Penambang Pasir Pacitan Modifikasi Sepeda Motor Jadi Alat Angkut

oleh

Pacitanku.com, TEGALOMBO – Siang itu, Fito, salah satu penambang pasir di Sungai Grindulu terus bersemangat mengangkut pasir. Mengenakan kaos lengan panjang, lengkap dengan topi dan kaos tangan untuk melindungi dari terik mentari, dia terus mengerek seling kotak pasir dengan memberikan tekanan gas pada sepeda motor yang ditata sedemikian rupa.

Fito adalah salah satu dari sekian banyak penambang pasir di tepian sungai Grindulu di Kecamatan Tegalombo. Pemuda yang juga merupakan mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Kabupaten Pacitan ini terus mengangkut pasir dari sebuah tempat yang di angkut menggunakan kendaraan sepeda motor yang dimodifikasi menuju ke tepi jalan.

Sebelum ada alat berupa sepeda motor yang dimodifikasi tersebut, penambang pasir di kawasan Sungai Grindulu biasanya menambang pasir dengan cara manual. Ditambah, truk  pasir juga tidak bisa masuk ke dasar sungai, para penambang pasir biasanya mengangkut atau mengendongnya naik turun dari dasar sungai ke tempat yang mudah diambil.

Kini, Fito dan kelompok masyarakat penambang pasir di kawasan lingkungan Ndegel, Desa Ngreco, Kecamatan Tegalombo memodifikasi alat yang bisa memudahkan pekerjaan menambang pasir. Alat itu dari sepeda motor yang dimodifikasi menjadi alat angkut untuk menaikkan pasir dari dasar Sungai Grindulu ke atas atau tepi jalan.

Untuk diketahui, cara kerjanya mirip sebuah kereta gantung. Dengan alat ini, para penambang lebih mudah dan cepat menaikkan pasir daripada secara manual.

Fito mengaku terpinspirasi dari internet untuk membuat alat ini.”Dengan alat ini menjadi bisa lebih ringan, khususnya untuk mengangkut pasir,”kata Fito saat berbincang dengan Pacitanku.com belum lama ini.

Alat itu dibuat dengan memodifikasi sepeda motor menjadi penarik beban, yakni pasir dari dasar jurang sungai ke atas.

Pasir yang diambil penambang kemudian ditempatkan pada kotak pasir berbahan dasar kayu. Kotak kayu yang berisi pasir itu kemudian digantungkan pada tali seling baja yang dipasang dari dasar jurang hingga atas.”Ada dua tali seling yang dipasang. Satu sebagai rel dan satunya lagi untuk menarik kotak kayu ke atas yang diikatkan pada roda belakang sepeda motor,” katanya.

Setelah pasir dinaikkan ke kotak pasir oleh teman Fito yang berada di bawah sungai, mesin sepeda motor kemudian dihidupkan dan digas. Roda belakang motor berputar sekaligus menarik tali seling yang terikat pada kotak kayu tersebut.

Untuk menurunkan kotak pasir, tinggal melepas saja maka roda belakang motor akan berputar mundur. Sedangkan untuk memperlambat lajunya, juga menggunakan rem.

Fito menuturkan  dengan alat ini, dalam sehari mereka bisa menaikkan pasir dari dasar jurang mencapai 3 rit. Penambangan dilakukan secara berkelompok dengan jumlah anggota empat orang.

Menurut Fito, harga pasir saat ini Rp 350 ribu per rit. Hasil menambang itu kemudian dibagi setelah dikurangi biaya operasional, seperti pertalite satu liter setiap hari.

Alat modifikasi sepeda motor untuk menambang pasir di wilayah Tegalombo saat ini tak hanya satu milik Fito dan kelompoknya saja. Beberapa kelompok warga lainnya di kawasan tepian Sungai Grindulu, seperti di Desa Ngreco Kecamatan Tegalombo juga ada yang menggunakan. (RAPP002)