Kategori: Bencana Alam

Popular

Berita Terbaru

Permalink ke Oh, ini ternyata Penyebab Banjir di Wilayah Pacitan Kota
Bencana Alam, Headline

Oh, ini ternyata Penyebab Banjir di Wilayah Pacitan Kota

Bupati Indartato bersama warga saat meninjau genangan air di jalan protokol Pacitan, Sabtu (11/2/2017) kemarin. (Foto: Instagram Indartato)

Pacitanku.com, PACITAN – Pemkab melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Pacitan akhirnya mendeteksi penyebab banjir yang terjadi di wilayah Kecamatan/Kabupaten Pacitan baru-baru ini.

Menurut keterangan Kabid Sumber Daya Air (SDA) Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Pacitan, Sri Pudjo, Selasa (14/2/2017) sebagaimana dilansir dari Radar Madiun menyebutkan bahwa banjir di wilayah kota salah satunya disebabkan karena tidak seimbangnya saluran air di wilayah hulu hingga ke hilir.

Idealnya, semakin ke hilir maka saluran air semakin lebar. Tujuannya, untuk mengakomodasi aliran air yang semakin meningkat dalam perjalanan dari hulu ke hilir. Pasalnya, hujan yang turun juga bisa ikut menambah debit air.Namun, yang terjadi di Pacitan ternyata sebaliknya. ‘’Idealnya memang semakin lebar di hilir sungai. Namun, yang ada justru ada penyempitan,’’ kata Sri Pudjo.

Pada Senin (13/2/2017) kemarin Sri Pudjo beserta sejumlah staf dari DPUPR termasuk Kepala DPUPR, Budiyanto, berkeliling meninjau sejumlah saluran air yang ada di Pacitan. Dari hasil peninjauan, lebar tidak seimbang memang jadi salah satu penyebab utama dari terjadinya banjir di wilayah kota.

Disamping itu, pembangunan jembatan di atas saluran air menuju rumah-rumah warga ditengarai juga menjadi penyebab lain. Sebab, jembatan-jembatan kecil itu umumnya malah membendung aliran air karena tiang-tiang penyangganya mempersempit lebar penampang saluran. ‘’Bentang jembatan yang tidak sesuai malah justru membendung air. Dampaknya air pun meluber,’’ jelasnya.




Selain dua penyebab tersebut, penumpukan sedimen juga menjadi penyebab banjir kota. Di sejumlah saluran, air dari hulu yang membawa lumpur menyebabkan pendangkalan. Salah satunya terlihat di pintu air sungai Kunir, di Pucang Sewu, Pacitan.

Pintu air yang sedianya mengendalikan aliran air justru kewalahan menampung debit lantaran ada pendangkalan. Menurut Pudjo, kondisi pendangkalan karena penumpukan sedimen juga terjadi di beberapa saluran air yang lain. ‘’Banyak yang penuh, perlu dibersihkan,’’ ujarnya.

Pudjo menyebut, DPUPR punya sejumlah wacana untuk mengatasi banjir kota. Diantaranya, yang dinilai paling urgent, adalah membangun bypass. Bypass yang dimaksud adalah saluran yang langsung menghubungkan hulu hingga hilir.

Sehingga, dapat mengurangi beban debit air yang masuk ke wilayah kota. Menurut Pudjo, wacana tersebut sebenarnya sudah pernah dimunculkan beberapa tahun yang lalu. Namun, tetap perlu dilakukan survei ulang untuk mengetahui kondisi layak tidaknya bypass dibangun. ‘’Perlu survei ulang untuk mengetahui kondisi medannya. Jangan sampai tingkat elevasinya dari hulu ke hilir justru malah naik. Itu dapat menghambat kelancaran aliran air,’’ sebutnya.

