Retakan Tanah Dekati Permukiman, Warga Diminta Mengungsi

oleh -13956 views
Kondisi terkini jalur Gemaharjo yang mengalami retak semakin lebar. (Foto: Info Pacitan)
jalur Gemaharjo yang mengalami retak semakin lebar. (Foto: Info Pacitan)

Pacitanku.com, PACITAN – Keretakan jalur Pacitan-Ponorogo yang terletak di dusun Dondong, Desa Gemaharjo, Kecamatan Tegalombo kian hari kian kritis. Dengan adanya potensi longsor dikarenakan retakan yang mendekati permukiman warga, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pacitan rekomendasikan agar penduduk yang bermukim di sekitar lokasi tanah gerak segera diungsikan.

Kepala Sie Kedaruratan dan Logistik BPBD Pacitan, Pujono, kepada wartawan baru-baru ini mengatakan bahwa kawasan itu masuk zona merah dengan pergerakan tanah tinggi. Menurut Pujono, berdasarkan hasil survei dari tim ahli UGM tahun lalu,jelasnya, lokasi tersebut dinilai rawan karena kontur tanah labil. Tanah akan mudah bergerak terutama dipicu intensitas hujan tinggi.

Namun, belum diketahui persis penyebab tanah gerak. Salah satu kemungkinan karena lokasi tersebut bekas penggalian tambang batu gip beberapa puluh tahun silam. ‘’Ada kemungkinan juga struktur tanahnya berongga. Jadi ada kemungkinan akan lebih parah lagi,’’ jelasnya.

Berdasarkan hasil kajian tim UGM juga menyebut tingkat kedalaman tanah labil di lokasi tersebut hingga ke titik bebatuan mencapai 60 meter dari permukaan jalan. Sementara saat pembangunan jembatan darurat, pengebotan untuk penanaman tiang pancang jembatan hanya sampai 30 meter.


Karena mata bor tidak mampu menembus kedalaman yang lebih tinggi. Soal sampai kapan jembatan bailey tersebut akan bertahan, Pujono enggan berspekulasi. ‘’Kami tidak berpikir sampai ke situ. Mungkin UPT Bina Marga Jatim wilayah Pacitan sudah membuat analisa sendiri,’’ kilahnya.

Secara terpisah, Kasi Jalan UPT Bina Marga Jawa Timur wilayah PacitanBudi Hari Santoso mengatakan jalan amblas di Dusun Dondong, Desa Gemaharjo mengkhawatirkan karena pergeseran tanah terus terjadi. Tanah di lokasi jembatan bailey mengalami penurunan hingga 15 sentimeter setiap hari. ‘’Kondisi tersebut berakibat konstruksi jembatan juga ikut bergeser dari posisi semula,’’ jelasnya.

Menurut dia, pergerakan tanah tersebut lebih cenderung vertikal ke bawah. Karena tanah terus bergeser, maka tiang pancang jembatan akan makin berat menahan beban. Namun, pihaknya akan berusaha mempertahankan keberadaan jembatan sampai relokasi kelar. Saat ini, proses pembebasan lahan terus berlangsung. ‘’Sudah dua kali sosialisasi dengan pemilik tanah yang akan dipakai jembatan baru,’’ imbuhnya. (her/yup)

Sumber: Radar Madiun