Tag: Indonesia

Permalink ke GMNI Pacitan Nilai Jokowi-JK Belum Optimal Wujudkan Nawacita
Headline, Nusantara

GMNI Pacitan Nilai Jokowi-JK Belum Optimal Wujudkan Nawacita

JokowiPacitanku.com, PACITAN – Mahasiswa dari Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)  Kabupaten Pacitan menilai dua tahun berjalannya pemerintahan Presiden Joko Widodo-Jusuf Kalla pada Kamis (20/10/2016) hari ini dinilai belum mengoptimalkan mewujudkan cita-cita trisakti Bung Karno seperti yang tertuang dalam janji kampanye Jokowi-JK dalam nawacita.

“Nawacita yang merupakan penjabaran dari trisakti merupakan harapan besar bagi rakyat indonesia, namun faktanya konsepsi trisakti dalam nawacita tersebut sampai dua tahun berjalannya pemerintahan ini masih belum tercapai secara maksimal sebagaimana yang dicita-citakan,”kata ketua DPC GMNI Pacitan, Helmy Yusuf Evendi dalam siaran pers yang diterima Pacitanku.com, Kamis.

Menurut Helmy, salah satu faktor belum maksimalnya kinerja pemerintahan Jokowi-Jk selama dua tahun ini adalah implementasi nawacita yang sampai saat ini dinilai belum dilaksanakan dengan baik.




“Implementasi nawacita dan paket kebijakan tersebut haruslah dilaksanakan sampai tingkat daerah sehingga sinergisitas nasional dapat terjalin,”katanya.

Atas kondisi itu, Helmy menyampaikan bahwa GMNI Pacitan meminta Pemerintah Kabupaten Pacitan untuk tetap melaksanakan nawacita yang bernafaskan trisakti sebagai upaya untuk membangun Pacitan yang lebih baik dan sebagai wujud peran serta dalam mewujudkan cita-cita nasional.

Sebagaimana diketahui, pada dua tahun pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla diwarnai berbagai penilaian atas kinerja Kabinet Kerja. Penilaian ini membuat popularitas pemerintah naik-turun. Akibat tekanan yang muncul, pengambil kebijakan cenderung melahirkan keputusan yang responsif dan reaksional demi menjaga popularitas, tanpa basis yang kuat.

Bahkan, kebijakan-kebijakan di bidang ekonomi menimbulkan kontroversi, seperti mencabut subsidi BBM. Banyak kalangan menilai pemerintahan Jokowi belum mampu atasi gejolak perlambatan ekonomi global. (RAPP002)

Permalink ke Menpar: Pariwisata akan Jadi Sektor Penyumbang Devisa Terbesar
Headline, Nusantara

Menpar: Pariwisata akan Jadi Sektor Penyumbang Devisa Terbesar

Pacitanku.com, JAKARTA – Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan bahwa sektor pariwisata akan mnjadi sektor penghasil devisa terbesar bagi negara. Walaupun kini pariwisata masih di bawah migas, batu bara dan minyak kelapa sawit, ke depan pariwisata akan jadi yang nomor satu.

“Nomor satu masih minyak dan gas bumi, lalu batu bara dan minyak kelapa sawit baru pariwisata. Tapi angka itu turun semua kecuali pariwisata,” ujarnya dalam acara Press Conference Bali & Beyond Travel Fair 2016 di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta, Selasa (10/5/2016) malam.

Arief kemudian menjelaskan, devisa migas turun dari USD 30 miliar ke USD 18 miliar. Batu bara dari USD 20 miliar ke USD 16 miliar. Kelapa sawit dari USD 17 miliar ke USD 15 miliar. Sedangkan pariwisata, naik dari USD 11 miliar ke USD 12 miliar.”Perlu anggaran 2 persen dari devisa yang diproyeksikan. Kalau mau devisa USD 10 miliar, maka 2 persennya yaitu USD 200 juta atau sekitar Rp 2,6 triliun,” ujarnya.

