Kategori: Headline

Popular

Berita Terbaru

Permalink ke Pemkab Desak 7 Pengusaha Tambang Pacitan Segera Diterbitkan Perizinannya
Headline, Pacitan News

Pemkab Desak 7 Pengusaha Tambang Pacitan Segera Diterbitkan Perizinannya

Aktivitas pertambangan liar memantik perhatian DPRD Pacitan. (Foto: Antara)

Pacitanku.com, PACITAN – Krisis legalitas izin tambang di Pacitan masih menjadi polemik berkepanjangan. Terlebih, Dinas ESDM Pemprov Jatim hingga detik ini belum memberikan kepastian kapan terbitnya izin dari sekitar 7 pengusaha tambang yang sudah mengajukan proses perizinan.

“Kita sudah mendesak agar secepatnya ketujuh pengusaha tambang dari Pacitan yang lolos verifikasi administrasi, segera diterbitkan perizinannya,” kata Joni Maryono, Asisten Perekonomian dan Pembangunan, Sekkab Pacitan, usai mengikuti rapat dinas di Pemprov Jatim, Jumat (24/3).

Joni mengungkapkan, saat ini memang masih ada dua persoalan yang mengiringi proses perizinan. Selain persoalan perubahan status dari wilayah izin pertambangan rakyat (WIPR) ke wilayah izin usaha pertambangan‎ (WIUP), juga rekomendasi dari BP DAS Solo, yang hingga detik ini belum ada kejelasan. Kendati begitu, mantan Kepala Kantor Lingkungan Hidup ini berupaya sekitar awal April nanti sudah ada kejelasan.




“Kita tetap mengandalkan pertambangan manual dulu, agar ketercukupan material pasir dan batu bisa terpenuhi,” jelasnya.

Lebih dari itu, Joni juga menyatakan, kalau Pemkab Pacitan tidak akan memberikan kebijakan apapun yang menabrak aturan. Sebab sepenuhnya, urusan pertambangan itu merupakan kewenangan Pemprov Jatim. “Kita hanya bisa berkoordinasi, sepenuhnya itu kewenangan Pemprov,” tukasnya.

Pewarta: Yuniardi Sutondo

 

Permalink ke Pertamina Dorong PNS Pacitan Gunakan LPG Non-Subsidi
Headline, Pacitan News

Pertamina Dorong PNS Pacitan Gunakan LPG Non-Subsidi

Pacitanku.com, PACITAN – Sebagai bagian dari gerakan sadar subsidi, para pimpinan paerah terus mendorong agar para Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang berada di bawahnya mulai menggunakan produk LPG non-subsidi. Hal tersebut pula yang dilakukan oleh Bupati Pacitan Indartato, saat mengajak jajaran PNS di Kabupaten Pacitan untuk bersama-sama meringankan beban subsidi energi pemerintah dan mulai beralih menggunakan LPG non-subsidi jenis Bright Gas.

“Kita sudah sama-sama mengetahui dari gaji dan tunjangan, teman-teman PNS ini kan warga yang mampu, bukan masuk warga miskin. Jadi, hari ini diarahkan agar kita semua berkomitmen untuk tidak menggunakan LPG subsidi karena itu hak warga miskin, beralihlah ke LPG non-subsidi Bright Gas,” ujar Indartato, usai kegiatan sosialisasi penggunaan LPG non-subsidi di Pendopo Alun-alun Pacitan, Rabu (22/3/2017).

Sosialisasi Gerakan Sadar Subsidi kepada para PNS di lingkungan Pemkab Pacitan bersama Pertamina dilakukan selama dua hari, dimulai pada 22 hingga 23 Maret 2017. Selain kepada jajaran PNS, sosialisasi serupa juga akan menyentuh para pelaku UMKM dan pengusaha kuliner di Kabupaten Pacitan. Tujuannya, agar semakin banyak masyakarat yang menggunakan LPG non-subsidi, sehingga beban subsidi pemerintah di sektor energi bisa diminimalisir.

Berdasarkan data yang diberikan Pertamina, setiap tahun jumlah konsumsi LPG baik di Pacitan, maupun di level nasional terus meningkat. Harapannya, penggunaan LPG non-subsidi jenis Bright Gas bisa menekan angka tersebut.


Perwakilan Domestic Gas Pertamina MOR V, Andy Mulya, yang hadir pada kegiatan tersebut memberikan apresiasi dan mengamini pernyataan Bupati Pacitan. Dia juga menyampaikan bahwa, Pertamina sebagai perusahaan BUMN selalu mendukung program pemerintah dalam mengurangi subsidi di sektor energi, khususnya subsidi bahan bakar rumah tangga LPG.

