Kategori: Headline

Popular

Berita Terbaru

Permalink ke Kenali dan Waspadai Penyakit Leptospirosis yang Mematikan
Headline, Kesehatan

Kenali dan Waspadai Penyakit Leptospirosis yang Mematikan

Pacitanku.com, PACITAN – Ancaman yang ditimbulkan leptospirosis tidak sepele. Lima orang di Pacitan terjangkit sejak 2016. Empat di antaranya meninggal. Sementara itu, seorang penderita lainnya masih dirawat intensif di ICU RSUD dr Darsono.

Catatan tersebut menandakan bahwa leptospirosis berhasil membunuh 90 persen penderita di Pacitan. Masyarakat diminta lebih waspada dan menjaga kebersihan lingkungan sekitar.

Sebenarnya, apa leptospirosis? Leptospirosis adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri yang menjangkiti banyak jenis hewan, termasuk burung, reptil, amphibi, dan mamalia. Leptospirosis merupakan penyakit hewan yang ditularkan ke manusia melalui air, makanan, dan lingkungan yang terkontaminasi.

Bakteri penyebab leptospirosis adalah spesies Leptospira yang termasuk dalam klasifikasi spirochaetes. Di daerah yang beriklim sedang, infeksi leptospirosis biasanya terjadi pada bulan Februari, Maret, Agustus, dan September.

Leptospirosis juga dikenal sebagai demam lumpur, demam rawa, dan penyakit penggembala babi. Bakteri penyebab infeksi keluar melalui urin pada hewan yang terinfeksi, yang kemudian akan bercampur dengan tanah dan sumber air terdekat.

Bakteri akan masuk dalam tubuh manusia saat air, tanah, ataupun makanan yang terkontaminasi kontak dengan kulit yang luka, mata, maupun membran mukosa. Pada banyak orang, leptospirosis tetap tidak menimbulkan gejala (asimptomatik) meskipun orang tersebut telah terinfeksi.




Bila pun ada gejala yang nampak, biasanya gejala tersebut tidak jelas dan mirip dengan gejala penyakit lain. Leptospirosis termasuk penyakit sistemik yang mempengaruhi tubuh secara keseluruhan.

Masa inkubasi leptospirosis adalah 2 hari sampai 4 minggu setelah terinfeksi. Seperti kasus infeksi lain, salah satu gejala yang paling menonjol dari leptospirosis adalah munculnya demam dan naiknya suhu tubuh.

Kondisi ini terjadi karena sistem kekebalan tubuh mencoba melawan bakteri. Infeksi bakteri terbagi dalam dua fase, dengan fase kedua lebih parah dari fase sebelumnya. Kedua fase dipisahkan oleh periode beberapa hari, dimana pasien merasa lebih baik.

Beberapa gejala leptospirosis yang biasa nampak pada fase pertama (fase akut) diantaranya sakit kepala parah, nyeri otot, menggigil, batuk, sakit tenggorokan, warna kulit kekuningan (jaundice). Kemudian mata kekuningan, mata berair, mata kemerahan, nyeri pada mata, ruam kulit, sakit perut, diare, muntah dan sensitif terhadap cahaya.

Gejala-gejala tersebut cukup umum sehingga membuat bingung dan sering dikira sebagai gejala dari penyakit lain. Identifikasi gejala leptospirosis pada fase awal sangat penting untuk menghindari komplikasi kesehatan yang parah. Jika dibiarkan tidak diobati dalam waktu yang lama, maka fase akut akan berlanjut ke fase kedua.

Gejala fase kedua dari leptospirosis meliputi kerusakan ginjal, meningitis (radang selaput otak), komplikasi pernapasan, dan gagal hati. Gejala-gejala fase kedua bisa mengancam jiwa, jadi seseorang yang menderita leptospirosis harus segera mendapatkan perawatan kesehatan. (RAPP002)

Permalink ke Empat Warga Pacitan Meninggal Dunia Akibat Leptospirosis
Headline, Kesehatan

Empat Warga Pacitan Meninggal Dunia Akibat Leptospirosis

Operasi di RSUD Pacitan. (Foto : SKPD)

Pacitanku.com, PACITAN – Ancaman yang ditimbulkan leptospirosis tidak sepele. Lima orang di Pacitan terjangkit sejak 2016. Empat di antaranya meninggal. Sementara itu, seorang penderita lainnya masih dirawat intensif di ICU RSUD dr Darsono.

