Kategori: Tempo Dulu

Popular

Berita Terbaru

Permalink ke Nostalgia Nonton Film Layar Lebar di Pacitan Zaman Dulu
Headline, Tempo Dulu

Nostalgia Nonton Film Layar Lebar di Pacitan Zaman Dulu

Gedung Film Balai Desa Tanjungsari Pacitan. (Foto: Istimewa)

PACITAN tempo dulu selalu menyimpan cerita unik dan menarik untuk dibuka kembali. Salah satunya adalah gedung film di Pacitan yang ada pada era tahun 80 hingga 90’an. Gedung film tersebut terletak di Balai Desa Tanjungsari, Kecamatan Pacitan, saat ini terletak di Jalan Jenderal Soedirman, atau sebelum jembatan jika ditempuh dari pusat kota.

Selain Balai Desa Tanjungsari di pusat kota, sebenarnya ada satu tempat lain yang digunakan untuk menonton film layar lebar, yakni Balai Desa Punung. Akan tetapi karena letaknya yang lebih strategis, yakni di pusat kota dan berada di jalur perdagangan di Pasar Arjowinangun dan transportasi menuju ke Tulakan, Gedung Film Balai Desa Tanjungsari lebih dikenal.

Selain sebagai tempat pemutaran film, Balai Desa Tanjungsari saat itu, sebelumnya juga digunakan tempat hiburan rakyat, yakni pemutaran Ketoprak dan Wayang Orang. Namun demikian, menonton film menjadi paling populer saat itut. Dan bagi masyarakat Pacitan yang masih menyimpan memori saat gedung film ini aktif, tentu menjadi kisah dan nostalgia tersendiri.

Pengelola gedung film meminjam Balai Desa Tanjungsari dan dioperasikan sekitar tahun 1975 an hingga 1980an sampai terakhir ditutup pada tahun 1999 dengan film terakhir yang diputar di gedung film Pacitan ini adalah film Titanic. Saat itu, perkembangan film layar lebar, khususnya di tanah air memang sedang menggeliat tinggi, termasuk salah satunya di Pacitan.

Masyarakat Pacitan saat itu, menjadikan tempat ini menjadi hiburan bersama, dan film-film andalan, baik tanah air maupun film luar negeri pun sering ditayangkan di gedung film ini.




Untuk menarik minat pengunjung, pihak pengelola gedung film berkeliling kota Pacitan untuk mengabarkan film yang hendak ditayangkan saat itu menggunakan layar lebar. Sebelum metode pasang iklan film di koran eksis, pengelola setempat keliling kota Pacitan dengan mobil pick-up yang ditempel poster film sambil menyebarkan pamflet berisi jadwal film. Lalu ada orang yang bertugas “woro woro” soal film yang tayang sambil teriak pakai toa.

Cara promosi lain yang dilakukan pengelola Gedung Film Tanjungsari adalah dengan poster berupa spanduk yang terpampang di depan gedung. Poster tersebut dibuat pakai kain belacu dan dilukis secara manual pakai cat minyak, sehingga terkadang antara poster asli dan poster versi lukisannya tidak mirip sama sekali. Tak ketinggalan, untuk menarik minat pengunjung, terutama pengunjung pria, untuk film-film tertentu yang kategori dewasa, pengelola membubuhkan sedikit gambar dewasa.

Tak hanya itu, pengelola juga menyajikan extra show untuk pengunjung, yang diputar pada hari Kamis dan hari Minggu. Kelebihan extra show ini adalah harga tiket masuk yang cukup murah, yakni Rp300 saja. Sementara, harga tiket hari biasa dijual dengan harga Rp500 hingga Rp700.

Saat itu, film-film andalan yang sedang ngehits pun sering tayang di gedung film ini, seperti film Panggilan Ka’bah, Saur Sepuh, Misteri Gunung Merapi, hingga film remaja Lupus dan film mancanegara, yakni Titanic.

 Film-film tertentu dengan bintang-bintang terkenal pun digandrungi warga Pacita kala itu, seperti Rhoma Irama, Sally Marcelina, Malfin Sayna, Barry Prima dan bintang-bintang lainnya, terbukti dengan banyaknya yang menonton untuk film-film yang dibintangi oleh artis kenamaan.

Meski dengan fasilitas ala kadarnya, yakni dengan kursi berbahan rotan dan kipas angin yang disediakan pengelola, warga Pacitan sangat terhibur, sebab mereka bisa menyaksikan film dengan layar lebar yang sedang populer.

Saking terhiburnya, kadang banyak diantara warga Pacitan tersebut yang duduk di kursi dan digigit serangga hingga bau pesing di ujung gedung film. Sementara, jika tak kebagian kursi karena penonton membludak, ada penonton yang rela lesehan di depan.

Saat itu, para penonton pun bebas memilih tempat duduk karena tak ada nomor kursi, sementara, suasana di dalam gedung hanya mengandalkan kipas angin dan tanpa Air Conditioner (AC), bebas merokok dan penonton juga bebas bawa makanan dari luar.

Meskipun suasana serba tidak karuan, namun gedung film ini sangat digandrungi masyarakat setempat, dan menjadi tempat paling populer selain tempat publik lain di Pacitan, seperti alun-alun Pacitan.

Bagaimana, Anda pernah merasakan menonton film di gedung film Balai Desa Tanjungsari? Jika pernah, tentu mas kecil dan remaja Anda dalam “kegelapan” tapi membahagiakan. Selamat bernostalgia.

