Penulis: Pacitanku

Permalink ke Pesan Pelawak Kirun dan Penyanyi Didi Kempot di Hajatan ke-272
Hari Jadi Pacitan, Headline

Pesan Pelawak Kirun dan Penyanyi Didi Kempot di Hajatan ke-272

Didi Kempot menyanyi untuk masyarakat Pacitan di Hajatan ke-272. (Foto: Dinkominfo Pacitan)

Pacitanku.com, PACITAN—Momen spesial peringatan puncak Hari Jadi Pacitan (Hajatan) ke-272, Minggu (19/2/2017) dihadiri dua tokoh seni budaya nasional. Dia adalah Haji Mohamad Syakirun alias Kirun dan seniman Didi Prasetyo alias Didi Kempot.

Dalam kesempatan tersebut, Kirun yang merupakan kelahiran Madiun ini bersyukur bisa hadir di tengah masyarakat Pacitan. Dia pun menyampaikan pesan khusus dan harapan untuk Pacitan di Hajatan ke-272.

“Saya tadi malam dari acara bareng Pak Menteri langsung ke Pacitan lewat Panggul, dan bisa bertemu dengan masyarakat Pacitan, saya doakan masyarakat Pacitan selalu sejahtera, Pacitan tambah makmur di usia yang ke 272 ini,”kata Kirun yang mengenakan setelan beskap khas Jawa Timuran itu.

Senada dengan Kirun, penyanyi campursari Didi Kempot berharap Pacitan menjadi semakin maju dan sejahtera dalam momentum Hajatan ke-272 ini. dia pun menyanyikan lagu spesial untuk seluruh Pacitan berjudul Pantai Klayar.“Tulung sawangen, sawangen aku sing nandang rindu….” demikian Didi Kempot menyanyi untuk masyarakat Pacitan.

Kirun menyapa masyarakat Pacitan. (Foto: Dinkominfo Pacitan)




Nyanyian yang menjadi favorit warga Pacitan tersebut sontak langsung disambut meriah warga Pacitan. Karena lagu campursari itu identik dengan Pacitan, sontak seluruh penonton yang hadir di halaman Pendopo Kabupaten menyanyi. Bahkan diantara ada yang berjoget di dekat panggung utama.

Sebagaimana diketahui, Didi Kempot sendiri memang cukup dekat dengan warga Pacitan. sejak menciptakan sejumlah lagu tentang Pacitan, pria yang merupakan adik dari almarhum Mamik Prakoso ini cukup sering menghadiri berbagai agenda di Pacitan, terutama yang berkaitan dengan seni dan budaya.

Selain dihibur Kirun dan Didi Kempot, ribuan masyarakat Pacitan yang datang di puncak Hajatan juga dihibur kesenian Tari Sanjaya Rangin dari Ngadirojo dan tari Kethek Ogleng dari Nawangan. (RAPP002)

Permalink ke Tak Lagi Gunakan Kereta Kuda, Indartato Jalan Kaki di Kirab Budaya Hajatan ke-272
Budaya, Hari Jadi Pacitan, Headline

Tak Lagi Gunakan Kereta Kuda, Indartato Jalan Kaki di Kirab Budaya Hajatan ke-272

Bupati Indartato disambut warga Pacitan saat berjalan menuju ke Pendopo. (foto: Dinkominfo Pacitan)

Pacitanku.com, PACITAN –Kesederhanaan mewarnai peringatan Hari Jadi ke-272 Kabupaten Pacitan, Minggu (19/2/2017). Ini tampak dari rangkaian kirab yang tidak lagi menggunakan kendaraan kereta kuda.

Bupati Indartato bersama isteri berjalan kaki dari titik pemberangkatan di Perempatan Penceng hingga Pendopo Kabupaten. Demikian pula dengan rombongan lain yang terdiri dari Ketua DPRD, Forkompimda, serta unsur pejabat lain juga berjalan kaki di belakang bupati.

Meski tampak sederhana namun antusiasme warga untuk menyaksikan dari dekat momen tahunan tersebut tak terbendung.

Kirab diawali penyerahan Tirto Wening dan Rucuh Pace. Tirto wening merupakan air suci yang diambil dari Sumur Njero di Petilasan Tumenggung Notopuro, Desa Sukoharjo. Adapun Rucuh Pace dipersiapkan oleh warga sekitar Petilasan Tumenggung Setriketipo, Desa Nanggungan.

