Kategori: Headline

Popular

Berita Terbaru

Permalink ke Tujuh Pasangan tak Resmi Digerebek Tim Gabungan, Salah Satunya dari Donorojo Pacitan
Headline, Sosial

Tujuh Pasangan tak Resmi Digerebek Tim Gabungan, Salah Satunya dari Donorojo Pacitan

TIM GABUNGAN: Polres Wonogiri bersama tim gabungan dari unsur TNI dan Satpol-PP, merazia losmen dan hotel. (suaramerdeka.com/Bambang Purnomo)

Pacitanku.com, WONOGIRI- Tujuh pasangan tidak resmi, yang ngamar di sejumlah losmen dan hotel di Kabupaten Wonogiri, terkena razia yang dilancarkan oleh aparat Polres Wonogiri bersama tim gabungan dari unsur TNI dan Satpol-PP. Razia dilakukan berkaitan dengan gelar Operasi Pemberantasan Penyakit Masyarakat (Pekat), yang dikomandokan langsung oleh Kapolres Wonogiri AKBP Mohammad Tora.

Paur Humas Polres Wonogiri, Aipda Iwan Sumarsono, Sabtu (27/5), menyatakan, mereka merupakan warga asal Kabupaten Wonogiri, Klaten dan Sukoharjo (Jateng), serta dari Kabupaten Pacitan (Jatim), berikut dari Kabupaten Gunungkidul (DI Yogyakarta), serta dari Bekasi (Jakarta).

Dalam pemeriksaan, petugas memilah mereka jadi dua bagian. Yakni enam pasangan cukup umur, dan satu pasangan di bawah umur. Keenam pasangan cukup umur, terdiri atas Budiyanto-Suyanti dari Kabupaten Gunungkidul DI Yogyakarta dan Kabupaten Sukoharjo, Sulistyo-Yani dari Wuryantoro Kabupaten Wonogiri dan Tambun Bekasi.

Berikut pasangan Andi-Suparmi dari Wonosari Kabupaten Gunungkidul DI Yogyakarta dan Karangdowo Kabupaten Klaten, pasangan Joko-Hesti dari Ngadirojo Wonogiri dan dari Donorojo Kabupaten Pacitan (Jatim). Pasangan Paryoto-Parni dari Kecamatan Nguntoronadi dan Kecamatan Wonogiri Kota Kabupaten Wonogiri. Selanjutnya pasangan Kukuh-Nia, dari Grogol Kabupaten Sukoharjo dan dari Kecamatan Ngadirojo Kabupaten Wonogiri.




Keenam pasangan cukup umur yang kedapatan berduaan di kamar losmen dan hotel di Wonogiri ini, diberikan pembinaan dan masing-masing menuliskan surat pernyataan kapok untuk tidak mengulanginya lagi perbuatannya. Usai mendapatkan pembinaan, mereka diserahkan ke pihak keluarganya masing-masing.

Khusus untuk pasangan HP (42) yang kedapatan berduaan dengan remaja putri di bawah umur, sebut saja bernama Sekar (16), kasusnya diproses sebagai perkara persetubuhan dengan anak di bawah umur. Kapolres AKBP Mohammad Tora, telah memerintahkan Kasat Reskrim AKP M Kariri, untuk memproses HP menjadi tersangka kasus persetubuhan dengan wanita di bawah umur. Yang proses pemeriksaannya, ditangani oleh Unit Perlindungan Perempuan Anak (PPA) Satreskrim Polres Wonogiri.

Sumber: Suara Merdeka

Permalink ke Warga Terdampak Tanah Gerak di Gasang Direkomendasikan Relokasi
Bencana Alam, Headline

Warga Terdampak Tanah Gerak di Gasang Direkomendasikan Relokasi

Jalur Ambles Ngile-Gasang

Pacitanku.com, PACITAN – Fenomena tanah gerak yang terjadi di Dusun Krajan, Desa Gasang, Kecamatan Tulakan, Pacitan lebih besar dibanding patahan tanah Sepring, Kecamatan Bandar. Luasan area yang terancam tanah gerak mencapai sekitar lima hektar. 

Sedikitnya, tujuh rumah milik warga RT 3 dusun tersebut diperkirakan bakal terus mengalami kerusakan. Tidak ada pilihan lain bagi warga selain pindah lokasi tempat tinggal. 

‘’Sama-sama tipe lamban seperti di Sepring (Bangunsari, Bandar), namun areanya lebih luas di sini (Krajan, Gasang),’’ jelas Kasubid Mitigasi Gerakan Tanah Wilayah Barat, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bandung, Sumaryono. 

