Terungkap, Ini Alasan Sejarah Mengapa Pacitan Masuk Jawa Timur Meski Berbudaya Mataraman

oleh -8982 Dilihat
Arsip peta kuno tahun 1867 yang menunjukkan wilayah Pacitan resmi masuk administrasi Karesidenan Madiun Jawa Timur pada masa Hindia Belanda pasca Perang Jawa.
JEJAK SEJARAH. Sebuah peta kuno yang menggambarkan wilayah Karesidenan Madiun. Pacitan secara resmi dimasukkan ke dalam wilayah administratif Jawa Timur (Karesidenan Madiun) oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1867 menyusul berakhirnya Perang Jawa. (Foto: Dok. Universitas Leiden)

Pacitanku.com, PACITAN — Pernahkah Anda berfikir mengapa Pacitan yang secara kultur kebudayaan mengikuti Jawa Tengah justru termasuk wilayah administratif Jawa Timur?

Keputusan pemerintah Hindia Belanda pasca Perang Jawa menjadi penyebab utama mengapa Kabupaten Pacitan kini secara administratif masuk wilayah Provinsi Jawa Timur, kendati secara kultural wilayah ini memiliki kedekatan erat dengan Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Penggabungan Pacitan ke dalam Karesidenan Madiun (Residentie Madioen) pada tahun 1867 menjadi tonggak sejarah perubahan status administratif tersebut yang memisahkannya dari pengaruh keraton secara politik.

Identitas ganda yang sering menjadi pertanyaan masyarakat ini memang memiliki akar sejarah yang panjang.

Pacitan dikenal sebagai bagian dari kawasan Mataraman, sebuah istilah yang merujuk pada wilayah kebudayaan di Jawa Timur meliputi bekas Karesidenan Madiun dan Kediri yang dahulu dikuasai oleh Kesultanan Mataram.

Jejak sejarah mencatat bahwa pada awalnya Pacitan berada di bawah kekuasaan Keraton Surakarta Hadiningrat, dibuktikan dengan pengangkatan Raden Tumenggung Notopuro sebagai Bupati Pacitan pertama pada kurun waktu 1745 hingga 1757.

Dinamika wilayah terus berubah, terutama setelah Perjanjian Giyanti pada 1755 yang membagi tanah mancanegara menjadi dua.

KULTUR MATARAMAN. Penampilan seni budaya di Pacitan yang masih kental dengan nuansa adat Jawa Tengahan atau Mataraman. Meski secara administratif berada di Provinsi Jawa Timur, akar budaya masyarakat Pacitan tidak bisa dilepaskan dari pengaruh Keraton Surakarta dan Yogyakarta. (Foto: Sulthan Shalahuddin)

Berdasarkan peta perjanjian tersebut, wilayah Pacitan terbelah menjadi dua bagian, yakni wilayah Ngerjoso atau yang sekarang dikenal sebagai Desa Sukoharjo hingga Lorok dan Panggul mengikuti pemerintahan Surakarta, sedangkan wilayah Nanggungan ke barat berada di bawah naungan Kesultanan Yogyakarta.

Hal inilah yang mendasari mengapa kultur kebudayaan masyarakat Pacitan hingga kini masih sangat kental dengan nuansa Surakarta maupun Yogyakarta.

Perubahan drastis terjadi setelah berakhirnya Perang Jawa atau Perang Diponegoro yang berlangsung antara tahun 1825 hingga 1830.

Peperangan besar tersebut menyebabkan pemerintah kolonial Belanda mengalami kerugian finansial yang sangat besar, mencapai 20 juta gulden, serta kerusakan parah pada berbagai fasilitas umum. Kondisi krisis ini memaksa Belanda melakukan penyederhanaan dan perampingan birokrasi demi efisiensi anggaran.

Tim Riset Pacitanku.com dalam ulasannya yang mengacu pada buku Kisah Brang Wetan menjelaskan bahwa situasi pasca perang membuat Keraton Yogyakarta hanya menjadi pemerintahan simbolik, sementara kendali de-facto dipegang langsung oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda.

Berdasarkan bukti sejarah yang kuat, kultur kebudayaan Pacitan masih sangat kental mengikuti Surakarta maupun Yogyakarta. Namun, pemangkasan wilayah kekuasaan keraton oleh Belanda membuat Pacitan secara resmi menjadi wilayah Gubernemen dan digabungkan ke dalam Residentie Madioen pada 1867.

Sejak tahun 1867 itulah, Pacitan tidak lagi berdiri sendiri atau di bawah keraton, melainkan digabungkan ke dalam Karesidenan Madiun bersama wilayah administratif tingkat II lainnya seperti Ngawi, Magetan, dan Ponorogo.

Penggabungan inilah yang secara administratif mengukuhkan posisi Pacitan sebagai bagian dari wilayah Jawa Timur hingga saat ini, meskipun jejak budaya Mataram Islam dari Jawa Tengah masih melekat kuat dalam kehidupan sosial masyarakatnya.

Artikel ini diterbitkan oleh Akhlis Sofan, tim riset Pacitanku dengan nama akun Instagram Bangga Pacitan, sebuah komunitas di Pacitan yang berfokus pada konten edukatif seputar kebanggaan Pacitan.

No More Posts Available.

No more pages to load.