Kategori: Bencana Alam

Popular

Berita Terbaru

Permalink ke 13 Rumah di Kebonagung Terdampak Tanah Gerak
Bencana Alam, Headline

13 Rumah di Kebonagung Terdampak Tanah Gerak

Foto Ilustrasi: Salah satu rumah terdampak tanah gerak di Purworejo Pacitan. (Foto: Pujono/BPBD Pacitan)

Pacitanku.com, KEBONAGUNG – Titik baru pergerakan tanah muncul di Desa  Karangnongko, Kecamatan Kebonagung, (7/3). Sebanyak 13 rumah mengalami retak-retakan akibat fenomena tersebut. Menjalarnya garis retakan hanya membutuhkan waktu tiga bulan sejak pertama kali ditemukan.

Fenomena tanah gerak Desa Wonoanti Kecamatan Tulakan, lalu Desa Purworejo Pacitan Kota, dan Desa Glinggangan Kecamatan Pringkuku. Tanah gerak terparah terjadi di Purworejo. Di desa itu, sebanyak 19 rumah menjadi korban, sebelas di antaranya rusak parah.

Sedangkan di Karangnongko, kendati belum parah merusak rumah dan mengancam jiwa, namun fenomena tersebut cukup membuat warga merasa was-was. ‘’Rasa cemas tetap ada. Sebab, retakan ini terus meluas,’’ ujar salah satu korban pergerakan tanah Karangnongko, Slamet Kuncoro, dilansir dari Radar Madiun.

Di rumah Slamet, garis retakan pertama kali diketahui di teras rumahnya. Hanya butuh tiga bulan, garis retakan menjalar sepanjang 20 meter mencapai ke bagian belakang rumah. Akibat retakan di lantai itu, lantai terasnya bergelombang.




Hal itu juga membuat pintu depan rumahnya tidak bisa lagi dibuka tutup. Menurut Slamet, perkembangan retakan dapat dirasakan dari dalam rumah. ‘’Kerap terdengar suara tiang penyangga atau lantai itu merekah. Kalau diamati, per hari kadang bisa sampai setengah sentimeter,’’ katanya.

Dari rumah Slamet, retakan rupanya terus menjalar sampai ke 12 rumah lainnya di RT 3/RW 2. Sejak semakin parah Februari lalu, Slamet dan warga lainnya melapor ke kepala desa dan camat setempat. Laporan mereka kemudian ditindaklanjuti BPBD yang turun meninjau lokasi.

Kepala Seksi Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Pacitan, Pujono, menyebut total terdampak pergerakan tanah Karangnongko berdasarkan data resmi ada 13 rumah. Lebar retakan paling parah hanya dua sentimeter.

Namun, panjang garis retakan mencapai ratusan meter, jika diukur dari rumah Slamet hingga rumah paling barat yang terdampak. ‘’Fenomenanya terbilang baru, jika dibandingkan lokasi gerakan tanah lainnya yang ada di Pacitan,’’ ujarnya.

Dari peninjauan yang dilakukan, Pujono menyebut pihaknya belum bisa memberi keputusan apakah warga terdampak pergerakan tanah Karangnongko harus direlokasi atau tidak. Sebab, kendati terus berkembang, namun kondisi rumah masih dinilai relatif aman untuk ditinggali.

Namun, tidak menutup kemungkinan perkembangannya bisa menjadi lebih parah lagi. Sebab, musim hujan diperkirakan baru akan berakhir April mendatang. ‘’Untuk sementara masih relatif aman. Tetapi potensi perkembangannya masih ada, selama hujan terus turun,’’ terangnya.

Permalink ke Dua Ruang Kelas TK di Bandar Ambles Akibat Tanah Gerak
Bencana Alam, Headline

Dua Ruang Kelas TK di Bandar Ambles Akibat Tanah Gerak

Sekolah di Bandar mengalami ambles. (Foto: Agoes Doyock/Info Pacitan)

Pacitanku.com, BANDAR – Dua ruang kelas TK Harapan Bangsa di Dusun Tawang Desa Ngunut Kecamatan Bandar Pacitan ambles sedalam lima hingga sepuluh sentimeter dan sepanjang 5 meter akibat pergerakan tanah di kawasan tersebut.

