Napak Tilas Jejak Perjuangan Kiai Hamid Dimyathi, Mujahid dari Bani Abdul Manan Attarmasie Pacitan

oleh -Dibaca 388 kali
Monumen 48 di Desa Hargorejo, Kecamatan Tirtomoyo, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah yang menjadi saksi kekejaman PKI membantai ulama, salah satunya Kiai Hamid Dimyathi. (Foto: Dok. Tim TP2GD Pemkab Pacitan for Pacitanku.com)

Ditulis oleh: Ketua Tim Kerja TP2GD Kabupaten Pacitan Subiyanto Munir, S.Pd, MM.Pd

Almaghfurlah Kiai Hamid Dimyati adalah trah ke 4 dari pendiri PP Tremas, KH. Abdul Manan. Hamid Kecil adalah putra  ke-2 dari almaghfurlah Kiai Hamid Dimyathi bin Abdullah. Sedangkan Kiai Hamid Dimyathi putra ke-4 dari KH Abdullah bin Abdul Manan. Kiai Abdullah adalah putra pertama dari pendiri Pondok Pesantren Tremas, Almaghfurlah KH. Abdul Manan, sang pemrakarsa cikal bakal berdirinya Pondok Pesantren Tremas, Pacitan, Jawa Timur.

Dalam perjalanannya, Kiai Hamid muda setelah beranjak dewasa dan selesai berguru kepada  ayahanda, paman dan kakek serta kiai-kiai besar di Jawa, mendapat kepercayaan memimpin Perguruan Islam Salafiyah legendaris Pondok Pesantren Tremas.

Ia menerima estafet kepemimpinan Pondok Pesantren Tremas dari ayahandanya saat Pondok Pesantren mengalami jaman keemasan, yakni tahun 1934. Setelah sang ayah udzur, mulai tahun 1934, kiai muda Hamid memimpin Pondok Pesantren Tremas sampai tahun 1948.

Selama kurang lebih 14 tahun, Kiai Hamid muda berkhidmat, beliau meneruskan jejak kerja sang ayah, yaitu dengan melakukan perubahan-perubahan metodologi pengajaran di pondok, melakukan reformasi kurikulum, penataan kelembagaan pondok serta membangun jaringan luas ke berbagai wilayah di Jawa, bahkan sampai mancanegara. Santri yang bermukim/menetap kala itu sekitar 2000 berasal dari dalam dan luar negeri.

Kiai Hamid memimpin pondok dengan ujian yang sangat berat. Ujian itu terutama datang dari eksternal. Yaitu saat Jepang menjajah Indonesia tahun 1943 dan disusul dengan peristiwa Affair Madiun. yaitu pemberontakan PKI Muso 1948.

Selain kesibukan memimpin Pondok beliau juga mendapat amanah menjadi pejabat, yaitu sebagai kepala penghulu Agama Islam di Kabupaten Pacitan. Pada saat beririsan, Kiai Hamid muda juga aktif dalam organisasi politik Masyumi, bahkan menjabat sebagai ketua, yakni ketua cabang Masyumi Kabupaten Pacitan.

Bersambung ke halaman 2…