Kategori: Bencana Alam

Popular

Berita Terbaru

Permalink ke Jembatan Roboh, Pemdes Kebondalem Pasang Jembatan Darurat dari Bambu
Bencana Alam, Headline

Jembatan Roboh, Pemdes Kebondalem Pasang Jembatan Darurat dari Bambu

Jembatan Kebondalem diterjang banjir. (Foto: Isnandir/Pacitanku CJ)

Pacitanku.com, TEGALOMBO – Bencana demi bencana mengintai Pacitan. Terbaru, akses utama warga empat dusun di Desa Kebondalem, Kecamatan Tegalombo terancam terputus. Itu menyusul robohnya dua tiang penyangga jembatan Kebondalem di sungai Grindulu, minggu lalu.

Saat ini, warga dan pemerintah desa setempat berinisiatif memasang bambu sebagai tiang penyangga pengganti. Tidak diketahui berapa lama lagi bambu tersebut sanggup menahan beban jembatan dengan panjang 100 meter tersebut. ‘’Ambrolnya karena hujan lebat seminggu terakhir. Aliran air sungai Grindulu jadi semakin besar,’’ ujar Budi Kuswanto, warga yang tinggal tidak jauh dari jembatan Kebondalem, kemarin, dilansir Radar Madiun.

Budi menuturkan jembatan desa Kebondalem itu mulanya dalam kondisi baik-baik saja. Pada hari Minggu lalu, hujan lebat yang mengguyur sejumlah wilayah di Pacitan, membuat debit air sungai Grindulu menjadi lebih besar.




Masalahnya, aliran sungai Grindulu di sekitar jembatan tidak merata. Adanya penumpukan sedimen membuat seluruh debit air hanya bisa lewat di sisi selatan sungai. Karena lebar aliran air tidak sebanding dengan debit air yang bertambah, dua tiang penyangga jembatan pun roboh.

Tidak hanya itu, talut di selatan sungai tersebut juga ambrol. ‘’Warga dan pemerintah desa lalu memasang dua bambu sebagai pengganti tiang penyangga sementara,’’ terangnya.

Yang membuat semakin miris, dengan kondisi yang nyaris roboh, jembatan tersebut merupakan salah satu jalur akses utama warga desa. Kepala Desa Kebondalem, Mahrubin, menjelaskan jembatan desa tersebut menghubungkan empat dusun, yakni Mujing, Kitri, Pengkol, dan Tambaksari.

Kebanyakan warga yang mengendarai roda dua melewati jembatan tersebut. Sementara roda empat, memutar melalui Desa Gedangan, sejauh empat kilometer. Tidak hanya menghubungkan empat dusun, jembatan tersebut juga menjadi jalur alternatif menuju Desa Kalikuning, Tulakan. ‘’Banyak sekali warga yang melalui jembatan ini. Selain lokasinya yang dekat pasar, juga dekat dengan sejumlah sekolah,’’ jelasnya.

Selain memasang bambu sebagai pengganti sementara tiang penyangga jembatan, Mahrubin juga berharap Pemkab Pacitan melakukan pengerukan sedimen sungai Grindulu di sekitar jembatan. Tujuannya, memecah aliran air agar tidak menumpuk di sisi selatan jembatan.

Untuk jangka panjangnya, Mahrubin mengajukan rehab permanen di tahun 2018. Yang juga diinginkan, menambah lebar jembatan agar bisa dilalui kendaraan roda empat (R4). ‘’Karena jika setiap pagi dan sore, jembatan itu selalu macet. Yang lewat mulai pedagang, siswa sekolah, sampai karyawan,’’ terangnya. (naz/rif)

Permalink ke Tanah Longsor 210 Kali Landa Pacitan Selama 2017
Bencana Alam, Headline

Tanah Longsor 210 Kali Landa Pacitan Selama 2017

DORONG. Satu unit kendaraan didorong warga melintas longsor di Tegalombo. (Info Pacitan)

Pacitanku.com, PACITAN – Bencana tanah longsor menjadi bencana yang paling sering melanda Pacitan. Data yang dihimpun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, hanya dalam sepekan, telah terjadi 46 bencana longsor di Pacitan.