Catatan tersebut menandakan bahwa leptospirosis berhasil membunuh 90 persen penderita di Pacitan. Masyarakat diminta lebih waspada dan menjaga kebersihan lingkungan sekitar. ’’Leptospirosis bukan penyakit sepele. Harus diwaspadai, terutama pada musim hujan seperti sekarang ini,’’ tutur Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Pacitan Rachmad Dwiyanto.

Menurut dia, ancaman yang dibawa leptospirosis tidak dapat dianggap remeh. Dua di antara empat penderita yang meninggal positif terjangkit. Sementara itu, dua lainnya meninggal dalam keadaan masih terduga (suspect). Namun, mereka sudah menunjukkan gejala leptospirosis.




Rachmad menuturkan, beberapa gejala yang dapat diketahui adalah demam yang disertai panas tinggi serta nyeri otot. Di samping dua gejala itu, perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui tingkat leukosit penderita. ’’Ukuran leukosit itu bisa menjadi bukti apakah terjangkit leptospirosis,’’ ucapnya.

Mayoritas penderita yang meninggal terpapar penyakit dari lingkungan yang tidak sehat. Di antaranya, genangan di sawah serta tempat pembuangan sampah (TPS). Maklum, tempat-tempat tersebut menjadi media penyebaran urine atau darah tikus, anjing, sapi, dan babi yang membawa bakteri leptospira.

Rachmad menyebutkan, potensi persebaran leptospirosis semakin meningkat pada Januari. Curah hujan yang tinggi memicu banyaknya genangan air. ’’Jika tidak diimbangi pola hidup bersih dan sehat (PHBS), akibatnya bisa fatal,’’ ujarnya.

Menurut dia, PHBS wajib dijalankan. Dengan PHBS, persebaran tikus yang menjadi salah satu pemicu leptospirosis dapat berkurang. Sebab, tikus senang hidup di tempat-tempat yang cenderung kotor.

Selain itu, masyarakat diharapkan lebih waspada ketika melewati genangan atau tempat kotor seperti TPS. Pelindung diri perlu dikenakan untuk meminimalkan ancaman infeksi. ’’Intinya adalah menjaga PHBS. Pada musim seperti sekarang ini, ancaman bukan hanya leptospirosis. Diare atau demam berdarah mengintai di lingkungan yang tidak bersih dan sehat,’’ jelas Rachmad.

Sebagai informasi, leptospirosis adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri yang menjangkiti banyak jenis hewan, termasuk burung, reptil, amphibi, dan mamalia. Pada dasarnya leptospirosis merupakan penyakit hewan yang ditularkan ke manusia melalui air, makanan, dan lingkungan yang terkontaminasi. (mg4/rif/c18/end)

Sumber: Jawa Pos

Permalink ke Pemkab akan Kembangkan Monumen Jenderal Soedirman dengan Konsep Agrowisata
Headline, Sejarah

Pemkab akan Kembangkan Monumen Jenderal Soedirman dengan Konsep Agrowisata

Monumen Jenderal Soedirman. (Foto : Dok.Pacitanku)

Monumen Jenderal Soedirman. (Foto : Dok.Pacitanku)

Pacitanku.com, NAWANGAN – Monumen Jenderal Besar Soedirman di Pakis Baru, Kecamatan Nawangan, adalah kartu truf destinasi wisata yang belum dibuka Pemkab Pacitan. Hingga kini, belum ada tarif retribusi untuk masuk ke monumen.

Namun demikian, Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Pacitan sudah punya gambaran dalam mengembangkan destinasi wisata tersebut. ‘’Nantinya akan dikembangkan terintegrasi dengan konsep agrowisata di Nawangan.

Untuk saat ini masih belum ada retribusi karena juga baru saja diserahkan wewenang pengelolaannya dari pemerintah pusat kepada daerah,’’ ungkap Kabid Pemasaran Disparpora Pacitan, Budi Hartoko.

Toko –sapaan akrab Budi Hartoko- mengatakan monumen Jenderal Besar Soedirman merupakan destinasi wisata minat khusus. Tempatnya yang cukup jauh membuktikan bahwa wisatawan yang sengaja berkunjung merupakan orang-orang yang memang berminat mengunjungi monumen.




Monumen patung setinggi empat meter dengan bahan perunggu itu dinilai menarik wisatawan yang tertarik akan pengetahuan sejarah. ‘’Tempatnya jauh, bukan wisata unggulan atau dapat mendatangkan massa dalam jumlah besar,’’ terangnya.