Kamis (25/5) Kemarin, tim PVMBG menyambangi Dusun Krajan, Desa Gasang, untuk melakukan peninjauan lapangan. Hasilnya, diketahui gerakan tanah dipicu oleh curah hujan. 

Disamping itu, kontrol kondisi geologis wilayah dusun tersebut lemah. Salah satunya karena ada kandungan tanah berjenis lempung di bawah pemukiman warga setempat. 




Dan, karena rumah warga berlokasi di dekat mahkota (titik utama retakan), maka dampak kerusakan pun cepat berkembang. 

‘’Kalau dibangun permanen ya rusak terus. Terutama karena rumah-rumah warga berada di dekat mahkota retakan,’’ terangnya.

Karena itu, PVMBG merekomendasikan warga RT 3 Dusun Krajan, yang terdampak retakan untuk relokasi ke tempat yang lebih aman. Beberapa tempat yang direkomendasikan untuk relokasi, yakni lahan sebelah barat mahkota retakan. 

Lahan tersebut cukup lapang, dan dinilai aman dari pergerakan tanah. Sementara, lanjut Sumaryono, area pemukiman warga bisa dialihfungsikan sebagai lahan pertanian. 

Namun, bukan sembarang pertanian. Yang dianjurkan, jenis pertanian tanaman dengan akar yang kuat. 

‘’Jangan padi. Karena jika diubah menjadi persawahan, itu semakin mempercepat perkembangan gerakan tanah. Karena meresap banyak air,’’ sebutnya.

Disamping itu, Sumaryono juga mengimbau masyarakat dan perangkat desa setempat untuk sebaiknya menutup celah-celah retakan tanah. Itu untuk meminimalisasi air bisa masuk melalui celah tersebut. 

Jika itu bisa dilakukan, ada kemungkinan perkembangan gerakan tanah di Krajan, bisa diminimalisasi. 

“Celah retakan harus ditutup supaya tidak dimasuki air. Itu yang memperparah pergerakan tanah di sini (dusun Krajan, Gasang),’’ ujar Sumaryono. 

Sumber: Radar Madiun

Permalink ke Wabup Yudi Sumbogo Senang Jika Sragen United Jadi Bermain di Stadion Pacitan
Headline, Sepakbola

Wabup Yudi Sumbogo Senang Jika Sragen United Jadi Bermain di Stadion Pacitan

Suasana laga Pacitan FC vs Persik Kediri. (Foto: Muhammad Toifur)

Suasana laga Pacitan FC vs Persik Kediri. (Foto: Muhammad Toifur)

Pacitanku.com, PACITAN – Wakil Bupati Pacitan Yudi Sumbogo mengaku senang seandainya klub Liga 2 Sragen United jadi bermain di Stadion Pacitan saat berkompetisi di Liga 2.

”Sebab, masyarakat di sini sangat membutuhkan hiburan. Kami juga punya fasilitas stadion yang sangat layak. Eman kalau fasilitas tersebut tidak bisa dimanfaatkan,” katanya, baru-baru ini.

Dia mengatakan bahwa meski belum ada pembicaraan dengan manajemen Sragen United, pihaknya sangat welcome kalau akhirnya Laksar Gajah Purba itu benar-benar berlabuh di Pacitan.

”Lagi pula, kalau ada tim sepak bola profesional di sini, secara otomatis, roda ekonomi di sekitar stadion akan jauh lebih semarak,” imbuh alumnus Universitas Islam Indonesia (UII) Jogjakarta itu.

Sebelumnya diberitakan bahwa Sragen United yang sebelumnya berkamuflase dari Laga FC berencana berganti nama dan berpindah markas ke luar Kota Sragen. Wacana yang berkembang, mereka akan hijrah ke Pacitan dan berganti nama menjadi Laga FC Pacitan.




Kondisi tim yang tidak stabil adalah salah satu penyebab mereka harus berganti nama dan markas tersebut. Apalagi, izin menggelar pertandingan kandang di Stadion Taruna Sragen kini sudah sulit didapat. Akibatnya, mereka harus rela menjalani laga home, saat menjamu Persiba Bantul, di Stadion Ketonggo, Ngawi, Senin (15/5).

Manajer Sragen United Anggun Mahardika menyatakan, meski masih rumor, wacana hengkangnya markas mereka ke Jawa Timur tersebut bisa saja mendekati kenyataan. Itu terjadi bila hasil kajian dan rapat manajemen memutuskan mengambil langkah tersebut.

Dia mengakui, masalah utama tak bisa menggunakan Stadion Taruna memang berada pada sisi infrastruktur. Kurang lengkapnya fasilitas stadion itu membuat panitia pelaksana (panpel) pertandingan mereka harus mendapat sanksi dari PT LIB (Liga Indonesia Baru) selaku operator kompetisi.

