/RAPP002)

Permalink ke Fakta Menarik Wildan Pacitan, Anak Tukang Badut yang Jadi Anggota Paskibraka Nasional 2017
Headline, Pendidikan, Sosok

Fakta Menarik Wildan Pacitan, Anak Tukang Badut yang Jadi Anggota Paskibraka Nasional 2017

Wildan dan temannya, Fariza Putri Salsabila usai menjalankan tugas sebagai Paskibraka pada Kamis (17/8/2017) kemarin. (Foto: Aditya Eka Putra/Liputan6.com)

Pacitanku.com, PACITAN – Muhammad Wildan Arsyad Muzakki, siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Pacitan akhirnya tampil menjadi salah satu anggota Pasukan Pengibar Bendera (PASKIBRAKA) tingkat nasional tahun 2017 di Halaman Istana Merdeka Jakarta, Kamis (17/8/2017) sore pada pukul 17.00 WIB kemarin yang dipimpin langsung oleh Presiden Joko Widodo.

Wildan yang masuk tim merah pada upacara penurunan bendera sang merah putih bertugas sebagai pemegang dan pengerek pada upacara penurunan bendera di Istana Merdeka.

Wildan yang bertugas sebagai pasukan penurunan bersama Muhammad Alfin Abbas dari SMAN 3 Gorontalo bertugas menjadi Komandan Kelompok dan Alfares Deo Simanungsong dari SMAN 4 Berau Kalimantan Timur sebagai pembentang bendera.

Tim Merah Paskibraka yang telah selesai melaksanakan tugasnya menurunkan bendera Merah Putih, selanjutnya, duplikat bendera pusaka akan dibawa dengan kereta kencana Ki Jaga Raksa untuk kembali disimpan di Monumen Nasional (Monas).




Tentu, upacara penurunan peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-72 di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (17/7/2017), menjadi momen yang sangat penting bagi Wildan. Siapa sebenarnya Wildan?

Anak Tukang Badut Sulap

Wildan bersama ayahnya, Burhan saat bersama Bupati Pacitan Indartato sebelum diberangkatkan ke Pusdiklat Paskibraka Nasional. (Foto: Suparman Maman)

Wildan sendiri adalah siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Pacitan. Dia adalah putra seorang pemeran sulap dan badut, Muhammad Burhan.  Ayahnya adalah seorang tukang badut dan sulap di Pacitan. Namun siapa sangka, putra sulungnya tersebut memberinya kebahagiaan tersendiri, menjadi paskibraka nasional.

Dikisahkan, saat menjalani proses seleksi tingkat provinsi bulan Maret lalu, Wildan bersama temannya dari Pacitan, dinyatakan lolos dalam seleksi calon Pasukan Pengibar Bendera (PASKIBRAKA) tingkat Jawa Timur di Surabaya, yakni Wildan dan Nanda Putri Maharani dari SMAN 2 Pacitan.

Namun dalam seleksi tingkat nasional, Wildan yang lolos. Wildan bersama Fariza Putri Salsabila dari Kota Blitar mewakili Jatim menjadi anggota Paskibraka nasional 2017. Sementara Nanda Putri Maharani bertugas sebagai pembawa baki di upacara bendera di Gedung Grahadi Pemprov Jawa Timur, Kamis kemarin.

Persiapan Fisik dan Mental

Menpora RI Imam Nahrawi berswafoto dengan peserta calon Paskibraka HUTRI 72 di Wisma Soegondo Djojopoespito.

Wildan sendiri sudah melakukan berbagai persiapan, yang digelar di pelatihan Paskibraka 2017 di Cibubur, Jakarta.“Saya sudah mempersiapkan diri dengan baik karena menjadi Paskibraka Nasional tidak datang dua kali,”katanya.

Mulai 25 Juli lalu, Wildan mengikuti karantina untuk persiapan HUT RI di Istana Negara. Dia mengatakan bahwa paskibraka membutuhkan fisik dan mental yang kuat.