Angka tersebut menambah rentetan 165 bencana tanah longsor yang telah terjadi sejak awal tahun 2017. Hingga saat ini, total kejadian longsor sudah 210 kali ‘’menyapa’’beberapa wilayah di Pacitan.

‘’Biasanya, memang ada peningkatan setiap awal hingga pertengahan tahun. Kemarau mulai menurun, dan akan kembali meningkat November-Desember mendatang,’’ ujar Kasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD, Pujono, kemarin.

Dari 46 bencana longsor yang terjadi sepanjang pekan lalu, paling banyak menyerang Kecamatan Tegalombo. Ada 35 rumah yang terdampak bencana tersebut. Selain itu, longsor juga terjadi di tiga desa di Bandar, serta satu desa di Tulakan.




Menurut Pujono, gunturan material longsor paling banyak menerjang rumah penduduk, serta infrastruktur jalan. Wajar, lantaran kebanyakan jalan dan pemukiman berada di lereng-lereng bukit. Jaraknya juga terlampau dekat dengan tebing. ‘’Kriteria kerusakan mulai dari ringan sampai sedang. Beruntung tidak ada yang sampai berat,’’ katanya.

Sejauh ini, tiga wilayah yang paling rawan longsor menurut Pujono, yakni Tulakan, Kebonagung, dan Tegalombo. Khusus Kecamatan Pacitan Kota, wilayah yang tergolong rawan adalah Desa Purworejo.

Bahkan, Pujono berani menyebut desa tersebut satu-satunya yang kini sudah digolongkan sebagai zona merah rawan longsor. Penggolongan status tersebut berdasarkan hasil penelitian PVMBG Bandung, yang Februari lalu meninjau desa tersebut. ‘’Hasil penelitian mereka menyebut Purworejo, khususnya di lokasi rumah 19 KK, itu tidak layak huni. Mereka harus relokasi,’’ terangnya.

Persoalannya, warga harus mengandalkan duit pribadi untuk menyediakan lahan relokasi. Diluar penyediaan lahan, Pujono menyebut pemkab akan memberi bantuan. Namun, bantuan yang diberikan tidak dalam bentuk tunai, melainkan berupa material bangunan melalui program Grindulu Mapan.

Sejauh ini, yang sudah siap menyediakan lahan baru 4 KK. Lainnya, masih belum memberi keputusan. ‘’Begitu mendapat informasi itu, langsung kami komunikasikan dengan warga dan perangkat desa. Sebab mereka juga yang berhak memutuskan, mau pindah atau tidak,’’ katanya.

Sumber: Radar Madiun

Permalink ke Pengerjaan Fisik Jalur Baru Pacitan-Ponorogo di Gemaharjo Dimulai Mei
Bencana Alam, Headline

Pengerjaan Fisik Jalur Baru Pacitan-Ponorogo di Gemaharjo Dimulai Mei

Bupati Pacitan Indartato meninjau lokasi jalur amblas di Gemaharjo, Tegalombo. (Foto: Rakhmad Adi Mandego/Info Pacitan)

Bupati Pacitan Indartato meninjau lokasi jalur amblas di Gemaharjo, Tegalombo. (Foto: Rakhmad Adi Mandego/Info Pacitan)

Pacitanku.com, TEGALOMBO – Rencana relokasi jalan provinsi Pacitan-Ponorogo di Dusun Dondong, Desa Gemaharjo, Kecamatan Tegalombo terus berjalan. DPU Bina Marga Jatim mengisyaratkan pembangunan jalan baru bakal segera dilakukan.

Kendati tanah gerak di Dondong terus meluas, hal itu tidak menghentikan relokasi jalan Pacitan-Ponorogo. DPU Bina Marga menyebut lokasi bakal dibangunnya jalan baru tersebut relatif aman. ‘’Pemilihan lokasi itu sudah melalui berbagai pertimbangan dan kajian. Bisa dikatakan cukup aman dari potensi tanah gerak,’’ kata Kepala Seksi Pembangunan Jalan, DPU Bina Marga Jatim UPT Pacitan, Budi Hari Santoso, kemarin.