”Persoalan mendasar karena stadion kami belum layak. Mulai pagar penonton, ruang ganti pemain, ruang wasit, dan beberapa item lainnya. Itu yang mengakibatkan kami selalu pindah-pindah stadion,” jelasnya.

Namun demikian, wacana perubahan homeground Sragen United ke Pacitan tersebut langsung mendapat resistansi dari Laga FC, klub yang menjadi cikal bakal Sragen FC. Owner Laga FC Haruna Soemitro menyatakan bahwa manajemen Sragen United saat ini tidak bisa melakukan transaksi apa pun atas nama klub tersebut.

Haruna beralasan, manajemen Sragen United melakukan wanprestasi ketika membeli klub itu. ”Mereka sampai saat ini belum melakukan pembayaran apa pun kepada kami. Masalah ini sudah kami laporkan kepada PSSI,” ujar pria yang juga manajer Madura United FC tersebut.

Terpisah, Pelaksana tugas (Plt) Sekjen PSSI Joko Driyono menegaskan bahwa PSSI tidak akan membenarkan klub mana pun untuk bertukar nama di saat kompetisi sudah berjalan. ”Kalau hanya berganti home base, mungkin bisa kami maklumi. Sebab, yang memutuskan adalah operator. Tapi, kalau berganti nama, sudah pasti kami tolak,” timpal Joko.

Sumber: Jawa Pos

Permalink ke Tiga Luweng di Pacitan Berpotensi Dikembangkan Jadi Wisata Minat Khusus
Goa, Headline

Tiga Luweng di Pacitan Berpotensi Dikembangkan Jadi Wisata Minat Khusus

Para Pecinta alam mengunjungi Goa Luweng di Pacitan. (Foto : Fahmi Ahmad)

Para Pecinta alam mengunjungi Goa Luweng di Pacitan. (Foto : Fahmi Ahmad)

Pacitanku.com, PACITAN – YEPE Tim Pendaki Gunung dan Penjelajah Alam melaksanakan ekspedisi atau penjelajahan ke tiga goa luweng di Pacitan, yaitu Luweng Ombo, Luweng Musuk, dan Luweng Jaran.

Ekspedisi ini menelorkan masukan atas potensi pengembangan wisata minat khusus, menjelajahi gua di Pacitan. Tajuk Woman Expedition diambil karena para ekspeditor yang terdiri dari tiga orang semuanya adalah perempuan.

Tujuan dari ekspedisi ini memberikan output positif yang berbentuk data kajian terhadap potensi wisata minat khusus di Pacitan,” kata anggota ekspedisi Woman Expedition YEPE, Khoirika, dikutip Koran Jakarta, Jumat (26/5).




Kegiatan ini dilaksanakan pada 1–20 Mei 2017, dengan tiga perempuan sebagai ekspeditor utama, yaitu Ika Diandra, Marselia, dan Khoirika serta beberapa tim pendukung.

Profil ketiga gua ini pada umumnya adalah gua vertikal yang hanya bisa diakses menggunakan alat khusus. Untuk mencapai tiga gua ini digunakan teknik vertikal dan para ekspeditor sudah dilatih oleh konsultan dan pelatih yang berpengalaman.

Menurut Khoirika, kegiatan ini tidak hanya berbentuk penjelajahan dalam gua untuk melihat keindahannya saja.

Dari ekspedisi ini akan dihasilkan kajian aspek pariwisata, teknis, dan sosial budaya untuk melihat kesiapan masyarakat setempat terkait dengan dikemasnya gua-gua tersebut menjadi destinasi wisata khusus.

Bahan Pertimbangan Data-data ini, tambah Khoirika, akan disampaikan ke Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pacitan sebagai bahan pertimbangan pemkab.

Melihat potensi Pacitan yang menyandang gelar sebagai kota 1001 gua, dalam pandangan YEPE sudah saatnya untuk diamati lebih lanjut terkait pemanfaatan gua sebagai salah satu wisata minat khusus di Jawa Timur.

Khoirika mengatakan untuk selanjutnya sebagai proses publikasi, tim dari YEPE akan mengadakan roadshow ke beberapa kota.

“Salah satu output yang menarik dan patut dinantikan adalah hasil penjelajahan dan film pendek penjelajahan gua. Kami juga mengucapkan terima kasih atas segala bantuan dari berbagai pihak hingga kegiatan ini sukses” kata Khoirika.

YEPE Tim Pendaki Gunung dan Penjelajah Alam adalah klub pendaki dan penjelajah dari Malang yang telah berusia 47 Tahun. Organisasi ini telah banyak menjelajahi hampir di seluruh kepulauan besar Indonesia.