Karena kondisi yang cukup parah di satu ruang kelas, siswa TK di kelas tersebut diliburkan sejak hari Senin lalu. Sementara siswa di satu ruang kelas lainnya masih menjalankan kegiatan belajar-mengajar (KBM) hingga sekarang. Dari 39 siswa, hanya 22 siswa saja yang mengikuti pembelajaran. Titik ambles kemungkinan masih terus bertambah mengingat curah hujan tnggi.

“Ya dampaknya jelek sekali, hari ini tidak ada pembelajaran di ruang sebelah karena mengkhawatirkan. Kalau di injak, keramiknya bergerak, anak-anak memasukkan kakinya di sela keramik tersebut,”kata Sulasti, Kepala TK Harapan Bangsa, belum lama ini kepaa wartawan.




Kerusakan di bangunan sekolahnya itu baru diketahui Senin (27/2/2017) pagi. Akibat kejadian Senin lalu, sebanyak 14 siswa di kelas A terpaksa diliburkan. Sementara KBM berjalan normal bagi 22 siswa di kelas B, di tengah kondisi lantai yang ambles dan merekah. Dua guru berstatus PNS dan satu guru tidak tetap (GTT) tetap masuk seperti biasa, mengajar satu kelas tersebut.

Secara terpisah, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Pacitan, Marwan, mengatakan perbaikan terhadap bangunan TK Harapan Bangsa dapat diupayakan lewat pos bantuan bencana alam. Sementara dari APBD yang dikelola Dikbud, tidak ada pos bantuan untuk TK berstatus swasta seperti TK Harapan Bangsa.

Selama ini, hanya ada empat TK di Pacitan yang dirawat oleh Dikbud karena berstatus negeri. Selebihnya ditangani pihak pengelola masing-masing TK lantaran berstatus swasta. Jumlahnya disebut Marwan mencapai puluhan sekolah.

“Jika yang berstatus negeri, kami bisa mengupayakan perbaikan lewat APBD. Tetapi jika swasta, pilihannya ya diajukan lewat pos bantuan bencana alam. Karena kerusakannya kan disebabkan oleh bencana,’’ katanya, sebagaimana dikutip Radar Madiun. (RAPP002)

 

Permalink ke Diterjang Longsor, 4 Rumah Warga Bandar dan Talud Rusak
Bencana Alam, Headline

Diterjang Longsor, 4 Rumah Warga Bandar dan Talud Rusak

Petugas BPBD dan Kepolisian memeriksa talud yang ambrol. (Foto: BPBD Pacitan)

Pacitanku.com, BANDAR – Empat rumah di Desa Ngunut, Kecamatan Bandar, Kabupaten Pacitan, rusak berat akibat diterjang tanah longsor, Senin (27/2/2017) sore. Material longsoran berupa lumpur dan bebatuan juga merusak talut di jalan masuk Dusun Bubakan, Desa Ngunut.

Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pacitan, Pujono, mengatakan longsor disebabkan hujan deras di wilayah Kecamatan Bandar sejak Senin (28/2/2017) siang. Dia menuturkan, air hujan mengakibatkan tanah di tebing gembur hingga akhirnya longsor. sekitar pukul 15.30 WIB.

Material longsoran menghantam empat rumah yang ada di bawah tebing hingga menyebabkan bagian samping dan belakang rumah jebol. “Material longsoran menghantam bagian samping rumah hingga tembok belakang rumah jebol ,” kata Pujono saat dihubungi, Selasa (28/2/2017).




Akibatnya, empat rumah di Desa Ngunut rusak parah. Empat rumah rusak itu di antaranya milik Gianto warga Dusun Tawang, Siran warga Dusun Krajan, Sugiran warga Dusun Bubakan, dan Srianto, warga Dusun Krajan.

Pujono menuturkan kerugian material diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah. Sementara kerugian dari bangunan talut yang rusak mencapai sekitar Rp 150 juta. “Informasi dari kades setempat, talut itu dibangun pada Agustus 2016 dan masih dalam masa pemeliharaan,” kata Pujono.n w

Pujono menuturkan, lokasi Desa Ngunut berada di wilayah perbukitan. Sementara ada banyak rumah warga di bawah tebing. Oleh sebab itu, di meminta kepada warga yang rumahnya di lereng atau bawah tebing agar waspada terutama pada musim penghujan.