Budi menuturkan, pekan ini progres proyek relokasi jalan provinsi tersebut memasuki tahap lelang. Diharapkan, akhir bulan April mendatang DPU Bina Marga Jatim sudah bisa menandatangani kontrak dengan pemenang lelalng.

Begitu kontrak diteken, targetnya awal Mei sudah mulai pengerjaan fisik. Dimulai dengan pembukaan lahan proyek di bekas pemukiman sembilan warga Dondong itu. ‘’Setelah itu langsung diupayakan pengerjaan lapis pondasi atas (LPA)-nya,’’ terangnya.

Panjang jalan baru Gemaharjo itu mencapai 400 meter, dengan lebar 20 meter. Total anggaran yang digelontorkan DPU Bina Marga Jatim sedikitnya Rp 3,5 miliar. Duit sebanyak itu hanya untuk pengerjaan LPA. Belum termasuk pengaspalan.




Menurut Budi, proses pengaspalan hingga finishing jalan baru tersebut akan dikerjakan di tahap berikutnya. Prioritasnya saat ini, membuka akses baru Pacitan-Ponorogo sejak tahap pertama. ‘’Yang diprioritaskan adalah secepat mungkin akses dapat terbuka dan cukup untuk dilalui kendaraan besar. Pada tahap pertama nanti, kendaraan sudah bisa lewat. Meski belum sampai diaspal,’’ jelasnya.

Budi menyebut pihaknya sudah mengkaji secara matang lokasi yang kelak dipilih untuk jalan baru Gemaharjo itu. Meski tanah gerak di sekitar lokasi tersebut terus meluas, dia optimis lokasi jalan baru tidak terkena imbas tanah gerak.

Pasalnya, tanah gerak dinilai mengarah dari atas ke bawah bukit, atau dari arah utara menuju ke selatan. Sementara lokasi baru tersebut ada di atas titik retakan, rumah-rumah warga, dan jembatan bailey. ‘’Jadi kemungkinan tidak sampai mengenai bakal jalan baru itu,’’ kata Budi.

Sumber: Radar Madiun

Permalink ke Ini Pesan Bupati untuk Warga Pacitan Agar Siaga Bencana
Bencana Alam, Headline

Ini Pesan Bupati untuk Warga Pacitan Agar Siaga Bencana

Bupati Indartato didampingi Camat Tegalombo dan Kades Kasihan meninjau lokasi longsor. (Foto: Sudirno/Pacitanku CJ)

Pacitanku.com, TEGALOMBO – Memasuki musim pancaroba, intensitas bencana alam masih tinggi, terutama di daerah rawan bencana alam, seperti di wilayah Kecamatan Tegalombo.

Atas kondisi tersebut, saat meninjau sejumlah titik bencana alam pada Sabtu (8/3/2017) lalu di Desa Gemaharjo dan Desa Tegalombo, Indartato berpesan kepada seluruh masyarakat Pacitan untuk siaga bencana alam.

“Hujan masih sering turun. Kami barharap masyarakat yang berada didaerah rawan bencana untuk tetap bersikap waspada,”kata Indartato.

Saat mengunjungi titik longsor yang sempat melumpuhkan akses jalan Tegalombo menuju Tulakan di Dusun Krajan, Desa Tegalombo, Indartato mengatakan perbaikan jalan secepatnya karena jalan tersebut merupakan sarana perekonomian masyarakat di dua kecamatan.




“Makanya hari ini saya bawa ahlinya, untuk mengecek lokasi langsung, sehingga penanganan bisa cepat. Karena akses jalan ini adalah jalur angkut perekonomian warga setempat,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, sempat dua hari lumpuh, akses jalan tersebut bisa dibuka kembali setelah satu unit alat berat diturunkan untuk membersihkan material longsor dari atas bukit.

Tak ketinggalan, Indartato juga mmeinta  masyarakat di daerah rawan bencana longsor untuk bersiaga terutama saat hujan deras tiba.Terutama bagi warga yang berada di daerah perbukitan dan memiliki kuntur tanah yang labil.

