Penulis: Pacitanku

Permalink ke Petani Pacitan Keluhkan Hama Wereng yang Membuat Hasil Panen Berkurang
Headline, Pertanian

Petani Pacitan Keluhkan Hama Wereng yang Membuat Hasil Panen Berkurang

Tim Sergab dan LTT TNI AD saat mengecek ke sawah di Desa Gayuhan.

Pacitanku.com, ARJOSARI – Hama wereng masih menjadi momok bagi hasil panen warga Pacitan. Seperti yang dialami mayoritas petani di Desa Gayuhan, Kecamatan Arjosari.

Hal itu disampaikan oleh Imam Mawardi, Kepala Desa Gayuhan, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan saat menerima kunjungan tim Serapan Gabah (Sergab) dan luas tambah tanam (LTT) dari TNI-AD pada Selasa (23/5/2017) di Desa Gayuhan, Kecamatan Arjosari.

“Hama wereng coklat yang menimbulkan hasil panen berkurang, hasil  panen disini rata-rata mencapai 6 smpai 7 ton per hektar, sebagian hasil panen dijual ke Bulog Pacitan,”katanya.




Selain melakukan pengecekan di Desa Gayuhan, Arjosari, tim Sergab dan LTT juga menuju kantor Bulog Pacitan di Jalan WR Supratman nomor 13, Mentoro, Kecamatan/Kabupaten  Pacitan.

“Inti kegiatan tersebut hanya untuk melakukan pengecekan terkait ketersediaan beras digudang Bulog serta kualitas beras yang tersedia serta  penyerapan beras dari para petani,” kata Pabandya Wanwil Kodam V / Brawijaya Letkol Infanteri Nanang.

Turut hadir dalam agenda tersebut Dandim 0801/PacitanLetkol Infanteri Yudhi Diliyanto, Pasiter Kodim 0801/Pacitan Kpt Infanteri Joko S, Dinas Pertanian Pacitan Muchtar Yahya dan sejumlah pejabat terkait.

Kontributor: Sarwono
Editor: Dwi Purnawan

 

Permalink ke Pengembangan Usaha Kerupuk Rumahan di Kabupaten Pacitan: Secercah Harapan Peningkatan Ekonomi Masyarakat
Opini

Pengembangan Usaha Kerupuk Rumahan di Kabupaten Pacitan: Secercah Harapan Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Program IbM (Iptek bagi Masyarakat) P2M IKIP Budi Utomo Malang dan DRPM RISTEK-DIKTI 2017)

Oleh: Titik Wijayanti, S.Pd., M.Si

Tantangan Kemandirian

Pacitan merupakan salah satu daerah di wilayah Jawa Timur dengan potensi sekaligus tantangan. Di Jawa Timur, Pacitan termasuk dari beberapa kabupaten/kota yang masih harus mengejar ketertinggalannya dengan daerah lain. Namun begitu, masyarakat Pacitan mempunyai semangat untuk maju, dan bukan tidak mungkin dalam waktu yang tidak terlalu lama, ekonomi masyarakat Pacitan akan bergerak lebih maju dan dapat sejajar dengan wilayah lain di Jawa Timur.

Kerupuk Rumahan, Alternatif Wirausaha

Salah satu upaya pengembangan ekonomi masyarakat adalah lewat wirausaha. Masyarakat Pacitan seperti masyarakat di daerah lain memilih jalan sebagai wirausaha di sektor informal, karena minimnya jalur formal.

Salah satu bidang wirausaha yang banyak digeluti masyarakat adalah pembuatan produk makanan,  salah satunya adalah produksi kerupuk. Produksi kerupuk di Pacitan umumnya merupakan usaha keluarga, dimana karyawannya adalah anggota keluarga itu sendiri. Beberapa usaha kerupuk di Pacitan sudah dirintis sejak lama. Umumnya mulai dari awal proses produksi, dari membuat adonan kerupuk, memasak adonan kerupuk, perajangan kerupuk, pengeringan, penggorengan, pengemasan dan penjualan kerupuk. Namun demikian saat ini telah bermunculan usaha kerupuk yang hanya menggoreng, mengemas dan menjual bahan baku kerupuk yang dibeli dari pihak lain.

Hal yang menarik, adalah bahwa pengusaha kerupuk rumahan yang memulai dari nol dan melakukan semua proses produksinya sendiri lebih bertahan lama dan mampu menghidupi ekonomi keluarga secara lebih baik. Hal ini dikarenakan pada usaha tersebut ada sisi inovasi dari pengusaha untuk terus berkembang dengan produk yang dibuat sesuai keinginan konsumen.

