Jejak Sejarah di Pacitan dari Abad 12-15

oleh -1.680 views

JEJAK sejarah di Pacitan ini dituliskan dalam naskah Sentana Genthong. 

E. CATATAN MASHYUR

XV. EKPEDISI CINA ABAD 12 dan 13

Pada Masa Pemerintahan Dinasti Sung (960-1279) mengutus Chou Ku-fei (Zhou Qufei) untuk melaksanakan ekspedisi ke Nusantara tepatnya tahun 1178 Masehi. 

Zhou Qufei menggambarkan keadaan kerajaan Kadiri atau Panjalu (tertulis Pu-chia-lung) tertuang dalam naskah kronik Ling Waitaita (嶺外代答; pinyin: Lĭngwài Dàidā)

1. Masyarakat Kediri memakai kain sampai bawah lutut dan rambutnya diurai. 
2. Rumah-rumahnya rata-rata sangat bersih dan rapi. 
3. Lantainya dibuat dari ubin yang berwarna kuning dan hijau. 
4. Pemerintahannya sangat memerhatikan keadaan rakyatnya sehingga pertanian, peternakan, dan perdagangan mengalami kemajuan yang cukup pesat.

Buku ini kemudian dikutip pada era Dinasti YUAN oleh Chau Ju-Kua dalam karyanya yang berjudul Chu-fan-chi (諸蕃志; pinyin: Zhufan zhi) tahun 1225. (Era Singhasari)
Raja Panjalu sangat menghormati daerah PACITAN sehingga menyuruh utusan Cina menulis daerah pesisir selatan Jawa ini pada urutan pertama. Chau Ju-Kua kemudian menulis :
1. Pai-hua-yuan (Pacitan), 
2. Ma-tung (Medang), 
3. Ta-pen (Tumapel, Malang), 
4. Hi-ning (Dieng), 
5. Jung-ya-lu (Hujung Galuh, sekarang Surabaya), 
6. Tung-ki (Jenggi, Papua Barat), 
7. Ta-kang (Sumba), 
8. Huang-ma-chu (Papua), 
9. Ma-li (Bali), 
10. Kulun (Gurun, mungkin Gorong atau Sorong di Papua Barat atau Nusa Tenggara), 
11. Tan-jung-wu-lo (Tanjungpura di Borneo), 
12. Ti-wu (Timor), 
13. Pingya-i (Banggai di Sulawesi), 
14. dan Wu-nu-ku (Maluku).

Chau Ju-Kua melihat keperkasaan Penduduk Jawa sangat berani dan kadangkala emosional. Seperti halnya masa-masa Cindhelaras, waktu luangnya untuk mengadu Ayam. Mata uangnya terbuat dari campuran tembaga dan perak.

Menurut kesaksian para penulis China, Pai-hua-yuan (Pacitan) merupakan kerajaan andhahan /bawahan Kerajaan Shepo (Jawa), atau Panjalu. Pacitan disetarakan dengan Jenggala, Tanjungpura, Bali dan lainnya.
Menunjukkan bahwa Pacitan sudah dikenal memiliki peradaban setara dengan kerajaan bawahan. Walaupun peradaban ini hilang ditelan bencana alam Gempa Bumi dan Sesar namun catatan ini abadi di negri China.
________

F. JEJAK EKSPEDISI RUM

XVI. SIKLUS KATASTROPIK ( BENCANA PURBA YANG BERULANG)

Pasca bencana besar MAHAPRALAYA abad 9 Tanah Jawa bagian pesisir selatan menjadi kosong dan sepi. Kerajaan Medhang di Mataram Kuno yang dahulu menjadi raksasa di Asia hanya tinggal puing-puing bebatuan, bahkan sebagian wilayahnya berubah menjadi hutan belantara.

Hanya sebagian kecil daerah yang dihuni. Itupun karena suatu sebab, yaitu sebagai tempat persembunyian. Seperti daerah Dadapan yang dihuni oleh Janda Airlangga beserta pengikut setianya (periode abad 11). Sedangkan Sentana Gentong dijadikan tempat pemujaan petilasan Moyang Panji.

