Netizen Prihatin Maraknya Remaja Pacitan Jadi Ibu Muda

oleh -1.667 views
Ilustrasi Remaja Hamil. (Foto : IST)
Ilustrasi Remaja Hamil. (Foto : IST)
Ilustrasi Remaja Hamil. (Foto : IST)
Ilustrasi Remaja Hamil. (Foto : IST)

Pacitanku.com, PACITAN—Warga Pacitan yang tergabung dalam beberapa grup jejaring social media turut prihatin dengan maraknya para remaja putri yang melakukan perkawinan dini alias perkawinan dibawah usia 18 tahun. Tentu kondisi demikian menjadi salah satu penghambat pembangunan nasional, mengingat penduduk usia remaja adalah sasaran pembangunan jangka menengah.

Berdasarkan data dari 24 puskesmas yang tersebar di seluruh Pacitan, lebih dari 350 remaja putri menjadi ibu hamil dibawah usia 18 tahun. Maraknya ibu hamil di usia muda tersebut mayoritas disebabkan karena kasus kecelakaan hamil di luar nikah.

Netizen Pacitan pun mengklaim bahwa salah satu faktor penyebab terjadinya pergaulan bebas di kalangan remaja Pacitan yang berujung kehamilan adalah teknologi.

Sing jelas ya saka pergaulane bocah nom sing sangsaya mbiayah lan kurang anggone ngopeni wong tuane. Yen ale nuturi wong tua bisa dikandakne ora kurang, nanging ale ngopeni sing jelas kurang (Yang jelas dari pergaulane anak muda yang semakin liar, selain itu perhatia dari orang tua kurang. Jika orang tua menasehati tidaklah kurang, akan tetapi perhatian terhadap anak yang kurang),” kata Wawan Setiawan, salah satu anggota grup Suara Pacitan saat menanggapi masalah ini.

Nyangopo tik tak kandakne mengkana, iku amarga wong tua wis ora bisa maneh nututi perkembangan teknologi, contone babagan nganggo HP. Mestine bocah nom luwih pinter tinimbang wong tuane, dadine kurang bisa ngopeni panganggone hape kui mau (Kenapa saya katakan demikian, itu karena orang tua tidak bisa lagi mengkuti perkembangan teknologi, seperti misalnya penggunaan HP. Anak muda lebih pandai daripada orang tua, sehingga tidak bisa mengelola HP tersebut,” imbuhnya.

Yen kur didadeake alat komunikasi, ya ora pati masalah nemen-nemen. Nanging yen ninggo koleksi pilem porno, kui bisa dadi penyebab maksiat kanggone nom-noman. Lan ijik akeh conto liyane sing bisa ndaseake rusaking bocah (Jika hanya dijadikan alat komunikasi tidak terlalu masalah. Akan tetapi jika dipakai untuk koleksi film porno, itu bisa menjadi penyebab terjadinya maksiat bagi anak muda. Dan masih banyak contoh lainnya yang bisa menjadikan anak rusak,” jelasnya.

Terkait kondisi yang semakin memprihatinkan ini, Wawan yang juga seorang salah satu pengelola Radio Lokal di Pacitan itu menyarankan beberapa solusi alternatif, terutama bagi orang tua dan guru di Sekolah.

Yen wis mengkana gek kepiye anggone ngatasi…?, pamarintah kudu nduweni aturan sing jelas. Kaya tha, bocah sing umure kurang saka 18 tahun menawa nyimpen pilem porno kudu kenek ukuman (Jika seperti ini bagaimana cara mengatasi? Pemerintah harus memiliki aturan yang jelas. Seperti anak yang umurnya kurang dari 18 tahun, jika menyimpan film porno harus terkena hukuman,”.

Guru ing Sekolahan uga kudu asring ngenekane pamriksan marang muride, ning syarate gurune ya kudu pinter, aja-aja datane siumpetke nyang bocah gek ora dingerteni gurune. Yen konangan nyimpen utawa nate nyimpen bisa kena ukuman sigunduli ora berduli lanang apa wadon (Guru di Sekolah juga harus sering mengadakan pemeriksaan siswa, dengan syarat guru juga harus pintar, jangan – jangan datanya disembunyikan anak dan tidak diketahui gurunya. Kalau ketahuan menyimpan atau pernah menyimpan bisa terkena hukuman digunduli, tidak peduli laki – laki atau perempuan),” pungkas Wawan.

Seperti diketahui, berdasarkan data yang dilansir dari Radar Pacitan, data anak remaja menjadi ibu muda adalah sebagai berikut :

  1. Mentoro 10 remaja,
  2. Tanjungsari 9 Remaja,
  3. Kebonagung 10 remaja,
  4. Ketrowonojoyo 12 remaja
  5. Arjosari 11 remaja,
  6. Kedungbendo 17 remaja,
  7. Punung 14 remaja,
  8. Gondosari 0 remaja
  9. Pringkuku 10 remaja,
  10. Candi 25 remaja,
  11. Donorojo 6 remaja,
  12. Kalak 4 remaja,
  13. Ngadirojo 14 remaja,
  14. Wonokarto 14 remaja,
  15. Tulakan 52 remaja,
  16. Bubakan 7 remaja,
  17. Sudimoro 36 remaja,
  18. Sukorejo 9 remaja,
  19. Tegalombo 0 remaja
  20. Gemaharjo 7 remaja,
  21. Nawangan 27 remaja,
  22. Pakisbaru 17 remaja,
  23. Bandar 53 remaja,
  24. Jeruk 19 remaja.