Tanah Gerak Terjang Pacitan Kota, BPBD Minta Masyarakat Waspada

oleh -Dibaca 1.369 kali
Ilustrasi rumah retak

Pacitanku.com, PACITAN – Bencana alam tanah gerak rupanya merambat ke Kota Pacitan.  Sedikitnya sembilan rumah di dusun Krajan, Purworejo, Pacitan, terdampak bencana tanah gerak. Dari sembilan rumah yang terdampak, tiga rumah paling parah. Retakan bahkan menjalar hingga puluhan meter dan sanggup membuat miring bangunan rumah.

Atas kondisi tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pacitan mengimbau masyarakat di sekitar lokasi kejadian untuk meningkatkan kewaspadaan. Terlebih jika terjadi hujan dengan intensitas tinggi.

Kepala Sie Kedaruratan dan Logistik BPBD Pacitan Pujono mengatakan, sampai saat ini pergerakan tanah masih terjadi. Jika sebelumnya hanya terpantau 6 rumah milik warga yang terdampak, kondisi terakhir bertambah 9 rumah. Sehingga total menjadi 15 rumah 4 diantaranya dalam kondisi cukup parah.




”Khusus 4 KK paling parah kita minta untuk waspada dan mengungsi jika terjadi hujan deras terutama pada malam hari,”katanya Selasa (24/1/2017) di Pacitan.

Sebagai bentuk kewaspadaan, BPBD minta warga sekitar untuk memanfaatkan kearifan lokal. Caranya dengan memanfaatkan kaleng bekas sebagai tanda. “Kaleng-kaleng yang sudah tidak terpakai diisi kerikil dan digantung di jendela atau pintu rumah. Cara sederhana ini cukup efektif menjadi penanda (alarm) jika tanah tiba tiba bergerak,”ujarnya.

Sebagai informasi, skibat tanah gerak, beberapa rumah yang terdampak langsung mengalami kerusakan. Selain retak-retak, beberapa diantaranya bahkan sampai menyisakan lubang menganga pada lantai dan dinding. Jika pergerakan ini terus terjadi dikhawatirkan rumah menjadi miring dan roboh.

Fenomena tanah gerak di desa Purworejo berlangsung cukup lama. Kondisi ini ditengarahi akibat tanah setempat labil. Ditambah lagi hujan dengan intensitas tinggi yang terjadi sepanjang tahun 2016.

Bencana tanah gerak menjadi ancaman bencana bagi warga Pacitan selain banjir dan longsor. Setidaknya ada empat yang masuk zona merah rawan bencana tanah gerak. Yakni Kecamatan Tegalombo, Bandar, Nawangan dan Tulakan.

Empat wilayah tersebut memiliki kontur lereng tanah setinggi 30-40 derajat. Serta merupakan tanah labil yang terdiri dari berbagai bidang gelincir. Sehingga, ketika hujan turun memicu terjadinya pergerakan tanah.

Pemicu terjadinya tanah gerak paling besar didominasi faktor aktivitas manusia. Persentasenya sekitar 87,29 persen. Kemudian dipicu oleh faktor kondisi hidrologi lereng sekitar 4,23 persen. Selanjutnya, faktor kelerengan sekitar 1,51 persen, faktor geologi sekitar 6,34 persen, faktor curah hujan serta guncangan gempa. (RAPP002)