200 tahun kemudian pada abad 13 era Kepanjian Panjalu, Pacitan telah memiliki peradaban yang maju, menjadi daerah Andhahan (daerah jajahan sebagaimana tertulis dalam catatan ekspedisi China 1178 dan1225 M).
Namun setelah abad 13 nama Pacitan tenggelam ditelan bumi kembali. Tidak ada secuil catatan sejarah atau peninggalan lainnya kecuali legenda dan mitos saja.

Peradaban daerah pesisir ini hancur karena siklus bencana Alam. Diantaranya bencana Tsunami Kuno (paleotsunami)yang diperkirakan abad 14, menerjang Jawa dan Sumatera. Selain itu sesar aktif merobek daerah ini, menembus perut bumi. Tidak hanya pergeseran lempeng tanah (tektonik) namun juga semburan magma (vulkanik). Gempa dan semburan api dari perut bumi meluluhlantakkan peradaban dalam sekejap.

Peristiwa alam ini merupakan siklus katastropik atau bencana alam kuno yang terulang ulang. Terekam dalam bentuk endapan piroklastik (Pyroclastic Deposits) yang ditemukan di beberapa tempat. Salah satu yang dapat ditemukan secara langsung tanpa proses ekskavasi (penggalian) adalah di dalam GUA TABUHAN. Ketika berjalan turun lihat potongan tanah di kanan kiri sebelah tangga nampak lapisan coklat dan abu-abu berselang seling.

Secara kasat mata endapan abu vulkanik ini berwarna abu-abu vulkanik sedangkan endapan debu yang tertiup angin dalam gua tampak seperti tanah halus. Di Gua Tabuhan terdapat beberapa lapis yang merupakan rekaman siklus katastropik di daerah Pacitan dari jaman ke jaman. Artinya beberapa kali bumi Jawa ini mengalami peristiwa siklus katastropik atau bahasa kunonya MAHAPRALAYA.

Selain tempat itu, di sebelah utara kita juga dapat menemukan sisa-sisa sesar yang menembus perut bumi ini dalam bentuk sumber mata air panas. Tepatnya di daerah Karangrejo Arjosari yang sekarang dikenal dengan nama Banyu Anget.

XVII. SULTAN GALBAH Dalam Historiografi Jawa (EKSPEDISI NGERUM II)

Sebuah negeri yang jauh Benua Utara, bangsa Romawi Asia Minor, berpusat di Anatolia (sekarang disebut Turki) beribu kota di Bursa. Mehmed I Jalabi dari Bursa adalah Sultan Utsmaniyah KE 5 yang berkuasa antara tahun 1402-1421. Yang kemudian dalam Historiografi serat-serat Jawa Kuno disebut Sultan Galbah atau Jalabi. 
1. Dinasti Utsmaniyah adalah penguasa setelah runtuhnya Sultaniyah Seljuk Daulat Ruum yang penguasai Anatolia 
2. mendapat julukan Sultan Galba atau Gabah, 
3. Nama Galbah sulit ditemukan dalam literasi sejarah, namun sebenarnya cukup populer bagi sejarawan kuno. 
4. Galbah dalam bahasa Turki Farsi adalah Chalabi (جلبي) yang berarti Bangsawan (Glory Highness/Yang Mulia)

Sultan Galbah telah mendengar berita tentang sebuah negeri kepulauan timur yang disebut Nusantara. Nusantara terkenal makmur dengan alamnya, sikap masyarakatnya yang terbuka bagi para pendatang dari segala penjuru dunia, terutama China dan Arab.

Salah satu Pulau di Nusantara yang agraris dan subur itu dikabarkan terdapat lahan yang kosong tidak berpenghuni akibat bencana alam. Dari beberapa informasi para saudagar yang pernah melintasi pulau tersebut adalah Pulau Jawa, sedangkan lahan yang kosong adalah bagian selatan dekat dengan Samudera Luas.