Iptek bagi Masyarakat, Sebuah Jembatan

Namun demikian, untuk lebih mendorong kemajuan produktifitas dan ekonomi usaha kerupuk rumahan perlu sentuhan inovasi produk, sistem produksi dan manajemen usaha yang lebih baik. Disinilah peran perguruan tinggi dengan salah satu tugas Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni pengabdian kepada masyarakat.

Kampus IKIP Budi Utomo Malang, melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P2M) bekerjasama dengan Direktorat Riset Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) Ditjen Penguatan Risbang Kemenristekdikti melakukan program Iptek bagi Masyarakat yang bertajuk Pendampingan Kerupuk di Desa Kembang Kabupaten Pacitan Guna Meningkatkan Mutu dan Nilai Gizi Kerupuk. Pada program ini, dipilih dua pengusaha kerupuk dari desa Kembang kabupaten Pacitan yang telah mengembangkan usaha kerupuk mulai dari proses produksi bahan mentah sampai menjadi produk kerupuk serta memasarkannya selama bertahun-tahun.

Program bertujuan untuk membantu memberi solusi terhadap masalah mutu produk dari segi tampilan produk sehingga lebih menarik, konsistensi rasa dan kemasan yang lebih memadai serta meningkatkan nilai gizi produk kerupuk yang dihasilkan.

Setelah dilakukan kajian bersama pengusaha kerupuk yang bersangkutan, maka disepakati bahwa kegiatan yang dilakukan lewat program IbM ini adalah menambah varian produk kerupuk baru selain yang telah diproduksi oleh pengusaha kerupuk itu sendiri, pelatihan produksi kerupuk sesuai dengan proses produksi varian baru yang ditawarkan dan manajemen usaha, bantuan peralatan usaha kerupuk, dan peningkatan kualitas kemasan.

Varian kerupuk yang ditawarkan adalah kerupuk ikan dan kerupuk sayur. Dipilihnya kedua varian kerupuk ini bukan tanpa alasan. Selain kedua varian ini mempunyai nilai gizi yang cukup baik dan memenuhi standar kerupuk, bahan baku yang mudah didapatkan di daerah Pacitan, nilai ekonomis yang lumayan baik, kedua varian ini relatif baru untuk produk kerupuk rumahan. Sehingga merupakan pengalaman yang menarik dan baru bagi pengusaha kerupuk rumahan untuk mengembangkan produk dengan kualitas yang baik dengan faktor produksi sesuai kondisi yang dimiliki.

Kerupuk ikan menggunakan bahan baku utama, ikan tuna yang merupakan salah satu produk laut unggulan Kabupaten Pacitan. Sedangkan untuk kerupuk sayur menggunakan sayur seledri dan bawang prei/kucai yang mudah didapatkan di pasar Kabupaten Pacitan yang memiliki aroma dan rasa khas yang banyak disukai masyarakat. Yang menarik, varian baru ini menggunakan tepung mocaf, yang merupakan tepung singkong yang termodifikasi fermentasi yang dapat menggantikan tepung terigu sehingga dapat menurunkan biaya produksi akibat mahalnya harga tepung terigu.

Pada program IbM ini juga dilakukan kegiatan pelatihan produksi kerupuk dengan varian yang baru, mulai dari penghitungan kebutuhan bahan baku, formulasi, pembuatan adonan, pencetakan, pengukusan, perajangan, pengeringan, penggorengan dan pengemasan produk yang siap dipasarkan. Kegiatan pelatihan diharapkan memberikan konsep dan keterampilan produksi yang baik sehingga menghasilkan produk kerupuk dengan kualitas yang baik.

Program pelatihan tidak hanya menyentuh sisi ketrampilan produksi, namun juga sisi pengelolaan manajemen usaha. Oleh karena itu diberikan pelatihan manajamen yang mudah dilakukan oleh pengusaha namun sudah mampu memberikan gambaran tentang perkembangan usaha kerupuk yang dijalani untuk dapat dijadikan salah satu bahan pengambilan keputusan usaha. Kegiatan pengelolaan manajemen usaha meliputi: teknik pencatatan inventori bahan baku, jumlah produksi, pemasaran produk, jumlah produk terjual, pendapatan, pengeluaran serta keuntungan yang didapatkan. Penerapan manajemen usaha tersebut disesuaikan dengan kondisi usaha yang ada. Program pelatihan produksi kerupuk dan manajemen usaha dilaksanakan di rumah pengusaha kerupuk di desa Kembang kabupaten Pacitan pada bulan Maret hingga April 2017.