Sebelumnya, Bupati Pacitan Drs H Indartato MM berpesan kepada seluruh masyarakat Pacitan untuk selalu menjaga saluran air. Hal itu, menurut Indartato agar aliran sungai di saluran air menjadi lancar dan tidak menyebabkan genangan air.“Mari bersama jaga saluran air kita selalu dalam keadaan bersih supaya aliran sungai lancar,”katanya. (RAPP002)

 

Permalink ke Sembunyi Dibalik Lemari, Tumi Selamat dari Bencana Tanah Longsor yang Hancurkan Rumahnya
Bencana Alam, Headline

Sembunyi Dibalik Lemari, Tumi Selamat dari Bencana Tanah Longsor yang Hancurkan Rumahnya

Bupati Pacitan didampingi Kalaksana BPBD Pacitan memberikan bantuan untuk Tumi, korban tanah longsor di Bandar. (Foto: Instagram Indartato)

Pacitanku.com, BANDAR – Hujan deras yang mengguyur sejumlah titik di Pacitan menyebabkan bencana alam terus mengintai dan mengancam warga. Ancaman tersebut berbuah kenyataan dan menghancurkan rumah seorang nenek atas nama Tumi, warga RT/RW 2/IXX, Dusun Sidodadi, Desa Jeruk, Kecamatan Bandar pada Minggu (12/2/2017).

Rumah satu-satunya milik Mbah Tumi pun hancur tertimpa material longsor, sehingga dirinya tak lagi bisa menempati rumahnya tersebut. Kondisi rumahnya sebagian besar tertimbun tanah. Cukup beruntung dirinya dan dua cucunya selamat dari musibah tersebut.

Mereka selamat lantaran berlindung lemari yang berdiri di samping tempat tidur. Tumi dan cucunya diungsikan ke rumah kerabat berjarak 100 meter dari rumahnya.

Sebelum peristiwa tersebut terjadi wilayah di ujung utara Kabupaten Pacitan tersebut diguyur hujan deras. Guyuran air disertai angin kencang sempat membuat warga cemas. Hanya saja mereka tak menduga tebing di samping pemukiman warga akan longsor.

Mengetahui warganya terkena musibah, usai sibuk peringati Hari Jadi Pacitan (Hajatan) ke 272, Bupati Pacitaan Indartato bersama jajaran meninjau lokasi bersama Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tri Mudjiharto dan Sekretaris Daerah Suko Wiyono.

Bupati juga menyerahkan bantuan bagi para korban. Bantuan berupa sarana berlindung dan logistik diharapkan meringankan beban sementara sambil menunggu langkah penanganan. Dia mengapresiasi warga setempat yang telah bergotong royong dalam penanganan bencana tanah longsor tersebut.




Dalam kesempatan tersebut, Indartato mengatakan bahwa bencana alam di Kabupaten Pacitan yang rumahnya mengalami kerusakan akan dimasukkan dalam program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). “Pemerintah daerah membantu sesuai kemampuan. Sehingga dimasukkan dalam (program,Red) RTLH agar lebih cepat penanganannya dan tidak menyalahi aturan,” katanya, dilansir laman Pemkab Pacitan.

Menurut Indartato, mayoritas permukiman warga Pacitan berada di kawasan rawan bencana. Karena itu ia menghimbau agar warga di zona merah selalu menjaga kewaspadaan. Terlebih sampai saat ini curah hujan masih tinggi.

“Sebagian besar daerah kita memang rawan bencana, baik longsor, banjir, gempa, maupun tsunami. Oleh karena itu saya mengimbau semua pihak meningkatkan kesiapsiagaan sebagai upaya mengurangi risiko bencana,” pungkasnya.

Selain menimpa rumah Tumi, bencana tanah longsor tersebut  juga mengenai  satu rumah warga lain bernama Tumadi. Meski tidak sampai roboh namun kondisi bangunan sangat membahayakan. Selain  dua rumah tersebut, masih ada beberapa rumah warga lain yang terancam jika hujan deras kembali turun.

 

Permalink ke Jalan Protokol Tergenang Air, ini Himbauan Bupati untuk Masyarakat Pacitan
Bencana Alam, Headline

Jalan Protokol Tergenang Air, ini Himbauan Bupati untuk Masyarakat Pacitan

Bupati Indartato bersama warga saat meninjau genangan air di jalan protokol Pacitan, Sabtu (11/2/2017) kemarin. (Foto: Instagram Indartato)

Pacitanku.com, PACITAN – Hujan deras yang mengguyur Kecamatan/Kabupaten Pacitan pada Sabtu (11/2/2017) kemarin menyebabkan sejumlah ruas jalan protokol tergenang air dengan ketinggian hingga mencapai 70 sentimeter.

