Wakili SMK se-Pacitan, SMKN Ngadirojo Usung Tema “Urup Samudra Urip” di Festival Ronthek 2026

oleh -146 Dilihat
Penampilan atraktif dan kompak kontingen SMKN Ngadirojo pada ajang Festival Ronthek Pacitan 2026 di depan Pendopo Kabupaten Pacitan.
Grup ronthek SMK Negeri Ngadirojo tampil atraktif dengan properti yang selaras dengan gerakan seni saat membawakan karya bertajuk "Urup Samudra Urip" pada hari kedua Festival Ronthek Pacitan 2026 di Pendopo Kabupaten, Sabtu (18/7/2026). (Foto: Sulthan Shalahuddin/Pacitanku)

Pacitanku.com, PACITANSMK Negeri Ngadirojo mewakili seluruh SMK negeri dan swasta se-Kabupaten Pacitan tampil memukau pada hari kedua Festival Ronthek Pacitan 2026 di depan Pendopo Kabupaten Pacitan, Sabtu (18/7/2026).

Mengusung karya bertajuk “Urup Samudra Urip”, penampilan ini mengangkat kehidupan nelayan pesisir sebagai simbol kemakmuran, rasa syukur, dan pelestarian laut.

Di hadapan penonton, grup ronthek SMKN Ngadirojo tampil sangat atraktif dan kompak. Penggunaan properti bernuansa laut yang dibawa para peserta tampak berpadu selaras dengan dinamika gerakan seni ronthek yang rancak.

Penampilan sarat makna budaya tersebut melibatkan 70 peserta utama serta sekitar 30 orang pendamping yang terdiri atas guru dan kepala sekolah SMK se-Kabupaten Pacitan.

Tema pesisir dipilih karena memiliki keterikatan erat dengan demografi warga Kecamatan Ngadirojo, di mana mayoritas wali murid berasal dari keluarga nelayan.

Penampilan atraktif dan kompak kontingen SMKN Ngadirojo pada ajang Festival Ronthek Pacitan 2026 di depan Pendopo Kabupaten Pacitan.
Grup ronthek SMK Negeri Ngadirojo tampil atraktif dengan properti yang selaras dengan gerakan seni saat membawakan karya bertajuk “Urup Samudra Urip” pada hari kedua Festival Ronthek Pacitan 2026 di Pendopo Kabupaten, Sabtu (18/7/2026). (Foto: Sulthan Shalahuddin/Pacitanku)

Kepala SMK Negeri Ngadirojo, Banjir, menjelaskan bahwa laut merupakan ibu kehidupan yang memberikan manfaat ekonomi luar biasa bagi masyarakat.

“Kami SMK Negeri Ngadirojo mewakili SMK se-Kabupaten Pacitan, baik negeri maupun swasta. Kami membawa tema tentang kehidupan masyarakat di pesisir pantai selatan, yaitu nelayan. Kehidupan nelayan ini menggambarkan kemurahan Tuhan Yang Maha Kuasa terkait kemakmuran masyarakat pesisir, khususnya di Kecamatan Ngadirojo,”jelas Banjir.

Filosofi “Urup Samudra Urip” sekaligus menjadi ajakan kepada masyarakat untuk menjaga kelestarian laut melalui semangat gotong royong. Karya ini juga menjadi bentuk penghormatan bagi para nelayan yang setiap hari mempertaruhkan nyawa demi keluarga.

Di balik kemegahan penampilan tersebut, proses persiapan kontingen menjadi tantangan tersendiri. Penundaan jadwal pelaksanaan dari awal Juli menjadi pertengahan Juli membuat para peserta harus menjalani masa latihan selama hampir dua bulan.

“Tantangannya adalah mengkondisikan latihan anak-anak. Jadwal yang semula diperkirakan tanggal 3 atau 4 Juli mundur hingga 17, 18, dan 19 Juli. Kebetulan kami tampil pertama pada tanggal 18, sehingga penataan dan pengkondisian mental anak-anak menjadi tantangan terbesar,”ungkapnya.

Ke depan, Banjir berharap Festival Ronthek dapat terus dipertahankan. Meski membutuhkan biaya yang tidak sedikit, festival ini terbukti mampu menggerakkan perekonomian masyarakat dan memperkuat identitas budaya Pacitan.

“Kami setuju ronthek ini terus dilaksanakan karena mampu menggerakkan ekonomi lokal. Memang membutuhkan biaya yang besar, tetapi ronthek telah menjadi kebanggaan Kabupaten Pacitan dan berpotensi dikenal hingga tingkat nasional bahkan mendunia. Apalagi mendapat apresiasi dari Presiden ke-6 Republik Indonesia, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono yang juga putra asli Pacitan,” pungkasnya.

LIVE STREAMING RELAY: Festival Ronthek Pacitan 2026 Hari ke-2 | 18 Juli 2026

No More Posts Available.

No more pages to load.