Kategori: Sekolah

Popular

Berita Terbaru

Permalink ke Enam Sekolah di Pacitan Siap Gelar UN Berbasis Komputer
Headline, Pendidikan, Sekolah

Enam Sekolah di Pacitan Siap Gelar UN Berbasis Komputer

try out UN Online (Foto : Luqman)

try out UN Online (Foto : Luqman)

Pacitanku.com, PACITAN – Meski Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) memutuskan ujian tahun 2017 ini digelar dengan sistem UNBK (ujian nasional berbasis komputer), tapi Pacitan masih belum siap sepenuhnya. Hal ini karena belum siapnya infrastruktur berupa komputer di sekolah tingkat SMA sederajat.

‘’Ada lima SMKyang tahun lalu menggelar ujian berbasis komputer. Tahun ini, kami mengusulkan SMAN 1 untuk menggelar UNBK. Jadi ada enam sekolah yang ikut UNBK,’’ kata Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Pacitan, Marwan, baru-baru ini.

Hanya saja, kata Marwan, keenam sekolah tersebut masih akan dilakukan evaluasi. Termasuk saat ini pihaknya juga masih melakukan finalisasi data sembari menunggu petunjuk pelaksanaan maupun teknis turun ke daerah. ‘’Setelah juklak dan juknis turun, baru kami akan diskusikan bersama dengan unit pelaksana teknis (UPT) dan kepala sekolah,’’ ujarnya.

Marwan optimistis sekolah yang diajukan mengikuti UNBK bakal lolos evaluasi. Perangkat komputer sejauh ini juga sudah dinilai cukup bagi sekolah-sekolah yang menyelenggarakan UNBK. Namun demikian, Marwan mengaku akan terus mendorong peningkatan sekolah penyelenggara UNBK dari tahun ke tahun untuk mensukseskan program pemerintah itu.




Rencananya, Marwan akan mengusulkan bantuan pengadaan sarpras untuk menunjang upaya tersebut. ‘’Kendalanya selalu jumlah perangkat komputer. Karena yang dibutuhkan memang tidak sedikit. Kalau koneksi jaringan atau daya listrik, tidak ada masalah,’’ jelasnya.

Sementara di SMAN 1 Pacitan, persiapan terus dilakukan menyambut penyelenggaraan UNBK perdana tahun ini di sekolah tersebut. SMAN 1 sudah mempersiapkan 120 perangkat komputer untuk mengakomodasi sekitar 400 siswa kelas XII sekolah tersebut. Tidak hanya perangkat yang dipersiapkan, siswanya pun demikian.

Simulasi UNBK diterapkan pada mapel yang diujikan unas di ujian akhir semester (UAS), Desember lalu. ‘’Ketersediaan daya dan jaringan sudah baik. Tinggal siswanya yang terus coba dibiasakan mengikuti UNBK. Mulai UAS, Desember lalu,’’ terang Waka Humas SMAN 1 Pacitan, Tri Andarini.(mg4/rif/RAPP002)

Sumber: Radar Madiun

Permalink ke Tanah Amblas SDN Ketepung I Semakin Parah, Ada Rencana Regrouping
Bencana Alam, Headline, Sekolah

Tanah Amblas SDN Ketepung I Semakin Parah, Ada Rencana Regrouping

Kondisi terkini SDN Ketepung I yang mengalami tanah amblas.

Pacitanku.com, KEBONAGUNG – Bencana alam di Pacitan yang terus terjadi menyebabkan sejumlah bangunan mengalami kerusakan, salah satunya adalah bangunan sekolah. Salah satu sekolah dengan kerusakan cukup parah akibat bencana tanah amblas adalah Sekolah Dasa Negeri (SDN) Ketepung I.

Sekolah yang terletak di Dusun Sumber, Desa Ketepung, Kecamatan Kebonagung ini mengalami  kerusakan paling parah. Kondisi tanah halaman serta pagarnya amblas sekitar mencapai 1 meter dengan panjang tanah amblas mencapai 40 meter. Kerusakan juga mengancam tiga unit ruang kelas.

Atas kondisi tersebut, Dinas Pendidikan Pacitan berencana melakukan regrouping SDN Ketepung I dengan SDN Ketepung II.

Kondisi terkini SDN Ketepung I yang mengalami tanah amblas.

“Kebetulan SDN Ketepung II hanya berjarak 100 meter dari SDN Ketepung I. Namun demikian, kebijakan regrouping itu akan dikaji lebih lanjut. Sambil menunggu perkembangan kondisi cuaca saat ini,”kata Sakundoko, Kepala Dindik Pacitan, baru-baru ini.