Sultan Galbah tertarik mengirim orang untuk bermigrasi ke sana, memanfaatkan lahan yang subur. Dengan menggunakan Armada Kapal dan bekal yang cukup Sultan Galbah mengirim 4.000 orang ke Pulau Jawa. 
Namun dikisahkan bahwa semua keluarga itu tewas. Sultan Galbah mengirim lagi 2000 keluarga, tetapi semuanya kembali tewas. Kejadian tersebut diperkirakan antara tahun 1402 sampai 1404 M

Seorang ulama Amir Samsudin atau Asy-Syeikh Ak Samsettin (nama aslinya Muhammad Shams al-Din bin Hamzah 1389-1459) Ulama ahli Ma’rifat dan penasihat yang berpengaruh memiliki keahlian spiritual dan bijaksana. Sultan Galbah meminta petunjuk kepada Amir Samsudin untuk mengirim utusan menyelidiki keberadaan tempat itu. Amir Samsu berpendapat tempat itu sudah penah disinggahi para Syaikh. Bahkan pernah ada rukyah (tolak balak) Beliau menyarankan agar sultan mengirim ahli Hikmah untuk mengatasi masalah tersebut.

Sultan Galbah mengutus seorang ahli hikmah atas petunjuk Amir Samsudin yang bernama Syaikh Al Baqir Al Farisi dari Persia. Dalam historiografi Jawa beliau disebut Syekh Subakir ahli tumbal.

XVIII. SYEKH SUBAKIR Dalam Historiografi Jawa
(EKSPEDISI NGERUM III)

Sesuai sejarah Walisongo periode pertama Sultan mengutus ulama untuk berdakwah di pulau Jawa pada tahun 1404, mereka diantaranya:
1. Maulana Malik Ibrahim, berasal dari Turki, ahli mengatur Negara.
2. Maulana Ishaq, berasal dari Samarkand, Rusia Selatan, ahli pengobatan.
3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, dari Mesir.
4. Maulana Muhammad Al Maghrobi, berasal dari Maroko.
5. Maulana Malik Isro’il, dari Turki, ahli mengatur negara.
6. Maulana Muhammad Ali Akbar, dari Persia (Iran), ahli pengobatan.
7. Maulana Hasanudin, dari Palestina.
8. Maulana Aliyudin, dari Palestina.
9. Syekh SUBAKIR, dari Iran, Ahli menumbali daerah yang angker yang dihuni jin jahat.

Syekh Subakir datang di Pesisir Jawa dari hujung barat sampai hujung timur, dari tengah sampai tepian beberapa penjuru Pulau disinggahi. Beliau menemukan beberapa lokasi yang diduga menjadi sumber bencana. 
• Gunung Jugrug: Ditemukan banyak Gunung Berapi di Pulau Jawa yang memiliki potensi bencana dahsyat. 
• Segara Sat: adalah keadaan lautan mengering lalu datang air dalam gelombang besar (LWAH) yang sekarang disebut STUNAMI
• Lemah Bengkah adalah gambaran tentang bencana SESAR TANAH.
• Hutan dan tempat angker yang menjadi sarang bangsa Jin.
• Sumber wabah penyakit.

Dengan hikmah yang dimiliki beliau berhasil menanam tolak balak. Syekh Subakir melakukan ritual dengan taqorrub ilallah menyembelih binatang qurban yang disedekahkan bagi orang-orang. 
( لدفعا شرلجن) 
Tolak balak dari gangguan makhluk halus, wabah penyakit dan bencana alam. Beliau merukyah beberapa tempat yang dianggap menjadi tempat tinggal para dhanyang dan siluman bangsa Jin.
………………………………………………………………………
Catatan kaki DASAR FIQH oleh narasumber Ahli:
Syekh Zainuddin Al-Malibari dalam Fathul Mu’in mengatakan sebagai berikut,
Siapa saja yang memotong (hewan) karena taqarrub kepada Allah dengan maksud menolak gangguan jin, maka dagingnya halal dimakan. Tetapi kalau jin-jin itu yang ditaqarrubkan, maka daging sembelihannya haram.

Perihal keterangan di atas, Syekh Sayid Bakri bin Sayid M Syatho Dimyathi dalam I‘anatut Tholibinmenerangkan,
(Siapa saja yang memotong [hewan]) seperti unta, sapi, atau kambing (karena taqarrub kepada Allah) yang diniatkan taqarrub dan ibadah kepada-Nya semata (dengan maksud menolak gangguan jin) sebagai dasar tindakan pemotongan hewan. Taqarrub dengan yakin bahwa Allah dapat melindungi pemotongnya dari gangguan jin, (maka daging) hewan sembelihan-(nya halal dimakan) hewan sembelihannya menjadi hewan qurban karena ditujukan kepada Allah, bukan selain-Nya.

