Bencana Kembali Melanda, Bupati Pacitan Tekankan Pentingnya Penghijauan

oleh
Tanggul di Sungai Jurug Jebol dan banjir pada Jumat (7/12/2018) malam. (Foto: Mas Yudo (@Djogotirto_)

Pacitanku.com, PACITAN – Bupati Pacitan Indartato menekankan pentingnya penghijauan dalam upaya mencegah terjadinya banjir. Hal tersebut disampaikan Indartato usai meninjau dampak banjir yang terjadi pada Jumat(7/12/2018) malam di Kecamatan Kebonagung dan Pacitan.

Banjir ini, kata dia, merupakan kejadian perdana paska peristiwa serupa akhir tahun 2017 lalu. Karenanya bupati berharap agar warga tetap waspada dan berdoa.

“Kedepan kita harus lebih sadar pentingnya penghijauan. Karena meski kita telah melakukan gerakan itu, banjir masih terjadi,”katanya ketika mendatangi lokasi banjir di jalan lintas selatan (JLS), tepatnya ruas Kebonagung, Sabtu (8/12/2018) seperti dalam siaran pers Humas Pemkab Pacitan.

Sementara, dia mengatakan sebanyak enam desa di dua kecamatan di Kabupaten Pacitan terendam banjir. Selain menggenangi permukiman,air bah juga menenggelamkan lahan pertanian serta merusak sejumlah sarana umum.

Keenam desa itu masing-masing adalah Desa Banjarejo, Kebonagung,dan Purwoasri di Kecamatan Kebonagung serta Desa Sukoharjo, Kayen, dan sebagian Sirnoboyo, Kecamatan Pacitan. Banjir itu sendiri terjadi sejak Jum’at (7/12/2018) petang kemarin karena jebolnya tanggul di dua titik pada aliranSungai Jelok. Masing-masing di Desa Kayen dan Sukoharjo.

Kedatang Indartato ke lokasi-lokasi bencana untuk mengetahui kondisi secara langsung. Baik infrastruktur maupun masyarakat yang terdampak.

Sebelum mendatangi titik banjir di Puskesmas dan Desa Kebonagung, terlebih dahulu bupati melihat dampak banjir di Desa Sukoharjo dan Kayen. Khususnya tanggul-tanggul yang jebol. Termasuk masyarakat sekitarnya yang terdampak langsung.

Sosialisasi kewaspadaan dini

Di tempat terpisah, Wakil Bupati Pacitan, Yudi Sumbogo yang menunggu proses evakuasi empat korban tanah longsor mengungkapkan sebagian besar wilayah ini merupakan kawasan rawan bencana. Sehingga, pihaknya mengimbau masyarakat untukmeningkatkan kewaspadaan, terutama saat turun hujan dengan intensitas tinggi.

“Kami terus memberikan sosialisasi kepada masyarakat akan pentingnya kewaspadaan dini, khususnya dalam mengantisipasi potensi longsor maupun banjir yang kerap terjadi di Pacitan,” katanya.

Untuk diketahui, selain banjir, bencana tanah longsor juga menyebabkan empat korban tanah longsor yang masih satu keluarga meninggal duniasetelah dilakukan upaya evakuasi manual maupun dengan bantuan alat berat.

Kepala Pelaksana BPBD Pacitan, Didik Alih Wibowo, mengatakan, tiga korban pertama yang berhasil dievakuasi adalah Sogirah (46), Bogiyem (72), dan Katminem (58).”Tiga korban pertama ini ditemukan setelah dilakukan pencarian secara manual oleh tim SAR dari unsur Basarnas, TNI, Polri maupun relawan warga,” kata Didik.

Proses pencarian korban longsor di Dusun Jambu, Desa Sidomulyo, Kecamatan Kebonagung ini sempat berjalan lama. Pasalnya, material longsor yang sebagian besar menumpuk di belakang bangunan permanen milik korban Misgiman ini masih labil dan berpotensi terus bergerak karena lembek.

Tim SAR kemudian menggunakan teknik penyisiran danpenyemprotan. Hasilnya, satu per-satu korban berhasil dievakuasi. Sogirah ditemukan lebih dulu, disusul Bogiyem dan Katminem.

Namun, Misgiman saat itu tidak kunjung ditemukan sehingga tim SAR gabungan memutuskan untuk mendatangkan alat berat jenis eksavator kecil guna membantu mengurai material longsor berikut konstruksi bangunan yangambruk. Upaya itu membuahkan hasil. Jasad Misgiman (62) ditemukan tertimbun material longsor di bagian belakang. Para korban sempat di bawa ke masjid desa sebelum kemudian dimakamkan di Desa Klesem atas permintaan keluarga. (RAPP002/Humas)