Pujono mengatakan, saat ini petugas masih melakukan pendataan jumlah kerugian dan bangunan yang rusak akibat bencana alam itu. Tidak ada korban jiwa dalam bencana alam tanah longsor di Desa Ngunut.

Sementara itu, warga yang terdampak akibat longsor telah diberi bantuan berupa paket sembako. Pada Selasa pagi, petugas BPBD dibantu warga bergotong royong membersihkan material longsoran dan memperbaiki rumah yang rusak. “Kami masih inventarisasi kerusakan dan kebutuhan. Nanti bila ada yang kurang, akan kami berikan bantuan tambahan,” pungkasnya. (RAPP002/Surya)

Permalink ke BNPB: Ada 386 Kabupaten/Kota di Indonesia Masuk Zona Bahaya Gempa Bumi
Bencana Alam, Headline

BNPB: Ada 386 Kabupaten/Kota di Indonesia Masuk Zona Bahaya Gempa Bumi

Pacitanku.com, YOGYAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 148,4 juta warga Indonesia tinggal di daerah rawan gempa bumi, 5 juta di daerah rawan tsunami, 1,2 juta penduduk di daerah rawan erupsi gunung api, 63,7 juta jiwa di daerah rawan banjir, serta 40,9 juta jiwa tinggal di daerah rawan tanah longsor.

“Setiap tahun negara mengalami kerugian Rp 30 triliun akibat bencana,” kata Kepala BNPB Willem Rampangilei dalam acara diskusi di Ruang Multimedia Kantor Pusat Universitas Gadjah Mada, DIY, Selasa (21/2/2017).

Willem mengatakan di Indonesia terdapat 386 kabupaten/kota berada di zona bahaya sedang hingga tinggi gempa bumi. Selanjutnya, ada 233 kabupaten/kota berada di daerah rawan tsunami.

Selain itu, sebanyak 75 kabupaten/kota terancam erupsi gunung api. Sebanyak 315 kabupaten/kota berada di daerah bahaya sedang-tinggi banjir dan 274 kabupaten/kota di daerah bahaya sedang-tinggi bencana longsor.”Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Kalimantan Timur, dan Aceh merupakan lima provinsi terbanyak terpapar bencana selama 2016,” katanya.

Sepanjang tahun 2016 kejadian bencana terbanyak terjadi di Provinsi Jawa Tengah sebanyak 639 kali. Diikuti Jawa Timur dengan 409 kejadian bencana, Jawa Barat 329 kali, Kalimantan Timur 190 kali, dan pemerintah Aceh 83 kali. Sementara itu, sebaran kejadian bencana per kabupaten/kota tertinggi terjadi di Cilacap sebanyak 100 kali, Magelang 56 kali, Wonogiri 56 kali, Banyumas 53 kali, serta Temanggung 50 kali.

Willem menyebutkan tren bencana terus meningkat dari tahun ke tahun. Sebanyak 92 persen bencana yang terjadi di Indonesia merupakan bencana hidrometeorologi.




Peningkatan bencana disebabkan oleh faktor alam, seperti perubahan iklim dan faktor antropogenik, meliputi degradasi lingkungan, permukiman di daerah rawan bencana, DAS kritis, dan urbanisasi. “Tahun 2016 telah terjadi 2.384 bencana, jumlah ini meningkat dibandingkan tahun 2015 sebanyak 1.732 bencana,” katanya.

Dia menambahkan, banjir merupakan bencana yang paling banyak terjadi di tahun 2016 hingga 775 kali. Daerah rawan banjir meluas di beberapa daerah yang tidak pernah mengalami banjir, seperti di Garut, Pangkalpinang, Kota Bandung, Kota Bima, dan Kemang, Jakarta. “Sekitar 19 juta orang Indonesia terancam banjir dan tanah longsor akibat hujan yang terjadi sepanjang bulan Januari-Februari 2017 dan 175 ribu masyarakat yang terdampak,” tuturnya.

Ia menyebutkan berdasarkan data BNPB sebanyak 148,4 juta warga tinggal di daerah rawan gempa bumi, 5 juta di daerah rawan tsunami, 1,2 juta penduduk di daerah rawan erupsi gunungapi, 63,7 juta jiwa di daerah rawan banjir, serta 40,9 juta jiwa tinggal di daerah rawan longsor.