Lebih lanjut, Sakun menyampaikan bahwa jika upaya pembenahan bisa dilakukan, akan dilakukan, sehingga aktivitas pembelajaran terus jalan.‘’Kalau masih bisa untuk dibenahi, akan kami benahi. Dalam artian akan kami bangun talutnya itu. Ya kemungkinan proses belajar mengajar di SDN Ketepung I bisa terus jalan,’’ujarnya.


Selain di SDN Ketepung I, kerusakan sekolah akibat bencana tanah amblas dan longsor juga terjadi di empat sekolah lainnya di Pacitan. Sekolah tersebut diantaranya SDN Kebonsari yan terletak di Dusun Kayen, Desa Kebonsari, Kecamatan Punung.

Kondisi terkini SDN Ketepung I yang mengalami tanah amblas.

Kemudian juga SDN Tahunan II yang terletak di Desa Tahunan Kecamatan Tegalombo, SDN Tulakan I di Tulakan, serta SMPN 4 Nawangan di Desa Mujing, Kecamatan Nawangan.

Kerusakan pada umumnya didapati pada talut serta pagar sekolah. Seperti di SMPN IV Nawangan, kerusakan talud ini untuk kesekian kalinya. Bahkan pada Selasa (17/6/2014) longsor yang terjadi di kawasan Sekolah yang terletak di Desa Mujing, Nawangan itu merobohkan talud sekolah sepanjang 50 meter dengan tinggi kisaran 20 meter. (RAPP002/her/yup)

Permalink ke 5 Sekolah di Pacitan Terdampak Bencana Alam
Bencana Alam, Headline, Sekolah

5 Sekolah di Pacitan Terdampak Bencana Alam

Siswa di SDN Ketepung yang sedang berada di lokasi amblas. (Foto: Info Pacitan)

Siswa di SDN Ketepung yang sedang berada di lokasi amblas. (Foto: Info Pacitan)

Pacitanku.com, PACITAN – Selain rumah penduduk, bencana tanah longsor maupun tanah amblas mengancam sejumlah fasilitas pendidikan. Dinas Pendidikan (Dindik) Pacitan mencatat, setidaknya lima sekolah terdampak bencana alam. Meliputi SDN Kebonsari, SDN Tahunan II, SDN Ketepung I, SDN Tulakan I serta SMPN 4 Nawangan. Kerusakan pada umumnya didapati pada talut serta pagar sekolah.

‘’Kalau memang darurat atau langsung mengenai bangunan sekolah, kami akan ambil langkah cepat untuk menanganinya,’’ ujar Sakundoko, Kepala Dindik (Kadindik) Pacitan, Senin (5/12/2016).

Menurut dia, lima sekolah yang terdampak bencana alam kerusakan paling parah terjadi di SDN Ketepung I. Di sekolah tersebut kondisi tanah halaman serta pagarnya amblas sekitar 50 sentimeter. Selain itu, juga mengancam tiga unit ruang kelas.

Sakundoko mempertimbangkan akan meregrouping sekolah tersebut dengan SDN Ketepung II. Kebetulan SDN Ketepung II hanya berjarak 100 meter dari SDN Ketepung I. Namun demikian, dia mengaku kebijakan regrouping itu akan dikaji lebih lanjut. Sambil menunggu perkembangan kondisi cuaca saat ini.

‘’Kalau masih bisa untuk dibenahi, akan kami benahi. Dalam artian akan kami bangun talutnya itu. Ya kemungkinan proses belajar mengajar di SDN Ketepung I bisa terus jalan,’’ terangnya.




Sedangkan apabila kondisi tanah di sekitar SDN Ketepung I itu makin amblAs, tambah Sakundoko, tak menutup kemungkinan kebijakan regrouping akan dilakukan. Hal ini semata-mata supaya anak-anak di sekolah tersebut bisa mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan aman dan tenang. ‘’Kami akan adakan evaluasi lebih lanjut (untuk diregrouping, Red),’’ ungkapnya.

Disamping SDN Ketepung I, kondisi serupa juga terjadi di SDN Tulakan I. Bedanya, di SDN Tulakan I bangunannya rawan tergerus sungai yang berada persis di dekat sekolah tersebut. ‘’Kondisinya juga sudah mengkhawatirkan karena gerusan airnya sudah sampai ke bangunan sekolah,’’ imbuhnya.

Saat ini, sekolah yang talut dan pagarnya dihantam material longsor maupun tanah amblas tengah disurvei dan dikaji kondisinya. Termasuk menyusun langkah seperti apa yang bakal diterapkan oleh dinasnya. ‘’Ini masih dalam tahap survey untuk mengambil tindakan lebih lanjut,’’ kata Sakundoko. (her/yup/RAPP002)

Sumber: Radar Madiun

Permalink ke Belum Terakreditasi, 17 SMP dan Madrasah Numpang UN di Sekolah Lain
Headline, Pacitan News, Sekolah

Belum Terakreditasi, 17 SMP dan Madrasah Numpang UN di Sekolah Lain

Pacitanku.com, PACITAN – Sebanyak 17 sekolah di Pacitan yang terdiri dari 7 Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan 10 Madrasah tidak bisa menggelar ujian nasional secara mandiri. Hal itu dikarenakan mereka dinilai belum memenuhi syarat sebagai sekolah penyelenggara UN, sehingga 17 sekolah tersebut numpang UN di sekolah lain.