Permalink ke Cerita Unik Indartato dengan Mbah Karyo, Kasun Sugihwaras Pringkuku
Headline, Tempo Dulu

Cerita Unik Indartato dengan Mbah Karyo, Kasun Sugihwaras Pringkuku

Indartato Dilantik Jadi Camat Pringkuku. (Sumber Foto: Buku Indartato Sang Pengabdi)

INI adalah cerita nyata yang terjadi jauh sebelum ada kecanggihan teknologi. Kala itu belum ada grup-grup whatsapp, belum ada transportasi yang memadai. Belum ada hal-hal yang bisa dinikmati di zaman modern saat ini. Namun saat itu, inspirasi dari kisah ini adalah tentang semangat dan keteladanan seorang pemimpin. Redaksi Pacitanku.com mengutip langsung dari kisah manis yang dituliskan Subiyanto Munir, penulis buku dalam buku Indartato sang pengabdi. Selamat menikmati.

Hari itu adalah hari pertama Camat Pringkuku Indartato ngantor secara resmi, sebelumnya sudah tunjuk muka di tempat kerja baru sebagai pemangku jabatan tertinggi di kecamatan setempat. Pekerjaan pertama yang ia lakukan adalah perkenalan dengan unsur Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) dan semua elemen masyarakat yang berada di Kecamatan Pringkuku.

Ia bersilaturahim ke Danramil, Kapolsek, Kepala Puskesmas, Kepala Depdikbudcam dan Kepala KUA setempat. Sebelumnya diawali dengan acara pisah kenal camat lama dan baru. Karena terbatasanya dana, pihak panitia tidak bisa menghadirkan seluruh perangkat desa. Apalagi ketika itu yang namanya rapat (apapun) di kecamatan tidak bisa memobilisasi peserta yang banyak.

Selain jarang ada angkutan umum dari seluruh desa menuju kota kecamatan, rapat di kecamatan umumnya dihadiri oleh carik saja. Lantas setelah carik mengikuti rapat di kecamatan hasilnya disampaikan kepada perangkat desa dalam kumpulan rebon. Yaitu acara perteman rutin tingkat desa yang diadakan setiap hari Rabu.

Satu bulan sudah, Indartato menjadi camat di Pringkuku. Dirinya sudah merasa bisa beradaptasi dengan kantor baru, jabatan baru dan suasana kejiwaan anak buah baru. Kebiasaan dan gaya Indartato tetap sama, seperti ketika masih di Punung. Nylondhoh, macak sopir dan berpenampilan sederhana masih ia lakukan. Kepada siapa saja ia selalu menyapa terlebih dahulu dan dengan bahasa Jawa halus. Bagi orang yang belum pernah kenal, siapa dia dan apa jabatannya, memang tidak mengira kalau dia seorang camat.

Ada cerita unik ketika suatu hari seseorang bertamu di kantornya. Hari itu masuk pagi, karena hari Jumat. Karyawan kantor kebanyakan nglaju dari Pacitan belum datang. Indartato tidak mau ikut arus karyawannya. Pasti dia datang duluan. Selain sudah terbiasa disiplin saat kuliah di APDN, ia sendiri ingin memberi contoh terlebih dahulu.

Indartato saat menjadi Camat Pringkuku (Sumber Foto: Buku Indartato sang pengabdi)

Meminjam istilah Jawa kuna yang dipopulerkan guru besar Universitas Negeri Semarang (Unnes) Prof Sudijono Sastroatmodjo. Nglakoni apa sing diomongke, ngomongke apas ing dilakoni, aja ngomong yen durung nglakokne. Camat Indartato sangat paham dengan filosofi kepemimpinan Jawa ini. dengan demikian diharapkan tidak satupun karyawan di kecamatan Pringkuku yang sakit hati atas perubahan pola kerja yang sedang dan akan dilakukannya. Akan tetapi tujuan utama untuk mendisiplinkan karyawan tercapai.




Cerita unik tadi adalah datangnya tamu kantor dari desa Sugihwaras. Dia diutus oleh carik untuk meminta tapak asma surat kependudukan warga desanya kepada camat. Ia adalah perangkat desa Sugihwaras. Jauh ke kecamatan kurang lebih perjalanan dua jam dengan jalan kaki. Pria separuh baya itu adalah salah satu kepala dusun di desa itu. Ia kebetulan mendapat giliran untuk nyentana (cadhong dhawuh utusan lurah) pergi ke kaonderan (kecamatan).

Hari itu karyawan kantor kecamatan belum ada yang datang. Kasun Sugihwaras sudah datang pagi-pagi untuk segera mendapat pelayanan dari bagian administrasi. Ketika itu Indar berpakaian premasn, kaos lengan pendek dan celana training. Ia, sedang kerja bakti memotong tanaman pagar kantor yang tumbuh sudah tidak teratur.

Seperti biasa ia ditemani tukang kebun membersihkan ruut di gapura depan, sambil mencabuti rumput-rumput liar. Begitu ada tamu, Indar menyapa terlebih dahulu. Apalagi tamunya nampak lebih tua dan kelihatan datang dari jauh. Baju potong gulon hitam dengan kaos lorek sudah agak kusam, ditambah udheng yang menyelut kepalanya membuat tamu itu di mata Indartato nampak berwibawa.