Beberapa jalan protokol yang tergenang air tersebut diantaranya adalah Jalan S Parman dan Jalan Ahmad Yani, terutama di perempatan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pacitan dan juga di area Taman Makam Pahlawan (TMP) Pacitan.

Tergenangnya air dan meluap ke jalan utama tersebut diduga akibat luapan banjir dari sungai dan drainase atau saluran air yang tersumbat.




Melihat kondisi tersebut, Bupati Pacitan Drs H Indartato MM didampingi Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pacitan dan tim Rescue Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) Pacitan meninjau lokasi genangan air, salah satunya di pertigaan depan Asrama Polisi Jalan Ahmad Yani.

Melalui akun instagramnya, Bupati Indartato pun berpesan kepada seluruh masyarakat Pacitan untuk selalu menjaga saluran air. Hal itu, menurut Indartato agar aliran sungai di saluran air menjadi lancar dan tidak menyebabkan genangan air.“Mari bersama jaga saluran air kita selalu dalam keadaan bersih supaya aliran sungai lancar,”katanya, Minggu (12/2/2017).

Selain menjaga saluran air tetap bersih, Bupati yang juga merupakan Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrat ini mengajak masyarakat Pacitan untuk tidak membuang sampah di sembarang tempat. “Budayakan untuk tidak membuang sampah sembarangan,”pungkasnya.

Permalink ke Dampak Bencana Ngadirojo: 12 Warga Terancam Longsor, Ribuan Pohon Cengkih Gagal Dipanen
Bencana Alam, Headline

Dampak Bencana Ngadirojo: 12 Warga Terancam Longsor, Ribuan Pohon Cengkih Gagal Dipanen

Ilustrasi bencana tanah longsor

Pacitanku.com, NGADIROJO – Longsor terus menyapa Pacitan. Dua rumah dan satu musala sudah dalam posisi nggawing dari tebing akibat longsor di Dusun Pucang Palet, Desa Nogosari, Kecamatan Ngadirojo. Setidaknya, nasib 12 orang yang tinggal di dua rumah tersebut, terancam.

Setiap malam, mereka mengungsi di rumah kerabat yang lebih aman. Maklum, tebing yang longsor mencapai 300 meter. ‘’Rasanya tinggal menunggu waktu rumah ini roboh,’’ ujar salah seorang pemilik rumah, Samsudin, dilansir dari Radar Madiun, Rabu (8/2/2017).

Samsudin menuturkan, longsor tersebut awalnya terjadi Jumat (3/2), sekitar pukul 24.00. Kala itu, tanah selebar sekitar 20 meter di sebelah rumahnya amblas hingga sejauh 300 meter. Sebagian teras rumahnya langsung terseret longsor.

Menurut Samsudin, kejadian berlangsung mencekam. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang dahsyat tatkala hujan turun rintik-rintik di tengah malam. Dia dan keluarganya langsung keluar dan mengungsi ke rumah kerabat untuk berlindung. ‘’Saya berjaga sambil terus melihat situasi kondisi, longsor baru benar-benar berhenti pukul 00.30 (Sabtu 4/2),’’ terangnya.

Esok paginya, baru diketahui dinding, lantai serta atap teras rumah Samsudin rusak-rusak. Selain rumahnya, rumah Sai’in dan satu bangunan musala di sebelahnya juga terdampak. Kendati demikian, rupanya kejadian belum berakhir.

Pada Minggu (5/2) paginya, longsor kembali terjadi di sisi timur tanah yang longsor sebelumnya. Lebar longsoran pun bertambah menjadi sekitar 50 meter. ‘’Kalau terus-terusan, seluruh bangunan rumahnya, ya terancam,’’ kata Samsudin.

Samsudin memperkirakan, kerugian yang harus diderita mencapai lebih dari Rp 500 juta. Sebab, bukan hanya rumah yang ternyata terdampak. Kebun cengkih milik keluarga yang berada di lereng yang longsor itu kini amblas.




Kerugian sebesar itu membuat Samsudin berpikir untuk pindah permanen ke lokasi yang lebih aman. Namun, dia belum tahu hendak pindah kemana. Untuk sementara, Samsudin dan Sai’in mengungsikan keluarga masing-masing ketika malam hari.