“Persiapan pertama pastinya adalah mental. Dengan adanya mental yang kuat, saya akan siap menghadapi apapun yang terjadi nanti di sana. Sedangkan fisik, sudah jelas, itu diperlukan karena banyak sekali menguras tenaga,” kata Wildan.

Salah satu jenis latihan yang disukainya adalah lari, karena membentuk daya tahan tubuh yang kuat. Wildan tak pernah mematok waktu khusus harus sesering apa dia berlari. Kalau sedang tidak ada kegiatan, Wildan yang memiliki tinggi 178 cm ini bisa berlari sebanyak dua sampai tiga kali sepekan.

Doa dan Apresiasi dari Pemkab dan Pemprov

Kontingen Paskibraka Pacitan sebelum seleksi tingkat Jatim. (Foto: Pemkab Pacitan)

Sebelum lolos ke tingkat nasional, Pemkab Pacitan sendiri mengirimkan 10 calon Paskibraka ke tingkat Jatim. Dalam pesannya kepada para Paskibraka kontingen dari Pacitan, Bupati Indartato mengatakan agar para peserta semangat menjalani proses tersebut.

Apalagi, kata Indartato, proses seleksi bakal berlangsung dengan tidak mudah karena mereka bakal bersaing dengan kontingen dari Kota/Kabupaten lain di Jawa Timur.”Tetap semangat, meski dengan keterbatasan yang kita miliki,”kata Indartato saat memberikan sambutan jelang seleksi tingkat Provinsi, beberapa waktu lalu.

Bupati juga mengingatkan untuk tidak lupa berdoa dalam rangka meraih hasil terbaik.”Jangan lupa tetap berdoa untuk masa depan yang lebih baik,”katanya.




Sementara, Kepala Biro Humas dan Protokol Pemprov Jatim Benny Sampir Wanto, Kamis (17/8/2017) juga mengapresiasi prestasi yang diraih Wildan dan Fariza, di sela-sela Peringatan HUT ke 72 RI di Gedung Negara Grahadi.

Menurut Benny, prestasi tersebut dicapai melalui proses seleksi dan Diklat oleh Tim Dispora Jatim dengan Garnisun Tetap (Gartap III) Surabaya dari 380 pemuda kab/kota se-Jatim.

Dari seleksi awal tersebut, disaring menjadi 76 orang, yang kemudian diseleksi lagi menjadi jadi 30 orang. Selanjutnya, ujar pria yang lekat dengan sapaan Benny tersebut, dipilih 2 Paskibraka terbaik yang dikirim ke pusat setelah diberi pelatihan dulu di Jatim.

Proses seleksi, lanjut Benny, dimulai sejak bulan Mei hingga dilakukan pemusatan latihan mulai tanggal 6 sd 16 Agustus di Islamic Centre Surabaya. Atas prestasi yang dicapai oleh dua orang pemuda tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyampaikan penghargaan dan terima kasihnya karena telah membawa harum nama Jatim.

Ia berharap, prestasi membanggakan tersebut bisa menjadi teladan yang baik bagi para pemuda Jatim lainnya.

Selamat untuk Wildan. (RAPP002)

Permalink ke Menelusuri Indahnya Pacitan, Negeri Sejuta Ombak di Selatan Jawa
Headline, Pantai

Menelusuri Indahnya Pacitan, Negeri Sejuta Ombak di Selatan Jawa

PACITAN bagi sebagian orang hanyalah sebuah Kabupaten di ujung selatan di Provinsi Jawa Timur yang jika malam hari kotanya terlihat sepi. Atau Pacitan bagi sebagian yang lainnya adalah hanya kampung halaman dari Presiden Republik Indonesia (RI) keenam, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang masih tertinggal pembangunannya jika dibandingkan dengan kabupaten atau kota lain di Indonesia.

Tapi bagi sebagian yang lainnya, termasuk saya diantaranya, memahami bahwa Pacitan bukan hanya sekedar sebuah daerah di ujung selatan Jawa Timur. Karena percaya atau tidak, Pacitan didalamnya terdapat banyak hal, utamanya tentang keindahan panorama alamnya. Bahkan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) mengusung jargon “Pacitan is The Paradise of Java” atau kalau versi saya ditambahkan kata “hidden” jadi “Pacitan Hidden Paradise of Java.”