“Badhe kersa napa mbah?” sapa Indar dengan senyuman khasnya. “Arep sowan pak camat! Apa piyantune wis teka?” Demikian jawab sang tamu dengan tenang, sambil menyeka keringat di wajah yang penuh peluh dengan tangan kirinya.

Oooh… mangga mbah, pinarak rumiyen!! Pak camat nggih sampun rawuh kok. Panjenengan tengga wonten rung tamu pendhapa sawetawis,” sahut Indartato sambil mempercepat pekerjaan mencabut rumput yang tinggal sedikit.

Jam dinding di ruang tunggu kecamatan sudah menunjukkan pukul 07.15 WIB. Baru ada dua orang anak buahnya yang datang. Itupun karyawan bagian umum yang biasa menyiapkan minum pegawai dan membersihkan kantor. Satu lagi staf bagian yang menangani masalah sosial.

Melihat para pembantunya belum datang, sementara Mbah Kasun Sugihwaras sudah cukup waktu menunggu, pantangan bagi Indar kalau sampai membuat masyarakat terlalu lama ditelantarkan. Setelah berganti pakaian dinas dan merapikan rambut cepaknya, Indar menemui sendiri sang tamu di ruang tunggu kecamatan.

Dalam suasana agak cair, karena tadi pagi sudah ketemu di gapura, Indartato kembali menyapa tamunya. “Badhe ngersakaken punapa mbah?” Ia mengulangi pertanyaan tadi pagi untuk sekedar basa-basi. “Badhe panggih Pak Camat nak, napa sampu saged menghadap piyambakipun?” seperti tersambar sesuatu, tubuh Indar bergetaran.

Sambil memperbaiki duduknya Indar mencoba berkomunikasi dengan sang tamu. Dengan beragam perasaan, geli, malu, minder dan perasaan kurang percaya diri, Indar bertanya lagi kepada tamunya yang tampak nikmat menghisap rokok Grendo sebagai kesukaan khas orang tua di desa.

Nyuwun sewu, simbah daleme pundi?” tanya Indar. “Kulo Sugihwaras nak,” jawab sang tamu,”simbah asmaniupun sinten?,” dia bertanya lagi. “Kulo Karyo Rejo. Sowan mriki dipun dhawuh mbah lurah nyuwunaken leges pak Camat. Gek pak camat napa sampun rawuh?” tanya mbah Karso lagi.

Sampun mbah, nggih kulo niki camat Pringkuku sakniki.” Dengan perasaan agak terpaksa Indar membuka jati diri di hadapan tamu yang masih belum yakin bahwa anak muda berambut cepak, berkulit hitam dan berperawakan kecil itu ternyata camat Pringkuku.

Seketika itu mbah Kasun Karyo Rejo terhenyak, salah tingkah dan uluk pangapura. Kalau tidak dicegah Indartato mbah Karyo hampir laku dhodok untuk bersimpuh di hadapan Ndoro Camat. Pembicaraan akhirnya cair kembali, setelah mereka berdua saling bercerita sambil menunggu leges yang diperlukan mbah Karyo diselesaikan oleh staf kecamatan yang saat itu sudah datang.

Tak berapa keperluan mbah Karyo sudah selesai. Diapun pulang dengan berjalan kaki ke Sugihwaras. Suasana kantor kembali normal, semua bekerja pada posisi masing-masing. Indartato sendiri kembali ke ruang kerja untuk memeriksa surat-surat baru yang masuk di meja kerjanya.

Sambil membuka lembar surat satu dem satu dihadapannya, Indar menerawan ke depan. “Apa memang potongan seperti ini saya tidak pantas jadi camat ya? Kok Mbah Karyo tadi tidak yakin, setelah saya beri tahu bahwa camat Pringkuku sekarang adalah saya,” gumamnya.

Kejadian serupa juga dialami lagi oleh Indar pada sore hari waktu ia menyapu halaman kantor camat bersama Tukijo. Agar kejadian tadi tidak berulang, perlu segera ada acara di desa-desa yang dapat memfasilitasi dirinya berkenalan dengan seluruh warga. Minimal para perangkat desa sebagai mitra terdepan camat di tengah masyarakat. Indartato merencanakan lomba administrasi tingkat RT. Pada saat penilaian, warga RT diundang. Acara secara resmi dibuka langsung oleh camat dan ketua tim penggerak PKK Kecamatan yang tak lain adalah istrinya sendiri. Hadiah disiapkan pihak kecamatan sebagai daya tarik lomba.

Saat itu hari kerja dalam sepekan masih enam hari, Sabtu tetap masuk seperti biasa. Indar tidak sranta menunggu hari Senin. Hari itu juga ia kumpulkan seluruh pembantunya, untuk diajak musyawarah dengan tema seperti yang ia rencanakan.

Setelah ada usul-saran dari staf, diputuskan lomba diadakan dengan sistem berjenjang. Kejuaraan diambil pada tingkat desa, dri juara satu sampai harapan dua. Kemudian juara satu di desa berhak mengikuti lomba di tingkat kecamatan. Keputusan ini segera disebar-luaskan pak mantri polisi. Lomba pun berlangsung meriah karena mendapat dukungan penuh dari aparat desa. Dalam waktu tiga bulan, Indartato tepung mengunjungi seluruh desa di Pringkuku yang membentang dari pantai Watukarung sampai ke DusunTumpak, Tamanasri di utara perbatasan Arjosari. Tidak hanya itu, akhirnya Indartato dapat mengikuti lomba desa sampai tingkat provinsi.

