Soroti Pentingnya Edukasi Hulu, Akademisi ISIMU Pacitan Sebut Pengelolaan Sampah Organik Wajib Selesai di Dapur

oleh -337 Dilihat
Akademisi ISIMU Pacitan Nur Hidayat saat memaparkan materi edukasi hulu pengelolaan sampah di Pacitan.
Akademisi ISIMU Pacitan, Nur Hidayat, saat berbicara dalam Dialog Interaktif Lingkungan Hidup di Parai Beach Resort Pacitan, Rabu (3/6/2026). (Foto: Dok. DLH Pacitan)

Pacitanku.com, PACITAN – Akademisi Institut Studi Islam Muhammadiyah (ISIMU) Pacitan, Nur Hidayat, menegaskan bahwa pengelolaan sampah organik wajib selesai sejak dari dapur rumah tangga demi mengurai persoalan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Hal itu disampaikannya dalam acara Dialog Interaktif Lingkungan Hidup bertajuk “Sinergi Pentahelix dalam Pengelolaan Sampah di Kabupaten Pacitan” yang digelar di Parai Beach Resort Pacitan, Rabu (3/6/2026).

Acara yang menyoroti pentingnya edukasi hulu ini dihadiri oleh 400 peserta secara daring dan luring, yang melibatkan unsur pemerintah, akademisi, pelaku bisnis, masyarakat, hingga media massa.

Baca juga: Rela Lepas Profesi Tukang Bangunan Demi Lingkungan, Ketua TPS3R Sidomakmur Pacitan Buktikan Sampah Bisa Bawa Berkah hingga Tanah Suci

Nur Hidayat menilai, tata kelola sampah di level hilir seperti TPA tidak akan pernah rampung jika pemilahan di tingkat keluarga masih belum berjalan dengan baik.

Melalui metode Community Management Approach (CME), spesialis pengembangan komunitas ini mendorong adanya pelatihan intensif bagi warga agar mampu memisahkan sampah organik secara berkesinambungan.

Langkah ini diharapkan dapat mengurangi beban kerja layanan pengangkut sampah daerah.

“Pendidikan itu mulai dari rumah, bagaimana sampah itu selesai di rumah. Kalau masyarakat tidak dikasih edukasi mau diapakan setelah ini, maka selesai di rumah berarti di dapur, berarti organik,”kata Nur Hidayat.

Ia juga menekankan bahwa peran perguruan tinggi tidak boleh hanya berhenti pada tumpukan dokumen teori. Sektor akademisi harus mampu mentransformasikan hasil riset menjadi kebijakan publik serta teknologi tepat guna yang dampaknya langsung dirasakan oleh masyarakat luas.

Menurutnya, riset lapangan yang kuat sangat dibutuhkan oleh pemerintah daerah sebagai dasar penyusunan regulasi yang efektif dan kontekstual. Data yang dikumpulkan dari bawah akan menjadi informasi valid untuk mendukung lahirnya kebijakan eksekusi yang tepat sasaran.

Sebagai langkah konkret, Nur Hidayat mendesak kampus-kampus di Pacitan untuk menerjunkan mahasiswa langsung ke fasilitas Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPS3R).

Upaya ini sekaligus menjadi bentuk apresiasi nyata terhadap para pahlawan kebersihan di tingkat akar rumput.

“Jika kita menjadikan sampah itu menjadi berkah, maka sampah akan memberikan berkah pada kita,” pungkas Nur.

No More Posts Available.

No more pages to load.