Hanya 2 Kecamatan yang Dapat Servis PDAM Pacitan

oleh
PDAM Pacitan. (Foto: PDAM Pacitan)
PDAM Pacitan. (Foto: PDAM Pacitan)

Pacitanku.com, PACITAN – Kelemahan manajemen PDAM Tirta Dharma kentara terlihat. Tidak hanya dilihat dari nihilnya setoran ke pendapatan ke daerah saja. Namun juga terlihat dari pengembangan cakupan layanan. Hingga saat ini hanya dua wilayah kecamatan saja yang terkover layanan air bersih PDAM. Yakni, Kecamatan Punung dan Pacitan.

Sayangnya, pemkab selaku pemilik perusahaan daerah tersebut terkesan pasif dan tidak bertaji. Kondisi yang dialami PDAM saat ini dimaklumi karena banyak kendala yang dihadapi. Bahkan, pemkab pasang badan dan akan terus menyuntikkan modal ke PDAM supaya tetap bertahan. ‘’Bagaimana pun PDAM tetap seperti itu,’’ ujar Bupati Pacitan Indartato, kemarin (29/12).

Indartato mengakui sulit untuk mengembangkan agar PDAM bisa memberikan kontribusi berupa pendapatan ke kasda. Yang jelas, pemkab juga tak bisa membiarkan begitu saja PDAM lepas dari bantuan penyertaan modal. ‘’Sebab, permasalahannya menyangkut pelayanan kepada masyarakat,’’ dalihnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, kontribusi PDAM Tirta Dharma ke pendapatan daerah masih nihil. Sebaliknya setiap tahun, pemkab terus menyuntikkan modal ke perusahaan pelat merah tersebut. Total uang yang digelontorkan pemkab untuk PDAM selama 2012 hingga 2017 nanti mencapai Rp 1,55 miliar lebih. Sementara, hasil audit kinerja PDAM menyatakan bahwa perusahaan tersebut belum sehat. Selain itu, pendapatan PDAM sebesar Rp 15 miliar setahun selama ini habis untuk biaya operasional.




Menyikapi soal nihilnya setoran ke PAD, Direktur PDAM Tirta Dharma Agus Suseno mengakui jika pendapatan yang diperoleh sebagian belum bisa disetor. Alasannya, pembiayaan dan operasional pelayanan air minum ke pelanggan ditanggung sendiri oleh PDAM. ‘’Sedangkan, dana investasi atau subsidi dari pemkab dipakai untuk keperluan pengembangan jaringan air minum,’’ terangnya.

Dia juga mengakui minimnya cakupan layanan PDAM di wilayah Pacitan. Selain kendala gografis, masih banyak warga yang memiliki sumur resapan. Terlebih pada saat musim hujan seperti sekarang, mereka lebih mengandalkan air bersih dari sumur. ‘’Harapan kami pada tahun 2017 sudah ada keuntungan,’’ ujar Agus.

Agus juga beralasan, biaya untuk pengolahan air bersih cukup tinggi. Apalagi saat musim hujan seperti saat ini, tingkat kekeruhan air cukup tinggi. Untuk keperluan pengadaan biaya kimia pengolahan air bisa mencapai empat kali lipat dari standar umumnya. Sehingga pendapatan PDAM banyak yang tersedot untuk pengolahan air bersih. ‘’Harus diolah sesuai standar air minum. Biaya yang dikeluarkan mencapai 30 persen,’’ imbuhnya. (her/yup/RAPP002)

Sumber: Radar Madiun