Kategori: Bencana Alam

Popular

Berita Terbaru

Permalink ke BPBD: 130 Desa di 15 Kabupaten di Jatim Alami Kekeringan
Bencana Alam, Headline, Jatim

BPBD: 130 Desa di 15 Kabupaten di Jatim Alami Kekeringan

Bupati bersama segenap pejabat Pemkab mengunjungi daerah kekeringan air. (Foto : Doc Info Pacitan)

Bupati bersama segenap pejabat Pemkab mengunjungi daerah kekeringan air. (Foto : Doc Info Pacitan)

Pacitanku.com, SURABAYA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur mencatat 130 desa di 15 Kabupaten di Jawa Timur mengalami kekeringan akibat musim kemarau sejak pertengahan Agustus hingga September 2017.

“130 desa tersebut yang mengalami kemarau menyebar di daerah Tuban, Pacitan, Ponorogo, Sumenep, Pamekasan, Sampang, Lumajang, Pasuruan, Situbondo, Nganjuk, Jombang, Trenggalek, Banyuwangi, Mojokerto, serta Bojonegoro,” kata Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur Sudarmawan, Senin (4/9/2017).

Menururt Sudarmawan, langkah yang terus dilakukan BPBD Provinsi dan BPBD kabupaten yaitu melakukan dropping air untuk keperluan masyarakat dengan memanfaatkan mobil tangki.




Untuk dropping air, dapat dilakukan oleh pemerintah daerah setempat. Bila biaya belanja tidak terduga untuk penuhi keperluan air untuk warga yang alami kekeringan dari pemerintah kabupaten telah tidak mencukupi, jadi pemerintah provinsi juga akan mengucurkan dananya.

“Tapi ada syaratnya. Pemerintah provinsi bisa memberikan anggaran asalkan pemerintah daerah setempat mengeluarkan surat pernyataan status bencana kekeringan,”tandasnya lagi.

Menururt Sudarmawan, dari 15 daerah kabupaten yang alami kekeringan dan sudah mengajukan biaya untuk alokasi mengatasi bencana kekeringan ke pemprov, terbagi dalam 6 daerah yaitu, Mojokerto, Pasuruan, Tuban, Sumenep, Pamekasan, Sampang. Surat itu telah diserahkan kira-kira dua minggu lalu .

Sedang 23 daerah kabupaten serta kota yang lain di Jawa Timur, masih tetap belum juga memberikan laporan ada kekeringan.”Kami belum bisa mencairkan anggarannya sebelum ada surat pernyataan status bencana kekeringan. Kalau sudah ada suratnya, sekitar tiga hari bisa kita transfer ke rekening daerah setempat,”katanya lagi.

“Daerah-daerah itu sudah melakukan dropping air. Nanti nomenklaturnya pelunasan. Jadi, prinsipnya respon dari pemerintah daerah kabupaten sudah cukup bagus. Jangan sampai karena masalah administrasi, masyarakat terkendali kebutuhan airnya. Kami minta, 8 September ini surat pernyataannya sudah kami terima, agar anggaran belanja tak terduga dapat dicairkan,”tutupnya. (RAPP002)

Permalink ke Kekeringan Landa 63 Desa di Pacitan, Diprediksi Hingga Bulan Oktober
Bencana Alam, Headline

Kekeringan Landa 63 Desa di Pacitan, Diprediksi Hingga Bulan Oktober

Warga berjalan dua kilometer menuju sungai untuk mendapatkan air (Muhammad Budi/Radar Pacitan)

Pacitanku.com, PACITAN – Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Pacitan, Pujono, menuturkan kekeringan diperkirakan bakal lama dirasakan warga di sejumlah. Bahkan prediksinya hingga Oktober mendatang. 

Namun demikian BPBD telah menyiagakan mobil dan air bersih yang sewaktu-waktu bisa dilakukan droping ke wilayah yang mengalami kekeringan. ‘’Rencananya akan dijadwal, satu desa dua kali pengiriman. Digilir sesuai jadwal yang nanti dibuat BPBD,’’ terangnya, dikutip dari Radar Madiun, Sabtu (2/9/2017).

