Kategori: Pendidikan

Popular

Berita Terbaru

Permalink ke Selamat, Wildan MAN Pacitan Lolos Jadi Anggota Paskibraka Nasional 2017
Headline, Pendidikan

Selamat, Wildan MAN Pacitan Lolos Jadi Anggota Paskibraka Nasional 2017

Wildan anggota paskibraka nasional dari Pacitan.

Pacitanku.com, PACITAN – Muhammad Wildan Arsyad M, siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Pacitan akan tampil menjadi salah satu anggota Pasukan Pengibar Bendera (PASKIBRAKA) tingkat nasional tahun 2017.

Sebelumnya, dua peserta dari Kabupaten Pacitan dinyatakan lolos dalam seleksi calon Pasukan Pengibar Bendera (PASKIBRAKA) tingkat Jawa Timur di Surabaya, yakni Wildan dan Nanda Putri Maharani dari SMAN 2 Pacitan.

Namun dalam seleksi tingkat nasional, Wildan yang lolos. Wildan akan bersama Fariza Putri Salsabila dari Kota Blitar mewakili Jatim menjadi anggota Paskibraka nasional 2017.

“Iya betul sekali Wildan lolos menjadi paskibraka nasional 2017 mewakili provinsi Jatim,”kata admin Paskibraka Republik Indonesia saat dihubungi Pacitanku.com pada Rabu (7/6/2017).




Wildan pun bergabung bersama 68 orang yang lolos. Wildan sendiri telah melewati banyak seleksi. Dimulai dari seleksi Kesehatan, Psikotes, Kesamaptaan, PBB, dan Parade. Ke-68 siswa dan siswi dari 34 provinsi di Indonesia yang lolos ini akan menjalankan tugas mengibarkan dan menurunkan sang saka merah putih di Istana Negara pada 17 Agustus mendatang.

Diketahui Pemkab Pacitan telah mengirimkan 10 calon Paskibraka ke tingkat Jatim. Dalam pesannya kepada para Paskibraka kontingen dari Pacitan, Bupati Indartato mengatakan agar para peserta semangat menjalani proses tersebut.

Apalagi, kata Indartato, proses seleksi bakal berlangsung dengan tidak mudah karena mereka bakal bersaing dengan kontingen dari Kota/Kabupaten lain di Jawa Timur.”Tetap semangat, meski dengan keterbatasan yang kita miliki,”kata Indartato beberapa waktu lalu.

Bupati juga mengingatkan untuk tidak lupa berdoa dalam rangka meraih hasil terbaik.”Jangan lupa tetap berdoa untuk masa depan yang lebih baik,”katanya.

 

Permalink ke Sebagian Guru di Pacitan Enggan Terima Gaji Lewat Rekening
Headline, Pendidikan

Sebagian Guru di Pacitan Enggan Terima Gaji Lewat Rekening

Pacitanku.com, PACITAN – Beralihnya sistem pembayaran gaji guru di Kabupaten Pacitan lamban.  Sejak digulirkan awal tahun ini, progres alih mekanisme gaji guru sampai saat ini tertahan di angka 50 persen.

Padahal, tahun 2017 ini, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) pasang target 80 persen guru sudah menerima gaji melalui rekening bank. Tidak lagi menerima uang cash dalam amplop seperti selama ini. ‘’Progresnya masih stagnan sejak dua bulan terakhir, karena ada guru yang memang enggan,’’ ungkap Kepala Bidang Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Dikbud, Anna Sri Mulyati, baru-baru ini.

Data yang dimiliki Anna, per bulan Mei, baru ada 2.800 guru SD dan 4.600 guru SMP yang sudah menerima gaji  via rekening bank. Itu pun, baru dari tiga kecamatan. Diantaranya Pacitan, Arjosari, dan Nawangan.




Menurut Anna, sejumlah guru kurang setuju pembayaran via transfer bank itu karena masalah teknis. Keterjangkauan terhadap ATM jadi salah satu alasan mereka. ‘’Tetapi, alasan itu juga bisa ditepis. Nyatanya guru dari Nawangan pun banyak yang terima gaji melalui rekening. ATM itu kini ada di setiap pusat kecamatan,’’ jelasnya.

Adanya tarik ulur terkait alih mekanisme penggajian itu, menurut Anna, merupakan hal  biasa. Dia tidak terlalu mempersoalkannya toh kebijakan tersebut tidak bersifat mengikat dan memaksa. ‘’Tarik ulur pendapat itu hal yang wajar. Kami menghargai segala pendapat para guru,’’ kata Anna.

