Seni Menata Batu yang Kini Mulai “Digandrungi” di Pacitan

oleh -888 views
Seni Rock Balancing di Pantai Pidakan. (Foto: FB Pantai Pidakan)

Pacitanku.com, PACITAN – Akhir-akhir ini muncul fenomena penampakan batu bersusun rapi atau dikenal dengan rock balancing.

Hal itu muncul saat adanya video menggemparkan bahwa ada orang tak bertanggungjawab membumbui penampakan batu bersusun rapi di sungai di Cidahu, Sukabumi dengan isu mistis.

Padahal batu-batu itu disusun oleh manusia. Yang jelas, pembuatnya menguasai cara rock balancing khususnya teknik rock stacking.

Rock balancing ini sendiri sebenarnya sudah ada dan dijadikan festival di Indonesia, seperti  Festival Gravitasi Bumi (FGB) Selondo, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Festival tahunan ini sukses digelar Warga Selondo, Desa Ngrayudan Kecamatan Jogorogo, Ngawi.

Uniknya, selama dua hari para peserta yang jumlahnya ribuan itu diperkenankan menumpuk batu kali setinggi-tingginya. Setidaknya ada yang tinggi hingga 30 cm. Ada pula baru menumpuk 3 batu kali yang bentuknya oval tak beraturan itu langsung terguling.

Fenomena rock balancing di Pacitan

Seni Rock Balancing di Pantai Pidakan. (Foto: FB Pantai Pidakan)

Nah, ternyata fenomena rock balancing tersebut juga mulai digemari di Pacitan, Jawa Timur. Utamanya di titik-titik yang memiliki bebatuan yang cukup banyak, salah satunya adalah Pantai Pidakan yang terletak di Dusun Godeg Kulon, Desa Jetak, Kecamatan Tulakan.

Mengutip dari akun facebook Pantai Pidakan, Senin (5/2/2018), sejumlah pria nampak melakukan aktivitas rock balancing di pantai yang memang dikenal dengan banyaknya batuan tersebut.

Puluhan bebabtuan berbagai ukuran nampak tertata rapi dan menjadi pemandangan tersendiri, selain pemandangan pantai yang memang sudah elok.

Menarik untuk ditunggu apakah pengelola pantai ini juga akan menjadikan festival rock balancing sebagai daya tarik tersendiri.

Sebelumnya, kegiatan rock balancing sendiri sudah pernah dilakukan di Pacitan, yakni dilakukan oleh seorang akademisi dari Universitas Negeri Semarang (UNNES).

Seni Rock Balancing di Sungai Janglot, Pringkuku. (Credit Foto Agung Gunawan)

Adalah Deasylina da Ary, Dosen seni tari UNNES yang mengangkat tema lingkungan dalam karya tulis disertasinya pada  Sabtu (21/1/2017) lalu juga menampilkan seni menata batu yang dilakukan anak-anak di Sungai Janglot, Dusun Janglot Desa Pelem, Kecamatan Pringkuku.

Di sungai tersebut, puluhan anak-anak yang menjadi obyek penelitian Lina melakukan berbagai aktivitas, diantaranya adalah menyusuri pematang sawah, eksplorasi sungai, mandi bersama teman dan hewan peliharaan. Kemudian eksplorasi batu-batuan, rumah ranting dan diakhiri dengan berjalan beriringan.

“Latihan ketubuhan anak-anak mengeksplorasi lingkungan sungai Janglot untuk melatih kemampuan dan sensibilitas motorik anak. Sebagai hulu dari sungai Baksooka, sungai Janglot adalah sungai purba penopang kelangsungan hidup manusia purba saat itu,”kata Lina, sapaan akrab Deasylina da Ary, tentang pemilihan Sungai Janglot sebagai latar belakang penelitiannya.

Dalam disertasi tersebut, Lina akhirnya mendapatkan apresiasi dari para penguji doktoral yang digelar di Pantai Srau, Kecamatan Pringkuku.

Para penguji dalam penilaian doktoral terbuka ini sendiri mengapresiasi karya yang disebut dengan “Pacitanian” ini.

“Pacitanian ini mengedepankan pendidikan yang mengharuskan anak bersinggungan dengan alam, dipilihnya sungai janglot, goa tabuhan, serta pantai srau karena memiliki nilai sejarah yang baik. Selain itu keindahan alam di pacitan secara garis besar ada tiga,  yaitu sungai, goa dan pantai,”kata Lina menjelaskan karyanya.

Apa itu Rock Balancing?

Seni Rock Balancing di Sungai Janglot, Pringkuku. (Credit Foto Agung Gunawan)

Mengutip dari berbagai sumber, rock balancing atau stone balancing merupakan suatu teknik menyusun batu dengan posisi tertentu tanpa alat perekat, kawat atau bantuan lainnya.

Batu-batu diberdirikan tegak murni dengan ketepatan peletakan antara satu batu dengan lainnya. Kebanyakan orang mengkategorikannya sebagai bentuk seni.

Menyusun batu-batuan yang bentuknya berbeda satu sama lain jelas memerlukan teknik dan pengetahuan mengenai keseimbangan yang lebih dari cukup.

Ada berbagai macam gaya dalam rock balancing. Gaya yang paling susah untuk dilakukan adalah rock stacking. Dalam gaya ini, batu-batu disusun secara vertikal. Bahkan ada praktisi rock stacking yang bisa meletakkan batu berukuran besar di atas batu-batu kecil di bawahnya.

Gaya kedua adalah classic balance. Gaya ini tak membutuhkan keahlian seperti gaya rock karena dua batu disusun secara horisontal, saling menyangga dalam posisi berdampingan satu sama lain. Gaya ketiga adalah gaya bebas. Di gaya bebas ini, seniman atau praktisi rock balancing bisa memadukan teknik yang dikuasai untuk membentuk suatu susunan yang menarik.

Adapun untuk susunan batu-batu di Sungai Cidahu yang kemudian viral di media sosial, kebanyakan di antaranya menggunakan teknik rock stacking. Yang menarik, si pembuat menyusun batu-batu di tengah derasnya arus sungai, ini jelas memerlukan teknik tersendiri. (RAPP002)