Siap Jadi ‘World Class Museum’, Museum dan Galeri Seni SBY-Ani Berisi Rekam Jejak Pengabdian SBY Anak Pacitan

oleh -18 Dilihat
MUSEUM SBY dan Galeri Seni Ani Tampak depan. (Foto oleh renandabachtar from Twitter)

Pacitanku.com, PACITAN – Pada hari Kamis (17/8/2023), museum dan galeri seni SBY-Ani akan diresmikan.

Sejumlah tokoh nasional dijadwalkan menghadiri kegiatan peresmian tersebut, seperti Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Ketua Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono, Mantan Wakil Presiden RI Boediono dan Jusuf Kalla beserta sejumlah tokoh lain.

Baca juga: Catat! Ini Harga Tiket Masuk Museum dan Galeri Seni SBY-Ani di Pacitan yang Diresmikan 17 Agustus 2023

Direktur Eksekutif Museum dan Galeri Seni SBY-Ani Ossy Dermawan menceritakan bahwa museum dan galeri seni SBY-Ani yang dibangun sejak bulan Februari 2020 lalu itu akan berisi rekam jejak pengabdian sosok Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

“Museum kepresidenan ini akan merekam jejak pengabdian dari bapak SBY, anak Pacitan yang tinggal dan lahir di Pacitan tahun 1949, saat itu kondisi Pacitan sangat terisolir, bukan seperti sekarang ini, kondisi saat itu sangat terpencil, sangat keras,”kata Ossy saat konferensi pers bersama awak media jelang peresmian museum dan galeri seni SBY-Ani di Pendopo Kabupaten Pacitan, baru-baru ini.

Namun, kata Ossy, alam yang keras itu bisa mendidik seorang anak bangsa untuk kemudian mampu meraih cita citanya menjadi pimpinan tertinggi dari negara ini.

“Cuplikan sejarah inilah yang kemudian perlu diketahui oleh generasi penerus bangsa, karena ini akan menjadi role model bukan hanya bagi anak anak Pacitan, tapi juga anak anak bangsa lain,”ujar pria yang juga staff pribadi Presiden ke-6 RI SBY ini.

Lebih lanjut, Ossy mengatakan dalam museum ini juga menceritakan bagaimana alam Pacitan mampu membentuk karakter SBY.

“Menjadikan diri beliau sebagai pribadi yang saat ini kita bisa lihat dari segi beliau selama 10 tahun, bagaimana nilai-nilai dasar beliau, prinsip kehidupan beliau, ini semua adalah buah dari alam Pacitan. Nah inilah yang kemudian kita berusaha untuk angkat menjadi satu cerita,”papar Ossy.

Cerita inspiratif tersebut, kata Ossy, diharapkan bisa menggugah generasi penerus bangsa agar bisa mempelajari sosok teladan dari SBY.

“Bagaimana seorang anak Pacitan, anak yang tidak terlalu berada, tidak juga diberikan kemewahan terlalu berlebihan ternyata mampu menapaki karir satu demi satu episode demi episode kehidupannya. Terekam dalam museum ini sampai akhirnya beliau bisa menjadi Presiden Republik Indonesia,”ujar Ossy.

Selain rekam pengabdian SBY dari masa kecil hingga menjadi Presiden, Ossy mengatakan museum ini juga terdapat berbagai cerita ketika menjadi presiden selam dua periode kepemimpinan, sejak 2004 hingga 2014.

“Tidak berhenti di situ ceritanya karena selama 10 tahun pemerintahan beliau, juga penuh dengan tantangan krisis dan juga segala permasalahan yang ada saat itu, tapi alhamdulillah segala ancaman, tantangan dan krisis tersebut mampu dilalui oleh presiden SBY, sehingga beliau bisa menjalani masa tugasnya dengan sangat baik selama 10 tahun,”jelasnya.

Tentu, kata Ossy, babak sejarah 10 tahun pemerintahan SBY tersebut juga merupakan satu cuplikan sejarah yang perlu untuk diketahui oleh generasi penerus bangsa.

“Dan apalagi utamanya untuk masyarakat Pacitan, yang harus belajar dari sosok beliau bagaimana beliau mempertahankan idealisme beliau, nilai-nilai kehidupan yang berhasil dia dapatkan di alam Pacitan ini untuk kemudian diimplementasikan dalam memimpin bangsa dan negara ini,”ujar Ossy.

Ossy juga menyebut bahwa museum kepresidenan ini bukan hanya tentang SBY secara pribadi, tetapi menyimpan satu Pelajaran dan hikmah yang penting bagi generasi penerus bangsa.

Dari hasil belajar dari negara-negara lain, utamanya Amerika Serikat, Ossy mengatakan bahwa SBY bertekad untuk membangun satu museum berkelas dunia.

“World class museum di tanah kelahiran (Pak SBY) di Pacitan ini. Jadi ini mudah-mudahan menjadi satu berkah bagi Pacitan, karena museum berkelas dunia akan hadir di kota Pacitan, Jawa Timur,”pungkasnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.