Perdalam Ilmu Agama, Santri Ponpes Nahdlatussuban Manfaatkan Ramadhan dengan Ngaji Kitab Kuning Tradisional

oleh -1098 views
NGAJI. Santri mengaji kitab kuning untuk memperdalam ilmu agama. (Foto: Dian Trio)

Pacitanku.com, PACITAN – Sejumlah santri memaknai kitab kuning saat mengaji di Pondok Pesantren Nahdlatussubban, Arjowinangun, Pacitan, Jawa Timur.

Pesantren yang diasuh oleh KH Abdullah Sajad adalah salah satu pesantren sepuh, dalam tradisinya ketika puasa ramadhan yaitu mengaji kitab-kitab kuning, sebagian besar diikuti para santri dan juga pengurus.

“Harapannya para santri lebih bertambah wawasan ilmu diniyahnya (ilmu keagamaannya) , jadi Ramadhan ini justru di bulan yang penuh berkah penuh rahmat dan maghfiroh itu, dimanfaatkan untuk menambah keilmuan. Karena suatu majelis di bulan Ramadhan akan berlipat ganda fadilah dan pahalanya dibanding suatu majelis diluar bulan Ramadhan,” ujar kyai Sajad, dalam keterangannya, Selasa (13/4/2021).

Pengajian dilakukan tidak seperti tahun sebelumnya, karena dengan adanya pandemi Covid-19 semua dituntut untuk menerapkan protokol kesehatan.

Pengajian kitab kuning ini merupakan tradisi di Pondok Pesantren tradisional (salaf) maupun semi modern pada bulan suci Ramadhan.

Kegiatan ini bisa disebut ngaji pasanan atau pasaran, selama kurang lebih satu bulan para santri secara intensif mengikuti pembacaan kitab kuning.

Pria yang akrab disapa kyai Sajad juga menuturkan bahwa ngaji wethonan (ngaji kitab kuning) populer dilakukan Pondok Pesantren Salafiyah dengan berbagai bidang ilmu. misalnya ilmu Al-Quran, tafsir, fiqih serta ilmu yang berkaitan dengan akhlak maupun tasawuf.

Kebanyakan memang hanya diajarkan di bulan puasa saja. Oleh karena itu, kitab yang dibawakan jarang kitab yang tebal, dengan tujuan agar semua kitab bisa khatam diakhir Ramadhan.

Pada awalnya pengajian dilaksanakan sehari semalam hingga 8 kitab, tapi saat ini hanya dapat mengaji 5  kitab saja. Dalam kondisi tertentu , pelaksanaan  dimulai sejak  senin (14/4/2021) bada tarawih.

Kitab-kitab yang diajarkan umumnya bukan yang diajarkan sehari-hari, melainkan kitab-kitab lanjutan dalam bidang tertentu. Bidang keilmuannya bermacam-macam, sesuai dengan keinginan para Kyai dan Asatid yang membacaan.

“Maka para santri kita mitovasi untuk kegiatan ramadhan tahun ini lebih fokus menambah ilmu, sehingga para santri bisa terbekali dan dapat memahami  syukur bisa menguasai ilmu yang diperoleh selama ngaji wethonan itu,”pungkas kyai.

Kontributor: Dian Trio (Mahasiswa STKIP PGRI Pacitan)
Editor: Dwi Purnawan