Untuk meningkatkan produktifitas, pada program ini juga dilakukan pemberian bantuan peralatan usaha yang diperlukan dalam proses produksi, yaitu timbangan, plastik roll, wajan cekung ukuran besar (diameter 90 cm) mereka biasa menyebutnya Jedi Bordes, serokan penggorengan dan sealer (mesin packing), serta buku kas untuk pengelolaan manajemen usaha.

Produk kerupuk dari program ini juga dilakukan pengujian kadar gizi yang terkandung dalam kedua varian baru yang dibuat. Hasil pengujian laboratorium terhadap kadar gizi dan keamanan pangan terhadap kedua varian kerupuk baru yang dibuat sudah memenuhi nilai gizi dan keamanan pangan yang disyaratkan pada standar SNI No. 8272: 2016. Sedangkan dari sisi kemasan, produk kerupuk sudah dikemas dengan cukup baik dan menarik dengan biaya produksi yang masih dapat dijangkau. Dengan kemasan yang baru, produk mampu bertahan sampai 1 bulan dengan uji organoleptik dan ketengikan.

Tahap pendampingan usaha dilakukan seusai tahap pelatihan dilaksanakan. Pendampingan dilakukan secara menyeluruh mulai dari proses produksi, pengemasan, pemasaran dan pengelolaan manajemen usahanya. Kegiatan diskusi pemecahan masalah yang timbul pada saat pelaksanaan di lapang baik pada proses produksi, pemasaran dan pengelolaan manajemen.

Pada proses ini juga dilakukan riset pasar secara sederhana terhadap kedua varian baru. Harapan dari proses pendampingan ini pengusaha dan pendamping memperoleh feedback terhadap kedua produk baru di pasaran serta penyelesaian masalah yang ada. Selain itu memberikan pengalaman baru bagi pengusaha untuk tidak takut dalam membuat inovasi kerupuk varian baru. Proses pendampingan ini dilakukan sejak bulan April hingga september tahun 2017 ini.

Tahap akhir dari program ini adalah monitoring dan evaluasi kegiatan yang dilakukan untuk dapat menentukan dan membantu pengusaha kerupuk dalam meneruskan usaha produksi kerupuk dari kedua varian yang baru meskipun program Iptek bagi Masyarakat (IbM) ini telah usai nantinya.

Harapannya, virus keberhasilan usaha kerupuk rumahan ini dapat menularkan kesejahteraan bagi masyarakat di sekitarnya. Dengan meningkatnya masyarakat yang semangat dalam berwirausaha akan menjadikan daerah Pacitan yang mandiri secara ekonomi.

 

Permalink ke Dirapel, THR dan Gaji ke-13 PNS, TNI dan Polri Cair Bulan Juni
Headline, Nusantara

Dirapel, THR dan Gaji ke-13 PNS, TNI dan Polri Cair Bulan Juni

Pacitanku.com, JAKARTA – Pegawai Negeri Sipil (PNS) serta anggota TNI/Polri akan mendapat Tunjangan Hari Raya (THR) dan gaji ke-13 tahun ini. Pemerintah telah menyiapkan Peraturan Pemerintah (PP) sebagai landasan untuk penyaluran THR dan gaji ke-13, dan kini tengah menunggu arahan dari Presiden untuk penetapannya.

“PP-nya tinggal nunggu arahan Presiden,” kata Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan, Askolani kepada wartawan di Jakarta, Senin (22/5/2017) kemarin.

Askolani mengatakan bahwa kedua insentif tersebut bakal dicairkan pada waktu yang tidak bersamaan, namun pada bulan yang sama, yakni Juni.

Hal itu dikarenakan hari raya Lebaran bakal jatuh pada Juni, dan tahun ajaran baru bakal dimulai pada Juli.”Ya nanti lihat jadwalnya. Satu, lihat jadwalnya, nanti lihat uangnya. Kan sesuai dengan ketentuan. Insya Allah sama-sama bulan Juni. Juli kan anak sekolah kan? Jadi bulannya bisa sama, cuma mungkin waktunya beda. Yang pasti THR sebelum lebaran, kalau 13 sebelum anak sekolah,” jelasnya.