Dia menuturkan kepada maysrakat untuk menjaga keberadaan pohon sebagai penahan atau dengan membuat tembok penahan tanah (TPT) dengan dukungan pemerintah desa masing-masing.

“Diharapkan pemerintah desa untuk segera melakukan tindakan pencegahan dengan melibatkan masyarakatnya, karena Pacitan merupakan daerah rawan longsor dan banjir, terutama di wilayah daerah perbukitan,” tandasnya lagi.

Kepala Desa Kasihan Sudirno mengatakan bahwa jalur tersebut sudah bisa digunakan lagi setelah material dibersihkan menggunakan alat berat yang didatangkan dari Pacitan kota.

“Mulai hari ini, jalur sudah bisa digunakan baik kendaraan roda dua dan roda empat, tentunya dengan hati-hati karena kondisi jalan yang licin,”ungkapnya, kepada Pacitanku.com.

Sebagaimana diberitakan di Pacitanku.com, jalur utama Tegalombo-Tulakan melalui Desa Kasihan yang sempat terputus total akibat tanah longsor pada Kamis (6/4/2017) lalu. Akses menuju ke Tulakan atau sebaliknya tak bisa dilewati selama 2 hari sebelum akhirnya kembali bisa digunakan.

Permalink ke Dampak Tanah Ambles, Mushola di Gemaharjo Roboh Rata dengan Tanah
Bencana Alam, Headline

Dampak Tanah Ambles, Mushola di Gemaharjo Roboh Rata dengan Tanah

TINGGAL PUING. Bangunan mushola di Gemaharjo rata dengan tanah.

Pacitanku.com, TEGALOMBO – Bencana alam tanah ambles yang terjadi di wilayah Dusun Dondong, Desa Gemaharjo, Kecamatan Tegalombo terus berdampak terhadap bangunan di sekitarnya. Terbaru, mushola Bhabul Janah yang terletak di kawasan tersebut roboh dan rata dengan tanah pada Jumat (7/4/2017) sekitar pukul 17.00 WIB.

Robohnya mushola tersebut dikarenakan gerakan tanah. Sebab lokasinya berdekatan dengan titik longsor pada jembatan bailey, yang kondisi tanah masih bergerak. Disisi lain, intensitas hujan yang belum juga berkurang memicu terjadinya bencana tanah longsor dan tanah gerak.




“Hujan masih sering turun. Kami barharap masyarakat yang berada didaerah rawan bencana untuk tetap bersikap waspada,” kata Bupati Pacitan Indartato, saat meninjau mushola yang roboh karena gerakan tanah di Desa Gemaharjo, Tegalombo, Sabtu (8/4/2017).

Selain mendatangi mushola roboh, Bupati bersama Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pacitan Tri Mujiharto juga melihat langsung evakuasi material longsoran pada dua titik, tepatnya di Desa Tegalombo.

Material tanah longsor yang sempat memutuskan akses Tegalombo-Tulakan via Desa Kasihan tersebut dibersihkan dengan menggunakan alat berat. Para pengguna jalan yang sebelumnya tidak dapat melintas, akhirnya bisa meneruskan perjalanannya.

Sebagaimana diketahui, hujan deras yang mengguyur kawasan Kecamatan Tegalombo pada Kamis (6/4/2017) mengakibatkan tanah longsor di sejumlah titik di kawasan jalur utama yang menghubungkan Kecamatan Tegalombo menuju ke Kecamatan Tulakan melalui Desa Kasihan, Kecamatan Tegalombo putus total akibat tanah longsor yang menerjang kawasan tersebut. (Humas/RAPP002)

Permalink ke Bencana Tanah Gerak Kepung Pacitan
Bencana Alam, Headline

Bencana Tanah Gerak Kepung Pacitan

Tanah gerak di Desa Jetak Kecamatan Tulakan. (Foto: Juliantondo/Pacitanku CJ)

Pacitanku.com, TULAKAN – Bencana tanah gerak kini mengepung Pacitan. Perlu adanya peringatan dini dari pemkab kepada masyarakat, agar tragedi Banaran Ponorogo, tidak terjadi di kota 1001 gua dan pantai itu.