Sisi lain dari kegiatan lomba ini adalah terbangunnya hubungan emosional yang akrab antara camat dengan waga selam akegiatan berlangsung. Seluruh perangkat ia temui satu persatu setia selesai membuka acara secara resmi.

Para kawula alit heran, kok ada camat yang bergaya seperti rakyat jelata begini. Tidak nyungkani, tidak mriyayeni dan loman. Menurut kebanyakan warga setempat, dulu-dulu belum pernah mereka temui ada camat bersedia dlusupan di rumah-rumah warga. Nyambangi orang sakit, apapalagi  ngantar orang dengan mobil dinas ke rumah. Itu nyidham mas namanya. Begitu ungkap seorang warga mengenang kebaikan camat barunya.

Ada lagi kisah yang pantas diteladani ara camat sekarang dan istri-istri mereka. Seperti ditutukan oleh Jumin, seorang pensiunan kepala SD di Pringkuku. Suatu hari desa Jlubang tempat tinggal Jumin ditunjuk mewakili kecamatan Pringkuku untuk mengikuti lomba PKK tingkat kabupaten. Ketika itu Luki baru melahirkan Yanu, putra keduanya beberapa bulan.




Akan tetapi demi untuk mendukung persiapan lomba, bu Luki rela menginap selama tiga hari di rumah ini. selama tiga hari pula pak In mondar-mandir dari Jlubang ke kantor kecamatan memakai mobil kodok. Demikian dituturkan oleh Jumin mengenang semangat kerja dan pengorbanan sepasang suami istri yang saat itu menjadi ibu dan bapaknya masyarakat Pringkuku.

Indartato saat menjadi Camat Pringkuku (Sumber Foto: Buku Indartato sang pengabdi)

Masih bayak catatan yang dituturkan oleh para tokoh Pringkuku tentang keunikan, kelebihan dan pengorbanan Indar berdua selama menjadi camat di Pringkuku. Gara-gar menerima tamu kasun Sugihwaras Indartato menemukan ide cerdas yang memperkokoh jati dirinya. Mbah Karyo Rejo, saat sebelum meninggal dunia, Indartato sempat besuk, meski sudah tidak jadi camat Pringkuku. Tidak lupa ia bawakan rokok. Mbah Karyo berpesan kepada Indartato saat besuk ke beliau.

Mas In, wong kuwi yen gelem andhap ashor lan ngalah, suk ing tembe mburi bakal dhuwur wekasane gampang ginayuh apa sing dikarepake merga kang jinangka sinengkuyung dongane wong akeh. Muga-muga ora mung dadi songsong madyaning kawula alit ing Pringkuku wae. Nanging dadia songsong agung ing jagat bumi Wengker kidul iki,”demikian pesan Mbah Karyo kepada Indartato.

Permalink ke Begini Romantika Perjuangan 107 Hari Jenderal Soedirman di Pacitan
Headline, Tempo Dulu

Begini Romantika Perjuangan 107 Hari Jenderal Soedirman di Pacitan

Jenderal Soedirman. (Foto: Arsip Nasional RI

Jenderal Soedirman. (Foto: Arsip Nasional RI

Pacitanku.com, PACITAN – Salah satu sosok yang tak akan pernah lepas dari perjuangan Indonesia dalam meraih kemerdekaan adalah Panglima besar Jenderal Soedirman. Meski meninggal di usia muda, yakni usia 34 tahun, namun semangat juang sang panglima tergores manis dalam tinta emas perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. Pria yang lahir di Purbalingga, Jawa Tengah pada 24 Januari 1916 ini identik dengan perang yang sangat fenomenal, yakni perang gerilya.

Selama tujuh bulan lebih perang gerilya berkobar dari Desember 1948 sampai dengan Juli 1949. Selama tujuh bulan itu, Jenderal Soedirman bersama para pengikutnya melewati 10 kabupaten yang terbentang dari DI Yogyakarta, Jateng dan Jawa Timur dengan panjang rute gerilya mencapai 1.009 km. Perjuangan Jenderal Soedirman dalam menghadapi perang gerilya begitu dramatis, sebab kondisi saat itu dirinya sedang sakit  tuberkulosis (TBC). Sehingga paru-paru kanannya dikempeskan pada bulan November 1948, atau sebulan sebelum perang gerilya digelar.

1. Awal perjalanan gerilya ke Pacitan

jenderal-soedirman1

Jenderal Soedirman saat menerima laporan pasukan. (Foto: Arsip Nasional RI)

Sebelum ke Pacitan, Jenderal Soedirman beserta para pengawalnya telah menempuh perjalanan panjang dari DI Yogyakarta, hingga yang terakhir adalah di Trenggalek. DI Trenggalek, yakni di Desa Bodag, Kecamatan Panggul, terdapat sebuah rumah yang pernah digunakan sebagai tempat beristirahat Jenderal Soedirman dan pasukannya.


Di dalam rumah yang berubah layaknya museum kecil itu terpampang foto sang jenderal. Selain foto dan peta yang berisi rute perang gerilya dari Jogjakarta hingga Kediri, terdapat berbagai barang peninggalan pasukan gerilya yakni, perlengkapan ibadah, seperangkat alat makan, meja kursi, dan tempat tidur. 

