Rela Lepas Profesi Tukang Bangunan Demi Lingkungan, Ketua TPS3R Sidomakmur Pacitan Buktikan Sampah Bisa Bawa Berkah hingga Tanah Suci

oleh -128 Dilihat
Ahmad Jahidin memaparkan omzet dan sistem gaji tim TPS 3R Sido Makmur dalam mengatasi sampah kota Pacitan.
Ketua TPS 3R Sido Makmur, Ahmad Jahidin, saat menjelaskan keberhasilan pengelolaan sampah Pacitan yang kini mampu menggaji tim secara profesional dalam acara Dialog Interaktif Lingkungan Hidup di Parai Beach Resort Pacitan, Rabu (3/6/2026). (Foto: Dok. DLH Pacitan)

Pacitanku.com, PACITAN – Ketua Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, dan Recycle (TPS 3R) Sido Makmur Kelurahan Sidoharjo, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan Ahmad Jahidin, sukses mereduksi hingga 76 persen sampah dari 1.300 kepala keluarga di kawasan perkotaan.

Konsep tersebut dilakukan Jahidin –sapaan akrabnya– melalui konsep pengelolaan sampah Pacitan secara mandiri yang bernilai ekonomi tinggi.

Kisah inspiratif dalam mengatasi sampah kota ini diungkapkan Jahidin dalam Dialog Interaktif Lingkungan Hidup: Sinergi Pentahelix dalam Pengelolaan Sampah di Kabupaten Pacitan yang digelar di Parai Beach Resort Pacitan, Rabu (3/6/2026).

Saat ini, TPS 3R Sido Makmur mengelola sampah sekitar 5 ton per hari, yang mencakup wilayah Kelurahan Sidoharjo, Pacitan.

Sampah yang masuk ke fasilitas ini tidak langsung dibuang ke Tempat Pembuangan Kerja (TPA), melainkan dipilah dan diolah kembali agar tidak menumpuk dan mencemari lingkungan.

Baca juga: Waspada Kasus Leptospirosis di Pacitan, Dinkes Dorong Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Lewat STBM 5 Pilar

Gerakan kelestarian lingkungan yang digagas sejak 2017 ini awalnya berdiri karena keresahan masyarakat akan kondisi pemukiman yang kumuh.

Mengawali operasional pada 2018 tanpa modal finansial, Jahidin nekat mengurus limbah domestik tersebut meskipun harus menghadapi keterbatasan armada pengangkut.

Satu unit motor roda tiga (Tosa) berkapasitas 300 kilogram bahkan sering kali dipaksa memuat sampah dua kali lipat dari kapasitas normal demi melayani warga.

Lewat konsistensi konsep ‘Pilah, Olah, Berkah’, tempat pengelolaan sampah ini sekarang berkembang menjadi ladang ekonomi sirkular yang produktif dengan omzet bulanan berkisar antara 40 sampai 50 juta rupiah.

Dibantu oleh 13 petugas, sampah organik harian diolah menjadi pakan maggot (belatung) serta pupuk kompos.

Berkat perputaran ekonomi yang sehat ini, beberapa anggota tim di dalam kepengurusan fasilitas tersebut kini dapat digaji secara profesional sekitar 3 juta rupiah per bulan.

Sementara itu, untuk sampah kering yang bernilai ekonomis langsung dijual ke pelapak rongsok, di mana seluruh hasilnya dikembalikan untuk menambah pendapatan operasional para petugas di lapangan.

Keikhlasan Jahidin dalam mengabdi pada lingkungan hidup selama bertahun-tahun pun membuahkan berkah personal yang tidak disangka-sangka, termasuk hadiah beribadah ke Tanah Suci.

“Bahkan saya meninggalkan (profesi) tukang batu/bangunan, 2 tahun saya gak gajian dari sampah, ikhlas apapun yang saya lakukan itulah saya sampai di sana itu ndak mudeng Mas kok saya bisa sampai ke sana, di rumah di Baitullah itu,”kenang Jahidin dengan suara bergetar saat menyampaikan testimoninya di hadapan sekitar 400 peserta daring via Zoom meeting.

Kendati sukses menjadi percontohan riil dalam program reduksi sampah rumah tangga, sosok yang bersahaja ini menolak publikasi yang berlebihan demi menjaga ketulusan niatnya. Ia menutup pemaparannya dengan sebuah pantun.

“Saya tidak ingin menjadi kembang yang dikunci di leher pangeran, saya tidak ingin jadi bunga dalam dekap ratu. Biar aku menyebar sari dan wangi sendiri,”pungkasnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.