Anda tentu sebagian tak percaya, bahwa kota kecil ini memiliki potensi alam yang sangat memukau. Dari ujung barat hingga timur dan selatan ke utara, semuanya memiliki potensi dan keindahan alam yang sangat lengkap. Mau bukti?

Pacitan adalah daerah yang kaya wisata Pantai, wisata goa, wisata budaya hingga wisata kuliner. Salah satu yang menjadi keunggulan di Pacitan adalah, fakta bahwa daerah ini merupakan surganya pantai indah dari selatan. Sehingga, saya menyebut bahwa Pacitan adalah “negeri sejuta ombak.”

Ada 77 Pantai yang menawan

Panorama kawasan Pantai Dangkal, Kebonagung. (Dok.Pacitanku)

Dengan garis pantai yang cukup panjang, yakni mencapai 70.709 kilometer, ada 77 pantai yang melalui di tujuh wilayah kecamatan, yakni Sudimoro, Ngadirojo, Tulakan, Kebonagung, Pacitan, Pringkuku, dan Donorojo.

Dari ujung barat hingga ujung timur Pacitan, tersebar 77 pantai yang memiliki keindahan yang tak akan pernah terlupakan. Sebanyak 77 pantai tersebut terbagi dalam tiga zona di Pacitan, yakni zona Pacitan bagian barat, tengah dan timur.




Di wilayah bagian barat, ada Pantai Nampu, Pantai Kijingan, Pantai Ngandul, Pantai Buyutan, Pantai Banyutibo, Pantai Klayar, Pantai Karangbolong, Pantai Piser, Pantai Ngobyogan dan Pantai Ngiroboyo (Kecamatan Donorojo).

Kemudian Pantai Watukarung, Pantai Sirah Towo, Pantai Ngalian, Pantai Srau, Pantau Mblue, Pantai Blosok, Pantai Bergah, Pantai Patuk (Ngandan), Pantai Mbercak, Pantai Kasap, Pantai Denombo/Wedi Ombo, Pantai Nampu, Pantai Sruni, Pantai Tuguragung dan Pantai Waduk (Kecamatan Pringkuku).

Untuk wilayah tengah, ada Pantai Tamperan, Pantai Teleng Ria dan Pantai Pancer (Kecamatan Pacitan). Sementara untuk bagian timur ada Pantai Gelon, Pantai Ombak Tarung, Pantai Ngambur, Pantai Mbutun, Pantai Wetren, Pantai Bakung, Pantai Ngoyan, Pantai Blubuk, Pantai Song Banjar, Pantai Prikisan, Pantai Padi Dangkal, Pantai Pikatan, Pantai Tawangsari, Pantai Sangklehan, Pantai Pangasan, Pantai Ganjuran.

Kemudian Pantai Pandan Anom, Pantai Srengit, Pantai Klesem, Pantai Kaliuluh, Pantai Wawaran, Pantai Jawinan, Pantai Tamengan dan Pantai Ngantakulung (Kecamatan Kebonagung).

Sementara, di Kecamatan Tulakan ada Pantai Tepongan, Pantai Pidakan, Pantai Watu Bale, Pantai Kuncir, Pantai Babakan, Pantai Ngenesan, Pantai Kowang, Pantai Karangbolong.

Sedangkan di Kecamatan Ngadirojo ada Pantai Segoro Anakan/Tawang, Pantai Siwil, Pantai Soge, Pantai Taman, Pantai Teban, Pantai Joho, Pantai Watu Murep, Pantai Puring dan Pantai Breman. Untuk di wilayah timur, masih ada Kecamatan Sudimoro yang terdiri dari Pantai Tinawu, Pantai Watu Teang, Pantai Kunir, Pantai Gondang, Pantai Daki, Pantai Wawaran Ngobyok, Pantai Bawur dan Pantai Kondang.

Sebanyak 77 pantai tersebut memiliki karakteristik yang menunjukkan keindahan dan keelokan panoramanya. Selain keindahan alamnya, ada banyak inspirasi dari pantai di Pacitan, karena menghasilkan kearifan lokal dan kekayaan laut yang sangat bermanfaat untuk menyejahterakan masyarakat Pacitan.

