Akik, Ubibam dan Ekonomi Warga Pacitan yang Semakin Mentas

oleh -Dibaca 1.471 kali
SBY dan Ani Yudhoyono sedang memilah batu akik di Wareng, Punung. (Foto : @Ani Yudhoyono)
SBY dan Ani Yudhoyono sedang memilah batu akik di Wareng, Punung. (Foto : @Ani Yudhoyono)
akik Kalsedon Pacitan
akik Kalsedon Pacitan

Pacitanku.com, PACITAN – Fenomena batu akik yang semakin booming saat ini penting untuk diurai sejarahnya. Dan salah satu sejarahnya adalah fakta bahwa sebelum masyarakat di berbagai daerah di Indonesia ramai memperbincangkan akik,  Pacitan sudah lama dikenal sebagai penghasil batu untuk perhiasan itu. Pacitan sejak awal tahun 1980-an sudah dikenal sebagai penghasil batu akik.

Dalam sejarahnya, pada tahun 1985,  Pemkab Pacitan membentuk Unit Bina Industri Batu Mulia (Ubibam) yang kini menjadi unit pelaksana teknis (UPT) Diskoperindag. Ubibam Kabupaten Pacitan diresmikan oleh Menteri Perindustrian pada Kabinet Pembangunan IV di era Orde Baru, Hartarto Sastrosoenarto. Dalam fokus kerjanya, Ubibam memiliki tugas pokok mendidik dan membina perajin batu akik agar lebih terampil.

Meski sempat mangkrak, melalui Bupati Indartato, awal tahun 2015 ini Ubimam kembali dihidupkan, terutama di wilayah Desa Gendaran dan Sukodono di Kecamatan Donorojo. Dan bisa dipastikan, Ubibam juga bisa disebut sebagai mesin pencetak tenaga perajin akik, karena itu, hampir semua perajin akik di Pacitan adalah lulusan dari Ubibam.

Awal industri akik mulai ada di Pacitan, perajin akik di Pacitan hanya sekitar 150-an orang, namun kini meningkat tajam, karena sejak pertengahan 2014 sampai Februari 2015 ada sekitar 1200 orang. Dan bisa dipastikan, dengan perbandingan satu perajin saja mempekerjakan minimal tiga orang, maka sudah ada 3600 tenaga kerja yang terserap dari usaha kerajinan batu akik tersebut.

Selain menghidupkan kembali Ubibam, Pemkab setempat juga terus melakukan pembinaan, dan mendorong para perajin tetap berproduksi secara berkelanjutan, seperti memberikan pelatihan, membantu peralatan dan modal dari dana bergulir kepada para perajin.

Pacitan kini menjadi salah satu jujukan pecinta akik dari berbagai daerah. Pacitan juga menjadi pemasok akik, baik berupa bahan dasar maupun akik siap pakai ke berbagai daerah. Jika dilihat, di sepanjang jalan Pacitan menuju DI Yogyakarta, Pacitan menuju Kabupaten Wonogiri dan Pacitan menuju ke Ponorogo, akan banyak dijumpai perajin akik.

Salah satu bukti betapa batu akik bisa mengangkat derajat kesejahteraan masyarakat Pacitan adalah seorang anggota DPRD di Pacitan, Mardiyanto yang menjadi populer dan bahkan menjadi anggota DPRD dengan faktor salah satunya karena akik.  Pengrajin batu akik asal Desa Gendaran, Kecamatan Donorojo Pacitan yang memiliki galeri batu akik Isaku Iki tersebut sudah lama melanglang buana di dunia batu mulia. Bahkan, Mardiyanto menjadi pemasuk tunggal puluhan ribu batu akik Kalsedon yang digelar kolektor batu akik dari Bali dalam pameran Sejuta Kalsedon pada tahun ini. Dan memang, Mardiyanto adalah salah satu diantara para perajin akik lainnya yang sukses berkat batu akik.

Selain itu, tak bisa dipungkiri, meski batu akik Pacitan sudah dikenal sejak puluhan tahun lalu, batu akik pacitan semakin populer dengan munculnya batuan Kalsedon. Dengan ditemukannya lokasi penggalian batu kalsedon, perekonomian warga di desa itu ikut terkerek. Saban hari, puluhan orang melakukan penggalian di ladang yang luasnya sekitar 250 meter persegi. Temuan batu kalsedon lalu dijual kepada perajin dengan harga antara Rp 30 ribu hingga Rp 3,5 juta. Wilayah Kecamatan Donorojo sendiri memang berpotensi mengandung batu alam  dan banyak perbukitan kapur.

Saat ini, akik Pacitan semakin dikenal sebagai akik unggulan nusantara. Selain dijual dilapak, akik juga dijual secara konvensional di Pacitan maupun ke luar daerah, serta secara online, seperti ke Jakarta dan Sumatera. Dan salah satu yang cukup mahal adalah Kalsedon jenis  red baron oranye yang bisa mencapai Rp3 juta, bahkan lebih. Bahkan ada juga batu bermotif tertentu yang harganya bisa mencapai puluhan juta rupiah.

Namun demikian, perlu diwaspadai tren penurunan batu akik. Hal itu dikarenakan banyak perajin dan pedagang baru yang bermunculan. Contohnya batu yang dulu harganya Rp500 ribu kini menjadi hanya Rp300 ribu. Namun disisi lain, batu kelas menengah ke atas justru naik hingga dua kali lipat. Misalnya red baron biasa yang dulu hanya Rp750 ribu satu biji, kini menjadi Rp1,5 juta.  (RAPP002)