Sementara itu, ia mengatakan, sepanjang 2016 kejadian bencana terbanyak terjadi di provinsi Jawa Tengah sebanyak 639 kali bencana. Diikuti Jawa Timur dengan 409 kejadian bencana, Jawa Barat 329 kali, Kalimantan Timur 190 kali, dan Pemerintah Aceh 83 kali.

Sementara sebaran kejadian bencana per kabupaten/kota tertinggi terjadi di Cilacap sebanyak 100 kali, Magelang 56 kali, Wonogiri 56 kali, Banyumas 53 kali, serta Temanggung 50 kali. “Sebanyak 92 persen bencana yang terjadi di Indonesia merupakan bencana hidrometeorologi,” pungkasnya. (RAPP002/Antara)

Permalink ke Fenomena Tanah Gerak Purworejo Semakin Parah, 19 Rumah Terdampak
Bencana Alam, Headline

Fenomena Tanah Gerak Purworejo Semakin Parah, 19 Rumah Terdampak

Salah satu rumah terdampak tanah gerak di Purworejo Pacitan. (Foto: Pujono/BPBD Pacitan)

Pacitanku.com, PACITAN – Fenomena retakan tanah di Dusun Krajan, Desa Purworejo, Kecamatan Pacitan Kota semakin gawat. Retakan terus berkembang hingga ke jalan dan perkebunan warga. Yang paling parah, dari awalnya 17 rumah terdampak, kini sudah ada 19 unit rumah yang terdampak retakan.

Dari 19 rumah itu, 11 rumah dalam kondisi rusak parah. ‘’Perkembangan retakan yang ada di Purworejo memang diluar prediksi,’’ ujar Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Pacitan, Pujono, dilansir dari Radar Madiun, Minggu (19/2/2017).

Perkembangan paling parah dirasakan 11 unit rumah. Menurut Pujono, data terakhir di awal Februari lalu, hanya ada empat rumah yang rusak parah. Memasuki pertengahan bulan ini, rumah yang rusak parah menjadi 11 unit.

Retakan di 11 rumah tersebut sudah menjalar di lantai, dinding, bahkan hingga plafon. ‘’Dari yang awalnya hanya ada empat keluarga yang mengungsi ketika malam, kini ada sebelas keluarga yang terdampak ikut mengungsi,’’ terangnya.




Pujono menyebut, pihaknya sudah berkoordinasi dengan pemerintah desa (pemdes) dan warga setempat yang terdampak retakan tanah. Antisipasi yang harus dilakukan oleh warga, antara lain, mengungsi ketika hujan lebat atau malam hari. Perkembangan retakan harus dilaporkan kepada pemdes. Maklum, curah hujan masih diperkirakan tinggi hingga Maret mendatang.

Pujono tidak ingin jika kondisi rumah yang kini sudah rusak parah dapat menimbulkan korban jiwa. ‘’Jadi lebih baik mengungsi. Begitu hujan atau malam hari. Sebab, perkembangan retakan tidak mengenal waktu,’’ ujar Pujono.

Menurut dia, kerusakan parah di 11 rumah tersebut sesuai dengan analisa tim Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bandung, awal Februari lalu. Menurut PVMBG, kondisi geografis yang tidak menguntungkan di Krajan, memang membuat rumah mudah rusak parah karena retakan di tanah mudah berkembang.

Karena itu, warga lebih baik kelak membangun rumah semi permanen. Ini agar beban yang ditanggung tanah tidak terlalu berat. Sehingga, dapat meminimalisasi perkembangan retakan, baik di tanah maupun bangunan. ‘’Idealnya menurut rekomendasi mereka, memang bangunan semi permanen. Itu aman untuk jiwa penghuninya juga,’’ terangnya.

Kepala Desa Purworejo, Rosid Subianto, mengaku sudah bersiap akan bahaya terburuk yang mungkin bisa terjadi di Krajan. Pihaknya sudah mulai menyediakan tiga lokasi evakuasi untuk warga terdampak retakan. Diantaranya, di balai desa, balai dusun dan balai RT 4/ RW 2.

Masyarakat dianjurkan mengungsi di tiga tempat tersebut jika hujan mulai turun dengan lebat. Untuk solusi jangka panjang, Rosid menyebut sudah mulai memikirkan untuk menyediakan lahan bagi warga agar bisa relokasi. Lahan rencananya menggunakan tanah kas desa.