Saya tidak akan membahas ke 77 pantai tersebut, namun akan mengupas karakteristik, keindahan dan kebermanfaatan puluhan pantai tersebut bagi masyarakat, terutapa pantai yang sudah dikelola dengan baik, oleh pemerintah daerah maupun oleh masyarakat setempat.

Keindahan ombak, bebatuan karang dan pasir pantai

Keindahan Pantai Klayar dari udara

Keindahan Pantai Klayar dari udara. (Foto: Youtube Susilo Bambang Yudhoyono)

Salah satu pantai yang menjadi andalan pariwisata di Pacitan adalah Pantai Klayar.  Pantai yang terletak di Dusun Kendal, Desa Sendang, Kecamatan Donorojo ini memiliki ciri khas dan juga pesona keindahan yang akan memanjakan mata.

Pantai Klayar memiliki berjuta fenomena, dari ujung barat sampai ujung timur, diantaranya adalah ocean fluid atau seruling samudera, Sphinx van Java, panorama pasir putih, hingga deburan ombak khas laut selatan.

Berada di area seruling samudera, Anda akan menemukan keajaiban alam, dimana semburan air yang muncul dari sela-sela batu karang menimbulkan sensasi dan jika beruntung, Anda akan mendengarkan seperti bunyi seruling. Hal itulah yang kemudian area yang terletak di ujung timur ini disebut dengan area seruling samudera.

Selain itu, tidak jauh dari lokasi seruling samudera, Anda bisa mendapatkan sensasi lain yang tak kalah indahnya. Area ini berbentuk batu karang atau kars raksasa yang menyerupai patung Sphinx di Mesir.

Area yang kemudian disebut dengan Sphinx van Java ini adalah spot terbaik untuk mengabadikan gambar bersama orang-orang tercinta. Jika beruntung, Anda aka mendapatkan perpaduan latar belakang karang Sphinx dengan ombak yang warnanya mirip dengan langit yang biru.

Selain berbagai pesona khas tersebut, saat sore hari, saat dimana lembayung senja datang, pantai-pantai di Pacitan adalah tempat terbaik untuk menikmatinya. Ada beberapa pantai khusus yang jika kita melihat lembayung senja atau sunset atau mentari terbenam bisa kita saksikan dengan begitu indah, diantaranya adalah Pantai Klayar, Pantai Buyutan dan Pantai Srau.




Di Pantai Klayar, panorama lembayung senja ini begitu memikat siapapun yang melihatnya. Saat dengan jelas kita bisa menyaksikan sang mentari tenggelam, langit berubah warna menjadi jingga, dan memerah, dan pada akhirnya tenggelam. Demikian halnya dengan Pantai Buyutan dan Pantai Srau, dimana kita bisa melihat keelokan panorama lembayung senja yang begitu indah.

Selain Pantai Klayar, obyek wisata di Pacitan yang menyajikan panorama tak kalah elok adalah Pantai Srau. Pantai Srau ini terletak di Dusun Srau, Desa Candi Kecamatan Pringkuku.

Pantai ini cukup lengkap menyajikan keindahan alam dan membuat kita berdecak kagum mulai dari ombak yang besar, laut yang sangat biru, angin sepoi, bukit yang menyerupai semenanjung, karang hitam yang eksotis, dan laut yang membentuk telaga. Selain itu, di lepas pantai dapat kita saksikan karang yang menyembul dan bentuknya mirip seperti ekor Hiu.

Dasar wilayah pasang surut di bagian pantai ini bukan berupa pasir melainkan batuan karang sehingga kita dapat menyusuri pantai tanpa kaki kita harus terbenam pada pasir pantai dan di celah-celah batuan karang ini, terutama di tempat yang benar-benar terlindung dari sinar matahari, dapat kita temukan berbagai hewan laut seperti teripang, bintang laut, maupun landak laut.