Penggajian lewat rekening bank, menurut Anna, bertujuan membudayakan menabung dikalangan guru Pacitan.  Kebijakan itu diharapkan bisa menekan perilaku konsumtif di kalangan guru. ‘’Karena kebijakan itu juga demi kebaikan mereka (guru) sendiri, kami tetap optimis tahun ini bisa mencapai 80 persen,’’ terangnya.

Sumber: Radar Madiun Jawa Pos

 

Permalink ke Tahun Ajaran Baru, Setiap Hari Siswa Menyanyikan Lagu Indonesia Raya di Sekolah
Headline, Pendidikan

Tahun Ajaran Baru, Setiap Hari Siswa Menyanyikan Lagu Indonesia Raya di Sekolah

Indartato saat mengunjungi siswa kelas inspirasi. (Foto: Humas Pemkab Pacitan)

Pacitanku.com, SOLO – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhajir Effendy mengatakan mulai ajaran baru tahun ini para siswa akan menyanyikan lagu Indonesia Raya setiap hari di sekolah.

“Siswa akan menyanyikan Indonesia Raya setiap hari sebelum pelajaran dimulai di kelasnya, dan mereka semua akan memimpin secara bergiliran menjadi dirigennya,” katanya saat kunjungan kerja ke perusahaan rekaman milik negara, Lokananta, di Solo, Sabtu.

Ia mengatakan ada program dari Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendibud untuk memproduksi master CD lagu-lagu nasional, dimulai dengan lagu Indonesia Raya tiga stanza atau bait yang nantinya dikirim ke instansi-instasi, termasuk sekolah-sekolah, untuk dijadikan pedoman atau panduan penyelenggaraan di sekolah.




Hal tersebut, kata Mendikbud, juga menindaklanjuti surat edaran Kemendikbud, di mana semua sekolah dari SD hingga SMA/SMK untuk menyanyikan Indonesia Raya di setiap sekolah, sedangkan siswa memimpin secara bergiliran.

“Kami berharap para siswa setelah tamat dari sekolah semua anak pasti sudah mempunyai pengalaman memimpin lagi Indonesia Raya,” katanya.

Ia mengatakan rencana ada tiga stansa, tetapi awalnya satu stansa terlebih dahulu akan dimulai ajaran baru, Agustus tahun ini.

Pihaknya akan mengecek ke sekolah-sekolah apakah hal itu sudah dijalankan atau belum.

“Saya kira cara kita untuk lebih mematapkan rasa nasionalisme pemahaman terhadap Pancasila itu, jangan banyak melarang tetapi ‘di-counter’ dengan aktivitas yang lebih produkstif akhirnya dapat menghilangkan atau mengurangi kreativitas jiwa yang tidak nasionalisme pada siswa,” katanya.

Ia mengatakan menyanyikan lagu Indonesia Raya akan berlaku untuk semua sekolah di Indonesia. Jumlah sekolah di Indonesia sekitar 220 ribu sekolah dengan 50 juta siswa. Kebijakan itu akan bertahap untuk semua sekolah.

Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid mengatakan perekaman lagu kebangsaan Indonesia Raya sebenarnya sudah lama, pada 28 Oktober 2016, dengan orkestra Bahana Nusantara, salah satu program dari Mendikbud.

Mendibud, katanya, kemudian ingin mengembalikan atau memperkuat kehadiran kebudayaan di sekolah, dengan momentumnya saat itu tepat, awalnya pada 28 Oktober membuat acara pertama merayakan Indonesia Raya.




Namun, kata dia, sekarang ingin memperkenalkan kembali Indonesia Raya versi lengkap tiga stanza, dengan sedikit pembahasan makna lagunya, serta keinginan dengan perusahaan rekaman milik negara, Lokananta, karena pertama kali memproduksinya sehingga ada sejarahnya.

“Kita berpikir rekaman yang sering kita dengar di dalam upacara-upacara, baik di kantor, sekolah, atau tempat lain, menggunakan rekaman cukup lama dari orkestra di Melbourne. Kita kepingin buatan anak Indonesia untuk memainkan lagu ini, karena buat kita jelas beda,” katanya.

Ia mengatakan lagu Indonesia Raya dihadirkan untuk dibagikan ke sekolah-sekolah.

Ide merekam kembali lagu itu, ujarnya, digunakan di sekolah-sekolah dengan mulai pada 17 Agustus mendatang.