Permalink ke Selamat, Pacitan Raih Opini WTP 5 Kali Berturut-turut
Headline, Pemerintahan

Selamat, Pacitan Raih Opini WTP 5 Kali Berturut-turut

Serah terima opini WTP di Surabaya. (Foto: Ronny Wahyono)

Pacitanku.com, SURABAYA – Pemerintah Kabupaten Pacitan kembali menerima penghargaan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Republik Indonesia.

Penghargaan prestisius itu diberikan atas hasil Pemeriksaan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah tahun 2016 yang diserah terimakan di Surabaya, Jumat (26/5/2017) siang dan diberikan langsung kepada Bupati Pacitan Indartato didampingi Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Pacitan Ronny Wahyono.

Bupati Indartato pada Jumat (26/5/2017) kemarin di Surabaya mengatakan, penghargaan predikat WTP kepada Pemkab Pacitan merupakan yang kelima kali diserahkan atas keberhasilan laporan keuangan tahun anggaran 2016. “WTP yang diterima Pemkab Pacitan hendak kedepan memotivasi kinerja tata kelola keuangan yang lebih baik lagi,”ujarnya.

Dia menyatakan, pemeriksaan atas laporan keuangan itu bertujuan untuk memberikan opini atas pernyataan profesional pemeriksa mengenai kewajaran yang didasarkan pada empat kriteria.




Keempat kriteria itu adalah kesesuaian dengan standar akuntansi, kecukupan pengungkapan, kepatuhan terhadap perundang-undangan, dan efektifitas sistem pengendalian intern.

Indartato mengatakan bahwa penghargaan tersebut merupakan wujud kepercayaan masyarakat terhadap pengelolaan keuangan yang dilakukan pemerintah daerah.

“Harapan ke depan semua saling menyadari bahwa kita dalam rangka mengabdi semua ada aturannya dan sekaligus kita bisa mendapatkan kepercayaan dari masyarakat dalam rangka mewujudkan masyarakat Pacitan yang sejahtera,”ungkapnya.

Dkatakan Indartato, keberhasilan daerah yang dipimpinnya meraih supremasi tertinggi bidang pengelolaan keuangan tersebut tak lepas dari kerja keras semua pihak. Dia mengapresiasi kerja seluruh SKPD, termasuk DPRD Pacitan yang telah bekerja optimal sehingga opini WTP untuk kelima kalinya.

“Selamat kepada seluruh aparat pemerintah daerah termasuk DPRD dan seluruh warga masyarakat Pacitan. Harapan kita ke depan (Opini WTP) wajib kita pertahankan sebagai bentuk akuntabilitas,”tutupnya.

Permalink ke Polres Pacitan Musnahkan Ratusan Liter Miras
Headline, Hukum dan Kriminal

Polres Pacitan Musnahkan Ratusan Liter Miras

Pacitanku.com, PACITAN – Jajaran Kepolisian Resor Pacitan menggelar agenda pemusnahan barang bukti minuman keras, narkotika dan obat-obatan terlarang sehari jelang Ramadhan pada Jumat (26/5/2017) kemarin di halaman Gedung Bhayangkara Pacitan.

“Polres Pacitan berhasil menyita barang bukti miras sebanyak 200 botol jenis arak jowo dan 5 jerigen dengan volume 450 liter, vodka 25 botol, bir bintang sebanyak 10 botol serta obat- obat kadaluwarsa,”kata Kepala Polres AKBP Suhandana Cakrawijaya.

Dia menuturkan bahwa maraknya konsumsi minuman keras di kalangan remaja atau pelajar dilatar belakangi kurangnya peran orang tua dalam memberikan perhatian dan pengawasan terutama dikalangan anak muda.

Dia juga mengajak Forkopimda dan instansi terkait untuk bekerjasama dalam memerangi peredaran narkoba, miras dan penyakit masyarakat.




“Hal itu untuk mewujudkan Kabupaten Pacitan yang bersih miras dan narkoba serta menyelamatkan generasi muda dari pengaruh miras dan narkoba,”katanya.

Sebelum menggelar pemusnahan massal barang bukti, Polres menggelar rapat koordinasi jelang bulan Ramadhan dan Idul Fitri 1438 di wilayah Polres Pacitan.

Turut hadir dalam kegeiatan tersebut Wakapolres Pacitan Kompol Hendrik Sulistiawan, Kepala Bakesbanpol Suharyanto, Kepala Dishub Wasi Prayitno, Kepala Dinas Perijinan Prasetyo, Ketua MUI Pacitan Aris Mashudi, Kepala Disparpora Endang Surjasri, Kades dan Lurah se Pacitan, pengusaha makan dan hiburan serta jajaran Polsek di Pacitan.

Kontributor: Sarwono
Editor: Dwi Purnawan