Perjalanan panjang yang menempuh jarak 97 Km di Pacitan diawali dari Desa Klepu, Kecamatan Sudimoro, selanjutnya penjelajahan Jenderal Soedirman menuju ke Desa Ngadirojo Kecamatan Ngadirojo, kemudian menuju ke Desa Wonosidi di Kecamatan Tulakan.

Usai menempuh dari Ngadirojo ke Tulakan, rute selanjutnya adalah melewati Desa Kasihan, tepatnya di Pringapus, di Kecamatan Tegalombo, dan kemudian berakhir di bukit Gandrung, Dusun Sobo, Desa Pakisbaru, Kecamatan Nawangan.

Akhirnya sampailah di Sobo Nawangan Pacitan. Di tempat ini sekarang telah didirikan monumen besar dan kawasan bersejarah Jenderal Sudirman yang luas dan bagus. Cukup lama Jenderal Soedirman bersama pengikutnya berada di tempat ini, sekitar 107 hari atau 3 bulan, yakni 1 April 1949 sampai 7 Juli 1949. Dan ditempat inilah berbagai peristiwa penting menandai perjuangan gerilya sang jenderal.

2. Romantika perjuangan selama di Nawangan

Rumah gerilya Jenderal Soedirman di Dusun Sobo. (Foto: Dok Pacitanku)

Rumah gerilya Jenderal Soedirman di Dusun Sobo. (Foto: Dok Pacitanku)

Di sebuah bukit, namanya bukit Gandrung, Dusun Sobo, Desa Pakisbaru, Kecamatan Nawangan, atau berjarak sekitar 55 km dari kota Pacitan, berbagai perjalanan menyejarah sang jenderal selama gerilya terjadi. Jenderal Soedirman tinggal dirumah seorang bayan di Dusun Sobo, namanya adalah Karsosoemitro selama 3 bulan 28 hari atau 107 hari.

Tepat sekali sang Jenderal menjadikan rumah yang terletak di ketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan air laut sebagai markas gerilya, hal itu dikarenakan berada di tekukan bukit-bukit sehingga bisa melihat gerak-gerik musuh dari ketinggian dan sulit dijangkau.


Kondisinya adalah, di sebelah barat rumah markas ini ada jurang yang dalam. Disisi lain, tempat ini juga jauh dari keramaian, sehingga siapa saja yang masuk ke sini mudah dikenali sebagai orang asing atau bukan.

3. Keputusan politik penting selama di Pacitan

jenderal-soedirman

Jenderal Soedirman saat menerima laporan pasukan. (Foto: Arsip Nasional RI)

Selama Jenderal Soedirman di memimpin gerilya ini, perkembanngan situasi dan politik di dalam dan di luar negeri diikuti dengan cermat dan teratur melalui radio dan surat kabar. Hubungan komando dengan para Komandan lapangan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) maupun Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Sumatera Barat berjalan lancar. Di Dusun Sobo ini juga sang Jenderal berkesempatan pula menerima kunjungan beberapa orang menteri seperti Susanto Tirtoprodjo untuk membicarakan langkah perjuangan selanjutnya.

Dari tempat ini, ia mampu mengomandoi kegiatan militer di Pulau Jawa, termasuk Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta, yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Soeharto. Kala itu, sang Jenderal menerima utusan Letnan Kolonel Soeharto yang melaporkan rencana serangan umum terhadap Yogyakarta.

Soedirman menggunakan sebuah radio untuk memberi perintah pada pasukan TKR setempat jika ia yakin bahwa daerah itu aman. Merasa lemah karena kesulitan fisik yang ia hadapi, termasuk perjuangannya melewati hutan dan kekurangan makanan, Soedirman yakin bahwa bukit Gandrung, Dusun Sobo aman dan memutuskan untuk menggunakannya sebagai markas gerilya.

Komandan tentara setempat, Letnan Kolonel Wiliater Hutagalung, berperan sebagai perantara antara dirinya dengan pemimpin TNI lain. Mengetahui bahwa opini internasional yang mulai mengutuk tindakan Belanda di Indonesia bisa membuat Indonesia menerima pengakuan yang lebih besar, Soedirman dan Hutagalung mulai membahas kemungkinan untuk melakukan serangan besar-besaran.

Sementara itu, Belanda mulai menyebarkan propaganda yang mengklaim bahwa mereka telah menangkap Soedirman; propaganda tersebut bertujuan untuk mematahkan semangat para gerilyawan. Soedirman memerintahkan Hutagalung untuk mulai merencanakan serangan besar-besaran, dengan prajurit TNI berseragam akan menyerang Belanda dan mununjukkan kekuatan mereka di depan wartawan asing dan tim investigasi PBB.




Akhrinya, pasukan TKR dibawah komando Letnan Kolonel Soeharto berhasil merebut kembali Yogyakarta dalam waktu enam belas jam, menjadi unjuk kekuatan yang sukses dan menyebabkan Belanda kehilangan muka di mata internasional.

Monumen Jenderal Soedirman. (Foto : Dok.Pacitanku)

Monumen Jenderal Soedirman. (Foto : Dok.Pacitanku)

Serangan Umum yang dilancarkan tanggal 1 Maret 1949 berhasil dengan baik. Keberhasilan serangan umum ini membuktikan kepada dunia khususnya kepada Belanda bahwa Republik Indonesia masih ada dan TKR sebagai kekuatan bersenjata masih meneruskan perjuangan mempertahankan negara Republik Indonesia.