 ‘’Alasannya, karena sekolah belum terakreditasi Badan Akreditasi Nasional Sekolah dan Madrasah (BAN-SM). Selain itu peserta ujian kurang dari 20 siswa,’’ terang Eka Priadi Kasi Kurikulum Dinas Pendidikan (Dindik) Pacitan, baru-baru ini.

Menurutnya, di antara sekolah dan madrasah tersebut diketahui belum terakreditasi. Salah satunya, SMPN 5 Tegalombo. ‘’Penggabungan ini untuk memudahkan pelaksanaan sekaligus pengawasan unas supaya lebih efektif. Tetapi juga mempertimbangkan situasi yang ada,”ujarnya.

Sebenarnya, lanjut Eka, sekolah-sekolah tersebut masih bisa melaksanakan unas secara mandiri. Asalkan hanya satu persyaratan saja yang tidak terpenuhi. Misalnya, sudah terakreditasi tetapi jumlah siswa peserta ujian kurang. Atau sebaliknya, jumlah siswa banyak tetapi sekolah belum terakreditasi.


Solusinya, sekolah yang kurang peserta bisa bergabung ke sekolah lain. Sedangkan sekolah yang siswanya sama tetapi belum terakreditasi, bisa menyelenggarkan UN dengan menggunakan panitia bersama. ‘’Untuk administrasinya ditanggung oleh sekolah penyelenggara UN,’’ imbuhnya.

Terkait penyelenggaraan UN, Eka mengimbau seluruh kepala SMP maupun MTs menjaga lokasi UN steril dari hal-hal yang mengganggu jalannya ujian. Sedangkan distribusi UN sejauh ini belum ada kendala berarti. Termasuk pengiriman ke sekolah di daerah pelosok. ‘’Soal sudah disimpan dan diamankan di polsek setempat,’’ jelasnya.

Adapun, soal UN sebanyak 161 boks berisi naskah soal unas kiriman dari Surabaya sudah diterima. Rinciannya, 145 boks naskah soal unas SMP/MTs, 12 boks untuk paket B, serta masing-masing satu boks naskah soal unas untuk SMPLB, ujian susulan SMPLB, ujian SMP/MTs dan paket B.

Distribusi soal dari sub rayon ke kecamatan telah dimulai pada Rabu (4/5) pagi lalu. Baru setelah itu, panitia sekolah mengambil naskah unas di tiap korcam. Guna mencegah adanya kebocoran soal, naskah unas disegel  dan dijaga ketat oleh petugas dari Polres Pacitan.

Selain itu, panitia juga sudah mempersiapkan pengawas dan petugas kurir untuk mengambil dan mengembalikan lembar jawab siswa. ‘’Karena dijaga begitu ketat, jadi tidak mungkin naskah soal unas SMP sampai bocor,’’ ujarnya. 

Sementara itu, dalam pelaksanaan unas SMP tahun ini Dinas Pendidikan (Dindik) Pacitan mengalokasikan anggaran hingga Rp 210 juta. Anggaran sebanyak itu digunakan untuk biaya operasional dan pendampingan tenaga pengawas UN di masing-masing sekolah penyelenggara. (her/yup/RAPP002)

Sumber: Radar Madiun

 

Permalink ke Anak Putus Sekolah di Pacitan Cukup Tinggi
Headline, Pacitan News, Sekolah

Anak Putus Sekolah di Pacitan Cukup Tinggi

Pacitanku.com, PACITAN – Peringatan hari pendidikan nasional (Hardiknas) di Kabupaten Pacitan ditandai dengan kabar buruk tingginya angka anak putus sekolah di Pacitan.

Berdasarkan data di Dinas Pendidikan (Dindik) setempat, sejak tahun 2012-2015 total ada sebanyak 822 anak yang enggan melanjutkan pendidikannya di berbagai jenjang.

Rinciannya, pada tahun 2012 lalu ada sekitar 398 anak putus sekolah, 302 anak putus sekolah pada tahun 2013, lalu 115 anak di tahun 2014, dan 96 anak pada tahun 2015.

Dari data tersebut juga diketahui, rata-rata kasus anak putus sekolah paling banyak terjadi pada jenjang SMP yang mencapai 418 anak. Kemudian disusul pada jenjang SMA sederakat sebanyak 385 anak dan 108 kasus anak putus sekolah di jenjang sekolah dasar (SD).

