Potret Industri Makanan Kering di Pringkuku, Tetap Bertahan di Masa Pandemi

oleh -Dibaca 329 kali
Produksi kue kering di Pringkuku yang terdampak pandemi. (Foto: Afifah Asma Nuraini)

Pacitanku.com, PRINGKUKU – Pandemi global coronavirus disease 2019 (COVID-19) yang saat ini masih menjadi wabah, membatasi perekonomian masyarakat Pacitan.

Di Kecamatan Pringkuku misalnya, sejumlah bisnis juga turut terdampak pandemi. Namun demikian pada pertengahan Ramadhan, menjelang Hari Raya Idul Fitri 2021 perekonomian mulai meningkat sedikit demi sedikit.

Salah satu industri kecil yang terkena imbas pandemi ini merupakan industri milik Haryati, salah satu warga di Dusun Pringkuku, Desa Pringkuku, Kecamatan Pringkuku.

Industri kecil ini bergerak di bidang makanan kering. Makanan kering atau yang bisa disebut cemilan, mungkin akan terasa biasa saja saat kita menikmatinya disaat hari-hari biasa.

Namun di saat pertengahan Ramadhan hampir menuju lebaran makanan-makanan seperti inilah yang menjadi incaran para penikmatnya.

Makanan kering yang biasanya disajikan di meja ruang tamu ini, sudah menjadi ciri khas masyarakat apabila hari raya telah tiba.

Oleh karena itu tak sedikit mereka yang memiliki kemampuan di bidang kuliner, termasuk Haryati, memanfaatkan momen tersebut untuk dijadikan ladang rejeki ditengah wabah COVID-19 yang belum usai.

Meski sempat terdampak pandemi, Haryati mengatakan seiring berjalannya waktu, geliat industri makanan kering miliknya pelan-pelan mulai kembali meningkat.

“Tahun ini alhmdullilah bisnis saya mulai merangkak naik, meskipun hasil yang di dapat tidak sebanyak waktu sebelum COVID-19,” tutur Haryati, Rabu (28/4/2021) di Pringkuku.

Haryati mengaku, pada tahun pertama pandemi, bisnis makanan kering miliknya sempat anjlok. Bahkan dirinya menyebut banyak produk miliknya yang tidak laku di pasaran.

Saat ini, Haryati mengatakan, kenaikan penjualan produk makanan keringnya ini karena banyak pemudik yang lebih dulu mudik sebelum penutupan jalan sementara yaitu pada tanggal 6 Mei mendatang.

“Sedangkan tahun kemarin memang benar-benar lockdown dan tidak ada pemudik yang pulang ke kampung halamannya,”pungkasnya.

Kontributor: Afifah Asma Nuraini (Mahasiswa STKIP PGRI Pacitan)
Editor: Dwi Purnawan