Walaupun meski tidak menyebutkan berapa nominal anggaran pasti yang disiapkan untuk pencairan gaji ke-13 dan THR tahun ini, Askolani mengaku jumlahnya tidak akan jauh berbeda dengan penerapan tahun lalu.




Sebagaimana diketahui, THR memang baru ada sejak tahun lalu. Ini merupakan pengganti dari tidak adanya kenaikan gaji PNS yang biasanya terjadi setiap tahun. Sementara untuk gaji ke-13, nilainya bisa jauh lebih besar.

Selain gaji pokok, maka PNS juga mendapatkan tunjangan keluarga dan tunjangan umum/tunjangan jabatan dan tunjangan kinerja. Hal ini tidak terlepas dari fungsi diberikannya gaji ke -13, yaitu membantu PNS untuk bisa mencukupi kebutuhan di tahun ajaran baru anak sekolah. (RAPP002)

Permalink ke Download Jadwal Imsakiyah Ramadhan Pacitan Tahun 2017
Headline

Download Jadwal Imsakiyah Ramadhan Pacitan Tahun 2017

Bagian Depan Masjid (Dok.Pacitanku)

Masdji Agung Darul falah Pacitan (Dok. Pacitanku)

Pacitanku.com, PACITAN – Bulan suci Ramadhan 1438 H atau tahun 2017 sebentar lagi tiba. Meski belum diumumkan oleh Pemerintah, 1 Ramadhan tahun ini diperkirakan jatuh pada hari Sabtu (27/5/2017). 

Pimpinan Pusat Muhammadiyah menetapkan awal puasa Ramadan 1438 Hijriah/2017 Masehi jatuh pada 27 Mei, merujuk hasil perhitungan astronomi ahli falak salah satu organisasi Islam terbesar Indonesia itu. keputusan tersebut merujuk pada hasil “hisab hakiki wujudul hilal” Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah.




Di hari itu, posisi ketinggian bulan baru atau hilal yang tinggi itu memungkinkan terlihat mata telanjang. Kemungkinan besar awal puasa 2017 versi Muhammadiyah dengan pemerintah akan sama.

Sementara, lembaga falakiyah PWNU Jatim juga sudah menyusun jadwal Ramadhan berdasarkan hisab hakiki awal bulan hijriyah. Hasilnya pun sama bahwa 1 Ramadhan jatuh pada Sabtu 27 Mei 2017.

Bagi Anda yang belum memiliki jadwal imsakiyah di Pacitan, berikut link download lewat URL ini atau bisa melalui scan QR Code berikut ini.

Selamat datang bulan Ramadhan yang mulia.

 

Permalink ke Bupati Pacitan Resmikan Kampung KB Tingkat Kabupaten
Headline, Pemerintahan

Bupati Pacitan Resmikan Kampung KB Tingkat Kabupaten

Bupati Pacitan saat mencanangkan Kampung KB tingkat Kabupaten di Pringkuku.

Pacitanku.com, PRINGKUKU – Bupati Pacitan Drs H Indartato MM resmi membuka kampung Keluarga Berencana (KB) tingkat Kabupaten pada Senin (22/5/2017) di Dusun Gesingan, Desa Dadapan, Kecamatan Pringkuku. Pencanangan Kampung KB dibuka dengan ditandai pemukulan gong oleh Bupati.

Dalam sambutannya, Bupati Indartato berharap dengan adanya kampung KB tingkat Kabupaten tersebut, kesejahteraan masyarakat Pacitan lebih meningkat. “Mohon dukunganya untuk pencanangan program KB karena dalam program Kampung KB ini termasuk sukses karena kerjasama kita semua, dengan KB hidup bisa lebih sejahtera,”katanya.

Sementara, Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Jawa Timur Kushendarwito dalam sambutannya mengatakan bahwa adanya kampung KB tersebut dicanangkan langsung oleh Presiden Joko Widodo.“Kampung KB ini dicanangkan langsung oleh Bapak presiden joko widodo karena program KB termasuk dalam program nawacita,”ujarnya.




Untuk itu, dia berharap kepada masyarakat Pacitan untuk memanfaatkan keberadaan kampung KB tersebut untuk pengurusan administrasi kependudukan. “Apabila ada warga yang belum mempunyai akte kelahiran di gratiskan untuk pengurusan akte kelahiran,”tukasnya.