Menurut Bupati Pacitan Indartato, dalam keterangannya kepada wartawan, baru-baru ini mengatakan bahwa kasus anak putus sekolah merupakan pekerjaan rumah pada periode kedua kepemimpinannya.




Karena itu setiap anak kurang mampu akan diupayakan mendapatkan subsidi biaya pendidikan melalui Grindulu Mapan. ‘’Sepanjang kriteria terpenuhi, kami upayakan dapat bantuan,’’ ujarnya saat dikonfirmasi.

Menurutnya, masih tingginya angka kasus anak putus sekolah ini lebih dilatarbelakangi karena persoalan ekonomi. Bahkan kasusnya mencapai 50 persen dari jumlah anak putus sekolah.

Selain itu, penyebab lainnya adalah kemauan dari anak tersebut. ‘’Ada juga semangat anak itu kurang gereget. Sehingga mereka lebih memilih bekerja,’’ terangnya.

Sementara, anggota komisi II DPRD Pacitan Rudi Handoko menyatakan prihatin atas tingginya angka anak putus sekolah di Pacitan. ‘’Jika ini benar, sungguh sangat disayangkan karena anggaran untuk sektor pendidikan sangat besar,’’ ujarnya, kemarin (2/5).

Jika dilihat dari sisi alokasi anggaran, kata Rudi, sulit untuk diterima bila masih ada anak-anak di Pacitan yang putus sekolah. Apalagi dalam setahun kasusnya mencapai ratusan.

Pihaknya berharap dindik setempat terus berupaya menekan kasus anak putus sekolah tersebut. Caranya dengan memfokuskan penggunaan dana pendidikan untuk menangani kasus anak putus sekolah. ‘’Bila perlu kami akan menggelar rapat dengan pendapat (RDP) dengan dindik dan kemenag untuk memecahkan masalah ini,’’ pungkasnya. (her/yup/RAPP002)

Sumber: Radar Madiun

 

Permalink ke Pacitan Masih Banyak Kekurangan Guru Kelas, Penjaskes dan PAI
Headline, Pacitan News, Sekolah

Pacitan Masih Banyak Kekurangan Guru Kelas, Penjaskes dan PAI

Pacitanku.com, PACITAN – Salah satu yang menjadi permasalahan pendidikan di Pacitan adalah masalah kekurangan guru. Menurut data dari Dinas Pendidikan, saat ini jumlah guru yang minim ada di mata pelajaran Pendidikan Jasmani Kesehatan (Penjaskes) dan Pendidikan Agama Islam (PAI).

Kepala Sie  Tenaga Kependidikan TK/SD, Bidang Tenaga Kependidikan Dindik Pacitan, Rino Budi Santoso, mengatakan, merujuk peraturan pemerintah (PP) dengan indikator rasio siswa berbanding dengan rasio guru, memang jumlah tenaga pendidik, khususnya guru kelas, tidak mengalami kekurangan.

Akan tetapi bila menggunakan rasio siswa berbanding rombongan belajar (rombel), jumlah guru kelas masih kekurangan sekitar 500 orang guru. “Jumlah guru kelas di Pacitan tercatat sebanyak 1.853 orang. Sedangkan jumlah rombel ada 2.510. Sehingga kalau jumlah guru dibagi dengan jumlah rombel, masih ada kekurangan sekitar 500 guru,” ujarnya, Senin kemarin.

Selain guru kelas, lanjut dia, juga masih terdapat banyak kekurangan guru penjaskes dan guru pendidikan agama Islam (PAI). Rino mengatakan, untuk menghitung jumlah tenaga pendidik penjaskes dan PAI, dengan menggunakan rasio guru dibagi jumlah sekolah.


 “Saat ini jumlah guru PAI sebanyak 241 orang dan guru penjaskes sebanyak 218, dengan jumlah lembaga sekolah sebanyak 409 sekolah. Dari data tersebut, jelas sekali masih terdapat kekurangan guru penjaskes dan PAI hingga ratusan orang,” paparnya.

Terpisah, sekretaris Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Pacitan, Supanji, sangat mengamini pernyataan Dinas Pendidikan yang mengklaim masih banyaknya kekurangan tenaga pendidik. Bahkan menurut hitung-hitungan ‎satuan kerja yang mengatur nasib pegawai itu, saat ini masih terjadi kekurangan guru SD sebanyak 1.211 orang.

Terkait kesenjangan tersebut, Supanji menegaskan, BKD sudah mengusulkan penambahan formasi tenaga pendidik ke pemerintah pusat pada Februari lalu. “Kita sudah mengusulkan formasi CPNS ke pusat. Jumlahnya sekitar 3.000 formasi. Baik tenaga pendidik dan tenaga teknis administrasi,” katanya. (yun/net/RAPP002)