Pacitanku.com, PACITAN – Pendiri Pacitanku Digital Media, Dwi Purnawan, mendukung penuh pembuatan dashboard transparansi data sampah guna mengoptimalkan pengelolaan sampah di Pacitan.
Dalam Dialog Interaktif Lingkungan Hidup bertema Sinergi Pentahelix dalam Pengelolaan Sampah di Parai Beach Resort Pacitan, Rabu (3/6/2026), ia menegaskan bahwa jurnalisme data sangat krusial bagi media untuk memetakan capaian dan mendorong inovasi penanganan limbah langsung dari tingkat desa.
Selain itu, manfaat lain yang bisa dilakukan dengan adanya dashboard transparansi data pengelolaan sampah di Pacitan adalah memudahkan sinergi dengan kampus di Pacitan untuk membantu mengatasi persoalan sampah.
“Saya kira itu sangat positif adanya dashboard transparansi data sampah dan sangat penting kaitannya dengan jurnalisme data, agar kita bisa monitoring, oh ini desa ini sudah bagus (pengelolaan sampahnya, red), desa ini masih perlu ditingkatkan (pengelolaan sampahnya, red),”kata Dwi di hadapan sekitar 400 partisipan via Zoom.
Data dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) setempat, angka capaian pengelolaan sampah di Pacitan baru 14 persen. Dari data itu, setiap individu di Pacitan memproduksi rata-rata 0,51 kilogram sampah per hari.
Sehingga total sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) berkisar antara 30 hingga 35 ton setiap harinya. Dari data itu, 51,09% di antaranya didominasi oleh sampah rumah tangga.
Dwi menjelaskan, ketersediaan data yang valid melalui dashboard akan mempermudah media dalam menjalankan fungsi edukasi. Tugas pers selanjutnya adalah mengamplifikasi dan memviralkan berbagai inovasi positif dalam pengelolaan sampah, seperti program Green SIM, agar gaungnya menembus pelosok daerah.
“Tugas media salah satunya di situ bagaimana membuat viral bagaimana hal-hal positif (pengelolaan sampah, red) ini kemudian digaungkan ke semua desa dan kelurahan di Pacitan,”tambahnya.
Menanggapi pernyataan salah satu narasumber Ahmad Jahidin—seorang warga yang memilih bekerja ikhlas tanpa memikirkan publikasi media sosial—Dwi meluruskan bahwa gerakan berbasis digital tetap krusial.
Menurutnya, memviralkan aksi kebaikan bukanlah bentuk pamer, melainkan strategi penting untuk memicu efek bola salju agar menginspirasi lahirnya penggerak-penggerak lingkungan yang baru di wilayah lain.
“Sebenarnya gaung positif ataupun inovasi yang baik dari sebuah karya itu saya kira tetap perlu digaungkan dalam rangka untuk menginspirasi orang-orang lain,”tegas Dwi.
Lebih lanjut, ia mengajak para pengelola media massa untuk tidak sekadar mengumpulkan pengikut di dunia maya, melainkan harus mampu melakukan konversi audiens menjadi pergerakan fisik yang berdampak langsung pada kebersihan lingkungan.
“Bagaimana kita mengonversi followers, menjadi relawan fisik yang nyata, bagaimana kemudian dari ajakan postingan untuk kerja bakti bersama kemudian itu dikonversi menjadi gerakan yang nyata di lapangan,”jelasnya.
Sebagai penutup, Dwi kembali mengingatkan esensi utama dari transformasi kampanye lingkungan modern, yaitu menyederhanakan narasi besar penyelamatan bumi menjadi aksi nyata sehari-hari yang dekat dengan masyarakat.
“Jangan ajari masyarakat untuk menyelamatkan bumi, tapi ajari masyarakat untuk bagaimana menghilangkan bau tidak sedap di dapur, seperti itu, kita urai masalah sampah ini dari hal yang terkecil dan dari diri kita masing-masing,”pungkasnya.









