BMKG Prediksi Musim Kemarau Mulai April 2024, Puncaknya Juli-Agustus

oleh -230 Dilihat
Foto ilustrasi musim kemarau. (Foto: Freepik.com)

Pacitanku.com, JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau di Indonesia akan dimulai pada bulan depan atau April 2024.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati melalui konferensi pers secara daring (15/3/2024) mengungkapkan wilayah yang akan memasuki musim kemarau dimulai dari NTT, NTB, Bali, lalu diikuti wilayah Jawa.

Musim kemarau baru mendominasi hampir seluruh wilayah Indonesia pada Mei-Agustus 2024. Dwikorita mengatakan BMKG memprediksi awal musim kemarau seiring aktifnya monsun Australia.

“Awal musim kemarau berkaitan erat dengan angin baratan atau monsun Asia menjadi angin timuran atau monsun Australia secara umum musim kemarau 2024 diprediksi bersifat normal dan atas normal,”katanya.

Dwikorita turut menjelaskan fenomena El Nino diprediksi akan segera menuju netral Mei, Juni, Juli 2024. Kemudian setelah triwulan ketiga yaitu Juli, Agustus, September 2024 berpotensi beralih menjadi La Nina Lemah.

Lebih lanjut, Dwikorita menyampaikan awal musim kemarau 2024 tidak dialami seluruh wilayah Indonesia secara bersamaan.

Adapun rinciannya adalah daerah yang diprediksi memasuki musim kemarau pada April yakni Pesisir utara dari Banten, Jakarta dan Jawa Barat, sebagian Bali, NTB, NTT dan bagian pesisir Jawa Timur.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati. (Foto: setkab.go.id)

Kemudian wilayah yang mengalami kemarau mulai Mei yaitu Jakarta, sebagian kecil Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, sebagian besar Jawa Timur, sebagian kecil Maluku, sebagian Papua dan Papua Selatan.

Kemudian kemarau terjadi di sebagian Besar Pulau Sumatera, Banten, sebagian Besar Jawa Barat, sebagian Kalimantan Barat, sebagian kecil Kalimantan Timur, sebagian Sulawesi Selatan, sebagian Sulawesi Tenggara dan Maluku bagian kepulauan Aru dan Tanimbar pada Juni.

Dwikorita mengatakan puncak musim kemarau secara umum di seluruh Indonesia bakal terjadi Juli-Agustus 2024.

“Puncak musim kemarau secara umum terjadi Juli-Agustus dan diprediksi akan terjadi fase La Nina lemah pada Juli-September,”jelasnya.

Menghadapi kemarau tahun ini, dia menyampaikan sejumlah pesan kepada Lembaga, Pemerintah Daerah, Institusi terkait, dan seluruh masyarakat diminta lebih siap dan antisipatif terhadap kemungkinan dampak musim kemarau terutama di wilayah yang mengalami sifat musim kemarau bawah normal alias lebih kering dibanding biasanya.

Sebab, menurut dia, wilayah seperti ini diprediksi mengalami peningkatan risiko bencana kekeringan meteorologis, kebakaran hutan dan lahan, dan kekurangan sumber air.

Sehingga, kata dia, tindakan antisipatif juga diperlukan di wilayah yang diprediksi mengalami musim kemarau atas normal atau lebih basah dari biasanya. BMKG meminta agar pemda lebih optimal dalam menyimpan air pada akhir musim hujan ini.

“Informasi dalam prediksi musim kemarau ini dijadikan sebagai peringatan dini untuk dimanfaatkan oleh para pemangku kepentingan dalam menyiapkan atau melakukan aksi dini, sehingga dampak negatif itu dapat dicegah, bahkan dapat dilakukan pemanfaatan dampak positif,” pesan Dwikorita.

Selain itu, tindakan antisipasi juga diperlukan pada wilayah yang diprediksi mengalami musim kemarau atas normal, terutama untuk tanaman pertanian dan hortikultura yang sensitif terhadap curah hujan tinggi.

“Dan juga perlu diperhatikan penyesuaian pola dan jenis pola tanam,”pungkasnya.