Dua Hari, Pacitan Diguncang 5 Kali Gempa Bumi 3,2 Hingga 5,6 SR

oleh
Ilustrasi Gempa Bumi di Pacitan
Ilustrasi Gempa Bumi di Pacitan
Ilustrasi Gempa Bumi di Pacitan
Ilustrasi Gempa Bumi di Pacitan

Pacitanku.com, PACITAN – Selama dua hari, Gempa bumi berkekuatan 3,2 hingga 5,6 Skala Richter (SR) mengguncang Pacitan, sejak Minggu (27/8/2017) hingga senin (28/8/201) dini hari.

Informasi yang dihimpun Pacitanku.com dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut bahwa gempa bumi pertama terjadi pada Minggu (27/8/2017) pukul 07.02 WIB dengan kekuatan 5,6 SR dengan lokasi di 10.57 Lintang Selatan dan111.03 Bujur Timur, atau 265 km Barat Daya Pacitan. Kedalaman gempa ini berada di 10 kilometer.

Gempa kedua terjadi pada Minggu (27/8/2017) pukul 07.14 WIB dengan kekuatan 4,1 SR dengan lokasi di 10.10 Lintang Selatan dan 111.15 Bujur Timur, atau 213 km tenggara Pacitan dengan kedalaman gempa ini berada di 10 kilometer.

Sejam kemudian, tepatnya pukul 08.07 WIB, gempa terjadi dengan kekuatan lebih kecil, yakni 3,7 SR dengan lokasi di 10.22 lintang selatan dan111.20 bujur timur dan lokasi di 227 km Tenggara Pacitan dan kedalaman 10 km. Gempa keempat terjadi sejam kemudian, atau Minggu pukul 09.14 WIB dengan lokasi 10.23 lintang selatan dan 111,15 bujur timur dengan lokasi 227 km tenggara Pacitan serta kedalaman 10 km.




Gempa kelima terjadi dengan intensitas kekuatan lebih kecil pada Senin (28/8/2017) dini hari WIB pada pukul 2.10 WIB dengan lokasi di 8.58 lintang selatan dan 110.95 bujur timur atau barat daya Pacitan dengan kedalaman 34 km.

Kepala Bidang Informasi Gempabumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG, Daryono, mengatakan gempa bumi itu berklasifikasi dangkal.”Akibat aktivitas patahan atau sesar di zona outer rise, yaitu zona gempa di luar (di selatan) zona subduksi lempeng,” katanya.

Menurutnya, aktivitas gempa di zona itu bermekanisme sumber sesar turun (normal fault).Hasil analisisnya, gempa tersebut juga dipicu patahan turun dalam arah barat-timur.”Gempa bumi ini tidak dirasakan orang-orang karena jaraknya yang jauh. Namun aktivitas gempa di outer rise tidaklah banyak sehingga sangat menarik untuk dicermati oleh para ahli,” papar dia.

Dia mengatakan bahwa zona outer rise selama ini seolah menjadi zona gempa yang terabaikan. Padahal, lanjut Daryono, zona outer rise dapat berpotensi terjadi gempa kuat yang dapat memicu tsunami besar.

“Seperti halnya peristiwa The Great Sumba pada 19 Agustus 1977, gempa dahsyat berkekuatan 8,3 Magnitudo dengan patahan turun yang berpusat di zona outer rise selatan Sumbawa, memicu tsunami hingga menewaskan sebanyak 198 orang di pesisir selatan Sumbawa,”pungkasnya.