PLTU Pacitan Serap Sampah Serbuk Gergaji Warga untuk Bahan Bakar Co-Firing

oleh -100 Dilihat
Perwakilan PLTU Pacitan memaparkan program inovasi co-firing memanfaatkan serbuk gergaji masyarakat.
Health Safety Security and Environment (HSSE) Specialist PLTU Pacitan, Jaswadi, saat memaparkan pemanfaatan serbuk gergaji warga untuk bahan bakar pendamping batu bara (co-firing) dalam Dialog Interaktif Lingkungan Hidup di Parai Beach Resort Pacitan, Rabu (3/6/2026).

Pacitanku.com, PACITAN – PT PLN Nusantara Power (PLTU Pacitan) berkomitmen mendukung pengelolaan sampah berkelanjutan dengan rutin menyerap serbuk gergaji milik masyarakat sebagai bahan bakar pendamping batu bara (co-firing).

Langkah strategis berbasis ekonomi sirkular ini dipaparkan dalam Dialog Interaktif Lingkungan Hidup: Sinergi Pentahelix dalam Pengelolaan Sampah di Parai Beach Resort Kabupaten Pacitan, Rabu (3/6/2026).

Baca juga: Dialog Interaktif Lingkungan Hidup Pacitan Perkuat Sinergi Pentahelix, Pengelolaan Sampah Jadi Tanggung Jawab Bersama

Health Safety Security and Environment (HSSE) Specialist PLTU Pacitan, Jaswadi, menjelaskan bahwa teknik co-firing atau pembakaran dua jenis bahan bakar sekaligus dalam satu mesin pembangkit ini menjadi solusi integratif untuk mengurangi limbah warga sekaligus menekan emisi.

“Kami di PLTU Pacitan itu juga menyerap sampah serbuk gergaji dari masyarakat. Sampah serbuk gergaji ini kita pakai sebagai bahan bakar pendamping batu bara atau dalam istilah kegiatan pembakaran dinamakan co-firing,”kata Jaswadi di hadapan sekitar 400 peserta virtual Zoom yang memantau diskusi lintas profesi tersebut.

Selain pemanfaatan limbah kayu, perusahaan juga aktif menjalankan manajemen sampah internal lewat sistem keselamatan kerja housekeeping 5R (Rapi, Ringkas, Resik, Rawat, Rajin).

Jaswadi membeberkan, aksi nyata di sektor lingkungan ini juga diperluas ke masyarakat melalui program Corporate Social Responsibility (CSR).

Beberapa di antaranya adalah pembuatan kompos FABA (Fly Ash and Bottom Ash) serta penyediaan sarana penunjang bagi Tempat Pengolahan Sampah 3R (TPS3R) di Desa Sumberejo dan Desa Sidomakmur.

Di sisi lain, PLTU Pacitan merespons positif wacana publik terkait peluncuran dasbor digital untuk memantau persampahan daerah.

Jaswadi menilai transparansi data berbasis digital sangat krusial bagi profesionalitas kerja, berkaca pada aplikasi ‘SIMPEL’ milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang telah diterapkan di internal korporasinya.

“Segala sesuatu itu memang akan menghasilkan sesuatu yang bagus ketika tersistem,”pungkas Jaswadi optimistis terhadap digitalisasi sistem persampahan di Kabupaten Pacitan.

No More Posts Available.

No more pages to load.