Kepanjian dan Kisah Pacitan di era Perkembangan Kerajaan Abad 11

oleh
Nur Ichwan

Nur Ichwan

Budayawan Pacitan at Memo Studio
Nur Ichwan

PADA tahun 1016 M, kerajaan Medang diserang Sriwijaya bersama sekutunya yaitu Wurawari dan Wengker, sehingga raja Dharmawangsa dan seluruh pembesar istana tewas. Peristiwa ini dikenal dengan sebutan “Pralaya“ atau kehancuran. Dalam Prasasti Kalkuta yaitu Prasasti Airlangga, disebut bahwa “Ri Prahara, haji Wurawari maso mijil sangka Lwaran”.

Pacitan dahulu masuk wilayah kerajaan WENGKER menjadi tempat persembunyian pelarian Airlangga beserta istri (putri Dharmawangsa) dan pengikutnya yang selamat. Salah satu petilasan yang diduga menjadi kuil pemujaannya berada di kompleks candi Gunung Lembu Tremas Arjosari.

Baca juga: Peradaban yang Hilang Akibat Bencana Alam

Pada waktu itu usia Airlangga 16 tahun, beserta Narotama ia bersembunyi. Di sana ia hidup sebagai seorang pertapa dengan berpakaian, makan, minum sebagai pertapa pula. Dilatihnya pula berpuasa dan cara menahan hawa napsu. Dalam kesengsaraan yang serupa itulah, ia semakin meneguhkan hati dan menguatkan tekadnya “merebut kembali kerajaan Dharmawangsa”.

VIII. DADAPAN, LUH DENOK dan SENTANA era AIRLANGGGA (ABAD 11)

Kawasan Wisata Sentono Genthong Pacitan (Foto: Humas Pemkab Pacitan)

Airlangga menempatkan istrinya di sebuah lokasi yang cukup aman. Sebuah Bukit Karang tepat di barat dataran rendah sebuah teluk selatan. Teluk ini dijadikan ancer ancer atau TANDA yang kemudian menjadi teluk PANCER. 
Bukit yang menjadi tempat persembunyian itu dipenuhi tumbuhan Dadap (dhadhapsrep) sehingga disebut daerah DADAPAN.

Istri Airlangga memiliki sebutan LUH DENOK dalam bahasa kawi Luh berarti perawan atau gadis sedangkan Denok adalah wanita yang cantik. Nama ini menjadi legenda karena aura kecantikan istri trah penguasa di Jawa. (Abadi menjadi nama daerah yang indah di Kabupaten Pacitan saat ini.

Selang setahun kemudian lahir seorang putra dengan sebutan nama kecil SENTANA yang dalam bahasa kawi adalah KETURUNAN.

SENTANA kecil adalah Pangeran yang disembunyikan, walaupun demikian kelak akan menjadi Raja jika dewasa nanti. Karma Ksatria tetap menjadi Ksatria walaupun saat ini masih berada di pedalaman hutan terpencil bukit kapur. Karena “Menurut kepercayaan Karma sentana adalah pahala dari perbuatan yang diterima oleh sentana (keturunan) akibat dari perbuatan orang tua (leluhur).”

Inilah Cikal Bakal Nama daerah LUH DENOK dan SENTANA di Desa DADAPAN pada periode Airlangga.

IX. RANGDHA/ RANDHA DADAPAN

Selama ditinggal Airlangga membangun kembali Kerajaan Medang. LUH DENOK mendukung suaminya dengan jalan mendekatkan diri pada Sang Hyang Widi Wasa Tuhan Yang Maha Esa. Hidup tanpa suami layaknya seorang pertapa dengan berpakaian, makan, minum sebagai pertapa pula.

Para abdi dan pengawal pada masa itu melindungi junjungannya dengan sumpah setia. Mereka hidup dari bertani layaknya orang biasa. Walaupun demikian tetap waspada kepada sesiapa saja yang datang mendekati persembunyian, sehingga daerah ini memiliki semboyan JALMA MARA JALMA MATI yang berarti SIAPA DATANG PASTI MATI.

Sesuai tradisi Hindu tempat persembahyangan atau kuil harus berada di aliran sungai. Sedangkan Sungai berada agak jauh dari tempat tinggalnya. Daerah yang menjadi tempat persembahyangan disebut daerah CANDI (sebelah barat desa Dadapan).