Kendati demikian, bukan berarti monumen Jenderal Besar Soedirman akan dibiarkan begitu saja. Nantinya, pengembangan bakal diarahkan sejalan dengan agrowisata di Nawangan. Kebetulan, kecamatan tersebut terletak di ketinggian perbukitan dengan hawa yang sejuk.

Pun, Nawangan juga sudah dikenal sebagai daerah perkebunan sejumlah komoditas. Mulai dari cengkeh, kelapa, janggelan, kopi, hingga cokelat. ‘’Di tengah destinasi agrowisata di Nawangan nanti, monumen Jenderal Besar Soedirman akan jadi pelengkapnya,’’ katanya.

Keputusan pengembangan monumen Jenderal Besar Soedirman bukan tanpa sebab. Monumen tersebut juga akan diplot sebagai salah satu destinasi wisata utama di wilayah utara Pacitan. Hanya, untuk saat ini, masyarakat masih dapat bebas berkunjung sesuka hati ke destinasi wisata tersebut.

Sebab, belum ada tarif retribusi masuk monumen Jenderal Besar Soedirman. Agaknya, hal itu juga menjadi alasan sejumlah wisatawan jauh-jauh berkunjung. Salah satunya Ardan dan Hartati, wisatawan asal Pacitan. ‘’Ingin mengunjungi karena penasaran. Kebetulan juga, karena tidak dipungut biaya masuk dan tempatnya sejuk,’’ ujar Hartati. (mg4/rif/RAPP002)

Sumber: Radar Madiun

Permalink ke 18 Tempat Paling Ngehits di Pacitan Tahun 2017
Headline, Wisata

18 Tempat Paling Ngehits di Pacitan Tahun 2017

Pacitanku.com, PACITAN – Pesona alam dan wisata di Pacitan tak henti memanjakan mata kita. Dan di tahun 2017 ini, banyak tempat yang bakal menjadi hits. Berikut rinciannya yang bisa menjadi daftar destinasi Anda saat berkunjung ke Pacitan.

1. Pantai Klayar

Klayar via IG Pambudi Yoga Perdana

Obyek wisata pantai yang satu ini menjadi obyek wisata unggulan dan sekaligus Ikon dari Kabupaten Pacitan. Namanya Pantai Klayar. Pantai Klayar berada di Desa Sendang, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Pantai Klayar ini berada sekitar 35 sampai 40 km ke arah barat Kota Pacitan, dan dapat di capai sekitar 90 menit dari kota Pacitan. Dan menurut sejarah yang ada, konon nama Klayar berasal dari guyonan lokal Klayar-kluyur alias jalan-jalan.

Pantai Klayar foto IG @siskaardiyanty

Jalan menuju obyek wisata ini sekarang sudah lebar, sehingga memudahkan wisatawan berkunjung.  Pantai Klayar berorientasi di sisi barat kabupaten Pacitan. Sepanjang lintasan anda akan disuguhi dengan geologi berstruktur tandus di wilayah ini, dan perbukitan kapur mengelilingi dari ujung ke ujung jalan.

2. Goa Gong

Goa Gong Pacitan. (Foto: Instagram Akawimi/Pacitanku)

Keindahan bumi Pacitan tergambar dari mempesonanya ornament di dalam salah satu obyek wisata Goa terkenal di Pacitan, karena setelah obyek wisata Pantai, wisata Goa adalah obyek wisata unggulan dari Pacitan. Salah satunya adalah Goa Gong. Goa Gong terletak di Desa Bomo, Kecamatan Punung, Donorojo, Pacitan, 140 km selatan kota Solo atau 30 km arah Barat Daya Kota Pacitan. Disebut Goa Gong karena didalamnya terdapat sebuah batu yang jika dipukul akan menimbulkan bunyi seperti Gong yang ditabuh. Letaknya tidak jauh dari gerbang masuk Kota Pacitan, petunjuk jalan menuju ke arah Goa Gong juga cukup jelas.

3. Jembatan Grindulu JLS Kota

JLS Kota via IG @iqbaal_malik

Jembatan Grindulu yang terletak di Desa Sirnoboyo, Kecamatan/Kabupaten Pacitan ini kini menjadi primadona tersendiri. Warga setempat menggunakan untuk tempat kongkow sore dan mengabadikan dengan kamera. Dengan latar belakang gapura bertuliskan Kota 1001 Goa, jembatan Grindulu di JLS ini kini menjadi tempat yang hits di tahun 2017 ini.