Untuk diketahui, Rucuh Pace adalah jenis minuman yang dibuat dari air pace (mengkudu) dengan campuran pemanis gula Jawa. Kedua kelengkapan ritual tersebut dibawa ke Perempatan Penceng lalu diserahkan kepada Bupati Indartato. Orang nomor satu di Pacitan itu lantas meminum Rucuh Pace dan bersuci menggunakan Tirto Wening.




Sebagaimana dikutip dari laman Pemkab Pacitan, iring-iringan kirab bergerak menuju Pendopo Kabupaten. Diiringi ratusan personel berpakaian prajurit kerajaan lengkap, Bupati dan rombongan berjalan perlahan melintasi Jalan Ahmad Yani, Jalan Imam Bonjol, dan berakhir di Pendopo Kabupaten, Jalan JA Suprapto.

Sepanjang rute yang dilalui kirab, warga yang berjejal di kanan kiri jalan berebut jabat tangan dengan Bupati Indartato. Pak In pun tampak sabar melayani mereka hingga arak-arakan terlambat tiba sekitar 15 menit dari jadwal yang ditetapkan sebelumnya.

Kedatangan rombongan kirab di Pendopo Kabupaten disambut ratusan pejabat berpakaian beskap. Tidak itu saja, para mantan bupati yang pernah menjabat di Kota 1001 Gua juga tampak duduk di kursi kehormatan. Acara lalu dilanjutkan prosesi selama hampir setengah jam.

Bukan semata milik pemangku kepentingan, Hari Jadi kali ini juga melibatkan lebih banyak peran masyarakat. Ini tergambar saat prosesi rebutan gunungan digelar di halaman pendopo. Ratusan warga yang sebelumnya duduk di seputar lapangan berhamburan mendapatkan isi gunungan berupa jajanan pasar. (RAPP002)

Permalink ke Tari Sanjaya Rangin Hibur Ribuan Masyarakat Pacitan di Hajatan ke-272
Budaya, Hari Jadi Pacitan, Headline

Tari Sanjaya Rangin Hibur Ribuan Masyarakat Pacitan di Hajatan ke-272

Penampilan tarian Sanjaya Rangin dalam hajatan ke-272. (Foto: Vita/Merah Putih Segoro Kidul)

Pacitanku.com, PACITAN – Tari khas Pacitan Sanjaya Rangin sukses menghibur ribuan masyarakat Pacitan dalam peringatan puncak Hari Jadi Pacitan (Hajatan) ke-272 pada Minggu (19/2/2017) di halaman Pendopo Kabupaten Pacitan.

Tampil sebagai penampil pertama usai kirab budaya tari Sanjaya Rangin memukau masyarakat Pacitan yang tampak antusias memadati halaman Pendopo Kabupaten Pacitan

Tarian sanjaya rangin ini adalah buah karya dari koreografer kenamaan dari Kecamatan Ngadirojo, pasangan Edi Suwito-Adi Peni dengan dibantu Kasim sebagai penata musik.




Sebagai informasi, tarian Sanjaya Rangin ini dibuat pada tahun 2013 lalu, dan kemunculannya menyedot banyak perhatian dari berbagai kalangan.

Dalam flosofinya, Tari Sanjaya Rangin berkisah tentang kiprah Raden Panji Sanjaya Rangin dalam upaya beliau untuk mengubah hutan belantara menjadi sebuah wilayah. Adapun, Raden Panji Sanjaya Rangin sendiri merupakan seorang tokoh yang berilmu yang digunakan sebagai senjata untuk melakukan babad alas Lorok.

Dalam penggambarannya, Sanjaya Rangin digambarkan oleh gerakan, properti hingga nada-nada yang digunakan untuk mengiri tari ini. Adapun, busur panah yang dibawa oleh setiap penari merupakan simbol dari kesaktian sang Sanjaya Rangin. (RAPP002)

Permalink ke Yang Perlu Diketahui Tentang Kirab Budaya Hajatan ke-272
Budaya, Hari Jadi Pacitan, Headline

Yang Perlu Diketahui Tentang Kirab Budaya Hajatan ke-272

Prosesi kirab budaya di Pendopo Kabupaten. (Dok. Pacitanku)

Prosesi kirab budaya di Pendopo Kabupaten. (Dok. Pacitanku)

Pacitanku.com, PACITAN – Setiap tahun, Pacitan selalu menampilkan agenda Hari Jadi yang dikenal dengan istilah Hari Jadi Pacitan (Hajatan). Puncak peringatan Hajatan yang digelar tiap tanggal 19 Februari selalu memiliki makna sejarah dan budaya yang mengingatkan tentang awal berdirinya Pacitan berikut segala sejarahnya. 