Maka dari itu, anggaran yang diberikan pemerintah pada sektor pariwisata harus naik tiap tahun. Hal tersebut demi terwujudnya pulaa devisa yang terus naik tiap tahun. Anggaran tersebut, nantinya akan dipakai untuk lebih menggencarkan lagi promosi dan pengembangan destinasi pariwisata Indonesia.”Cara mudah dan murah untuk menghasilkan devisa adalah pariwisata. Pariwisata akan jadi penghasil devisa terbesar di tahun 2019,” tandasnya.


Dirinya pun punya jurus untuk memajukan pariwisata Indonesia yakni terkait pemasaran, pengembangan dan SDM pariwisata. Arief menegaskan, ketiga hal tersebut dilakukan secara bersamaan atau pararel. Pemasaran atau promosi berjalan, pengembanan destinasinya juga ikut berjalan. Lalu kelembagaan, yakni sumber daya manusia (SDM) terkait di bidang pariwisata pun berjalan.

Ia memberikan contoh, pertama kalinya Indonesia memiliki ’10 Bali baru’. Yang dimaksud adalah, 10 destinasi prioritas pariwisata Indonesia selain Bali, yang sedang digodok untuk bisa seterkenal dan sehebat Bali yang sudah punya nama di dunia.”Itu saja yang komitmen adalah Presiden. Kemungkinan besar akan tercapai,” tandas Arief.

Untuk pemasaran, Kementerian Pariwisata sudah turut serta dalam berbagai ajang pameran wisata di dunia. Sudah juga bekerjasama dengan Google, agar destinasi-destinasi pariwisata Indonesia makin menggaung namanya. “Kemudian SDM dibagi 3, yaitu sertifikasi profesi pariwisata sebanyak 32 profesi, sertifikasi masyarakat di 10 destinasi prioritas dan sertifikasi unit usaha hotel dan restoran,” tutupnya. (DPPP001)

Permalink ke Indonesia Berpotensi Alami Fenomena Cuaca La Nina
Bencana Alam, Nusantara

Indonesia Berpotensi Alami Fenomena Cuaca La Nina

Pacitanku.com, JAKARTA – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan Indonesia berpotensi mengalami fenomena cuaca La Nina menjelang Juli hingga September 2016 setelah El Nino dalam kondisi netral pada April.

“Hal yang perlu diwaspadai setelah kondisi netral pada Maret dan April tidak berarti kondisi menjadi berhenti netral. Ada kemungkinan menyimpang ke arah sebaliknya sehingga ada potensi terjadi La Nina,” kata Kepala Pusat Meteorologi Publik Mulyono Rahadi Prabowo pada konferensi pers di Gedung BMKG Jakarta, Jumat malam.

Prabowo mengatakan kondisi ini masih dalam tahap monitoring yang berkaca pada kondisi El Nino pada 1997 kemudian diikuti oleh La Nina pada 1998. Ia menjelaskan beberapa hari lalu curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia tidak terlalu signifikan karena pengaruh El Nino yang cukup kuat.

Saat ini pengaruh El Nino sudah menurun, yakni puncaknya terjadi sejak Desember 2015 kemudian menurun hingga Februari dan menunjukkan kondisi netral sekitar Maret dan April 2016. Jika dibandingkan dengan El Nino terkuat pada 1997, pergerakan cuaca hampir sama dengan catatan indikator terkini Indonesia yang saat ini mulai menurun.

Dampak La Nina berdasar pengalaman 1998 dan perbandingan pada 2010 adalah kenaikan curah hujan yang dimulai pada periode Juli, Agustus dan September 2016.


Selain itu, kondisi kemarau yang basah berpotensi menjadi ancaman bagi petani tembakau, bawang dan petambak garam serta meningkatnya pertumbuhan penyakit organisme tanaman. Secara umum, fenomena La Nina berkebalikan dengan El Nino yakni curah hujan akan semakin bertambah. “Kalau El Nino, curah hujan akan berkurang, sedangkan La Nina sebaliknya. Curah hujan akan makin bertambah apalagi jika terjadi pada bulan akhir tahun yang sudah memasuki musim hujan,” kata Prabowo. 

