Cerita Bejo Mengadu Nasib Berjualan di Alun-alun Pacitan: Pernah Alami Masa Belum Ada Listrik

oleh -Dibaca 1,638 kali
Bejo Purnomo, yang sering disapa Bejo, seorang PKL asal Solo, Jawa Tengah yang sudah puluhan tahun berjualan di alun-alun Pacitan. (Foto: Ely Haryanti/PKL STKIP PGRI Pacitan)

Pacitanku.com, PACITAN – Kawasan alun-alun Pacitan adalah salah satu titik pusat Pedagang Kaki Lima (PKL) di Pacitan.

Banyak PKL yang berjualan di kawasan alun-alun Pacitan ini, dimana masing-masing PKL memiliki cerita pengalaman berjualan di alun-alun Pacitan.

Salah satu diantara PKL tersebut adalah Bejo Purnomo, yang sering disapa “Bejo”, seorang PKL asal Solo, Jawa Tengah yang sudah puluhan tahun berjualan di alun-alun Pacitan.

Bejo memiliki seorang istri dan 3 orang anak. Dikarenakan istrinya adalah orang Pacitan, ia pun rela meninggalkan kota kelahirannya lalu memutuskan untuk menetap di Pacitan sejak tahun 1993.

Saat ini ia bertempat tinggal di desa Tanjungsari, Pacitan.

Bejo mengungkapkan, saat pertama kali berjualan di alun-alun, tempat tersebut masih berupa lapangan utuh yang belum ada berbagai macam fasilitas seperti sekarang.

Bahkan, kata dia, saat itu belum ada listrik dan masih menggunakan lampu petromak.

“Jaman dulu pas pertama kali saya jualan di sini belum ada listrik mbak (wartawan), masih harus pakai lampu petromak yang jadul itu,”kata Bejo saat ditemui Pacitanku.com, Senin (8/8/2022) di Pacitan.

Setiap hari, Bejo bersama puluhan pedagang lain ‘mengadu nasib’ demi menjajakan dagangannya. Ia menempati sebuah kios di samping tribun alun-alun. Bejo juga memiliki beberapa orang karyawan yang membantunya saat berjualan.

Setiap hari, Bejo selalu semangat menata kios dengan berbagai macam jajanan di dalamnya, baik itu makanan atau minuman. “Jajanan yang biasa saya jual ada minuman ringan, kopi, bakso bakar, sosis, tempura, pop mie” tuturnya.

Selain itu, Bejo mengatakan jika saat bulan Agustus, atau menjelang peringatan hari kemerdekaan seperti ini belum terjadi lonjakan jumlah pembeli.

“Sampai saat ini belum ada peningkatan pembeli sih mbak, ya mungkin karena masih satu pekan lagi tujuh belasannya. Kalau hari biasa seperti ini paling ramai malam minggu sama malam senin” ungkapnya.

Selama hampir sepuluh tahun berjualan di alun – alun, ia  sudah terbiasa dengan berbagai jenis pengunjung terutama anak muda yang menghabiskan weekend di sana.

“Kebanyakan pengunjung itu ya anak muda mbak, mereka bawa pacar kesini itu sudah hal biasa bagi saya. Kan ini juga tempat umum, jadi fenomena seperti itu adalah hal yang lumrah” jelasnya.

Selama berjualan di alun-alun, Bejo mengaku begitu banyak suka duka yang dialaminya. Hal itu tergantung sepi atau ramainya pembeli.

“Menurut saya, suka dukanya tergantung sedikit atau banyaknya pembeli mbak. Saya pikir semua penjual di sini sudah memiliki rezekinya masing-masing, jadi tidak perlu saling iri,” pungkas Bejo.