Dua Nelayan Laka Laut di Perairan Pacitan, Satu Hilang

oleh -1.767
Ilustrasi orang tenggelam.

Pacitanku.com, NGADIROJO – Peristiwa kecelakaan laut kembali terjadi di perairan Kabupaten Pacitan pada Minggu (11/6/2017). Dua nelayan, yakni Edy bersama Uki, keduanya nelayan dari Dusun Tawang, Desa Sidomulyo Kecamatan Ngadirojo mengalami kecelakaan laut dengan lokasi di 4 mil barat daya Pantai Tawang, Desa Sidomulyo, Kecamatan Ngadirojo mingggu malam sekitar pukul 19.30 WIB.

Informasi yang diperoleh dari anggota Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) Pacitan, Syamsul Hadi mengatakan bahwa korban selamat atas nama Edy ditemukan oleh nelayan dan dibawa mendarat di Pantai Tawang, Desa Sidomulyo Kecamatan Ngadirojo pada Minggu malam sekitar pukul 20.20 WIB.

Akibat laka laut tersebut, Edy bisa selamat, sementara satu nelayan lain atas nama Uki hilang. “Saat ini korban selamat berada di Unit Gawat Darurat (UGD) Puskesmas Ngadirojo dan dalam proses penanganan medis serta dirujuk ke RSUD dr Darsono Pacitan,”katanya kepada Pacitanku CJ.

Belum diketahui secara pasti penyebab kejadian laka laut tersebut, namun demikian, diketahui kondisi daplangan perahu yang mereka tumpangi mengalami patah.

Sebelumnya, pada pekan lalu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pacitan menghimbau kepada nelayan dan wisatan yang berkunjung ke Kabupaten Pacitan diminta waspada selama sepekan mendatang. Pasalnya ketinggian gelombang pasang laut diprediksi tidak bersahabat.

Gelombang tinggi menurut ramalan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), murni karena musim pasang. Itu merupakan siklus antara lima hingga enam bulan sekali.




Prakirawan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Maritim Tanjung Perak Surabaya Eko Prasetyo mengimbau masyarakat di pesisir selatan Jatim mewaspadai terjadinya abrasi pantai dampak “swell”, yakni bangkitan gelombang tinggi dalam sepekan ke depan.

“Masyarakat harus waspada karena ada fenomena ‘swell’ di selatan Jatim. Sebab, ‘swell’ bisa menimbulkan hempasan air laut hingga jauh ke daratan,” katanya di Surabaya, baru-baru ini.

Swell adalah bangkitan gelombang yang bersumber jauh hingga ratusan kilometer dari tempat terjadinya gelombang. Gelombang tersebut bisa menimbulkan hempasan hingga ke daratan dan menimbulkan pengikisan pantai.

Menurut Eko, perairan di selatan Jatim selama ini gelombangnya cukup tinggi, namun dengan munculnya fenomena “swell’ maka kondisi perairan di kawasan ini perlu lebih diwaspadai.

“Fenomena ‘swell’ ini durasinya cukup lama. Diperkirakan bisa sampai seminggu ke depan. Jadi, jangan sampai fenomena alam ini merugikan masyarakat,” ucapnya.

Sementara itu, gelombang perairan di selatan Jatim saat ini berkisar 2,5 – 3,5 meter dengan kecepatan angin sekitar 50 kilometer per jam, sedangkan di Laut Jawa atau di utara Jatim tinggi gelombang cukup kondusif berkisar 0,5 – 1,3 meter dengan kecepatan angin sekitar 36 kilometer per jam.