Disperta Pacitan Sebut Kesuburan Tanah di Pacitan Menurun

oleh -Dibaca 2.031 kali

Pacitanku.com, PACITAN– Kesuburan tanah di Pacitan diklaim sudah semakin merosot. Penyebabnya, karena penggunaan pupuk organik yang semakin menurun. Jika petani mengabaikan fakta tersebut, dalam jangka panjang, ditakutkan akan membuat penurunan kesuburan tanah semakin parah.

Dampaknya, bisa berpengaruh pada keberhasilan produksi para petani sendiri. ‘’Kami akui kesuburan tanah terus merosot. Petani, saat ini, juga terus didorong untuk juga mengolah pupuk organik,’’ terang Kepala Disperta, Pamuji, kemarin, dilansir Radar Madiun.

Pamuji menuturkan, berdasarkan sebuah survei sepuluh tahun yang lalu, satu hektare tanah pertanian di Pacitan diklaim harus diberi empat ton pupuk organik setiap tahun, selama empat tahun berturut-turut. Ini, untuk bisa mengembalikan tingkat kesuburan tanah.

Patokannya, kadar keasaman (pH) tanah di angka 5,5. Menurut Pamuji, tanaman padi masih bisa menoleransi tanah dengan pH 4. Namun tidak untuk tanaman lain. ‘’Kalau tanaman lain, potensinya bisa gagal panen jika pH di bawah 4. Persawahan yang pH-nya di bawah 5, harus mendapat tambahan pupuk organik dan kapur pertanian,’’ jelasnya.




Persoalannya, Pamuji tidak bisa memaksa para petani untuk memakai pupuk organik. Diakui atau tidak, itu adalah pilihan bisnis yang berhak ditentukan oleh petani. Pun, ada sejumlah penyebab mengapa masih banyak petani yang menggunakan produk organik. Yang paling utama, karena harganya yang relatif mahal.

Disamping itu, proses pemupukan dengan bahan organik cukup menyita waktu dan tenaga. ‘’Petani harus lebih disiplin jika lahan pertaniannya menggunakan pupuk organik. Sementara, dampaknya baru benar-benar bisa dirasakan dalam rentang beberapa musim. Itu pun jika disiplin,’’ terangnya.

Kendati tidak bisa memaksa para petani untuk menggunakan, mereka tetap didorong untuk melakukan pengolahan pupuk organik sendiri. Pamuji menyebut, pihaknya kerap memberi pelatihan soal pengolahan pupuk organik.

Terutama, para petani yang juga beternak. Hasil pupuk olahannya, menjadi hak petani. Apakah digunakan, atau justru memilih pupuk kimia. ‘’Yang jelas, manfaat pupuk organik itu memang lama. Bisa dua sampai tiga musim tanam, baru terasa. Namun, ketika sudah maksimal, produksi pertaniannya bisa menyamai lahan yang menggunakan pupuk kimia,’’ katanya. 

Sumber: Radar Madiun