Demikianlah perjalanan menyejarah yang dilalui oleh sosok Jenderal Soedirman selama di Pacitan. Keyakinan, semangat dan daya juangnya ditengah keterbatasan sosok Jenderal Soedirman menjadi inspirasi bagi segenap generasi muda Pacitan untuk meneruskan perjuangan Jenderal Soedirman. Sehingga untuk meneladani perjuangan sang Jenderal, setiap dua tahun sekali digelar napak tilas rute gerilya Jenderal Soedirman selama di Pacitan.

Disarikan dari berbagai sumber.

(RAPP002)

Permalink ke Alun-alun Pacitan dari Masa ke Masa: Dari Zaman Penjajahan Hingga Kekinian
Headline, Place and Travel, Tempo Dulu

Alun-alun Pacitan dari Masa ke Masa: Dari Zaman Penjajahan Hingga Kekinian

alun-alun4Pacitanku.com, PACITAN – Setiap pusat kota di pulau Jawa khususnya, akan kita jumpai satu tempat publik yang cukup luas di tenagh kota. Ya, adalah alun-alun, atau menurut ejaan dulu ditulis dengan aloen-aloen atau aloon-aloon.

Jika kita amati lebih dalam, pengaturan pusat kota Jawa pada umumnya mempunyai bentuk dasar yang hampir sama, yaitu selalu dibentuk dengan adanya alun-alun dengan dikelilingi pusat pemerintahan dan masjid besar, demikian halnya dengan Pacitan, yang juga memiliki alun-alun besar di pusat kota, tepatnya di Jalan Ahmad Yani, Pacitan.

Baca juga: Alun – Alun, Tempat Nongkrong Asyik Warga Pacitan

Alun-alun Pacitan, seperti halnya alun-alun pada masa kerajaan, dikelilingi oleh masjid besar, kemudian ada Pendopo Kabupaten dan juga pasar (pasar sawo yang kini dialihfungsikan menjadi bangunan dan ruko).

Bahkan, fungsi alun-alun Pacitan kini juga sangat mirip dengan fungsi alun-alun pada masa kerajaan. Jika masa kerajaan dulu, alun-alun merupakan tempat berlatih perang (gladi yudha) bagi prajurit kerajaan, tempat penyelenggaraan sayembara dan penyampaian titah (sabda) raja kepada kawula (rakyat), pusat perdagangan rakyat, juga hiburan. Maka dalam konteks saat ini, alun-alun, terutama di Pacitan hampir sama fungsinya, untuk kegiatan kemasyarakatan.




Alun-alun Pacitan sendiri terbagi menjadi dua sisi, yakni sisi barat dan sisi timur. Alun-alun di sisi barat digunakan untuk olahraga, seperti sepakbola, voli, basket, kemudian kegiatan kebudayaan seperti peringatan hari jadi Pacitan, hingga upacara kemerdekaan.

Sementara di sisi timur, alun-alun Pacitan digunakan sebagai taman hiburan, ada taman membentang di sisi ini, termasuk komplek pedagang kaki lima yang berderet rapi di sepanjang alun-alun sisi timur. Lalu seperti apa sebenarnya perkembangan alun-alun Pacitan dari masa ke masa? Berikut ulasannya.

1. Alun-alun Pacitan Masa Pendudukan Belanda

Suasana alun-alun Pacitan masa penjajahan. (Foto: kitlv.nl)

Suasana alun-alun Pacitan masa penjajahan. (Foto: kitlv.nl)

Sebuah foto grayscale yang diunggah di laman KITLV, media informasi sejarah milik Universitas Leiden, Belanda menerangkan dengan jelas kondisi alun-alun Pacitan saat pendudukan Belanda kala itu. Foto yang diambil sekitar tahun 1915-1930  tersebut adalah saat Pacitan dipimpin oleh Bupati Raden Adipati Tjokronegoro II (1906-1933).

Pada masa itu, seperti yang tergambar dalam foto, kondisi alun-alun Pacitan terlihat sunyi, dan pepohonan besar pun menghiasi alun-alun Pacitan yang kala itu belum terbagi menjadi dua sisi. Sementara ditengah alun-alun, pohon besar menjadi penanda alun-alun tersebut.

2. Alun-alun Pacitan Tahun 70-an

Ada jalan di alun-alun Pacitan. (Sumber Foto: pacitantempodoeloe.blogspot.co.id)

Ada jalan di alun-alun Pacitan. (Sumber Foto: pacitantempodoeloe.blogspot.co.id)

Setelah masa pendudukan Belanda, Indonesia mulai merdeka dan terus membangun berbagai sektor, seperti infrastuktur, ekonomi dan pemerintahan. Di Pacitan, pembangunan infrastuktur juga terus dijalankan pemeirintah daerah tingkat II. Pada tahun 1970-an, alun-alun Pacitan juga terus mengalami perbaikan dan pembangunan oleh pemerintah setempat. Pada tahun 1970-an, Pacitan dipimpin oleh Bupati yang masih dari kalangan militer, yakni Raden Mochamad Koesnan.