Indartato saat berpose di sabana Pantai Kasap. (Foto: IG Indartato)

Masih di wilayah Pringkuku, ada juga pantai yang masih natural dengan panorama tak kalah elok, yakni Pantai Kasap. Pantai ini bahkan disebut raja ampatnya Pacitan, karena terdiri dari gugusan pulau-pulau kecil menyerupai panorama raja ampat di Papua. 

Landmark yang elok dari batu karang

Pemandangan Watu Narada di pantai Buyutan yang elok. (Foto: Arif Sasono)

Tempat Wisata Pacitan, Pemandangan Watu Narada di pantai Buyutan yang elok. (Foto: Arif Sasono/infopacitan.com)

Salah satu keunggulan pantai di Pacitan, dari sisi keindahan batu karangnya adalah landmark yang elok. Selain ‘Sphinx van Java’ di Pantai Klayar, juga ada Watu Narada menjadi daya tarik utama Pantai Buyutan, yang bentuknya adalah batuan karang mirip tokoh pewayangan Batara Narada.

Pantai yang terletak di Desa Watukarung, Kecamatan Pringkuku ini memiliki beberapa pesona, diantaranya adalah ombak yang disukai para peselancar, dan satu lagi adalah karang yang khas. Karang yang khas itu berada di tengah laut yang dimana bila kita meilihat batu karang tersebut dari arah tertentu maka akan terlihat seperti wajah manusia, karena bentuknya seperti wajah seorang perempuan, batu karang ini di beri nama “Putri Samudera”.

Posisi karang putri samudera ini sepintas mirip kepala seorang putri yang memakai mahkota dengan rambut yang terurai ke belakang. Posisi batu di sisi barat menghadap ke timur. Nah, di saat tertentu jika dalam posisi yang pas, kita bisa mendampatkan gambaran sunset dengan foreground putri sedang menghadap lembayung senja.

Tak jauh dari Pantai Watukarung, yakni Pantai Srau juga ada menonjol beberapa bukit karang yang terlihat hidup ketika diterpa ombak yang besar, serta bukit karang yang terdapat lorong gerbang laut dibawahnya.

Masih di wilayah Pringkuku, ada satu pantai baru yang memiliki landmark unik, Pantai Denombo atau ada juga yang menyebutnya Pantai Wedi Ombo merupakan bagian pantai yang masih satu spot dengan Pantai Sruni. Pantai ini masuk wilayah Desa Jlubang Kecamatan Pringkuku. Yang cukup unik, di pantai Denombo ada sebuah batu karang yang jika dilihat sekilas mirip jamur, sehingga menambah keindahan pantai yang masih sangat alami ini.

Di wilayah timur, ada lagi landmark menarik yang terbuat alami dari batu karang, yakni Pantai Pangasan, yang terletak di Desa Kalipelus Kecamatan Kebonagung ini memiliki batu karang yang jika dilihat sekilas mirip dengan candi Prambanan di Klaten, Jawa Tengah.  Batu  yang disebut warga setempat adalah Gunung Lanang ini sebenarnya merupakan tanjung kecil yang seolah dipahat alam sehingga dari timur nampak membentuk semacam lingga.

Di kawasan Kebonagung ini juga ada Pantai Bakung. Pantai yang terletak di Dusun Kalitani, Desa Karangnongko, Kecamatan Kebonagung ini memiliki ciri khas batu karang yang berbeda dari pantai lain di Pacitan. Pantai ini memiliki ciri khas ada batu karang dan bisa disebut pulau kecil  yang menyerupai ikan lumba-lumba, lengkap dengan ekor, badan yang gemuk dan mulut ikan yang lucu tersebut.  Ini adalah keunikan dari Pantai Bakung tersebut, dimana batu cadas unik di tumbuhi pepohonan hijau.

Keindahan panorama watu bale Tulakan. (Foto: Dok.Pacitanku)

Keindahan panorama watu bale Tulakan. (Foto: Dok.Pacitanku)

Masih di wilayah timur Pacitan, ada juga pantai dengan landmark mirip balai-balai, yang berada di Pantai Watu Bale yang telertak di Desa Jetak, Kecamatan Tulakan. Yang menjadi ciri khas dari pantai ini adalah keberadaan batu karang yang mirip “bale”. Bale jika diartikan dalam bahasa jawa adalah balai, atau tempat untuk istirahat, sehingga karena ada batu karang mirip “balai-balai” maka dinamakan pantai ini dengan pantai Watu Bale.