Saat ini, konsumsi LPG bersubdisi masih mendominasi di Pacitan, yaitu 95% dari total komposisi penjualan produk. Diharapkan, dengan adanya dukungan dan dorongan dari pimpinan pemerintah daerah dan melalui sebaran outlet-outlet LPG non-subsidi Pertamina yang tersebar di 5 agen LPG, 20 pangkalan, dan outlet SPBU dapat menekan angka tersebut.

Bright Gas Pertamina sebagai produk LPG non-subsidi unggulan Pertamina hadir dengan kemasan 12 Kg dan 5.5 Kg yang praktis dan mudah dibawa. Selain memiliki teknologi katup ganda untuk memberi rasa aman, warna pink pada tabung juga memberikan kesan ceria dan sedap dipandang.

Area Manager Communication & Relation Heppy Wulansari mengatakan, “Kemudahan layanan pesan antar ke rumah/tempat usaha dalam mendapatkan produk Bright Gas merupakan nilai tambah yang kami berikan. Layanan pesan antar dapat diakses melalui nomor telepon contact Pertamina 1 500 000,” ujar Heppy.

“Selain itu, saat ini Pertamina juga mempunyai program promo tukar tabung 3 Kg bersubsidi dengan Bright Gas 5.5 Kg. Pertamina akan memfasilitasi dengan program penukaran tabung LPG 3 Kg dengan 1 tabung LPG Bright Gas 5.5 Kg di Agen LPG, counter-counter penukaran yang ada di acara,” jelas Heppy.

Permalink ke Aktivis Mahasiswa Pacitan Gencarkan Sosialisasi Cegah Pernikahan Dini
Headline, Kesehatan

Aktivis Mahasiswa Pacitan Gencarkan Sosialisasi Cegah Pernikahan Dini

Pacitanku.com, PACITAN – Praktik pernihakan dini masih saja menjadi masalah sosial yang harus di antisipasi bersama. Hal tersebutlah yang menjadi alasan para aktivis mahasiswa pacitan membentuk komunitas untuk mencegah praktik pernikahan di bawah umur tersebut.

Komunitas muda peduli pernikahan dini atau yang lebih dikenal KOMPPENI itu dibentuk pada tahun 2015 oleh tiga mahasiswa STKIP PGRI Pacitan yaitu Helmy Yusuf Evendi, Dwi Susilo Rini dan Winda Andryanti. Hingga saat ini komunitas tersebut terus melakukan sosialisasi pencegahan pernikahan dini di desa-desa.

Pada Sabtu (25/3/2017), KOMPPENI kembali melakukan sosialisasi di Desa Sanggrahan. Sosialisasi yang berlangsung di balai pertemuan dusun Karang Tengah dengan narasumber  Helmy Yusuf Evendi  (Kordinator Sosilasiasi dan  aksi Pencegahan Pernikahan dini) terlaksana berkat kerjasama KOMPPENI dengan Kelompok 8 KKN STKIP PGRI Pacitan.

Acara yang berlangsung sekitar dua jam tersebut diikuti oleh peluhan ibu PKK dusun Karang Tengah. Para peserta terlihat antusias mengikuti sosialisasi terbukti dengan Tanya jawab yang berlangsung setelah pemaparan materi.




Menurut Helmy Yusuf Evendi, Sosialisasi ini diharapakan dapat memberikan pemahaman kepada orang tua mengenai dampak negatif pernikahan dini, dan harapannya ketika sudah paham para ibu akan semakin memberi perhatian lebih pada anak agar tidak terlibat pergaulan bebas sehingga akan mencegah praktik pernikahan dini.

“Sosialisasi ini harapakn agar para orang tua paham mengenai dampak negatif nikah dini sehingga dengan paham mengenai itu para orang tua tidak menikahkan anaknya di usia muda dan selalu memberikan perhatian lebih pada anaknya” kata Helmy dalam keterangannya kepada Pacitanku.com, Minggu.

Di tempat yang sama Ketua KOMPPENI Dwi Susilo Rini juga menambahkan bahwa sosialisasi dan aksi pencegahan praktik pernikahan dini akan terus berlanjut dan akan menyasar ke desa, sekolah maupun komunitas, aksi ini semata-mata bertujuan untuk menekan angka praktik pernikahan dini dan bukti kepedulian kami kepada bangsa dan negara serta daerah pada khususnya. (RAPP002)

Permalink ke Puluhan Bidan CPNS Belum Dapat SK dari Kemenkes
Headline, Kesehatan

Puluhan Bidan CPNS Belum Dapat SK dari Kemenkes

Pacitanku.com, PACITAN – Baru lolos seleksi, 60 bidan pegawai tidak tetap (PTT) yang lulus tes CPNS kini malah cemas. Sebab, meski sudah lulus berbagai tes, tetapi ketetapan pengangkatan bidan PNS dari Kementrian Kesehatan (Kemenkes) belum juga turun.