Sebagai informasi, La Nina merupakan suatu kondisi dimana terjadi penurunan suhu muka laut di kawasan Timur equator di Lautan Pasifik, La Nina tidak dapat dilihat secara fisik, periodenya pun tidak tetap. Pada saat terjadi La Nina angin passat timur yang bertiup di sepanjang Samudra Pasifik menguat ( Sirkulasi Walker bergeser ke arah Barat).

Sehingga massa air hangat yang terbawa semakin banyak ke arah Pasifik Barat. Akibatnya massa air dingin di Pasifik Timur bergerak ke atas dan menggantikan massa air hangat yang berpindah tersebut, hal ini biasa disebut upwelling. Dengan pergantian massa air itulah suhu permukaan laut mengalami penurunan dari nilai normalnya. La Nina umumnya terjadi pada musim dingin di Belahan Bumi Utara Khatulistiwa. (RAPP002/Antara)

Permalink ke Dengan Perbaikan Bug, GoJek Harus Terus Didukung
Nusantara, Teknologi

Dengan Perbaikan Bug, GoJek Harus Terus Didukung

Pacitanku.com, JAKARTA – GoJek terus ramai dibicarakan, namun kini bukan karena prestasinya melainkan celah keamanan pada aplikasi anak bangsa tersebut. Beberapa waktu lalu seorang hacker Indonesia yang berada di Thailand telah mempublish hasil temuan bug pada GoJek. Menurutnya bug ini bisa membuat data para pelanggan dan driver dimanipulasi dan dieksploitasi.

Pakar keamanan cyber Pratama Persadha dalam keterangannya Rabu (13/1) menjelaskan selain masalah keamanan server, di aplikasinya pun juga terdapat celah keamanan yang mengkhawatirkan. Karena aplikasi android pada GoJek tidak memakai NDK Native, melainkan Java.

“Risiko memakai Java adalah mudah sekali dilakukan reverse engineering atau RE. RE adalah proses penemuan prinsip-prinsip teknologi dari suatu perangkat, objek, atau sistem melalui analisis strukturnya, fungsinya, dan cara kerjanya,” jelasnya.

Dari hasil RE dapat diketahui node node API (application programming interface) yang ternyata tidak melakukan autentikasi terhadap request yang di lakukan oleh aplikasi. Sehingga siapa saja tanpa autentikasi dapat melakukan request API dari node yang terbuka tersebut. Bahkan data pribadi driver dan user juga tercompromised.


Dari sinilah orang bisa melakukan eksploitasi, mengambil dan mengubah data yang ada, bahkan bisa memanipulasi pulsa para driver. Dengan sedikit brute force bisa membuka seluruh data GoJek.

“Untuk perbaikan, GoJek bisa melakukan revamp app atau merubah aplikasi dengan menggunakan NDK native code. Lalu juga menambahkan autentikasi standar misal oauth atau bahkan membuat sendiri sistem autentikasi request. Menggunakan request session untuk request ke node API sehingga dapat menghambat jika ada yang melakukan brute force,” terang Chairman lembaga riset keamanan cyber CISSReC (Communication and Information System Security Research Center) ini.

Menurutnya hal ini cukup mendasar untuk sistem sebesar GoJek dan cukup mudah serta cepat untuk bisa dilakukan perbaikan. Pratama juga menghimbau semua pihak untuk terus memberikan dukungan pada GoJek sebagai aplikasi karya anak bangsa.

