Menakar Hadirnya Hotel Internasional di Pacitan: Bukan Ancaman, Tapi Katalisator Penginapan Lokal Naik Kelas

oleh -103 Dilihat
Ilustrasi Goed President Hotel Pacitan
HOTEL BINTANG LIMA. Kehadiran investasi Goed President Hotel di Pacitan, Jumat (28/11/2025). Hotel yang berlokasi strategis di dekat Museum SBY-Ani ini dijadwalkan groundbreaking pada Sabtu besok dan diharapkan menjadi infrastruktur penunjang pariwisata yang mumpuni bagi Kota 1001 Gua.

Pacitanku.com, PACITAN — Pembangunan Goed President Hotel berstandar bintang empat hingga lima di Kabupaten Pacitan dengan nilai investasi mencapai Rp150 miliar sempat memicu pertanyaan mengenai nasib penginapan lokal.

Namun, kemegahan hotel berkonsep arsitektur Eropa klasik ini justru diyakini bukan ancaman, melainkan katalisator yang akan memperluas pangsa pasar ke kelas menengah atas sekaligus memacu penginapan lokal untuk bertumbuh bersama secara sehat dan berkelanjutan.

Selama ini, tingkat kunjungan wisatawan ke Pacitan didominasi oleh kelas menengah, sementara tamu-tamu VIP atau level menengah atas kerap terpaksa menginap di Yogyakarta karena keterbatasan fasilitas berkelas.

Menjawab kekosongan tersebut, Goed President Hotel bersiap hadir pada tahun 2027 sebagai landmark hospitality baru di Pacitan.

Hotel ini tidak main-main dalam rancangannya. Secara arsitektur, bangunan setinggi empat lantai ini mengusung konsep Eropa klasik yang megah, sengaja dibuat selaras dengan bangunan Museum dan Galeri SBY-Ani demi menciptakan harmonisasi visual di kawasan wisata tersebut.

Cik Nonik Ketua AP3 membahas potensi pariwisata budaya Pacitan.
Ketua Asosiasi Pelaku dan Penggiat Pariwisata Pacitan (AP3), Cik Noni, memaparkan pentingnya mengintegrasikan seni dan budaya lokal untuk membangun nuansa pariwisata yang khas di Pacitan dalam siniar kertas kosong episode ke 60, baru-baru ini. (Foto: Sulthan Shalahuddin/Pacitanku)

Dengan taksiran nilai investasi sebesar Rp100 hingga Rp150 miliar, Goed President Hotel menawarkan konsep luxury meets locality—memadukan arsitektur kontemporer, elemen lokal, dan layanan personal yang berkelas.

Keseriusan ini tercermin dari fasilitas yang akan disediakan. Hotel ini bakal memiliki sekitar 100 kamar dengan tiga tipe eksklusif, tiga ruang pertemuan berteknologi tinggi, kolam renang, restoran, bar, kafe, hingga sky lounge yang menyajikan panorama pesisir selatan.

Tak hanya urusan menginap, hotel ini mengurasi pengalaman wisatawan melalui wellness retreat, kuliner, budaya, dan bahkan menyediakan program residensi seni bagi talenta lokal Pacitan.

Dengan positioning premium–upscale, sasaran utamanya adalah tamu berkualitas, pelaku perjalanan bisnis MICE (Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions), serta wisatawan leisure eksklusif.

Melihat proyeksi raksasa ini, Ketua Asosiasi Pelaku dan Penggiat Pariwisata Pacitan (AP3), Chrismillia Natalia atau yang akrab disapa Cik Nonik, menilai hal tersebut sebagai angin segar.

“Sepanjang ini adalah salah satu upaya untuk spreading pasar, jadi kalau pasar kita selama ini middle loh sekarang ada middle up,” jelas pengelola Hotel dan Restoran Srikandi tersebut, saat berbincang dalam siniar Kertas Kosong episode 60 yang dikutip dari laman Youtube Pacitanku TV.

Kehadiran hotel butik mewah ini diproyeksikan tidak akan bersaing langsung dan menggerus pasar hotel bintang dua atau tiga yang sudah ada.

Sebaliknya, hotel ini akan melengkapi ekosistem akomodasi di Pacitan yang berimbas pada perpanjangan masa tinggal wisatawan dan peningkatan belanja lokal.

Di mata pelaku usaha lokal, hotel internasional ini tidak dianggap sebagai kompetitor yang akan mematikan usaha kecil. Cik Noni sangat yakin bahwa manajemen hotel berkelas memiliki sistem dan standar tersendiri, sehingga tidak akan memonopoli pasar dengan cara banting harga.

Sebaliknya, keberadaan hotel mewah ini diharapkan menjadi magnet penarik (trickle-down effect) bagi tamu-tamu kelas atas untuk singgah ke Pacitan.

Efek lanjutannya, penginapan dan hotel lokal di Pacitan secara alamiah akan termotivasi untuk melakukan perbaikan dan peningkatan kualitas fasilitas ( upgrading).

“Jadi kita akan ikut tertarik untuk ke atas untuk bisa upgrading lah, yang diharapkan juga dari kehadiran hotel berskala internasional itu seperti itu,” tegasnya.

Syarat utama agar harmonisasi bisnis ini terwujud adalah konsistensi pemerintah daerah dalam melibatkan para praktisi pariwisata saat menyusun tata ruang dan peta jalan pariwisata.

“Intinya bergerak bersama,” pungkas Cik Nonik optimistis.

Video Peta Jalan Pariwisata Pacitan di Mata Pelaku Wisata Harusnya Seperti Apa? | Kertas Kosong Eps. 60

No More Posts Available.

No more pages to load.