Lantaran belum punya nomor induk kepegawaian (NIK), mereka pun belum berhak menerima gaji sebagai PNS. Masalahnya, mereka juga tidak lagi berhak atas gaji bidan PTT. ‘’Mereka masih berhak menerima gaji hingga bulan Februari,’’ ujar pejabat Pengelola Bidan PTT Kabupaten Pacitan, Eko Hadi, kemarin.

Eko menuturkan, status para bidan PTT yang lolos tes CPNS itu kini masih abu-abu. Meski diterima, tetapi mereka belum diangkat sebagai PNS. Penggajian mereka pun mau tidak mau harus mengikuti statusnya. Lantaran bukan PTT dan belum PNS, terhitung sejak pengumuman kelolosan tes CPNS, mereka tidak lagi berhak atas gaji PTT, dan belum berhak atas gaji PNS.

Padahal, gaji bidan PTT terhitung besar. Menurut Eko, gaji di wilayah terpencil bisa mencapai Rp 4,6 juta per bulan. Sementara bidan PTT di wilayah kota mendapat Rp 2,3 juta. ‘’Gaji PTT bulan Maret tidak bisa diterima di bulan April nanti. Sementara lima bidan PTT lain yang tidak lolos tes tentu tetap berhak. Tetapi, mulai April nanti seluruh bidan PTT namanya berganti menjadi bidan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (P3K),’’ terangnya.


Masalahnya, Eko tidak bisa memperkirakan kapan para bidan PTT yang lolos CPNS itu bakal diangkat. Dia juga enggan berandai-andai. Sebab, lama pengangkatan di tiap daerah juga tidak sama. Ada yang satu bulan langsung diangkat, ada pula yang sampai berbulan-bulan hingga diakuinya menimbulkan polemik. ‘’Bisa dikatakan status mereka (para bidan PTT yang lolos CPNS) kini masih terkatung-katung. Kami harap pengangkatannya bisa tidak berlarut-larut,’’ ungkapnya.

Salah seorang bidan PTT yang lolos CPNS, Meisuci Lessari, mengaku senang telah lolos tes yang dia harap-harapkan. Meisuci mengaku sudah tujuh tahun mengabdi menjadi bidan PTT. Kini dia dan para bidan PTT yang lolos CPNS lain menunggu-nunggu kapan pengangkatan bakal dilaksanakan. ‘’Kami berdoa agar pengangkatannya dapat segera dilakukan. Saat ini mungkin masih terima gaji, tetapi kami juga harap-harap cemas kalau nanti tidak kunjung diangkat, sementara mengabdi tanpa gaji,’’ ujarnya.

Sumber: Radar Madiun

Permalink ke Mantap, Pacitan Kini Miliki Stok Tour Guide Lokal
Headline, Wisata

Mantap, Pacitan Kini Miliki Stok Tour Guide Lokal

Para Tour Guide sedang mendapatkan pelatihan dari HPI. (Foto: Wildan/AP3)

Pacitanku.com, PACITAN – Setelah proses seleksi, Pemerintah Kabupaten Pacitan melalui Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Pacitan bekerjasama dengan Asosiasi Pelaku dan Penggiat Pariwisata Pacitan (AP3) akhirnya sukses menyelenggarakan pelatihan pemandu wisata atau pramuwisata pada Senin hingga Rabu (20-22) Maret 2017 lalu.

Dalam kesempatan tersebut, sebanyak 40 pemuda Pacitan belajar menjadi tour guide lokal yang melayani wisatawan yang berkunjung ke Pacitan.

“Pelatihan dibagi menjadi tiga hari, dimana dua hari para peserta dengan berbagai latar belakang tersebut diajak belajar secara teoritis 5 materi, yakni kebijakan kepariwisataan Pacitan, peran pramuwisata, sapta pesona, geografis alam dan Daya Tarik Wisatawan (DTW) dan terakhir adalah tugas dan fungsi pramuwisata,”kata Ketua AP3 Pacitan, Ronny Widya Kurniawan, dikutip dari laman AP3.

Selanjutnya, dihari ketiga, kata Ronny, ke-40 peserta tersebut diajak untuk praktek lapangan yang dipusatkan di Goa Gong dan Pantai Klayar. “Setelah usai pelatihan, mereka akan membuat kelompok pemandu wisata sendiri, dengan harapan nanti biasa sinergitas dengan instansi tertentu nantinya dengan begitu wisatawan yang datang ke pacitan bisa menggunakan tour guide lokal Pacitan,”jelasnya.