4. Pantai Soge

soge 2 via @indrarahman12

Indah, itu adalah kata pertama yang paling pas untuk menggambarkan betapa indahnya eksotika lanskap pantai yang terbentang di kawasan Samudra Hindia itu yang berjarak 276 kilometer barat daya Kota Surabaya, ibu kota Jawa Timur. Puluhan wisatawan lokal dari sejumlah daerah, mulai anak-anak hingga orang dewasa, begitu asyik bermain air di muara Sungai Soge yang jernih dengan pasir putihnya.

Sementara, alur muara sungai berkelok mengitari pasir putih yang membentang di tengah hingga jarak radius 150 meter sehingga memberi ruang cukup luas bagi wisatawan untuk bermain apa saja dan menikmati keindahan wahana alami pantai. Sementara debur ombak terus bergulung dan memecah di tepian Pantai Soge, sekelompok wisatawan remaja lain asyik bermain sepak bola plastik atau sejenis futsal hingga puas.




 

soge via @lukieukie

Masih ada satu lagi wahana hiburan yang bisa dinikmati oleh pengunjung selain sekadar berdiri memandangi ombak di tepian pantai, bermain air, ataupun sekadar nongkrong di bawah pohon kelapa sembari menikmati sajian es kelapa muda. Wahana itu adalah ”danau kecil” yang terbentuk karena air laut tidak sepenuhnya tertarik ke tengah laut saat terjadi fenomena air surut, dan terpisah oleh gundukan pasir putih yang membentang di tengah.

5. Batas Ponorogo

Batas ponorogo via IG @buyung_bushido

Di perbatasan Pacitan dengan Ponorogo, tepatnya di Desa Gemaharjo, Kecamatan Tegalombo kini terpampang satu tulisan besar dibawah lereng gunung “Selamat Datang di Kampung Halaman SBY.”

Tentu dengan tulisan tersebut semakin membuat masyarakat Pacitan dan sekitarnya menjadikan kawasan ini cocok untuk kongkow atau sekedar mengabadikan momen bersama keluarga. Apalagi di sepanjang jalur Pacitan-Ponorogo tersebut ada beberapa warung yang bisa membantu Anda untuk betah berlama-lama di batas Ponorogo.

6. Pantai Srau

Pantai Srau

Pantai Srau yang elok

Selain Pantai Klayar, obyek wisata di Pacitan dengan corak yang serupa adalah pantai Srau. Corak yang sama antara kedua pantai ini adalah dari ciri khas pasir putih yang sangat mencolok, juga banyaknya karang yang terlihat sangat indah di kedua pantai ini. Pantai Srau ini terletak di Desa Candi Kecamatan Pringkuku.

Jaraknya sekitar 25 Km ke arah Barat dari pusat kota Pacitan. Jalan menuju pantai Srau cukup berkelok-kelok dan hanya melewati ruas jalan yang kecil dan desa desa yang kebanyak masih berumah gebyok (dari kayu) meskipun sudah ada beberapa rumah yang terbuat dari tembok.

Yang membedakan Klayar dengan Pantai Srau adalah wilayahnya, Klayar memiliki area yang sempit, sedangkan Pantai Srai memiliki area yang sangat luas, dan bahkan tak terbatas. Sehingga dengan area yang sedemikian luas, banyak digunakan untuk area parker mobil dengan tanpa khawatir tidak kebagian tempat. Area parker ini masih dilengkapi dengan pemandangan alami berupa kebun kelapa yang memberikan kenyamanan tersendiri bagi para pengunjung. Pada tahun 2017 ini, Pantai Srau dijamin semakin semarak seiring rencana Pemkab membangun arena jogging.

7. Pantai Teleng Ria

Kawasan wisata Pantai teleng ria. Foto IG @Swastikamey

Pantai yang berjarak 3,5 km dari pusat kota ini memiliki dasar dari pasir dan ombak dengan tipe beach break. Di sini terdapat sebuah life guard tower tempat penjaga pantai mengawasi dan memastikan keselamatan para pengunjung. Pantai Teleng Ria merupakan lautan yang menjorok ke darat atau biasa disebut teluk. Pantai ini juga dalam jajaran Pantai Selatan dengan luas pasir putih sepanjang sekitar 3 km. Pantainya diapit oleh dua dataran tinggi yang merupakan bagian dari pegunungan kapur Selatan yang membujur dari Gunung Kidul ke Trenggalek, menghadap Samudera Indonesia.