Selain itu, pihaknya berharap para siswa akan diberikan sosialisasi bahwa lagi Indonesia Raya dibuat di Lokananta yang memainkan anak-anak dari Bahana Nusantara, didikan Mendikbud.

“Siswa agar mereka mengetahui cara prosesnya,” katanya.

Hilmar Farid mengatakan Mendikbud mempunyai ide menarik tentang hal itu.

Jika anak-anak dikenakan lagu itu secara konsisten selama 12 tahun mereka bersekolah dan bergantian memimpin di depan kelas setiap hari, katanya, hal itu akan berdampak luar biasa.

“Keberanian anak-anak akan muncul karena mereka harus tampil ke depan secara bergantian saya kira ini, akan mendorong pendidikan karakter anak lebih sakti dibanding membaca buku-buku itu,” katanya.

Dia menjelaskan kopi CD akan dilakukan secara bertahap, pertama terbatas untuk 1.000 kecamatan, selain itu dibuka website khusus lagu Indonesia Raya sehingga semua orang bisa mengaksesnya.

Dia mengatakan lagu Indonesia Raya pertama kali dibuat pada 1928, dengan notasinya memang pada waktu itu yang populer musik keroncong, sehingga nuasanya ada di rekaman-rekaman yang pertama.

Versi baru 1950-an dibuat seorang kompenis luar negeri yang digunakan hingga sekarang. Komponis Indonesia Adhie M.S. membuat itu, pada 1998 yang sekarang direkam kembali.

“Kami berharap justru ingin untuk memperlihatkan kepada anak-anak bahwa Indonesia luar biasa jika menghayati dari syair-syairnya sangat luar biasa,” kata Farid. (RAPP002/Ant)

Permalink ke Pemkab Pacitan akan Adopsi Penyelanggaraan Parade Surya Senja Pemprov Jatim
Budaya, Headline, Pendidikan

Pemkab Pacitan akan Adopsi Penyelanggaraan Parade Surya Senja Pemprov Jatim

PSS. Wabup Yudi Sumbogo mendampingi tim dalampenampilan PSS di Surabaya, Rabu.

Pacitanku.com, SURABAYA – Pemerintah Kabupaten Pacitan akan mengadopsi konsep penyelenggaraan Parade Surya Senja (PSS) yang dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur di Grahadi Surabaya, yang digelar setiap tanggal 17.

Dalam kegiatan PSS tersebut, bertindak selaku Inspektur Upacara adalah Sutartib Kasat Pol PPJatim dan bertugas sebagai Komandan Upacara adalah Mohammad Afif Dermawan yang merupakan anggota Menwa Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia Surabaya.

Wakil Bupati Pacitan, Yudi Sumbogo dalam keterangannya pada Rabu (17/5/2017) di Surabaya mengatakan bahwa kegiatan PSS ini sangat bagus. Apalagi, katanya, para peserta yang berasal dari daerah lain di luar Kota Surabaya termasuk DB Tirta Husada dari SMPN Arjosari Pacitan.




Dirinya juga akan mencontoh dan mempelajari manajemen perhelatan yang kental dengan nilai nilai semangat nasionalisme patriotisme ini. “Saya bangga dan mengapresiasi acara ini serta akan terinspirasi untuk diadakan di Kabupaten Pacitan setiap tanggal 17,”katanya.

Dia mengatakan bahwa kegiatan ini menjadi wadah untuk berkreasi terutama drumband dan seni budaya bagi generasi muda dari pelajar sampai mahasiswa. Menyinggung pembinaan cinta tanah air dari PSS dan Upacara Penurunan Bendera bagi anak bangsa terutama di Jawa Timur.

Dirinya berharap, generasi muda saat ini dapat lebih menghayati lebih dalam makna semangat nasionalisme persatuan dan kesatuan bangsa. “Justru saya berharap di jaman globalisasi ini generasi muda harus lebih tangguh dan punya sikap jati diri yang tinggi sebagai bangsa Indonesia ,”tukas mantan legislator Partai Demokrat ini.

Pria yang akrab disapa Mbogo ini berharap generasi muda Pacitan dapat membendung arus globalisasi dunia terutama budaya asing yang bertolak belakang dengan budaya bangsa Indonesia yang lebih adiluhung.

Sementara, terkait ikon Pacitan Kota 1001 Goa, Mbogo mengatakan potensi keindahan alam menjadi andalan daerah tujuan wisata baik turis domestik maupun mancanegara, tercatat panjang pantai 71 km berada di wilayah 6 kecamatan.