Turut hadir dalam pencanangan kampung KB yang dihadiri 900 warga tersebut, Kushendarwito kepala BKKBN Jatim, Bupati Pacitan Indartato bersama Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Luky Tribaskorowati Indartato. Selain itu turut hadir juga Sekretaris Daerah Pacitan Suko Wiyono bersama Betty Suko Wiyono, Trihariadi Hendra Purwaka Kepala Badan Keluarga Berencana dan Perberdayaan Perempuan Kabupaten Pacitan.

Sebagai informasi, Pemkab Pacitan menargetkan mampu membangun Kampung KB pada 2017 di masing-masing kecamatan, sebagai upaya menekan angka pertumbuhan penduduk.

Trihariadi Hendra Purwaka mengatakan bahwa pembangunan Kampung KB ini akan tersebar pada setiap kecamatan.“Masing-masing Kecamatan membentuk satu Kampung KB yang bertujuan melakukan berbagai langkah penguatan Program Kependudukan, Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga yang benar-benar memiliki daya ungkit terhadap upaya pencapaian target, serta penguatan kegiatan-kegiatan prioritas secara komprehensif dan berkelanjutan diseluruh tingkatan wilayah,”katanya.

Kontributor: Sarwono
Editor: Dwi Purnawan

Permalink ke Harkitnas, Pemerintah Akui Masih Ada Kesenjangan Pembangunan
Headline, Pemerintahan

Harkitnas, Pemerintah Akui Masih Ada Kesenjangan Pembangunan

Peringatan Harkitnas di Pacitan.

Pacitanku.com, PACITAN – Pemerintah mengakui bahwa kesenjangan pembangunan masih menjadi kendala dalam pemerataan pembangunan di Indonesia. Hal tersebut disampaikan Bupati Pacitan Indartato saat membacakan sambutan Menteri Komunikasi dan Informatika dalam upacara peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke 109 pada Senin (22/5/2017) di halaman Pendopo Kabupaten Pacitan.

“Pada awal tahun 2017 angkanya mambaik dibanding tahun sebelumnya koefisien Nisbah Gini atau Gini Ratio yang merupakan ukuran kesenjangan distribusi pendapatan dan kekayaan penduduk masih sekitar 40 %, untuk itu bapak Presiden meminta kepada penyelenggara negara untuk bekerja keras menurunkan indek kesenjangan tersebut melalui langkah yang multidimensi,”katanya.

Lebih lanjut, Indartato mengungkapkan bahwa masalah kesenjangan bukan masalah bangsa Indonesia, melainkan negara maju masih berkutat pada masalah kesenjangan.

“Beberapa negara bahkan mencatat kesenjangan ada yang lebih tinggi dibanding Indonesia namun bagi kita mewujutkan pemerataan yang berkeadilan sosial adalah juga menjadi penghirmatan terhadap cita – cita peletak dasar bangunan kebangsaan yang menginginkan tidak ada jurang yang membatasi penyebaran kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia,”jelasnya.




Menurutnya, dengan momentum kebangkitan nasioanal, hanya akan berarti apabila tidak ada satu anak bangsa yang tercecer dalam gerbong kebangkitan tersebut. “Pemerintah berupaya miningkatkan kesejahteraan dengan membangun listrik di 2500 Desa yang belum mendapat aliran listrik, pembangunan jalan trans Papua yang dicoba langsung olah Presiden Joko Widodo dari 4.300 KM  yang ditargetkan sudah dibuka 3.800 km,”pungkasnya.

Dalam kesempatan upacara tersebut, bertindak sebagai Pemimpin Upacara adalah Kapten Infanteri Agus Setyawan dan Komandan Upacara Kapten Infanteri Dadut S dari Komando Distrik Militer (Kodim) 0801 Pacitan.

Adapun dalam upacara Harkitnas yang diikuti 200 peserta tersebut, terdiri dari dari skesatuan TNI Kodim Pacitan, jajaran Polres Pacitan, jajaran Satpol PP, Korpri, organisasi pemuda, pelajar dan Pramuka.

Turut hadir dalam kesempatan itu Bupati Indartato, Wakil Bupati Yudi Sumbogo, Sekda Suko Wiyono, Ketua DPRD Ronny Wahyono, Kalandri Dwiyanto, Kepala Kemenag Nurul Huda, pimpinan TNI-POLRI serta tokokh agama dan tokoh masyarakat di Pacitan.

Kontributor: Sarwono
Editor: Dwi Purnawan