8. Alun-alun Pacitan

Alun-alun Pacitan sendiri terbagi menjadi dua sisi, yakni sisi barat dan sisi timur. Alun-alun di sisi barat digunakan untuk olahraga, seperti sepakbola, voli, basket, kemudian kegiatan kebudayaan seperti peringatan hari jadi Pacitan, hingga upacara kemerdekaan.

Sementara di sisi timur, alun-alun Pacitan digunakan sebagai taman hiburan, ada taman membentang di sisi ini, termasuk komplek pedagang kaki lima yang berderet rapi di sepanjang alun-alun sisi timur. Taman di sisi utara alun-alun Pacitan juga akan dibangun hiasan air mancur serta penambahan sarana lampu penerangan.

alun-alun PacitanAlun-alun semakin lengkap dengan adanya ara wifi gratis dan air mancur. Sementara bagi Anda yang suka jogging, kawasan alun-alun menjadi tempat yang cocok untuk berjogging ria.

9. Pantai Kasap

Pantai Kasap foto IG @bary_jupzz

Pantai Kasap ini memang obyek wisata Pantai yang masih sangat alami. Berada di Desa Jlubang, Kecamatan Pringkuku, Pantai Kasap berada di dekat tiga pantai lainnya di kecamatan ini, yakni pantai Watukarung, pantai Srau dan pantai Sruni. Pantai yang berada di sebelah persis pantai Sruni ini memiliki karakteristik khas di pantai Selatan. Yakni karang, kemudian pasir putih, ombak yang deras.

Di saat air surut, kamu bisa duduk – duduk sembari menikmati pemandangan dan angin khas laut selatan di pantai Kasap ini dengan santai. Jika ingin sensasi lebih, kamu bisa naik keatas bukit di rerumputan untuk mengabadikan momen asyik di pantai yang seakan menjadi pantai milikmu sendiri dengan kamera. Namun, suasana paling highly recommended adalah saat sore hari. Dimana pada saat ini, kamu bisa menikmati lembayung senja (sunset) dari atas bukit yang berada diatas pantai.

10. Jembatan Soge

Jembatan Soge via IG @dwi_osmo

Jembatan Soge adalah salah satu ruas jalur lintas selatan setempat yang dibuat futuristik dengan desain konstruksi pipa lengkung di bagian atasnya sehingga menyerupai rangka kubah raksasa. Banyak wisatawan atau remaja lokal yang sengaja berhenti di sekitar jembatan Soge yang panjangnya sekitar 50 meter ini untuk sekadar berfoto atau menikmati pantai dari celah alur muara Sungai Soge.

Jembatan yang memiliki panjang sekitar 100 meter ini sering dijadikan wisatawan sebagai tempat nongkrong dan berfoto ria, atau lebih banyak menikmati pemandangan lepas pantai Puring saat pagi atau senja hari. Dan memang saat – saat yang tepat mengabadikan momen indah di jembatan ini adalah saat senja hari, dan anda bisa menikmati lembayung senja yang elok. Setelah puas berfoto ria, anda pun bisa menikmati makanan kecil dan minuman yang tersaji oleh para pedagang.

11. Pantai Pidakan

Pantai Pidakan Via IG @satlantaspolrespacitan

Satu lagi spot unik wisata Pantai di Pacitan yang tidak boleh Anda lewatkan, yakni sensasi kerikil Pantai Pidakan. Hal yang sangat unik dan yang membedakan pantai ini dengan pantai-pantai lain yang berada di Pacitan adalah rincian dari material Pantainya sekitar 70 persen yaitu bebatuan alam dan sisanya merupakan pasir putih, sehingga disana terdapat banyak batuan -batuan alam yang kesemuanya dalam berbagai variasi bentuk maupun ukuran. Saat berkunjung ke Pantai yang terletak di Desa Jetak, Kecamatan Tulakan ini, Anda akan dimanjakan dengan bebatuan kerikil putih yang bisa digunakan untuk duduk sembari menikmati pantai.

12. Pantai Watukarung

Pantai Watukarung via IG @sefyfputri

Dengan khas dari pantai pasir putih dan ikan banyak, pantai ini memiliki daya tarik tersendiri bagi mereka yang mengunjungi tempat itu. Namanya Pantai Watu Karung. Pantai ini terletak di Desa Watu Karung, di Kecamatan Pringkuku Pacitan, jika jaraknya ditempuh dari pusat kota sekitar Pacitan kurang lebih sekitar 25 sampai 30 KM. Jalan menuju pantai ini cukup sulit untuk dicapai karena hanya melalui jalanan menanjak yang kecil dan berliku jalan dan ke bawah, sehingga perjalanan ke pantai watu karung agak memerlukan kewaspadaan yang tinggi.