Airlangga cukup lama meninggalkan, sang istri yang hidup sendirian, lama tidak mendapat kabar berita tentang suaminya. Karena terbiasa sendiri hingga mendapat julukan Mbok Randha DADAPAN atau Janda dari Dadapan.

X. JAKA KENDHIL dan SENTANA GENTHONG

Air adalah keperluan yang vital di lahan tandhus. Walaupun perbukitan Karang yang terjal, dibawahnya terdapat mata air yang jernih. Salah satu yang belum pernah kering adalah Sendhang Towo (Sumber yang Tawar).

Meskipun berdarah Ksatria, Sentana kecil pun terbiasa menahan diri dalam laku prihatin layaknya orang biasa, karena juga memang kondisi alam yang tandus. Untuk keperluan sehari ia membantu ibunya membawa Kendhil atau wadah air dari gerabah. Dari rutinitas itu dia mendapat julukan JAKA KENDHIL. Sedangkan tempayan tempat penyimpan air disebut GENTHONG.

Sehingga daerah bukit Karang ini disebut SENTANA GENTHONG. Sedangkan Cerita Legenda Panji Jaka Kendhil dan Mbok Randha Dadapan sangat populer di Jawa hingga kini.

XI. PANJI CINDHELARAS

Sentana kecil yang setiap hari ngangsu air mendapat julukan Jaka Kendhil. Ketika beranjak remaja menyukai sabung ayam. Konon Ayam merahnya tidak terkalahkan, diberi nama JAGO CINDHELARAS.

1. Ayam Jago bermakna yang dijagokan atau tokoh yang didukung, 
2. Cindhe bermakna sutera bunga merah bermakna darah atau keturunan atau disebut TRAH , 
3. sedangkan LARAS memiliki arti lurus dan seimbang yang bermakna KEADILAN atas HAK.

Sentana remaja mencari Ayahandanya yang dikabarkan telah mendirikan kerajaan sampai Hujung Galuh. Setelah sampai di kotaraja ia terkejut, harus membuktikan bahwa dia adalah putra Airlangga. Dia lantas, menantang adu jago, tidak terkalahkan sampai akhirnya menantang JAGOnya AIRLANGGA.

Dalam kisah folklore Ayam Cindhelaras menantang sabung dengan jago Jenggala dan menang telak. Kemudian atas kemenangannya membuktikan bahwa dia adalah seorang pangeran putra mahkota yang berhak atas tahta JENGGALA.

Cerita rakyat ini bernilai “dichtung und wahrheit” (antara cerita dan kenyataan).Makna folklore tersebut merupakan petunjuk sejarah bahwa Airlangga telah memiliki jago yang akan diangkat menjadi raja di Tlatah Kahuripan dari prameswari/permaisuri baru sedangkan putra yang lain menuntut KARMA SENTANA yakni Hak atas Waris orangtuanya.

1. Sebelum turun tahta tahun 1042, Airlangga dihadapkan pada masalah persaingan antara kedua putranya. Maka, ia pun membelah wilayah kerajaannya menjadi dua, yaitu Kadiri dan Janggala. 
2. Peristiwa ini diberitakan dalam Nagaraker-tagama dan Serat Calon Arang, serta diperkuat oleh prasasti Turun Hyang (1044).
3. Dalam prasasti Turun Hyang, diketahui nama raja Janggala setelah pembelahan ialah Mapanji Garasakan. 
4. Nama raja Kadiri tidak disebutkan dengan jelas, namun dapat diperkirakan dijabat oleh Samarawijaya, karena sebelumnya ia sudah menjabat sebagai putra mahkota.
5. Prasasti Turun Hyang tersebut merupakan piagam pengesahan anugerah Mapanji Garasakan tahun 1044 terhadap penduduk desa Turun Hyang yang setia membantu Janggala melawan Kadiri. 
6. Pembelahan kerajaan yang dilakukan oleh Airlangga terkesan sia-sia belaka, karena kedua putranya, yaitu Samarawijaya dan Mapanji Garasakan tetap saja berebut kekuasaan.

Selain Panji Jaka Kendhil tak heran Cerita Panji CINDHELARAS putra Mbok Randha Dadapan kemudian populer dalam masyarakat Jawa.