BPBD juga sudah memetakan potensi kekeringan di tahun ini. Ada 28 desa di 11 kecamatan yang tergolong sebagai kering kritis. Sedangkan 35 desa lainnya dikategorikan sebagai kering langka. 




Pengiriman air bersih akan diprioritaskan ke daerah yang termasuk kering kritis. Menurut Pujono, desa yang tergolong kering kritis merupakan daerah yang memang tergolong kering. ‘’Di samping karena curah hujan semakin menurun,’’ ujarnya.

Salah satu yang disubsidi BPBD adalah di Desa Sambong, Pacitan. Sebelumnya, untuk mendapatkan air bersih, warga di Dusun Nglaban dan Sengon harus berjalan dua kilometer menuju sungai terdekat. 

Urusan mandi dan mencuci bahkan juga dilakukan di sungai tersebut. Maklum, bak yang biasa jadi jujukan warga sudah tidak lagi ada airnya. 

Sigid Harianto, Kepala Dusun Nglaban, Desa Sambong menuturkan, yang biasa jadi andalan warga untuk mendapatkan air adalah sungai yang berjarak dua kilometer dari permukiman warga. Atau di sebuah bak penampungan air tak jauh dari dusun tersebut. 

Namun sejak lima bulan terakhir, bak penampungan air itu semakin jarang berisikan air. Di samping itu juga tidak ada upaya pengiriman air ke tempat penampungan tersebut. ‘’Warga juga tidak mungkin membuat sumur karena tidak ada pohon penahan air,’’ terangnya.

Kata Sigid, total warga yang terdampak mencapai 184 kepala keluarga (KK). Jumlah 84 KK merupakan warga Dusun Nglaban. Sementara 100 KK tercatat sebagai warga Dusun Sengon. Seluruh warga setempat mengakses sungai dan bak penampungan air tersebut. 

Yadi dan Nuryati, dua warga Nglaban, mengaku setiap hari harus bolak-balik sungai hanya untuk memenuhi kebutuhan air primer. Seperti untuk memasak. Keduanya berharap ada kiriman air dua hari sekali untuk membantu meringankan beban warga setempat. 

‘’Kami harap ada bantuan kiriman air dua hari sekali. Itu bisa membantu meringankan beban warga. Sebab, sudah tidak ada hujan, dan bak penampungan sudah kering,’’ kata Yadi.

Doa warga di dua dusun tersebut terkabulkan. BPBD mengirimkan air ke Desa Sambong. Satu unit truk dengan muatan 5.000 liter air bersih dikirim untuk dua dusun yang ada di desa tersebut. ‘’Selama kesulitan air, baru kali ini dikirimi air bersih,’’ ujar Sigid Harianto.

 

Permalink ke Pacitan Peringkat 5 Indeks Risiko Tinggi Bencana di Jatim
Bencana Alam, Headline

Pacitan Peringkat 5 Indeks Risiko Tinggi Bencana di Jatim

Indartato saat memberikan sambutan dalam Lomba Desa Tangguh Bencana, Rabu (30/8/2017) kemarin. (Foto: Humas Pemkab Pacitan)

Pacitanku.com, PACITAN – Kepala pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur Sudarmawan mengatakan bahwa ada 460 desa di Jawa Timur yang masuk klasifikasi tinggi ancaman bencana alam. Hal tersebut disampaikan Sudarmawan saat memberikan sambutan pada Lomba Desa Tangguh Bencana Tingkat Utama Propinsi Jatim di Desa Sirnoboyo, Pacitan, Rabu (30/8/2017) kemarin.

“Sedangkan pada tingkat sedang sampai rendah ada 2.000an desa/kelurahan. Kabupaten Pacitan sendiri berada pada peringkat lima indeks resiko tinggi bencana. Penyebabnya karena potensi bencana tsunami, mengapa tinggi ?. Karena (ancaman,Red) tsunaminya,”katanya.

Untuk itu, dalam kesiapsiagaan maupun tahapan tanggap darurat, desa menjadi bagian paling depan. Karena berhadapan dengan bencana. “Ketika terjadi tanggap darurat, responnya cepat. Kabupaten dan provinsi memang mendampingi. Tapi hitungannya jam,” ujarnya lagi.