“Kita harus ingat, GoJek ini aplikasi lokal yang luar biasa. Sudah membantu banyak orang, bahkan jalannya bisnis di kota-kota besar sangat terbantu dengan keberadaan GoJek. Jadi kita harus dorong agar ada perbaikan masif, jangan sampai nanti ditinggalkan pemakainya. Ini aplikasi lokal, harus kita dukung bersama,” tegas Pratama. (RAPP002)

Permalink ke Kemendikbud Canangkan Gerakan Indonesia Membaca
Headline, Nusantara, Pendidikan

Kemendikbud Canangkan Gerakan Indonesia Membaca

Pacitanku.com, JEMBER – Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tengah menggalakkan pencanangan Gerakan Indonesia Membaca. Setelah gerakan ini dicanangkan di Karawang, Jawa Barat, pada Oktober lalu, dan di Papua pada November lalu.

Sebagai tindak lanjutnya, kali ini giliran Kabupaten Jember di Jawa Timur yang menjadi lokasi pencanangan Gerakan Indonesia Membaca. Mendikbud Anies Baswedan mencanangkan Gerakan Indonesia Membaca di Jember pada Sabtu, (19/12/2015), di Gedung Serba Guna Jember, Jawa Timur.

Mendikbud Anies Baswedan dalam sambutannya, sangat mengapresiasi inisiatif dan usaha Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Pemerintah Kabupaten Jember dan seluruh masyarakat Jember dalam usaha pemberantasan tunaaksara.

“Secara detil, ada 6 Provinsi dan 24 Kabupaten/kota yang jumlah penduduknya tinggi buta aksara, diantaranya Jawa Timur prosentase melek aksara cukup baik, 94%. Meski cukup baik kalau dilihat secara absolut, yang masih buta aksara itu jumlahnya 1,4 juta. Persentasenya kecil tapi jumlahnya banyak. Dari 1,4 juta (tunaaksara), kabupaten yang paling tinggi adalah Jember. Namun berdasarkan data tahun 2014, dari 180 ribu (tunaaksara), sekarang tinggal 45 ribu. Dalam dua tahun berubah luar biasa. Jumlah angka buta huruf di Jember terus menurun,” katanya, dilansir laman Kemendikbud.


Menurut Anies, setelah melek literasi, maka tahap berikutnya adalah membuat masyarakat menjadi suka membaca. Usaha penumbuhan budaya membaca untuk anak-anak usia sekolah diwujudkan Kemendikbud melalui Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti.

Dalam Permendikbud itu, setiap hari sebelum pelajaran dimulai, para peserta didik harus membaca buku selain buku pelajaran selama 15 menit. “Mengapa kita harus tumbuhkan budaya membaca? Karena membaca membuka cakrawala, memperluas wawasan, memahami lebih luas dunia,” tutur Anies.

 Dalam acara pencanangan Gerakan Indonesia Membaca di Jember, hadir sekitar 2.000 aksarawan Jember. Salah satu di antaranya adalah seorang kakek berusia 80 tahun yang masih belajar membaca, tulis, dan berhitung. “Ini contoh yang luar biasa. belajar itu tak kenal usia,” puji Menteri Anies.

 Pencanangan Gerakan Indonesia Membaca di Jember ditandai dengan penandatanganan prasasti. Mendikbud juga memberikan donasi buku sebanyak 2.500 eksemplar dari Kompas Gramedia untuk diberikan kepada Taman Bacaan Masyarakat (TBM) serta ruang membaca lainnya di Jember. (Desliana Maulipaksi/Seno Hartono/Kemendikbud/RAPP002)

Permalink ke Dukung Program Adipura, FKH Pacitan Gelar Penghijauan di Sejumlah Titik
Headline, Perkebunan

Dukung Program Adipura, FKH Pacitan Gelar Penghijauan di Sejumlah Titik

Pacitanku.com, PACITAN – Sebagai bentuk dukungan terhadap program adipura yang baru saja diraih Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pacitan, Forum Komunitas Hijau (FKH) menggelar kegiatan penghijauan yang digelar di sejumlah titik, Sabtu (19/12/2015) kemarin.

