Waspada Kasus Leptospirosis di Pacitan, Dinkes Dorong Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Lewat STBM 5 Pilar

oleh -104 Dilihat
Sanitarian Dinas Kesehatan Pacitan Sri Haryanti saat memaparkan program STBM 5 Pilar untuk mencegah kasus Leptospirosis di Pacitan.
Sanitarian Dinas Kesehatan Pacitan, Sri Haryanti, menekankan pentingnya pengelolaan sampah rumah tangga guna menekan risiko penyakit berbasis lingkungan dalam dialog interaktif di Parai Beach Resort, Rabu (3/6/2026). (Foto: Dok. DLH Pacitan)

Pacitanku.com, PACITAN – Guna menekan lonjakan kasus Leptospirosis di Pacitan dan mengantisipasi gejala demam berdarah, Dinas Kesehatan Pacitan mendorong masyarakat mengintensifkan pengelolaan sampah rumah tangga melalui program STBM 5 Pilar.

Langkah preventif ini dipaparkan dalam Dialog Interaktif Lingkungan Hidup yang digelar secara hibrida di Parai Beach Resort Pacitan serta aplikasi Zoom pada Rabu (3/6/2026).

Baca juga: Sekda Pacitan Tegaskan Pengelolaan Sampah Bukan Hanya Tugas Dinas LH, Sinergi Pentahelix Jadi Solusi Mutlak

Sanitarian Dinas Kesehatan Kabupaten Pacitan, Sri Haryanti, menjelaskan bahwa penumpukan limbah domestik yang tidak dikelola dengan baik menjadi pemicu utama meluasnya penyakit berbasis lingkungan.

Menurutnya, lingkungan kotor berpotensi memicu timbulnya gejala demam berdarah akibat sarang nyamuk, sekaligus mengundang tikus sebagai pembawa bakteri leptospira.

“Kasus untuk penyakit berbasis lingkungan di Kabupaten Pacitan dari tahun ke tahun terkait dengan demam berdarah, kemudian yang sekarang ini juga sedang meningkat adalah kasus leptospirosis yang berhubungan dengan tikus,”kata Sri di hadapan sekitar 400 peserta lintas instansi.

Sebagai langkah taktis, Dinas Kesehatan Pacitan gencar melakukan intervensi melalui Program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM 5 Pilar).

Fokus utama diarahkan pada pilar keempat, yakni tata kelola sampah domestik yang aman. Kebijakan ini juga telah berkekuatan hukum tetap melalui penerbitan Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 94 Tahun 2025.

Melalui sinergi pentahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, pelaku bisnis, komunitas, hingga media, masyarakat diharapkan dapat mandiri dalam memilah sampah sejak dari sumbernya.

Di akhir pemaparannya, Sri Haryanti mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bergerak aktif melakukan tindakan nyata dari lingkup terkecil demi memutus mata rantai penularan wabah.

“Mari kita perkuat untuk pemberdayaan masyarakat kita dalam pengelolaan sampah dimulai dari kita, dimulai dari saya, kita, rumah kita, keluarga kita untuk Pacitan yang lebih bersih dan lebih sehat,” pungkas Sri.

No More Posts Available.

No more pages to load.