Tak jauh dari Pantai Watu Bale, ada juga yang unik di pantai yang masih satu garis dengan pantai Pidakan. Adalah batuan karang yang sekilas mirip kepala orang dengan rambut dikuncir. Pantai Kuncir terletak di ebelah barat Pantai Pidakan di Dusun Godek Kulon, Desa Jetak Kecamatan Tulakan.

Mulai dimanfaatkan untuk olahraga laut

JUARA. Rina Kitazawa juara ASC Hello Pacitan 2016 kategori wanita. (Fot: ASC Media-Hain/Pemburu Ombak)

Selain panorama dan karakteristik dari batu karang yang unik, keunggulan lain yang menjadi keunggulan dari wisata bahari di Pacitan adalah ombaknya yang cocok untuk olahraga air selancar atau surfing. Setidaknya, ada tiga pantai di Pacitan yang sering digunakan untuk selancar atau surfing, yakni Pantai Watukarung, Pantai Srau dan Pantai Pancer.

Pantai Watukarung misalnya, waktu tempuh sekitar 45 menit untuk sampai ke destinasi pantai ini dari pusat Kota Pacitan, yakni di Desa Watukarung, Kecamatan Pringkuku. Kepopuleran Pantai Watukarung sendiri semakin dikenal setelah peselancar kelas dunia macam jawara dunia Bruce Irons tertarik mencoba berselancar di pantai ini. Foto-foto Bruce saat berselancar di Watukarung bahkan menjadi sampul utama majalah internasional terkemuka “Waves”.

Selain pantai Watukarung, Pantai Pancer yang terletak di Desa Sidoharjo, Kecamatan Pacitan ini juga menjadi perhatian wisatawan dunia, terutama para pelancong asing yang memiliki hobi olahraga surfng. Bentang pantai yang luas serta pola ombak yang besar dan panjang di kedua destinasi wisata pantai ini sangat disukai para peselancar.

Sebegitu menantangnya gulungan ombak yang menyerupai pipa itu, sejumlah turis Eropa dan Australia menyebutnya dengan istilah the next Bali in Pacitan. Jumlah wisatawan memang belum sebanyak di Bali, bahkan jauh. Tetapi keberadaan para wisatawan asing dari berbagai negara yang asyik bermain selancar, dan sebagian duduk menunggu di tepi pantai itu, sudah cukup berhasil menciptakan aroma Bali di Pacitan.

Muara Sungai Maron yang dimanfaatkan untuk Lomba Dayung Ngiroboyo. (Foto : Doc. Pacitanku)

Tempat Wisata Pacitan, Muara Sungai Maron yang dimanfaatkan untuk Lomba Dayung Ngiroboyo. (Foto : Doc. Pacitanku)

Selain olahraga selancar, kawasan wisata pantai di Pacitan lain juga dimanfaatkan warga setempat untuk memadukan potensi wisata dan olahraga adalah Pantai Ngiroboyo. Pantai yang terletak di Dusun Kendal, Desa Sendang Kecamatan Donorojo ini sering menggelar festival dayung rutin sebagai daya tarik wisata dan olahraga. Setidaknya, sudah ada empat festival diselenggarakan di kawasan ini sejak tahun 2012 lalu.

Tak hanya pemerintah, masyarakat dan swasta bahu membahu kembangkan pantai

Berjemur di pinggir pantai Teleng Ria. (Foto: Instagram)

Berjemur di pinggir pantai Teleng Ria. (Foto: Instagram)

Sebagai informasi, pantai-pantai di Pacitan dikelola oleh pemerintah daerah, swasta dan juga dikelola secara mandiri oleh masyarakat setempat. Pantai-pantai seperti Pantai Klayar, Pantai Srau dan Pantai Watukarung terus dikelola Pemda dan terus menghasilkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari pantai tersebut. Lalu bagaimana dengan pantai yang dikelola swasta dan masyarakat?