Menurut Wayan Diana, salah satu pengurus FKH Pacitan, dalam keterangannya kepada Pacitanku.com, mengatakan bahwa agenda ini adalah dalam rangka mewujudkan kota hijau Pacitan sebagai kota adipura. “Adapun bentuk kegiatan yang kami laksanakan adalah pemberian bantuan bibit tanaman sekaligus penanaman di sejumlah titik,” tandasnya.

Lebih lanjut, dia mengatakan bahwa pengiriman dan penanaman tersebut akkan di didistribusikan ke sejumlah desa dan kelurahan di Pacitan.”Selain itu juga kita distribusikan ke sekolah-sekolah di lingkungan kecamatan Pacitan, dan titik pelaksanaannya dipusatkan di SMPN III Pacitan,” ungkapnya.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya di Pacitanku.com, Kabupaten Pacitan kembali menorehkan prestasi ditingkat nasional dengan penghargaan Piala Adipura sebanyak 11 kali atau 8 kali berturut – turut. Di tahun 2015 ini, Pacitan kembali meraih Piala Adipura untuk kategori Kota Kecil, yang merupakan penghargaan tertinggi di bidang kebersihan dan pengelolaan lingkungan.


Untuk terus menyukseskan program adipura ini, Pemkab pun terus melakukan inovasi, seperti penghijauan dan sejumlah inovasi lainnya. Menurut Kepala Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Pacitan, Andi Faliandra, investasi dan inovasi memang harus berjalan sinergis. Sebaik apapun inovasi, tanpa ada dukungan pendanaan yang memadai akan sia-ssia. Selama ini, menurut Andi, dukungan investasi sudah sangat balance.

Salah satu inovasi yang akan dikembangkannya yaitu pengolahan limbah plastik menjadi barang bernilai ekonomis tinggi. Menurutnya, untuk mengimplementasikan rencana tersebut memang perlu kekompakan dari semua pihak. “Bukan hanya pemerintah, namun masyarakat dan pelaku usaha harus terlibat aktif, karena selama ini produksi sampah khususnya limbah plastik masih cukup tinggi,” ujarnya.

Andi menilai, limbah yang mestinya bisa disulap menjadi barang bernilai ekonomis tersebut hanya terbuang sia-sia. Kalaupun ditampung para pemulung, jumlahnya masih relatif kecil. “Kedepan, bagaimana sampah-sampah plastik tersebut bisa dikelola dan diolah menjadi biji plastik yang bisa mendatangkan banyak rupiah,” ungkap Andi.

Penghijauan oleh FKH Pacitan. (Foto: bambang setyo utomo)

Penghijauan oleh FKH Pacitan. (Foto: bambang setyo utomo)

Salah satu contoh, menurut Andi, adalah botol air minum kemasan. Selama ini, Andi menilai bahwa masyarakat hanya tahu bahwa barang bekas tersebut hanya untuk wadah kecap produksi rumahan, padahal punya nilai ekonomis lainnya yang bervariasi.

“Sebagai contoh, untuk satu seal penutup, bisa laku Rp 500. Leher botolnya, lanjut Andi, bisa bernilai Rp 2.500 per kilo gramnya (kg), belum lagi pantat botol bisa laku hingga Rp 3 ribu/kg, yang paling mahal badan botolnya, setiap satu kilonya bisa laku Rp. 6 ribu, tentu saja kalau inovasi ini bisa dilaksanakan, selain Pacitan tetap bersih, taraf perekonomian masyarakat juga kian meningkat,” bebernya.

Dengan konsep yang akan dikembangkan Pemkab tersebut, Andi juga menyakinkan bahwa para pemulung tetap bisa bekerja meski sampah plastik akan dikelola Pemkab. “Yang akan dikelola, sampah-sampah plastik yang tercecer tidak sempat dipungut para pemulung, bahkan bila perlu, barang rongsokan yang sudah masuk di pengepul akan dibeli oleh pemkab dan dikelola serta diolah kembali. Kita sudah ada kemitraan dengan pabrik pengolah plastik,” tutup Andi. (BSUPP005)

Liputan/Foto: Bambang Setyo Utomo