Erosi di Mentoro Kian Mengkhawatirkan, Tiga Makam Dikabarkan Hanyut

oleh -183 views

Pacitanku.com, PACITAN – Dampak erosi sungai Grindulu tepatnya di Dusun Duduhan, Desa Mentoro, Kecamatan/Kabupaten Pacitan terus meluas. Kabar terakhir, gerusan air sungai sudah mendekati permukiman warga. Bahkan dikabarkan, tiga pemakaman umum yang lokasinya tak jauh dari tanggul pengaman, ikut hanyut.

Sumarti, salah seorang warga sekitar mengatakan, hampir setiap hari terdengar suara gemuruh seperti ada ledakan. Sumber suara, lanjut dia, berasal dari ambrolnya tanggul yang tergerus erosi air sungai. “Pokoknya kalau terjadi hujan, debit air kan bertambah. Dan menghantam tanggul. Suaranya seperti ledakan,” katanya, Senin (23/3).

Ibu dua anak ini berharap, pemerintah segera turun tangan. Sebab erosi air semakin menggerus tanggul bagian selatan, yang berdekatan dengan permukiman warga.

“Jaraknya hanya sekitar lima meter. Kalau terus dibiarkan, tanggul bisa jebol dan puluhan rumah akan hanyut terbawa air bah,” ceritanya.

Lebih lanjut, Sumarti mengatakan, Sabtu malam kemarin, akibat derasnya air sungai, hingga mengakibatkan tiga pemakaman hanyut.

“Kami nggak tahu itu makam siapa. Sebab tak jauh dari tanggul memang ada pekuburan dari warga tiga rukun tetangga (RT). Yang lain sudah dipindahkan,” ceritanya.

Sementara itu, Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Pacitan, Heru Wiwoho Supadi Putro, mengatakan akan segera berkoordinasi dengan BPBD dan Dinas PUPR guna menyikapi bencana alam tersebut.

“Besok Insyaallah akan kami sampaikan ke BPBD dan Dinas PUPR. Kemungkinan juga akan kita tinjau lapangan,” ujar pria yang juga exs officio BPBD Pacitan ini.

Heru menegaskan, kawasan sungai memang kewenangan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo (BS). Pemkab, lanjut dia, hanya sebatas melakukan koordinasi.

“Kewenangan ada di BBWS. Namun kita tetap mengkoordinasikan masalah yang dialami masyarakat,” jelasnya.

Sekedar informasi, warga terdampak dari erosi sungai tersebut tercatat kurang lebih sekitar 64 kepala keluarga. Kalau tidak ada penanganan secepatnya, dikawatirkan tanggul akan jebol dan rumah mereka terancam hanyut.

Pewarta: Yuniardi Sutondo
Editor: Dwi Purnawan