Sepertinya pengembangan pantai yang dikelola swasta dan masyarakat tak kalah dengan pantai-pantai yang dikelola oleh Pemda. Sebut saja Pantai Teleng Ria, yang terletak di pusat kota Pacitan ini dikelola oleh swasta, yakni PT El John Tirta Emas. Pun demikian dengan Pantai Pidakan, yang terletak di Desa Jetak, Kecamatan Tulakan. Pantai ini dikelola secara mandiri oleh masyarakat setempat, bekerja sama dengan Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) yang dibimbing oleh menteri era Presiden Soeharto, Prof Haryono Suyono.

Hasilnya? Kedua pantai tersebut semakin melengkapi keindahan negeri sejuta ombak yang selalu dirindukan oleh siapapun yang berkunjung ke Pacitan. Pantai Teleng Ria berkembang menjadi pantai modern, lengkap dengan fasilitas, seperti hotel mewah, restoran hingga area bermain anak.

Pantai Pidakan dilihat dari pesawat Drone. (Foto : Youtube)

Tempat wisata Pacitan, Pantai Pidakan dilihat dari pesawat Drone. (Foto : Youtube)




Tak kalah dengan Teleng Ria, Pantai Pidakan, juga menyajikan pesona lain yang tak kalah menarik. Pantai ini adalah satu-satunya pantai dengan panorama kerikil. Anda tentu tak percaya, warga yang tergabung dalam karang taruna di desa setempat mampu mengelola pantai ini, tapi inilah yang terjadi, Pantai Pidakan dikelola secara mandiri oleh masyarakat setempat. Hingga saat ini, dan menghasilkan kebermanfaatan dan kesejahteraan masyarakat.

Demikianlah, 77 pantai dari negeri sejuta ombak  Pacitan, menjadi pesona tersendiri bagi siapapun yang berkunjung ke Pacitan. Tentunya kedepan, selain pantai-pantai yang sudah dikelola, baik oleh Pemda, swasta maupun masyarakat, kita menantikan puluhan pantai-pantai yang masih ‘perawan’untuk dikembangkan, dalam rangka memajukan pariwisata di Pacitan khususnya dan Indonesia pada umumnya.

Selamat berkunjung ke Pacitan, negeri sejuta ombak.

Permalink ke Pesawat Milik Koni DKI yang Mendarat Darurat Dibawa ke Pacitan
Headline, Peristiwa

Pesawat Milik Koni DKI yang Mendarat Darurat Dibawa ke Pacitan

Pacitanku.com, PONOROGO – Pesawat milik Koni DKI Jakarta yang mendarat darurat di persawahan Ponorogo akan dibawa ke Pacitan dengan jalan darat. Saat ini, teknisi tengah membongkar beberapa bagian pesawat.

“Sayap pesawat akan dilepas, kemudian akan diangkut dengan truk trailer,” jelas Kapolsek Sampung AKP Suwoyo dikutitp Detikcom, Minggu (13/8/2017) petang.

Hingga pukul 17.30 WIB, beberapa teknisi dari Koni Pacitan menurut kapolsek masih bekerja untuk melepas beberapa bagian pesawat. 

Diberitakan sebelumnya, pesawat warna merah dan putih dimiliki KONI DKI Jakarta itu terbang dari Pondok Cabe Jakarta hendak menuju ke Pacitan.

Namun saat sampai di Pacitan, cuaca di daerah tersebut mendung tebal. Pesawat yang dipiloti pensiunan TNI AU itu memutuskan untuk kembali ke Solo untuk mengisi bahan bakar.




Namun baru sampai di Ponorogo, indikator bahan bakar menyala yang menunjukan bahan bakar habis.

Pilot pun memutuskan mendarat darurat di area persawahan. Beruntung, pilot dan co pilot selamat tanpa cidera meski pesawat mendarat di area persawahan.

Sementara itu, lokasi pendaratan darurat pesawat jenis Aviat Husky masih dipenuhi warga. Mereka ingin melihat dari dekat kondisi pesawat.