Dia juga mengapresiasi atas upaya Bupati Pacitan dan jajarannya bersama masyarakat mereduksi ancaman bencana itu. Salah satunya melalui program-program tanggap bencana sehingga dapat merubah perilaku masyarakat.

“Kabupaten Pacitan telah mampu menguatkan kelambagaannya, penguatan SDM, dan mengintegrasikan potensi-potensi itu. Sehingga saling melengkapi dan menguatkan,” tuturnya.

Dalam kesempatan yang sama, Bupati Indartato menjelaskan bahwa dalam upaya pengurangan resiko bencana semua masyarakat terlibat. Karena tingginya ancaman bencana alam, termasuk gelombang tsunami. “Posisi kota Pacitan sendiri rendah. Karena ketinggiannya tidak lebih dari 10 meter dari permukaan laut,” ujarnya.

Menyadari hal tersebut pemkab pun lantas melaksanakan berbagai program berbasis pengurangan resiko bencana sejak beberapa tahun silam.

Dukungan dari pusat pun ikut mengalir. Salah satunya pembuatan sabuk hijau (green belt) disepanjang Pantai Teleng dan Pancer Door. “Tahun 2008 adan bantuan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk green belt. Semoga tidak terjadi bencana di Pacitan,” pungkasnya. (RAPP002/Humas)

Permalink ke Kekeringan Berbulan-Bulan, Warga Sambong Kesulitan Dapatkan Air Bersih
Bencana Alam, Headline

Kekeringan Berbulan-Bulan, Warga Sambong Kesulitan Dapatkan Air Bersih

Pacitanku.com, PACITAN – Warga Desa Sambong, Kecamatan/Kabupaten Pacitan kesulitan mendapatkan air bersih. Untuk mendapatkan air bersih, warga di Dusun Nglaban dan Sengon di desa itu harus berjalan 2 kilometer menuju sungai terdekat.

Urusan mandi dan mencuci juga dilakukan di sungai tersebut. Maklum, bak yang biasa menjadi jujukan warga sudah tidak ada airnya lagi.

Kepala Dusun Nglaban, Desa Sambong, Pacitan, Sigid Harianto menuturkan, yang biasa menjadi andalan warga untuk mendapatkan air adalah sungai yang berjarak 2 kilometer dari permukiman warga atau di sebuah bak penampungan air tak jauh dari dusun itu.




Namun, sejak lima bulan terakhir, bak penampungan air tersebut semakin jarang berisi air. Di samping itu, tidak ada upaya pengiriman air ke tempat penampungan tersebut.”Warga juga tidak mungkin membuat sumur karena tidak ada pohon penahan air,” terangnya, dikutip JPNN, Rabu (30/8/2017).

Menurut Sigid, total warga yang terdampak mencapai 184 kepala keluarga (KK). Sebanyak 84 KK merupakan warga Dusun Nglaban. Sisanya, 100 KK, tercatat sebagai warga Dusun Sengon. Seluruh warga setempat memanfaatkan sungai dan bak penampungan air itu. (JPNN/RAPP002)

Permalink ke Dua Hari, Pacitan Diguncang 5 Kali Gempa Bumi 3,2 Hingga 5,6 SR
Bencana Alam, Headline

Dua Hari, Pacitan Diguncang 5 Kali Gempa Bumi 3,2 Hingga 5,6 SR

Ilustrasi Gempa Bumi di Pacitan

Ilustrasi Gempa Bumi di Pacitan

Pacitanku.com, PACITAN – Selama dua hari, Gempa bumi berkekuatan 3,2 hingga 5,6 Skala Richter (SR) mengguncang Pacitan, sejak Minggu (27/8/2017) hingga senin (28/8/201) dini hari.

Informasi yang dihimpun Pacitanku.com dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut bahwa gempa bumi pertama terjadi pada Minggu (27/8/2017) pukul 07.02 WIB dengan kekuatan 5,6 SR dengan lokasi di 10.57 Lintang Selatan dan111.03 Bujur Timur, atau 265 km Barat Daya Pacitan. Kedalaman gempa ini berada di 10 kilometer.