Kendati, sejauh ini yang sudah siap baru lahan untuk empat rumah saja. ‘’Jangka panjangnya, kami upayakan menyediakan lahan. Namun memang yang telah tersedia baru cukup untuk empat rumah,’’ jelasnya. 

Permalink ke Oh, ini ternyata Penyebab Banjir di Wilayah Pacitan Kota
Bencana Alam, Headline

Oh, ini ternyata Penyebab Banjir di Wilayah Pacitan Kota

Bupati Indartato bersama warga saat meninjau genangan air di jalan protokol Pacitan, Sabtu (11/2/2017) kemarin. (Foto: Instagram Indartato)

Pacitanku.com, PACITAN – Pemkab melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Pacitan akhirnya mendeteksi penyebab banjir yang terjadi di wilayah Kecamatan/Kabupaten Pacitan baru-baru ini.

Menurut keterangan Kabid Sumber Daya Air (SDA) Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Pacitan, Sri Pudjo, Selasa (14/2/2017) sebagaimana dilansir dari Radar Madiun menyebutkan bahwa banjir di wilayah kota salah satunya disebabkan karena tidak seimbangnya saluran air di wilayah hulu hingga ke hilir.

Idealnya, semakin ke hilir maka saluran air semakin lebar. Tujuannya, untuk mengakomodasi aliran air yang semakin meningkat dalam perjalanan dari hulu ke hilir. Pasalnya, hujan yang turun juga bisa ikut menambah debit air.Namun, yang terjadi di Pacitan ternyata sebaliknya. ‘’Idealnya memang semakin lebar di hilir sungai. Namun, yang ada justru ada penyempitan,’’ kata Sri Pudjo.

Pada Senin (13/2/2017) kemarin Sri Pudjo beserta sejumlah staf dari DPUPR termasuk Kepala DPUPR, Budiyanto, berkeliling meninjau sejumlah saluran air yang ada di Pacitan. Dari hasil peninjauan, lebar tidak seimbang memang jadi salah satu penyebab utama dari terjadinya banjir di wilayah kota.

Disamping itu, pembangunan jembatan di atas saluran air menuju rumah-rumah warga ditengarai juga menjadi penyebab lain. Sebab, jembatan-jembatan kecil itu umumnya malah membendung aliran air karena tiang-tiang penyangganya mempersempit lebar penampang saluran. ‘’Bentang jembatan yang tidak sesuai malah justru membendung air. Dampaknya air pun meluber,’’ jelasnya.




Selain dua penyebab tersebut, penumpukan sedimen juga menjadi penyebab banjir kota. Di sejumlah saluran, air dari hulu yang membawa lumpur menyebabkan pendangkalan. Salah satunya terlihat di pintu air sungai Kunir, di Pucang Sewu, Pacitan.

Pintu air yang sedianya mengendalikan aliran air justru kewalahan menampung debit lantaran ada pendangkalan. Menurut Pudjo, kondisi pendangkalan karena penumpukan sedimen juga terjadi di beberapa saluran air yang lain. ‘’Banyak yang penuh, perlu dibersihkan,’’ ujarnya.

Pudjo menyebut, DPUPR punya sejumlah wacana untuk mengatasi banjir kota. Diantaranya, yang dinilai paling urgent, adalah membangun bypass. Bypass yang dimaksud adalah saluran yang langsung menghubungkan hulu hingga hilir.

Sehingga, dapat mengurangi beban debit air yang masuk ke wilayah kota. Menurut Pudjo, wacana tersebut sebenarnya sudah pernah dimunculkan beberapa tahun yang lalu. Namun, tetap perlu dilakukan survei ulang untuk mengetahui kondisi layak tidaknya bypass dibangun. ‘’Perlu survei ulang untuk mengetahui kondisi medannya. Jangan sampai tingkat elevasinya dari hulu ke hilir justru malah naik. Itu dapat menghambat kelancaran aliran air,’’ sebutnya.

Sebelumnya, Bupati Pacitan Drs H Indartato MM berpesan kepada seluruh masyarakat Pacitan untuk selalu menjaga saluran air. Hal itu, menurut Indartato agar aliran sungai di saluran air menjadi lancar dan tidak menyebabkan genangan air.“Mari bersama jaga saluran air kita selalu dalam keadaan bersih supaya aliran sungai lancar,”katanya. (RAPP002)