Ciri utama dari pantai ini bersih di tengah sempit belahan batu, dan bertemu dengan puluhan perahu nelayan, sementara juga lebih lebar dari Pantai Srau terletak tidak jauh dari pantai ini dan ada juga beberapa pulau kecil di teluk. Watu Karung adalah pantai yang memiliki pasir putih hamper mirip dengan Pantai Srau.

13. Pantai Buyutan

Pantai Buyutan Foto IG @cachachandy

Pacitan juga mempunyai pesona Pantai Pasir putih lainnya yang tak kalah eloknya dengan Pantai Srau, Watukarung, maupun Klayar. Pantai Buyutan adalah nama Pantai itu. Yang menarik dari Pantai ini adalah pasir putihnya yang indah dan bersih serta birunya warna laut yang berpadu dengan semilirnya angin khas pantai.

Tiba di pantai buyutan, kita akan disambut sebuah gubug kecil di bibir tebing yang merupakan jalan masuk ke pantai. Kita harus menuruni jalan tanah yang curam sepanjang 300 meter untuk tiba di bibir pantai buyutan. Pantai buyutan adalah tipe pantai karst landai dengan pasir putih yang membentang sekitar 500 meter.

14. Pantai Ngiroboyo

Pantai Ngiroboyo foto IG @sutoponagasaboy

Salah satu pantai yang harus menjadi list daftar kunjungan anda saat ke Pacitan, terutama bulan November adalah Pantai Ngiroboyo. Pantai yang terletak di Dusun Sambi, Sendang, Donorojo ini menawarkan sejuta pesona keindahan khas Pantai selatan. Selain batu karang yang Nampak terlihat perkasa, ombak besar pantai selatan juga menjadi salah satu yang membuat pantai ini menarik untuk di kunjungi.

Selain itu, pesona keindahan yang tak boleh anda lewatkan lainnya adalah adanya muara sungai Maron yang berujung di Pantai Ngiroboyo ini. Sungai Maron dikenal warga sebagai tempat penyelenggaraan event tahunan festival dayung ngiroboyo. Di tempat inilah ratusan pedayung hebat saling beradu keahlian untuk menjadi juara festival dayung Ngiroboyo.

15. Pinus Kita

Pinus Kita Foto IG @awyu

Tempat wisata alam dengan view Hutan Pinus ini berlokasi di Gemaharjo, Kecamatan Tegalombo, Kabupaten Pacitan. Atau jika ditempuh dari kota Pacitan adalah sekitar 40 Km, tepatnya di kawasan hutan pinus Desa Gemaharjo.

Seperti halnya di wisata Kalibiru Kulonprogo, spot foto yang hit di Desa ada yang menarik di tempat wisata ini, selain tempatnya yang termasuk dataran tinggi yaitu spot foto yang berada di rumah pohon dengan latar belakang pemandangan hutan pinus dan pegunungan di Desa Gemaharjo.




Hutan Pinus ini merupakan hutan wisata yang memiliki suhu yang sejuk dan udara yang segar, serta dapat menikmati landskap dan pemandangan indah Desa Gemaharjo. Jika Anda tertarik menuju ke lokasi ini, jarak dari jalur Pacitan-Ponorogo hanya sekitar 200 meter.

Untuk masuk lokasi wisata hanya Rp 2 ribu. Informasi yang dihimpun, ada beberapa wahana di kawasan wisata yang masih dalam tahap pengembangan ini, diantaranya adalah ayunan, bangku santai, hammock, dan rumah pohon. Ada juga area hutan, dimana Anda bisa berfoto dengan membayar tiket lagi sebesar Rp 2 ribu.

16. Pantai Banyu Tibo

Air Terjun Pantai Banyutibo adalah salah satu-satunya pantai di Jawa yang memiliki ciri khas air terjun yang jatuh ke laut. Pantai yang terletak di Desa Widoro, Kecamatan Donorojo, Pacitan ini memiliki pemandangan khas pantai selatan yang sungguh elok. Meskipun cekungan pantainya lebih kecil dibandingkan pantai lainnya di Pacitan, namun pantai Banyutibo ini menawarkan pesona lain yang tak kalah dahsyat, yakni air terjun pinggir laut yang menakjubkan.