(Tetapi kalau jin-jin itu) bukan Allah (yang ditaqarrubkan, maka daging sembelihannya haram) karena tergolong daging bangkai. Bahkan, jika seseorang berniat taqarrub dan mengabdi pada jin, maka tindakannya terbilang kufur. Persis seperti yang sudah dibahas perihal penyembelihan hewan ketika berjumpa dengan penguasa atau berziarah menuju makam wali.
………………………………………………………………………

XIX. KEDATANGAN SYEKH SUBAKIR DI SENTANA GENTONG (Dalam Historiografi Jawa)

Setelah melintasi hutan belantara pesisir selatan sampailah Syekh Subakir di pegunungan kapur yang membentang panjang bagaikan seribu gunung. Dia berhenti di tepi gunung ada lembah yang menyatu dengan teluk Samudera Selatan. 

Dua bukit kapur sebelah barat, dan timur dalam pandangannya terpampang bumi yang terbelah. Dalam pandangannya dia juga melihat adanya peradaban yang terkubur zaman. Tempat yang sangat sepi nyaris tidak berpenghuni. Selain itu ia menemukan beberapa bekas pemujaan orang-orang kuno, pekuburan, lalu ia doakan.

Ia terkejut tanah yang diinjaknya kadangkala bergetar dan bergerak gerak, dia merasakan ada gempa kecil saling menyusul berpusat jauh dari dalam tanah.

Di tempat itu rombongan Syekh Subakir bertemu dengan sekelompok orang tempatan. Berpakaian setengah telanjang berambut kumal agak gimbal sedang membakar hewan buruan. Orang-orang itu tampak perasa terhadap pendatang. Menatap dengan curiga bisa jadi khawatir atau takut terganggu. 

Syekh Subakir menyampaikan maksud tidak ingin menggangu, tujuannya ingin meruwat tanah yang kosong agar dapat dihuni. Akhirnya rombongan Syekh Subakir diterima dengan baik.

Dalam percakapan diketahui bahwa mereka adalah orang-orang yang tersisa dan masih hidup dari bencana alam. Asal usul pendahulu mereka adalah penjaga tempat pemujaan di bukit kapur. Mereka menunjukkan apa yang selama ini mereka jaga. Sebuah petilasan leluhur agung berupa tempayan dari tembikar. SENTANA GENTHONG. Mereka berpesan agar Syekh tidak merusak petilasan itu. Dalam sebuah kesepakatan rombongan diperbolehkan melakukan ritual.

Syekh Subakir taqarrub kepada Allah agar tanah ini dijauhkan dari bencana, lalu ia menyembelih hewan qurban dan dibagikan kepada orang-orang tempatan itu. Dalam legenda ini sebagian dari mereka menaruh potongan kaki binatang qurban itu ke dalam tempayan sebagai penghormatan pada leluhur mereka, sebagai sajen. Sesuai dengan kesepakatan bahwa pendatang harus menghormati yang didatangi.

Selesai melakukan ritual, lembah yang bergerak itu berangsur-angsur menjadi tenang. Bumi yang dipijak sudah aman untuk didirikan bangunan kembali.
Syekh Subakir melanjutkan doa diikuti oleh orang-orang tempatan sebagai wujud terimakasih atas maksud dan tujuan mulia para pendatang. Dari situ mereka mengenal Ajaran Islam. 
Rombongan Syekh Subakir sembahyang diatas batu karang sementara air didapatkan dari Sendang Towo. Untuk memudahkan wudhu, beliau dibuatkan padasan (gentong yang ada pancurannya) diletakkan di sekitar petilasan Sentana Gentong.

Syekh Subakir memberi tahu kepada orang-orang tempatan bahwa kelak lembah ini akan ramai menjadi pemukiman. Setelah ini akan dibangun peradaban baru lagi. Orang tidak akan melupakan tempat ini sebagai persinggahan.

Setelah Syekh Subakir meninggalkan Bukit Karang untuk melanjutkan perjalanan, orang-orang tempatan membuat aling-aling dan cungkup Sentana Genthong dari ijuk atau KEDUK. Hal ini dilakukan sebagai bentuk “pengeling-eling duk nalika semana” yang artinya pengingat peristiwa-peristiwa masa lalu, agar menjadi pelajaran dan kewaspadaan. Eling lan Waspada.