Baca juga: Menikmati Nuansa Klasik Suasana Pusat Kota Pacitan Tempo Dulu Tahun 70-an

Berdasarkan foto yang diperoleh Pacitanku.com dari laman Pacitan Tempo Dulu, pembangunan alun – alun kala itu juga mengalami perkembangan pesat. Perkembangan tersebut adalah adanya tugu nol kilometer Pacitan. Kemudian ada jalan yang membelah di tengah alun-alun tersebut, yang membagi alun-alun Pacitan menjadi dua sisi, yakni sisi barat dan sisi timur. Di sepanjang jalan yang membelah alun-alun ini, lampu hias sudah terpasang untuk menerangi jalan.

alun-alun Pacitan

(Sumber Foto: pacitantempodoeloe.blogspot.co.id)

Pada masa tahun ini, beberapa sudut alun-alun yang tergambar juga menyajikan perkembangan transportasi di Pacitan, dimana kala itu ada becak dan dokar yang berjejer di kompleks alun-alun Pacitan. Selain itu pada masa ini, juga sudah ada drainase alun- alun Pacitan. Satu-satunya pemandangan yang mirip alun-alun masa tahun 1970-an dan sebelumnya di Pacitan adalah masih banyaknya pohon rindang yang mengelilingi alun-alun Pacitan.

3. Alun – alun Pacitan Tahun 80-an

PERSPA Pacitan Binaan Imam Hanafi

PERSPA Pacitan Binaan Imam Hanafi aka bertanding di alun-alun Pacitan

Dampak yang cukup terasa di masa ini adalah nuansa olahraga yang ada di Pacitan, terutama sepakbola. Karena saat itu alun-alun Pacitan digunakan sebagai tempat bertandingnya tim sepakbola kebanggan Pacitan, PERSPA. Adalah sosok Kolonel Imam Hanafie, sang bupati Pacitan dan disebut sebagai perintis klub sepakbola di Pacitan yang cukup pupoler saat itu.

Baca juga: Mengenal Bupati Pacitan (3) : Imam Hanafi, Pelopor Sepakbola Pacitan

Kecintaan Imam Hanafie pada sepakbola membuat kompetisi lokal di Pacitan menjadi hidup. Dampaknya, alun-alun Pacitan menjadi sangat hidup, karena setiap hari kamis sampai Ahad selalu ada pertandingan bola di alun – alun Pacitan.

Seringkali di alun – alun Pacitan digelar pertandingan persahabatan. Dengan harga tiket karcis Rp 100 kala itu, penonton dapat menyaksikan pemain bola lokal yang hebat. Lebih enak lagi karena penonton mendapatkan kesempatan untuk memenangkan undian kambing melalui undian tiket masuk.

4. Alun – alun Pacitan Tahun 90-an

alun-alun PacitanPada masa ini, Pacitan dipimpin bupati masih dari kalangan militer, yakni H. Soedjito pada tahun 1990 dan Sutjipto HS pada tahun 1995-2000. Pada masa ini, dua bupati tersebut sudah mulai membidik wisata sebagai salah satu andalan pembangunan, yakni dibukanya Goa Gong dan juga program pemberdayaan ekonomi melalui Gerbang Intan.

Sebagai dampaknya, alun-alun Pacitan menjadi salah satu tempat publik yang dibuka seluas-luasnya untuk kepentingan piknik sekaligus perekonomian warga. Di masa ini, alun-alun Pacitan sudah dibagi menjadi dua sisi, yakni alun-alun Pacitan bagian timur. Bahkan jalan yang membelah alun-alun yang dibuat tahun 1970-an juga sudah dihilangkan.

Sementara, banyak pedagang kaki lima (PKL) yang mulai menempati kawasan alun-alun Pacitan, terutama di sisi timur atau bagian taman. Nah, di sisi timur alun-alun Pacitan ini kita, terutama generasi yang lahir tahun 80-an mungkin kenal dengan istilah Pacitan berhias, yang merupakan akronim dari Pacitan bersih, hijau dan asri. Ini adalah sebuah alat kampanye untuk menjadikan Pacitan menjadi daerah yang bersih, hijau dan asri. Bahkan tulisan Pacitan berhias masih bisa disaksikan di taman alun-alun Pacitan yang dibuat menggunakan tanaman yang dibentuk sedemikian rupa.

5. Alun – alun Pacitan tahun 2000

alun-alun6Pada masa ini, tampuk kepemimpinan Pacitan dipegang oleh kalangan sipil, yakni Soetrisno pada tahun 2000 hingga 2005. Kemudian dilanjutkan oleh Sujono pada tahun 2005 hingga 2010. Pada masa ini, perkembangan pembangunan di Pacitan juga melanjutkan Gerbang Intan, terutama masa kepemimpinan Sujono.




Keran investasi dari luar ke Pacitan juga mulai dibuka pada masa kepemimpinan Sujono di Pacitan. Tak banyak berubah jika dilihat dari kondisi alun-alun Pacitan. Hanya saja, dii masa tahun ini, kondisi alun-alun semakin ramai dan jadi tempat warga Pacitan menghabiskan waktu santai dan olahraga.

Kompleks alun-alun timur juga masih digunakan para PKL untuk berdagang dan mengais rezeki. Keramaian kawasan alun-alun Pacitan biasanya memuncak saat ada pesta hari besar, seperti hari jadi Pacitan dan sejenisnya. Bahkan para PKL alun-alun Pacitan membuka lapak dagangannya hingga 24 jam non stop untuk melayani warga Pacitan.