Banyak wisatawan yang saat berkunjung ke Pantai Banyutibo memanfaatkan meomen untuk mandi di bawah air terjun tersebut, yang konon katanya bisa membuat kepala lebih segar dan pusing-pusing di kepala hilang. Hal itu dikarenakan terpaan air terjun Pantai Banyutibo yang bisa memijat kepala Anda.

17. Pantai Karang Bolong

Pantai Karangbolong. (Foto; IG @Pacitanku)

Pantai Karang Bolong masih berada di Desa Sendang, Donorojo Pacitan, atau jika menuju ke Pantai Klayar, letak pantai Karang Bolong yang ada di sebelah barat. Jalan masuknya tepat di depan pos retribusi pantai Klayar. Namun hingga saat ini, aksesnya masih alami dan cukup sulit apalagi dalam kondisi jalan basah. Sepertinya jalan yang masih dari tanah ini terbentuk karena kebiasaan kendaraan melewati jalur ini.

Panorama khas Pantai Karang Bolong adalah kita bisa menikmati keindahan pantai selatan dengan tebing-tebing hijau yang gagah dengan tebing yang menjorok kelaut yang berada di tepi Barat pantai ini. Tak jauh beda dengan pantai Uluwatu yang ada di Bali.

18. Taman Penceng

taman penceng via IG @ahmadnurprabowo

Satu lagi tempat yang hits tahun 2017 di Pacitan adalah taman Penceng yang terletak di pusat kota Pacitan. Pemkab yang membuat tulisan besar berwarna bertuliskan taman Penceng menjadikan taman yang baru dibikin ini menjadi tempat kongkow yang menarik. Apalagi di sekitar kawasan tersebut ada pusat kuliner, pusat perbelanjaan dan pertokoan yang menjadikan kawasan ini semakin semarak. (DPPP001)

 

Permalink ke Unik, Dosen Unnes ini Gelar Ujian Doktoral di Tepi Pantai Srau Pacitan
Budaya, Headline

Unik, Dosen Unnes ini Gelar Ujian Doktoral di Tepi Pantai Srau Pacitan

Aksi para penari LKP Pradapa Loka Bhakti menari tari Ruung Sarung di Mapfest Malaysia 2015. (Foto: Nazir Azhari)

Deasylina da Ary (tengah) saat menari tari Ruung Sarung di Mapfest Malaysia 2015. (Foto: Nazir Azhari)

Pacitanku.com, PACITAN – Deasylina da Ary, Dosen Seni jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Semarang (Unnes) segera merampungkan program doktoralnya di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta pada Sabtu (21/1/2017). Yang cukup menarik, agenda ujian doktoral terbuka tersebut akan digelar di tepi Pantai Srau, Kecamatan Pringkuku, Kabupaten Pacitan.

Dengan mengusung tajuk ‘Pacitanian, Education of Arts’ atau model pendidikan seni berbasis lingkungan, Lina, sapaan akrab Deasylina da Ary saat dikonfirmasi pada Kamis (19/1/2017) mengatakan bahwa isi dari karya ini adalah pelaksanaan pendidikan yang menimbulkan rasa ketertarikan terhadap teknologi dan memahami lingkungan Pacitan.

“Hasilnya adalah teknologi yang membawa kebaruan di Pacitan, jika secara sadar dimasukkan ke dalam pendidikan seni akan memperkaya imajinasi anak, sehingga input imajinasi anak langsung dari lingkungan hidupnya,”katanya.

Menurut Lina, karya seni “Pacitanian” adalah sebuah persilangan antara seni, pendidikan dan ilmu pengetahuan. “Karya ini mengangkat potensi yang dimiliki Pacitan, bukan hanya potensi keindahan alamnya, akan tetapi juga potensi prasejarah yang dimilikinya dalam bentuk karya seni pertunjukan,”kata perempuan yang belajar menari sejak usia lima tahun ini.




Lebih lanjut, Lina mengatakan bahwa karya seni “Pacitanian” dengan materi latihan ketubuhan di lingkungan alam Pacitan ini dapat menyeimbangkan input emosional anak yang hadir dari cerita mitos dengan input intelektualitas dyang hadir dari data dan fakta tentang sejarah manusia purba, serta kepkaan ketubuhan yang berelasi dengan lingkungan alam Pacitan.

“Kondisi alam Pacitan yang lebih spesifik dengan gua, sungai dan pantai dapat memberikan tantangan kepada anak-anak untuk meningkatkan kemampuan dan sensibilitas motoriknya secara maksimal, batuan licin, arus sungai yang deras dan ombak yang kuat melatih tubuh anak, sehingga gerakan ini dapat mempengaruhi pembentukan syaraf otak anak,”jelasnya lagi.