“1001 Goa memang di Pacitan terdapat banyak goa  bahkan sudah terkenal di Asia Tenggara termasuk goa Luweng jaran  berada di barat Pacitan, yang punya luas 17 km bahkan kalau ingin turun harus dengan rafting, ini yang akan kita garap sebagai destinasi andalan,”jelasnya.

Dalam PSS tersebut digelar berbagai atraksi, seperti drumband dan menari, dari DB Legion Christy TK Don Bosco Surabaya, DB Gita Sepuluh November TK 10 November Kampus ITS Surabaya, DB Wijaya Kusuma TK DWP Kebonsari Sidoarjo, DB Gita Jenaka TAK YKK 1 Bangkalan, DB Gema Masyithoh RA Masyithoh Pandaan Pasuruan.

Kemudian juga Tari Incling Jangget SDN Kedurus I Surabaya, DB Tirta Husada SMPN Arjosari Pacitan dan Drum Corp Laskar Garuda Pemkab Probolinggo. (Kominfo)

Permalink ke Sekda Pacitan: Penulisan Karya Ilmiah Masih Jadi Momok Bagi Guru
Headline, Pendidikan

Sekda Pacitan: Penulisan Karya Ilmiah Masih Jadi Momok Bagi Guru

Pacitanku.com, PACITAN – Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Pacitan Suko Wiyono menyebut bahwa penulisan karya tulis ilmiah masih menjadi momok dan hal yang menakutkan, terutama bagi para guru dan tenaga fungsional.

Atas dasar itu, pihaknya melalui Dinas Pendidikan (Dindik) Pacitan melatih penulisan karya ilmiah bagi guru pada Senin (8/5/2017) kemarin di Gedung Karya Dharma Pacitan. “Kegiatan ini sangat strategis karena selama ini penulisan karya ilmiah masih menjadi sesuatu yang sangat menakutkan bagi guru dan tenaga fungsional lainya,”katanya.

Dalam pelatihan tersebut, sebanyak 60 orang guru SMP dan 100 orang guru SD mengikuti workshop penulisan karya ilmiah. Workshop dihadiri Kepala UPT TK dan SD, Pengawas SD, Penilik dan Ketua MKKS SMP se-Kabupaten Pacitan.




Menurut Suko, penilaian itu bukan tanpa alasan. Masih ada guru golongan IV/a ke atas berhenti karena tidak memiliki kemauan menyusun publikasi ilmiah atau karya inovatif.

“Bahkan disinyalir 70 persen karya ilmiah yang diajukan ke tim angka kredit pusat bukan karya yang bersangkutan sendiri,”tandasnya lagi.

Dia berharap dengan workshop ini para guru akan termotivasi melaksanakan dan membuat sendiri Publikasi ilmiah serta karya inovasi secara pribadi.

Hadir sebagai narasumber adalah Guru Besar Universitas Negeri Semarang Sudijono Sastroatmodjo, Agus Wahyudin, AT. Sugeng Priyanto, Sucipto Hadi dan Drs. Suhadi.  (Pemkab/RAPPP002)

Permalink ke Guru dan Murid Binaan YPA-MDR Pacitan Siap Terapkan Matematika Metode Gasing
Headline, Pendidikan

Guru dan Murid Binaan YPA-MDR Pacitan Siap Terapkan Matematika Metode Gasing

Ketua Pengurus Arietta Adrianti (tengah kiri) didampingi oleh Prof. Yohanes Surya (tengah kanan) bersama pengurus YPA-MDR serta 18 Guru dan 18 Siswa binaan YPA-MDR yang merupakan peserta Program Gasing dan telah resmi lulus dalam Acara Penutupan Program “Pelatihan Matematika Metode Gasing” Batch 1, di Hotel Amaris Tangerang City (5/5)

Pacitanku.com, TANGERANG – Setelah dua bulan menimba ilmu Matematika melalui “Pelatihan Matematika Metode Gasing”  (Gampang, Asik, dan Menyenangkan) Batch 1, Guru dan Murid binaan Yayasan Pendidikan Astra – Michael D.Ruslim (YPA-MDR) Tingkat SD telah resmi lulus dari pelatihan yang diselenggarakan oleh Astra melalui YPA-MDR, bekerjasama dengan Prof. Yohanes Surya pada bulan Maret dan April 2017.

Kabupaten Pacitan mengirimkan dua orang siswi keterwakilan siswa yang rata rata dan dua guru mengikuti program pelatihan yang diselenggarakan Yayasan Pendidikan Astra Michael D Ruslim (YPA-MDR). Pelatihan berlangsung dua bulan di Jakarta.

