Maleman, Tradisi Masyarakat Pacitan di Akhir Bulan Ramadhan

oleh -Dibaca 225 kali
NASI MALEMAN. Tempelangan merupakan nasi khas saat bulan ganjil di Pacitan. (Foto: Suangga)

Pacitanku.com, TULAKAN — Tradisi maleman masih membudaya bagi masyarakat Jawa, khususnya masyarakat di Kabupaten Pacitan.

Tradisi maleman atau selikuran biasa ditemui saat bulan Ramadhan, tak terkecuali pada ramadhan 1442 Hijriah ini.

Sesuai istilahnya, maleman dilaksanakan pada sepuluh malam ganjil terakhir di bulan Ramadhan yaitu malam 21, 25, 27 dan malam 29. Semakin berkembangnya zaman, tradisi maleman masih dilestarikan di sejumlah tempat di Pacitan dengan berbagai kemasannya.

Cara menyemarakkan tradisi maleman ini tiap daerah pun beragam. Seperti contohnya di masjid At Taubah yang ada di Dusun Krajan, Desa Kluwih, Kecamatan Tulakan..

Acara maleman pada hari Sabtu (8/5/2021) tepat malam ke-27, masyarakat sekitar yang mengikuti sholat tarawih di masjid berduyung-duyung membawa sejenis Tempelangan atau nasi bungkus yang berisi beraneka ragam makanan.

Bermacam-macam lauk pauk yang dibawa warga sekitar dibagikan setelah shalat tarawih dan pembacaan dzikir tahlil usai.

Maleman memiliki arti dan filosofi yang erat antara budaya jawa dengan penyebaran agama Islam, seperti yang dituturkan oleh imam Masjid At Taubah Desa Kluwih, Tulakan.

“Maleman sebagai bentuk pengajaran untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT, meningkatkan perilaku sedekah juga menggiatkan ibadah-ibadah di akhir bulan Ramadhan,”kata Bonandi, Imam Masjid At Taubah Bonandi, Sabtu (8/5/2021) malam.

Menurut Bonandi, tradisi maleman merupakan salah satu cara penyebaran agama islam di tanah jawa pada jaman dahulu.

“Saya berharap pemuda pemudi saat ini semakin rajin untuk melestarikan budaya yang ada di Pacitan, salah satunya tradisi maleman,”ujarnya.

Untuk pelaksanaan maleman pada tahun ini, Bonandi menerangkan sedikit berbeda dari pada tahun-tahun sebelumnya.

Pada maleman tahun ini, nasi bungkus yang telah dibagikan langsung dibawa pulang ker umah masing-masing mengingat kondisi pandemi yang masih mewabah pada saat ini. Hal ini berbeda dengan tahun lalu, dimana pada tahun lalu, nasi malemen dimakan bersama sama di teras masjid.

“Isian dari tempelangan maleman iki bedo-bedo mas. Enek sing ngangge lauk telur, iwak pitik lan ora lali apem. Bungkus e yo isek alami, nganggo godhong gedang,”kata Surti, salah satu warga setempat.

Kontributor: Suangga Nur Ramayanto (Mahasiswa STKIP PGRI Pacitan)
Editor: Dwi Purnawan

No More Posts Available.

No more pages to load.