Dalam agenda ujian doktoral tersebut, kata Lina, akan digelar di tiga tempat berbeda selama satu hari, yakni Sungai Janglot di Dusun Janglot, Desa Pelem Pringkuku, Gua Tabuhan di Desa Wareng Kecamatan Punung dan berakhir di Pantai Srau sekaligus pertunjukan seni “Pacitanian” tersebut.

“Di Sungai Janglot, latihan ketubuhan anak-anak mengeksplorasi lingkungan untuk melatih kemampuan motorik, di Gua Tabuhan, gundukan batu, bunyi stalaktit hingga ruangan gua yang gelap dan dingin sebagai arena permainan yang memberikan rangsangan imajinasi kepada anak-anak tentang aktivitas dan pembagian ruang manusia prasejarah, terakhir di pantai Srau, anak dapat menikmati perbedaan cakrawala langit di kala sunset dan sunrise dalam sehari sekaligus dan berbagai permainan dalam kegembiraan api unggun,”papar alumnus Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini.

Dalam setiap sesi tersebut, anak-anak yang merupakan anak usia Sekolah Dasar (SD) akan menampilkan berbagai pertunjukan seni yang diolah secara apik oleh Lina yang juga sebagai seorang koreografer dan penari tersebut.

“Berbagai pertunjukan tersebut diantaranya eksplorasi sungai, permainan kodok, permainan suara saut-menyaut, permainan sriti, permainan keong, kemudian perayaan Sunset, bebakaran ikan dan diakhiri dengan api unggun serta ujian terbuka di tepi Pantai Srau,”pungkasnya. (RAPP002)

Permalink ke Bupati Berharap Kualitas Pelayanan Puskesmas Bubakan Meningkat
Headline, Kesehatan

Bupati Berharap Kualitas Pelayanan Puskesmas Bubakan Meningkat

Bupati Indartato menyerahkan kunci mobil Pusling kepada ketua Puskesmas di Pacitan. (Foto: pekathik Kadipaten/Humas Pemkab)

Bupati Indartato menyerahkan kunci mobil Pusling kepada ketua Puskesmas di Pacitan. (Foto: pekathik Kadipaten/Humas Pemkab)

Pacitanku.com, PACITAN – Bupati Pacitan Drs H Indartato MM berharap kualitas pelayanan di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Bubakan, Kecamatan Tulakan terus meningkat seiring adanya peningkatan kualitas fisik berupa gedung baru Puskesmas tersebut.

“Puskesmas merupakan garda terdepan pelayanan kesehatan masyarakat, sudah semestinya memiliki fasilitas dan pelayanan yang baik,”katanya saat mengunjungi bangunan baru Puskesmas Bubakan Tulakan, Pacitan Rabu (18/1/2017) kemarin, dilansir laman Pemkab Pacitan.

Lebih lanjut, Indartato menyampaikan bahwa jika fasilitas dan pelayanan kesehatan baik, masyarakatnya menjadi sehat dan pintar. “Ketika masyarakat pintar dan kondisinya sehat, maka akan bisa bekerja dengan nyaman, muaranya, hidup mereka sejahtera,”ungkapnya.




Sementara, Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Puskesmas Tulakan Rini Endrawati mengatakan bahwa sebenarnya di puskesmas yang dia pimpin saat ini masih ada beberapa kekurangan, diantaranya ruangan menyusui, arena bermain anak dan tempat arsip. “Tapi setidaknya, dengan peralatan dan fasilitas yang sudah dimiliki, dapat meningkatkan pelayanan lebih maksimal,”ujarnya.

Sebagai informasi, Puskesmas yang sedang proses akreditasi ini menjadi salah satu pusat layanan kesehatan di wilayah kecamatan Tulakan dengan fasilitas cukup memadai. Diantaranya dengan adanya laboratorium, rekam jantung dan peralatan pendukung medis lainnya.

Puskesmas yang didampingi Kinerja ADB mulai tahun 2016 ini sudah memiliki banyak perubahan. Semula, kondisi bangunannya kurang layak, sekarang jauh lebih baik. Pusat layanan kesehatan yang pernah mendapatkan penghargaan berkat inovasi hamil pintar dan intel HIV AIDS ini baru saja selesai direnovasi dengan anggaran Rp 1,1 miliar untuk bangunan seluas 17×18 Meter. (RAPP002)