Sementara, Hesti Suteki, Kepala Bidang Kelembagaan dan SDM Disparpora Pacitan dalam sambutannya mengatakan bahwa kegiatan ini bertujuan mempersiapkan tenaga-tenaga terampil untuk melayani wisatawan yang berkunjung ke Pacitan.

“Selain itu juga mempersiapkan tenaga yang bisa memberikan informasi dan pelayanan sebagai tuan rumah yang baik, adapun tugas dari tour guide mempromosikan pariwisata pacitan ke masyarakat, serta menjadi tuan rumah yang baik dalam pelayanan wisata,”ujarnya saat memberikan sambutannya.

Sebagai informasi, pramuwisata adalah profesi di bidang kepariwisataan. Pramuwisata disebut juga Pemandu Wisata atau Tour Guide. Di Indonesia, secara nasional telah dibentuk organisasi yang mewadahi profesi ini, yaitu Himpunan Pramuwisata Indonesia atau HPI.

Organisasi ini telah memiliki jaringan ke seluruh provinsi di Indonesia. Di beberapa daerah juga terbentuk sejumlah organisasi serupa yang bersifat lokal. Dan untuk Pacitan, ini adalah kali pertama Disparpora menggelar pelatihan tersebut. (RAPP002)

Permalink ke Lagi, Polres Pacitan Sukses Ciduk 3 Tersangka Kepemilikan Sabu
Headline, Hukum dan Kriminal

Lagi, Polres Pacitan Sukses Ciduk 3 Tersangka Kepemilikan Sabu

Pacitanku.com, PACITAN – Peredaran narkoba di Pacitan selalu menyeret pelaku dari luar daerah. Hal itu dibuktikan lewat diungkapnya kasus kepemilikan sabu-sabu dan pil koplo yang melibatkan tiga orang tersangka.

Dua, diantaranya, dicokok saat menggelar pesta narkoba di sebuah rumah kos di Sidoharjo, Pacitan. Sementara satu tersangka lainnya ditangkap saat hendak melakukan transaksi di Nanggungan, Pacitan. ‘’Tiga pelaku ini berasal dari luar Pacitan. Tren kasusnya selama ini memang selalu melibatkan pelaku dari luar daerah,’’ ungkap AKBP Suhandana Cakrawijaya melalui Kasatnarkoba AKP Agung Purnomo.

Tersangka pertama yang diringkus polisi adalah Wisnu Adi, 23, warga Mangunharjo, Kota Madiun. Dia dicokok Sabtu (11/3) saat hendak melakukan transaksi di depan SPBU Nanggungan.

Saat itu, Wisnu kedapatan hendak menjual pil dextro sejumlah 48 butir. Usai dilakukan pengembangan sampai ke penginapannya di Arjowinangun, Pacitan, terungkap juga bahwa Wisnu juga menyimpan sabu seberat 0,26 gram. Sejumlah alat hisap sabu juga diamankan sebagai barang bukti.




Tidak lama berselang usai penangkapan Wisnu, polisi meringkus Arie Indra, 32, dan Renzy Ariesta, 22, Selasa (14/3). Keduanya diketahui merupakan wisatawan asal Bekasi dan Mangunharjo, Kota Madiun.

Sayangnya, wisata yang dilakukan Arie dan Renzy tidak lengkap tanpa narkoba. Keduanya dicokok saat kedapatan mengonsumsi sabu di sebuah rumah kos di Sidoharjo, Pacitan. Barang bukti yang berhasil diamankan diantaranya dua paket sabu dengan berat 0,26 gram dan 0,27 gram. ‘’Arie merupakan pemain lama. Seorang residivis atas kasus narkoba, dan baru saja keluar dari rutan Januari lalu,’’ ujarnya.

Ketiga tersangka dikenakan pasal 112 dan 127 UU nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika. Ancaman hukuman yang menanti Wisnu, Arie, dan Renzy minimal lima tahun penjara. Agung mengungkapkan, pihaknya masih menyelidiki dari mana asal muasal barang haram ketiga tersangka.

Salah satu daerah yang kemungkinan besar menjadi sumber peredaran narkoba di Pacitan adalah Kota Madiun. Hal itu didasarkan pada banyaknya pelaku yang berasal dari kota tersebut. ‘’Peredaran narkoba di Pacitan itu tidak besar. Jaringannya selalu berasal dari luar daerah yang menjadi pusat peredaran. Kami berupaya melakukan pengembangan kesana,’’ kata Agung.

Sumber: Radar Madiun
Foto: Radar Madiun