Ini Hasil Kajian PVMBG Bandung Terhadap Banjir Batu Arjosari

oleh -Dibaca 1.104 kali
Lokasi bencana alam banjir batu di Arjosari. (Foto: Doc Info Pacitan)
Lokasi bencana alam banjir batu di Arjosari. (Foto: Doc Info Pacitan)

Pacitanku.com, ARJOSARI – Teka-teki fenomena banjir batu di Dusun Wonosari, Desa Karangrejo, Kecamatan Arjosari, Pacitan, akhirnya terkuak. Kemarin (1/2), tim peneliti Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bandung, turun gunung meneliti hulu hingga hilir di Karanggede-Karangrejo.

Hasil analisa tim, debit material batu masih sangat banyak di bukit Parangan. Namun, hanya akan mengancam ketika turun hujan. ‘’Ketika memasuki musim kemarau, kemungkinan aman,’’ ungkap Kepala Tim Peneliti PVMBG Bandung, Iqbal Eras Putra, dilansir dari Radar Madiun.

Sekitar pukul 08.30, tim yang terdiri dari tiga orang itu mulai meneliti kondisi di bukit Parangan, Karanggede. Mereka dua kali melakukan pemetaan kondisi sekitar bukit Parangan menggunakan drone. Disamping itu, tim PVMBG Bandung juga mengambil contoh batuan dari hulu yang menjadi sumber banjir batu tersebut.

Analisa mereka di hulu, kondisi tanah di bukit Parangan labil. Penyebabnya, karena materialnya terdiri dari bebatuan bercampur pasir. Tidak ada ikatan dengan tanah untuk menahan bebatuan. ‘’Nah, ketika kena air hujan, ikatannya terlepas dan batuan pun turun,’’ terangnya.




Selain itu, juga ada temuan mata air di atas bukit Parangan. Mata air tersebut termasuk salah satu yang menyebabkan terkikisnya secara perlahan batuan di bukit tersebut. Kondisi tersebut, diperparah oleh tingkat kemiringan lereng bukit tersebut.

Namun, dari beberapa faktor, Iqbal menyebut fenomena itu tidak terlalu dipicu oleh pembukaan lahan perkebunan oleh warga setempat. ‘’Lebih karena faktor-faktor alam tadi,’’ ujarnya.

Iqbal menilai fenomena tersebut tidak mengancam jiwa warga yang bermukim di dua desa tersebut. Titik yang paling mengancam jiwa hanya di jembatan Karangrejo-Karanggede, yang menjadi lokasi terjangan material batu.

Tim PVMBG meminta warga agar lebih berhati-hati. Jika melintas jalan dan jembatan terutama ketika turun hujan. Pasalnya, material bebatuan hanya akan terdorong ketika turun hujan. Sejauh ini, banyak material batuan yang sudah turun dari bukit Parangan, namun terhenti sebelum lokasi jembatan Karangrejo-Karanggede. ‘’Karena itu kami merekomendasikan untuk membuat penahan di titik terhentinya material batu,’’ kata Iqbal.

Menurut Iqbal, memindahkan jalan dan jembatan penghubung dua desa dinilai kurang tepat. Langkah paling ideal yang bisa dilakukan pemkab adalah dengan membangun semacam dinding penahan atau talut di titik terhentinya material batu.

Atau, di sebelah utara jembatan Karangrejo-Karanggede. Dinding penahan yang dibangun tidak harus tinggi. Solusi lain, menanam pohon-pohon di sekitar sungai untuk bisa menahan laju material batu. ‘’Tetapi kalau menanam pohon mungkin lama. Yang tercepat, ya membangun dinding penahan,’’ jelasnya. (RAPP002)