Dalam prosesi kirab budaya ini, suasana Jawa kental terasa mengiringi jalanya prosesi. Untuk prosesi kiraban sendiri, agenda  dimulai dari Desa Nanggungan dan Sukoharjo. Terdapat ritual menarik dalam kirab ini, diantaranya adalah pertemuan dua pasukan dari arah yang berlawanan (masing-masing dari arah Desa Nanggungan dan Sukoharjo) di perempatan Penceng.

Kirab budaya hajatan. (Foto: Humas Pemkab)

Kemudian setelah para pasukan menjadi satu dan dijemput oleh Bupati Pacitan dilanjutkan prosesi hajatan di Pendopo Kabupaten dengan ditandai ritual penyerahan Rucuh Pace (Air sari buah Pace) yang konon buah Pace merupakan obat mujarab dan menjadi sejarah berdirinya nama “Pacitan”.




Prosesi kiraban sendiri diikuti ratusan peraga yang iring-iringan pasukan pengawal. Mulai dari pasukan kuda, pasukan pembawa umbul-umbul, pasukan tombak dan pedang hingga pasukan pembawa panji-panji. Jumlahnya adalah 270 pasukan tombak, pasukan pedang, pasukan pataka, musik pengiring, kemudian 15 dokar dan tidak ketinggalan gunungan pace. Usai rangkaian panjang prosesi pusaka selanjutnya dikirab keluar pendopo kabupaten.

Rangkaian panjang kereta yang membawa pusaka dengan kawalan ratusan prajurit berjalan mengelilingi alun-alun Pacitan, sebelum akhirnya kembali masuk kabupaten. Prosesi acara sendiri diawali dengan arak-arakan Bupati Indartato hingga sampai ke Pendopo Pacitan, kemudian acara Sabdotomo, dan dilanjutkan dengan adat rebut buceng dan makan nasi tempelangan bersama warga Pacitan.

Prosesi Kirab Budaya Hajatan ke 270. (Foto : Dok.Pacitanku)

Prosesi Kirab Budaya Hajatan ke 270. (Foto : Dok.Pacitanku)

Berbagai macam seni pertunjukan dan tari asli dari Kabupaten Pacitan turut disajikan dalam Prosesi hajatan ini. Hal ini merupakan salah satu wujud bahwa dalam momentum peringatan Hari Jadi selalu nguri-uri atau melestarikan seni dan budaya yang dimiliki Kabupaten Pacitan.

Seni Budaya ini memiliki nilai yang sangat berharga sebab dengan demikian Kabupaten Pacitan memiliki jati diri dan pesona seni budaya yang dapat menjadi daya tarik wisata di Kabupaten Pacitan. Biasanya, warga Pacitan tumplek bleg, banyak yang menikmati sajian epic wisata budaya Pacitan ini. (RAPP002)

Permalink ke Hajatan ke-272 Gelar Pameran Bonsai, Diikuti Ratusan Pecinta Tanaman
Hari Jadi Pacitan, Headline

Hajatan ke-272 Gelar Pameran Bonsai, Diikuti Ratusan Pecinta Tanaman

Pameran bonsai dalam rangka Hajatan ke-272. (Foto: harijadi.pacitankab.go.id)

Pacitanku.com, PACITAN—Panitia Hari Jadi Pacitan (Hajatan) ke-272 menggelar pameran bonsai bekerjasama dengan Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) Pacitan, sejak Sabtu (11/2/2017) hingga Minggu (19/2/2017) besok di Gedung PLUT Pacitan. Melalui pameran tersebut, membuktikan bahwa peluang usaha di bidang pertanian masih menjanjikan.

Ketua PPBI cabang Pacitan, Untung Wiyono menuturkan, event pameran bonsai tersebut diharapkan bisa memperluas pengetahuan masyarakat mengenai tanaman hias. Pameran bonsai juga diharapkan menarik masyarakat untuk berkunjung ke Sentra Niaga.