6. Alun- alun Pacitan tahun 2010 hingga kini

alun-alunSemakin modern, penataan alun-alun Pacitan juga semakin berkembang. Demikian juga halnya dengan alun-alun Pacitan. Di masa kepemimpinan Indartato, mulai 2011 hingga kini, ada beberapa perubahan yang cukup mencolok. Misalnya kawasan PKL ditata dengan rapi berkat bantuan Corporate Social Responsibility salah satu Bank di Jawa Timur. Kemudian trotoar alun-alun Pacitan pun semakin dipercantik dengan pot bunga serta lantai marmer yang halus.

Dari sisi fasilitas alun-alun, semakin banyak terdapat didalamnya, seperti toilet umum, tempat sampah di banyak titik, hingga taman yang dipugar yang cukup modern. Selanjutnya, peruahan lainnya adalah tak adanya lagi tugu nol kilometer di alun-alun Pacitan. Titik ini diganti dengan tugu pancasila. Dan yang kekinian adalah dibangunya tulisan besar Taman Alun-alun Pacitan, yang menjadi sarana obyek fotografi anak-anak muda Pacitan.

Demikianlah, perkembangan alun-alun Pacitan dari masa ke masa, dan meski alun-alun berubah menyesuaikan zaman dan kepemimpinan, namun yang tak berubah hanya satu, yakni semangat mencintai Pacitan. Hal itu terbukti dengan semakin ramainya alun-alun Pacitan, terutama saat sore dan malam hari.

Permalink ke Menikmati Nuansa Klasik Suasana Pusat Kota Pacitan Tempo Dulu Tahun 70-an
Tempo Dulu

Menikmati Nuansa Klasik Suasana Pusat Kota Pacitan Tempo Dulu Tahun 70-an

Jalan Ahmad Yani Pacitan, gambar ini diambil dari depan Kantor Kecamatan lama tahun 1975. (Sumber Foto: pacitantempodoeloe.blogspot.co.id)

Jalan Ahmad Yani Pacitan, gambar ini diambil dari depan Kantor Kecamatan lama
tahun 1975. (Sumber Foto: pacitantempodoeloe.blogspot.co.id)

Pacitanku.com, PACITAN – Pacitan adalah salah satu daerah di wilayah selatan Jawa Timur yang terus berkembang, baik secara ekonomi, infrastuktur dan pariwisatanya. Kota yang tahun 2016 ini berusia 271 tahun tersebut semakin berkembang seiring perkembangan zaman. Namun tahukah Anda bahwa Pacitan juga pernah mengalami masa tempo dulu, dimana kotanya masih tampak klasik, dan ada romantika sejarah masa lampau yang mungkin menjadi catatan sejarah perkembangan Pacitan?

Kali ini kita mencoba kembali ke belakang, mengenang kondisi Pacitan kala itu, sekitar tahun 1970an. Saat itu, Pacitan dipimpin oleh seoang tentara, yakni R Mochamad Koesnan yang menjadi bupati Pacitan sejak 1969 hingga 1980.

Nah, beberapa foto yang diperoleh Pacitanku dari laman Pacitan tempoe doeloe menyebutkan ada beberapa panorama klasik yang bisa terlihat. Salah satu yang cukup menonjol kala itu adalah jarang sekali masyarakat Pacitan yang mengendarai sepeda motor dan juga mobil. Dari beberapa foto memperlihatkan bahwa masyarakat Pacitan kala itu, terutama di pusat kota, menggunakan sarana kendaraan sepeda onthel dan becak. Pemandangan yang tentunya kontras dengan Pacitan masa kini, dimana becak dan sepeda onthel jarang ditemui di Pacitan.

Di pusat kota misalnya, jalan protokol yang saat ini sudah ramai dan semakin futuristik juga memiliki kenangan masa lampau yang mungkin bagi Anda sebagian pernah merasakan masa itu. Di jembatan Penceng, misalnya, pada tahun 1975 masih kecil dan sempit. Kemudian jalan Ahmad Yani misalnya, dulu, sekitar tahun 1975, berdasarkan foto yang diperoleh Pacitanku.com, masih terdapat banyak pepohonan kelapa dan pohon besar lainnya.  Sementara untuk kendaraan masih didominasi kenderaan sepeda onthel dan becak.




Kemudian, di pusat ekonomi di pasar Arjowinangun, keramaian saat itu mulai nampak seperti halnya kondisi saat ini. Saat itu, pedagang dan juga becak serta dokar memenuhi jalanan. Sementara di pusat kota lainnya, yakni di alun-alun Pacitan sekitar tahun 1986, yakni masa kepemimpinan H Mochtar Abdul Kadir, nampak ada perbedaan yang cukup menonjol dibandingkan saat ini.

Ada jalan di alun-alun Pacitan. (Sumber Foto: pacitantempodoeloe.blogspot.co.id)

Ada jalan di alun-alun Pacitan. (Sumber Foto: pacitantempodoeloe.blogspot.co.id)

Kala itu, ada jalan yang membelah alun-alun Pacitan, sementara alun-alun di sisi timur, terlihat beberapa pohon akasia menambah rindangnya alun-alun kala itu. Pemerintah Kabupaten juga membuatkan pagar di sekeliling alun-alun Pacitan dengan bahan bambu. Selanjutnya, di sebelah barat, tepatnya di Jalan Letjend Soeprapto atau Bapangan ke selatan, foto yang diambil pada tahun 1971 tersebut menampilkan kondisi jalan yang masih belum beraspal.  

Nah, demikian sekilas tentang Pacitan tempo dulu, yang tentunya membuat Anda semakin cinta Pacitan. (RAPP002)