Sebab, mereka khawatir jika saat tengah malam, tiba-tiba longsor susulan kembali terjadi. ‘’Berkaca dari kejadian sebelumnya, lebih baik mengungsi mengamankan diri. Karena terjadi saat waktu beristirahat,’’ ujarnya.

Longsor yang mengancam jiwa keluarga Samsudin dan Sai’in mendapat perhatian BPBD Pacitan. Sekretaris BPBD setempat, Ratna Budiono menuturkan pihaknya sudah melakukan pendataan melalui kecamatan setempat.

Usai dilakukan pendataan, BPBD tetap akan terjun meninjau secara langsung bencana tersebut. Namun karena bencana yang melanda Pacitan selama beberapa hari terakhir cukup banyak, peninjauan pun dilakukan bertahap dari satu lokasi ke lokasi bencana lain. ‘’Kalau dilihat dari data sementara, memang lumayan parah (longsor di Nogosari), namun kami hanya bisa lakukan bertahap karena keterbatasan personil,’’ ujar Ratna.

Selain longsor, dampak lain dari bencana alam tersebut adalah ribuan pohon cengkih yang jadi mata pencaharian warga desa setempat diperkirakan gagal panen tahun ini. Pasalnya, hingga Senin (6/2) lalu, bunga cengkih belum tampak muncul di ribuan pohon-pohon itu. ‘’Sudah mulai terasa sejak tahun lalu. Panennya menurun,’’ ungkap Pj Kepala Desa Nogosari, Prayitno.

Prayitno mengungkapkan, biasanya ketika panen raya, produksi cengkih Nogosari bisa mencapai minimal 10 ton hingga belasan ton. Namun, total sepanjang tahun 2016 lalu, cengkih yang bisa dipanen hanya tujuh ton.

Padahal, ratusan warga desa tersebut banyak menggantungkan diri pada perkebunan cengkih. Per warga rata-rata memiliki sekitar 250 batang pohon. Usia rata-rata pohon juga sudah puluhan tahun. ‘’Perkebunan cengkih di sini sudah turun temurun selama puluhan tahun. Bahkan, ada pohon yang usianya sudah 40 tahun,’’ terangnya.

Harga jual cengkeh kering Nogosari juga lumayan. Rata-rata tembus Rp 100 ribu per kilogram. Hal itu turut mendongkrak pendapatan per warga. Sekali panen, warga mampu meraup untung antara Rp 5 juta hingga Rp 10 juta.

Namun, sayang, keuntungan besar itu diperkirakan tidak akan dipetik warga tahun ini. Ribuan batang pohon cengkih di Nogosari diperkirakan gagal panen karena pengaruh curah hujan yang tinggi. ‘’Disamping kena faktor cuaca, banyak juga pohon cengkih yang amblas tertimbun longsoran,’’ ujarnya.

Prayitno mengaku pihaknya sudah melaporkan hal tersebut ke camat setempat. Sejauh ini, pihak ketiga dari perusahaan penyerap cengkih Nogosari juga sempat meninjau ke lokasi. Menurut mereka, ribuan pohon cengkeh Nogosari memang terdampak curah hujan tinggi. Sementara idealnya, pohon cengkih tumbuh subur ketika kemarau. Menurut Prayitno, pihak perusahaan swasta tersebut menyarankan para petani untuk mencoba mengganti pupuk.

Sejauh ini, warga menggunakan pupuk kompos. ‘’Sebab, pupuk kimia cenderung membuat tanah lebih gembur. Sementara banyak pohon ditanam di lereng-lereng. Karena itu warga lebih memilih pupuk kompos,’’ terangnya.

 

Permalink ke Tanah Gerak Parah di Slahung, Akses ke Pacitan Terancam Putus
Bencana Alam, Jatim

Tanah Gerak Parah di Slahung, Akses ke Pacitan Terancam Putus

Tanah gerak di Slahung, Ponorogo. (Foto: DPD)

Pacitanku.com, PONOROGO – Rupanya dampak bencana alam tanah gerak di Dusun Krajan, Tugurejo, Slahung, Ponorogo, semakin parah. Menyusul puluhan bangunan seperti rumah, sekolah, dan musala, kini jalan poros Ponorogo–Pacitan terancam putus.