Untung juga mengatakan pecinta bonsai juga bisa membawa bahan bonsai untuk dibentuk menjadi bonsai oleh tangan-tangan ahli.

“Pameran bonsai yang diikuti sekitar 150 peserta ini, selain menyambut hari jadi ke 272 Kabupaten Pacitan juga sebagai sarana untuk tukar informasi untuk para pecinta bonsai Pacitan. Diharapkan dengan adanya pameran ini dapat mendorong budidaya bonsai di Kabupaten Pacitan,”jelasnya, dilansir laman Hari Jadi Pacitan.

Untung mengatakan bahwa bahwa tanaman bonsai yang ditampilkan dalam acara tersebut merupakan bonsai lokal, antara lain kimeng atau beringin, wahung, sancang dan bougenvil. Selama pameran juga akan diadakan sarasehan, demo wiring atau pengawatan. (RAPP002)

 

Permalink ke Makna Spiritual Hari Jadi Pacitan: Dari Gerakan Subuh Berjamaah 272 Hingga Pesan untuk Para Pemimpin
Hari Jadi Pacitan, Headline

Makna Spiritual Hari Jadi Pacitan: Dari Gerakan Subuh Berjamaah 272 Hingga Pesan untuk Para Pemimpin

Suasana subuh berjamaah di Pacitan, via IG @fza_mw

Pacitanku.com, PACITAN – Momentum Hari Jadi Pacitan (Hajatan) ke-272 menjadi satu agenda menyejarah yang diperingati setiap tahun. Di momentum ini, banyak pesan khusus yang tersirat, salah satunya adalah pesan spiritual. Pesan spiritual Hajatan ke-272 tersebut tersurat dalam momentum Gerakan Subuh Berjamaah 272 dan pengajian akbar yang digelar Jumat (17/2/2017) dan Sabtu (18/2/2017) hari ini.

Dalam gelaran sholat subuh berjamaah yang digelar di Masjid Darul Falah Pacitan, pesan yang tersirat sebagaimana disampaikan panitia dan pentausiyah Ustadz Hamid Noor Yasin adalah semangat untuk senantiasa membumikan gerakan sholat subuh berjamaah bagi masyarakat Pacitan.

Tak hanya pesan membumikan shubuh berjamaah, pesan spiritual lain adalah sikap yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, sebagaimana tausiyah KH Nafi’an,  pengasuh Ponpes Nurul Yaqin, Karanganyar saat pengajian akbar di alun-alun Pacitan, Jumat malam.

Menurut Kh Nafi’an, pemimpin yang baik harus memiliki tiga sifat dasar. Ini seperti digambarkan oleh pujangga kenamaan Jaya Baya dengan norma Sinatriya Pandhita Sinisihan Wahyuning Ilahi. Satriya, menurut KH Nafian berarti seorang pemimpin harus memiliki watak kesatria.

Saat dihadapkan tantangan, pemimpin harus berada di garda depan untuk menyelesaikannya. Dalam hal ini, pemimpin sekaligus berperan menjadi panutan rakyat yang dipimpinnya.

Sedangkan sifat kedua, Pinandhita bermakna seorang pemimpin harus memiliki rasa welas asih terhadap sesama tanpa memandang kelas sosial maupun golongan. Pemimpin yang memiliki jiwa Pinandhita sekaligus berwatak amanah. Yakni tidak menyalahgunakan kewenangan yang dimiliki.




Sifat terakhir adalah Sinisihan Wahyuning Gusti. Artinya, seorang pemimpin yang ideal adalah yang selalu bertindak dalam rambu-rambu agama. Ini diwujudkan dengan amal shaleh serta peduli dengan mereka yang membutuhkan pertolongan.

“Pemimpin harus siap menerima sesamanya serta harus menyampaikan apa yang menjadi hak rakyatnya. Jika pemimpin tidak memiliki rasa welas asih maka yang akan terjadi adalah pergolakan di mana-mana,”katanya lagi, dilansir laman Pemkab Pacitan.

Turut hadir dalam agenda tersebut adalah Bupati Pacitan Indartato, Wakil Bupati Yudi Sumbogo, serta unsur Ketua DPRD masing-masing bersama isteri. Hadir pula anggota Forkompimda dan jamaah dari sejumlah elemen masyarakat.

Dalam pengajian akbar tersebut juga digelar penyaluran bantuan dari Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Pacitan senilai Rp 509,1 juta. (RAPP002)