Angka Stunting di Pacitan Masih Cukup Tinggi, Butuh Kerja Keras Semua Pihak

oleh -45 Dilihat
Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinas Kesehatan Pacitan Ratna Susy Rahayu. (Foto: Sulthan Shalahuddin/Pacitanku)

Pacitanku.com, PACITAN – Perjalanan Kabupaten Pacitan mengatasi masalah gangguan pertumbuhan atau stunting masih cukup panjang dari target angka prevalensi yang ditargetkan nasional, yakni 14 persen pada tahun 2024.

Sebagai informasi, stunting adalah masalah gizi kronis akibat kurangnya asupan gizi dalam jangka waktu panjang, sehingga mengakibatkan terganggunya pertumbuhan pada anak.

Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinas Kesehatan Pacitan Ratna Susy Rahayu saat dikonfirmasi Pacitanku.com, Rabu (7/6/2023) di Pacitan mengatakan prevelansi stunting dilaporkan berhasil diturunkan dalam kurun tahun 2021-2022.

“Alhamdulillah menurun, jika dibandingkan, dari 22,7 persen pada tahun 2021 menjadi 20,6 persen pada tahun 2022, atau mengalami penurunan 2,1 persen, tapi kita juga butuh kerja keras dari semuanya, karena target nasional 2024 sebesar 14 persen,”jelasnya.

Namun demikian kondisi tersebut masih jauh dari angka prevalensi yang ditargetkan dalam RPJMN 2020-2024, yakni 14 persen pada tahun 2024. “Kita juga harus mengejar (penurunan) dari 20,6 persen pada tahun 2021 itu bisa menurunkan angka prevelansi stunting, untuk targetnya turun menjadi 16,87 persen di tahun 2023 ini,”kata Ratna.

Pemerintah Pusat, kata Ratna, juga sudah melakukan upaya pendataan stunting. Yakni dengan melakukan survei status gizi Indonesia berdasarkan sampling dari data Badan Pusat Statistik (BPS).

Sementara, pihak Dinkes, kata Ratna, melakukan intervensi setiap bulan yang dilakukan oleh kader posyandu yang digunakan untuk intervensi risiko supaya tidak jatuh pada kondisi yang lebih parah atau kondisi gizi buruk.

“Kan kalau stunting kalau lebih dari 2 tahun tidak bisa dilakukan intervensi, hasilnya dari pengukuran yang dilakukan di Pacitan, prevelensinya 14,73 persen  yang kondisinya stunting, itu dari sejumlah 22.141 balita yang dilakukan pengukuran,”jelasnya.

Penganggaran penanganan stunting

Disinggung terkait anggaran dari Pemerintah untuk penanganan stunting di Pacitan, Ratna menyebut ranah Dinkes Pacitan fokus pada pengukuran dan publikasi. 

“Kalau dinkes, fokus pada pengukuran, penganggaran itu sudah kompleks semuanya, penganggaran secara nominal ada di Bappeda, karena anggaran secara angka menyebar di masing-masing Organisasi Perangkat Daerah (OPD), di Dinas Pendidikan juga punya, PU juga punya, total berapa tidak bisa menyebutkan dengan pasti,”jelasnya.

Menurut Ratna, semua OPD bertanggung jawab untuk stunting. Sebab, upaya pencegahan tidak hanya dari Dinkes saja, tetapi dari semua pihak memiliki tanggung jawab penanganan stunting.

“Sebab penyebab stunting itu banyak faktor yang mempengaruhi, bisa jadi dari pola asuh orang tua, dari kondisi sanitasi yang tidak mendukung, bisa juga karena akses air bersih kurang, kemudian kemiskinan sangat berpengaruh, kecuali stunting karena gizi buruk dan ada pneyakit penyerta, maka Dinkes akan memberikan penanganan,”ujar dia.

Khusus di Dinkes, Ratna menjabarkan penganggaran untuk penanganan stunting juga menyebar atau tidak langsung. Hal itu, kata dia, dimulai dari pencegahan stunting untuk anak usia remaja.

“Anak sekolah remaja putri sudah dilakukan (pencegahan stunting), mulai dari awal di sekolah mendapatkan tablet tambah darah, supaya tidak terjadi anemia, hal itu kan karena perempuan setiap bulan mengalami menstruasi, agar tidak jadi anemi diberi tablet tambah darah, kemudian saat hamil, wajib harus periksa rutin ke petugas kesehatan,”papar dia.

Selain itu, kata Ratna, sejumlah bantuan juga terus diupayakan Pemerintah Pusat dalam penanganan stunting di Pacitan. Seperti pada tahun 2022 lalu, ada bantuan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) untuk ibu hamil risiko tinggi yakni ibu hamil yang kurang energi kronis.

“Kalau tahun 2023 itu PMT lokal, nilai anggarannya itu saya tidak hafal mas, tapi secara kegiatan itu  untuk pemberian PMT lokal bagi balita, jadi PMT itu tidak berupa makanan jadi, tapi menggunakan makanan lokal yang ada di daerah masing-masing,”pungkasnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.