Jalan provinsi tersebut ambles 30–40 sentimeter di dua titik. ”Dulu memang sudah ambles, sekarang makin parah,” kata Kepala Desa Tugurejo Siswanto, dilansir Radar Madiun pada Senin (6/2/2017).

Siswanto menduga curah hujan yang tinggi beberapa hari terakhir memperparah kondisi tersebut. Untuk sementara, lanjut dia, kendaraan roda dua maupun empat masih bisa lewat.

Namun, diberlakukan sistem buka-tutup lantaran hanya separo badan jalan yang bisa dilalui. Warga pun berjaga bergantian sejak pagi hingga dini hari sekitar pukul 02.00.”Ini untuk mengantisipasi agar tidak terjadi kecelakaan,” jelas Siswanto.




Sebelumnya, ungkap dia, sering terjadi kecelakaan karena pengendara tidak mengetahui bahwa jalan ambles. Apalagi, tambah Siswanto, tidak ada rambu peringatan di lokasi. Baru sekitar dua pekan lalu warga bergiliran berjaga.”Setiap hari ada yang memonitor dari pemerintah. Pihak kepolisian juga ikut berjaga kalau malam,” tutur dia.

Ketua Tim Tanggap Darurat Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bandung Herri Purnomo mengingatkan bahwa tanah gerak di Tugurejo masih akan terus berkembang. Terutama selama musim hujan. Menurut dia, jika hujan terus, jalan Ponorogo– Pacitan bisa ambles lebih dalam.”Bisa saja (jalur Ponorogo–Pacitan, Red) putus,” tutur dia. (RAPP002)

Permalink ke Jalan Penghubung Ambles Parah, Akses Transportasi Dua Desa Terputus
Bencana Alam, Headline

Jalan Penghubung Ambles Parah, Akses Transportasi Dua Desa Terputus

Jalur Ambles Ngile-Gasang

Pacitanku.com, TULAKAN – Fenomena tak gerak dan tanah ambles terus terjadi di beberapa titik di Kabupaten Pacitan. Terbaru, jalan yang menghubungkan dua desa yang terletak di Dusun Krajan, Desa Ngile, Kecamatan Tulakan mengalami amblas dengan keadaan yang sangat parah, Jumat (3/2/2017) lalu. Jalur yang menghubungkan dua desa di Desa Ngile dan Desa Gasang, Kecamatan Tulakan tersebut ambles hampir 90 persen badan jalan.

Menurut keterangan Panji Antono, tim tanggap darurat bencana Kecamatan Tulakan yang diteruskan kepada komunitas info Pacitan mengatakan bahwa akibat ambles, jalan penghubung antar desa terssebut membuat lalu lintas kendaraan lumpuh total.

“Kondisi saat ini yang semula masih bisa di lalu kendaraan roda dua kini sudah lumpuh total, hampir mengenai rumah warga dan sangat meghawatirkan karena sudah sampai pagar warga yang mulai retak, sampai saat ini belum ada pengerjaan, tapi sudah ada bantuan material berupa batu,”katanya.

Lebih lanjut, dia mengatakan bahwa sebelumnya tanah di sekitar lokasi kejadian mengalami pergerakan secara perlahan-lahan. Puncaknya saat curah hujan tinggi melanda tiga hari sebelumnya dan membuat ruas jalan putus total. Seluruh badan jalan sepanjang sekitar 20 meter ambles dan longsor. 




Jalan yang merupakan jalur alternatif menuju Pentung dan Bubakan tersebut sebenarnya sudah mulai ambles sejak awal Desember tahun lalu. Namun, pada saat awal kejadian hanya beberapa meter saja. Tetapi curah hujan yang terus meninggi akhir-akhir ini mengakibatkan jalur tersebut rawan jika dilewati kendaraan roda empat.

Selain menyebabkan akses transportasi kedua desa terputus, sebuah toko yang baru saja dibangun milik Agung, warga setempat mengalami kerusakan total, karena bagian belakang tanahnya terbawa longsor.

Bupati Pacitan Indartato sendiri sempat meninjau lokasi jalur ambles pada Selasa (17/1/2017) lalu. (RAPP002)