Gempa kedua terjadi pada Minggu (27/8/2017) pukul 07.14 WIB dengan kekuatan 4,1 SR dengan lokasi di 10.10 Lintang Selatan dan 111.15 Bujur Timur, atau 213 km tenggara Pacitan dengan kedalaman gempa ini berada di 10 kilometer.

Sejam kemudian, tepatnya pukul 08.07 WIB, gempa terjadi dengan kekuatan lebih kecil, yakni 3,7 SR dengan lokasi di 10.22 lintang selatan dan111.20 bujur timur dan lokasi di 227 km Tenggara Pacitan dan kedalaman 10 km. Gempa keempat terjadi sejam kemudian, atau Minggu pukul 09.14 WIB dengan lokasi 10.23 lintang selatan dan 111,15 bujur timur dengan lokasi 227 km tenggara Pacitan serta kedalaman 10 km.




Gempa kelima terjadi dengan intensitas kekuatan lebih kecil pada Senin (28/8/2017) dini hari WIB pada pukul 2.10 WIB dengan lokasi di 8.58 lintang selatan dan 110.95 bujur timur atau barat daya Pacitan dengan kedalaman 34 km.

Kepala Bidang Informasi Gempabumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG, Daryono, mengatakan gempa bumi itu berklasifikasi dangkal.”Akibat aktivitas patahan atau sesar di zona outer rise, yaitu zona gempa di luar (di selatan) zona subduksi lempeng,” katanya.

Menurutnya, aktivitas gempa di zona itu bermekanisme sumber sesar turun (normal fault).Hasil analisisnya, gempa tersebut juga dipicu patahan turun dalam arah barat-timur.”Gempa bumi ini tidak dirasakan orang-orang karena jaraknya yang jauh. Namun aktivitas gempa di outer rise tidaklah banyak sehingga sangat menarik untuk dicermati oleh para ahli,” papar dia.

Dia mengatakan bahwa zona outer rise selama ini seolah menjadi zona gempa yang terabaikan. Padahal, lanjut Daryono, zona outer rise dapat berpotensi terjadi gempa kuat yang dapat memicu tsunami besar.

“Seperti halnya peristiwa The Great Sumba pada 19 Agustus 1977, gempa dahsyat berkekuatan 8,3 Magnitudo dengan patahan turun yang berpusat di zona outer rise selatan Sumbawa, memicu tsunami hingga menewaskan sebanyak 198 orang di pesisir selatan Sumbawa,”pungkasnya.

Permalink ke Gempa 5,6 SR di Pacitan Tak Dirasakan Getarannya, ini Alasannya
Bencana Alam, Headline

Gempa 5,6 SR di Pacitan Tak Dirasakan Getarannya, ini Alasannya

Pacitanku.com, PACITAN – Gempa bumi berkekuatan 5,6 Skala Richter (SR) mengguncang Pacitan, Jawa Timur, Minggu (27/8/2017) pukul 07.02 WIB. Namun gempa tersebut ternyata tak dirasakan getarannya oleh warga Pacitan.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pacitan Tri Mudjiharto saat dikonfirmasi melalui grup percakapan Pacitanku CJ, Minggu pagi menuturkan alasan mengapa gempa berkekuatan cukup besar tersebut tak dirasakan getarannya oleh warga.

“Ini baru konfirmasi ke BMKG, gempa tidak dirasakan di Pacitan karena letak gempa jauh, yakni 265 Km dari daratan, atau 265 Km Barat Daya di Pacitan,”katanya.




Berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa bumi itu berlokasi di 10.57 Lintang Selatan-111.03 Bujur Timur atau 265 km Barat Daya Pacitan.

Kemudian gempa berada di 285 km Tenggara Gunungkidul, 286 km Barat Daya Trenggalek,  316 km Tenggara Yogyakarta dan 676 km Tenggara Jakarta.

Namun gempa bumi dengan kedalaman 10 kilometer di bawah permukaan laut itu dilaporkan tidak berpotensi terjadinya gelombang tsunami. (RAPP002)