Dua murid tersebut masing-masing Aprilia Indah Ayu Saputri asal SDN Widoro II dan Defina Hidayatul Ilmi, siswi Sendang III Kecamatan Donorojo. Sedangkan kedua guru yang ikut menyertai adalah Wiwin Widiawati dan Evi Nurmitayani.




Acara Penutupan Pelatihan Matematika Metode Gasing Batch 1 diselenggarakan di Hotel Amaris Tangerang City, pada tanggal 5 Mei 2017. Acara ini dihadiri oleh Pengurus YPA-MDR, 18 Peserta Guru SD dan 18 Siswa SD Binaan tersebut diawali dengan Laporan Pelaksanaan Pelatihan dan Pembinaan Gasing oleh Aguslina Angkasa, Ketua Pelaksana Matematika Metode Gasing Batch 1.

Pelatihan Matematika Metode Gasing Batch 1 ini merupakan salah satu strategi YPA-MDR untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia, terutama di daerah pra sejahtera. Dalam program ini, masing-masing guru membawa satu murid yang memiliki kelemahan dalam bidang studi matematika dari sekolah tempatnya mengajar sebagai pendamping guru untuk melakukan pelatihan di Program  Gasing.

“Awalnya kami ragu dengan diri kami sendiri, apakah kami akan bisa menguasai Matematika hanya dengan waktu 2 bulan saja. Namun sebagai peserta yang sudah diberikan kesempatan yang luar biasa oleh Astra, kami sangat menekuni Pelatihan Matematika Metode Gasing ini. Hasil yang kami dapatkan betul-betul luar biasa, tidak ada lagi kata susah dalam Matematika, sesuai dengan nama Gasing sendiri, Matematika itu ternyata Gampang, Asyik dan Menyenangkan,” ujar Rohmawati, perwakilan Peserta Gasing yang merupakan Guru SDN Tengklik, Kec. Gedangsari, Kab. Gunungkidul.

Selanjutnya, Pelatihan Matematika Metode Gasing Batch 1 secara resmi ditutup dengan prosesi serah terima perwakilan guru dan siswa peserta secara simbolis dari Prof. Yohanes Surya kepada Ketua Pengurus YPA-MDR, Arietta Adrianti. Harapannya program ini dapat mendongkrak prestasi guru dan siswa, terutama dalam bidang ilmu pasti yakni matematika untuk tingkat Sekolah Dasar sehingga mereka mampu berinovasi dan bersaing di tingkat Kabupaten, Provinsi bahkan di tingkat Nasional.

“Peserta Gasing Batch 1 ini terdiri dari 18 Guru SD Binaan YPA-MDR di Bogor, Gunungkidul, Bantul, Lampung Selatan, Pacitan, dan Kab. Kupang, yang akan menjadi Agen Perubahan di daerah asalnya dan selanjutnya guru dapat mengimplementasikan ilmu yang sudah diperoleh selama 2 bulan untuk meningkatkan kualitas murid,” tutur Arietta Adrianti, Ketua Pengurus YPA-MDR, dalam sambutannya.

Para peserta pun unjuk kebolehan hasil dari Pelatihan Matematika Metode Gasing Batch 1 ini. Guru dan siswa dengan mudah dan cepat menjawab soal matematika yang terlihat sulit, bahkan tanpa menghitung dengan jari atau mengerjakannya di kertas.

“Hasil yang didapatkan oleh Guru dari pelatihan ini diharapkan mereka mampu menerapkan dan mengembangkan ilmu yang telah diperoleh tersebut di sekolahnya maupun di sekolah-sekolah lain di daerah binaan Astra. Ini adalah kewajiban dari guru-guru utusan setelah selesai pelatihan yakni untuk melakukan pengimbasan Metode Matematika Gasing,” ujar Kristanto, Sekretaris Pengurus YPA-MDR, saat prosesi pelepasan Peserta Gasing.

Terkait program pengimbasan di sekolah dan wilayah binaan YPA-MDR, para Guru akan menjadi Master Trainer di wilayahnya dan untuk itu pihak Dinas Pendidikan bekerjasama dengan YPA-MDR menerapkan program pengimbasan ke sekolah-sekolah non binaan Astra.

Dengan demikian, Program Gasing yang telah diselenggarakan oleh YPA-MDR diharapkan dapat menciptakan Sekolah Unggul sekaligus membentuk generasi unggul di sekolah-sekolah di masing-masing daerah sehingga cita-cita Astra yakni “Sejahtera bersama Bangsa” bisa terwujud.