Main Petasan Spiritus, Tradisi Anak-anak Jetak Tulakan Jelang Ramadhan

oleh -Dibaca 365 kali

Pacitanku.com, TULAKAN — Suara letupan mirip pistol terdengar dari kejauhan. Bukan hanya sekali, namun berkali-kali. Kadang suaranya mirip ledakan ketika ban mobil pecah.

Rupanya ledakan beruntun yang mengagetkan tersebut berasal dari permainan petasan spiritus yang dimainkan oleh sejumlah anak-anak di Desa Jetak, Kecamatan Tulakan, Kabupaten Pacitan.

Sejumlah anak-anak yang mengaku masih duduk di SD terlihat asyik memainkan petasan spiritus yang terbuat dari pipa air dan kaleng susu bekas.

Mereka merakitnya sedemikian rupa sehingga mengeluarkan suara ledakan layaknya tembak pistol.

Dari celotehan anak-anak di Desa Jetak tersebut diketahui permainan petasan spiritus kerap mereka mainkan menjelang bulan Ramadhan.

“Masih jauh dari bulan Puasa, tapi sudah jadi kebiasaan main petasan spiritus setiap mau masuk bulan puasa,” ujar Dion, salah satu anak yang memainkan petasan spiritus, Minggu (11/4/2021).

Permainan petasan spiritus cukup sederhana. Terlihat anak-anak menyemprotkan spiritus ke dalam petasan spiritus.

Sebagian anak-anak itu menutup telinga, lalu terdengar suara ledakan yang keras yang berasal dari petasan spiritus yang mereka semprot dengan spiritus.

“Kalau bulan puasa dibunyikan pada siang hari. Waktunya sahur dan juga menjelang buka puasa,” jelas Dion.

Lomba bocah main petasan spiritus di Jetak

Terkadang anak-anak yang memainkan petasan spirtus tersebut berlomba membunyikan petasan spirtus paling keras. Siapa yang berhasil meledakan petasan spiritus paling keras dialah yang juaranya.

Menurut Dion, membuat petasan spiritus juga cukup mudah. Bahan yang digunakan adalah pipa air, kaleng bekas, botol bekas pemutih dan pemantik korek api.

Kaleng susu tersebut dilubangi kecil-kecil berfungsi untuk menyaring suara. Untuk menyalakan petasan spiritus ini cukup menyemprotkan spiritus kedalam petasan spiritus.

“Mainan petasan spiritus sudah jadi mainan sekaligus hiburan menjelang hari Puasa,” pungkasnya.

Kontributor: Destri Annisa (Mahasiswa STKIP PGRI Pacitan)
Editor: Dwi Purnawan

No More Posts Available.

No more pages to load.