Yang terbaru, warga Desa Bungur, Kecamatan Tulakan, Pacitan, kini juga terkena bencana tanah gerak. Retakan di badan jalan provinsi yang menghubungkan Tulakan-Ngadirojo, merembet ke dua rumah warga setempat.

Sejak sepekan terakhir, salah satu rumah sudah dibongkar lantaran kondisinya tidak lagi aman. Sementara seorang warga lainnya memilih mengungsi ke rumah kerabat ketika malam, karena takut rumahnya roboh.

‘’Lebih baik dirobohkan terlebih dahulu karena sudah mau roboh, agar material bangunan masih bisa diselamatkan,’’ ujar Wahyu Eko Purnomo, salah seorang warga terdampak tanah gerak Desa Bungur, kemarin.

Wahyu menuturkan, awal mulanya, tanah gerak kali pertama berdampak pada jalan provinsi yang hanya berjarak sepelemparan batu dari rumahnya. Sejak setahun belakangan, badan jalan tersebut amblas sepanjang sepuluh meter. Kedalaman amblas mencapai lebih dari satu meter.

Tidak disangka, retakan mengarah ke dua rumah di timur jalan tersebut. Salah satunya rumah Wahyu. Tidak hanya muncul retakan di lantai dan dinding, rumahnya juga sudah miring sejak sebulan terakhir. Puncaknya satu pekan lalu, Wahyu mulai membongkar rumahnya. ‘’Belum tahu mau tinggal dimana. Untuk sementara menumpang di rumah orang tua,’’ terangnya.




Nasib Roni Triono juga sama. Rumahnya juga terdampak tanah gerak Bungur. Bedanya, Roni belum membongkar rumahnya. Untuk sementara ini, setiap malam, Roni dan keluarga mengungsi di rumah orang tua.

Menurut penuturannya, retakan mulai mengarah ke rumahnya dan Wahyu ketika puncak musim hujan Januari-Februari lalu. Setiap hujan turun, aliran air langsung mengarah ke rumah Roni dan Wahyu. ‘’Akibatnya, muncul retakan yang juga mengarah ke dua rumah. Termasuk, rumah saya,’’ ujar Roni.

Bencana tanah gerak di Bungur merupakan fenomena yang sudah berlangsung menahun. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pacitan, Tri Mudjiharto, menyebut retakan di Bungur kali pertama diketahui tahun 2011 lalu. Namun, pergerakan tanah di Bungur tidak selalu parah.

Titik pertama yang munculnya retakan ada di badan jalan provinsi. Namun, DPU Bina Marga Jatim cepat bereaksi, dengan segera menambal retakan. ‘’Sudah aman, lalu muncul lagi sedikit-sedikit, lalu ditambal lagi. Seperti itu terus. Kali ini yang termasuk terparah,’’ terang Tri.

Penyebab tanah gerak Bungur ditengarai karena jenis tanahnya yang labil. Disamping itu, juga ada cesar (patahan) di bawah lokasi sekitar tanah gerak. Keberadaan patahan tersebut yang kemudian memunculkan pergerakan tanah, jika dipicu oleh beberapa hal.

Diantaranya, curah hujan tinggi, rambatan gerakan gempa, serta over tonase kendaraan yang melintas di atas jalan provinsi tersebut. ‘’Ketiga penyebab itu yang berangsur membuat jalan menjadi amblas dan merambat ke dua rumah warga sekitar,’’ jelasnya.

Tri mengatakan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan DPU Bina Marga Jatim terkait tanah gerak di Bungur. Mereka diharap dapat segera memperbaiki jalan yang sudah amblas satu meter itu. Sementara, dua warga terdampak tanah gerak yang rumahnya sudah dirobohkan diminta Tri untuk melapor ke pihak Desa Bungur.

Data laporan mereka dapat berguna untuk memperoleh bantuan bencana alam dari APBD. Desa yang kemudian akan melaporkan ke kecamatan, BPBD, dan bupati, untuk pengajuan bantuan bencana alam tersebut, kataTri.

Sumber: Radar Madiun