Tag: Tegalombo

Permalink ke Ditabrak Mobil Travel Usai Belanja, Bitmiatin Tegalombo Meninggal Dunia
Headline, Peristiwa

Ditabrak Mobil Travel Usai Belanja, Bitmiatin Tegalombo Meninggal Dunia

Lokasi laka lantas di Kecamatan tegalombo. (Foto: Fajar-fajar Saja)

Pacitanku.com, TEGALOMBO – Kecelakaan lalu lintas berujung maut kembali terjadi di wilayah Pacitan. Kali ini kecelakaan berujung maut tersebut terjadi di jalur utama Pacitan-Ponorogo, tepatnya di lingkungan Krajan, Desa/Kecamatan Tegalombo di depan salah satu bank yang ada di kecamatan tersebut, Minggu (8/7/2017) sekitar pukul 07.30 WIB.

Berdasarkan informasi yang diperoleh Pacitanku.com dari salah satu pewarta warga, Fajar, laka maut tersebut mengakibatkan seorang ibu, atas nama Bitmiatin, warga RT/RW 03/I, lingkungan Krajan, Desa/Kecamatan Tegalombo meninggal dunia.




“Ibu Bitmiatin meinggal dunia saat berada di Puskesmas Tegalombo,”katanya.

Menurut Fajar, kronologi laka maut tersebut berawal saat Bimiatin turun dari kendaraan becak bermotor (bentor) usai belanja di pasar Wage desa Tegalombo.Sebagaimana diketahui, pasr Wage Tegalombo adalah salah satu pasar terbesar dan paling ramai di kawasan tersebut.

“Saat ambil tas belanja, beliau disambar kendaraan travel dari arah Ponorogo,”ujar admin salah satu grup facebook terbesar di Pacitan ini.

Akibat kejadian tersebut, Bitmiatin yang terluka cukup parah segera dibawa ke Puskesmas Kecamatan Tegalombo yang tak jauh dari lokasi kejadian.

Namun saat tiba di Unit Gawat Darurat (UGD) Puskesmas setempat, Bitmiatin meninggal dunia. “sopir dan mobil travel tersebut sudah diamankan di Polsek Tegalombo,”pungkasnya.

Permalink ke KPH Lawu akan Terus Kembangkan Wisata Hutan Pinus Kita Tegalombo
Headline, Wisata

KPH Lawu akan Terus Kembangkan Wisata Hutan Pinus Kita Tegalombo

pengunjung menikmati pemandangan pohon pandang di kawasan wisata Pinus Kita Gemaharjo. (Foto: Arif Sasono/Pacitan Adventure Service)

Pacitanku.com, MADIUN – Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Lawu DS akan mengembangkan dua kawasan Perum Perhutani di Sarangan, Magetan, dan Tegalombo, Pacitan, menjadi tempat wisata berbasis alam pada 2017. Dua lokasi wisata yang akan dikembangkan yaitu Omah Stroberi dan Pinus Kita.

Kepala Urusan Komunikasi Perusahaan KPH Lawu DS, Dwi Sulistyo Rini, mengatakan tahun ini KPH Lawu DS akan memanfaatkan dua lahan untuk kegiatan wisata. Untuk lahan di Sarangan dimanfaatkan untuk pembangunan Omah Stroberi, sedangkan di Pacitan untuk wisata hutan bernama Hutan Kita.

“Saat ini kedua lokasi wisata itu sudah mulai digarap dan beroperasi,” kata dia baru-baru ini, dilansir Madiunpos.

Dia menyampaikan kawasan hutan milik Perhutani dimanfaatkan untuk kegiatan wisata karena saat ini hasil produksi getah dan kayu menurun. Pengelolaan lahan dan tempat wisata itu menggandeng warga setempat.

Untuk objek wisata Pinus Kita di Pacitan, kata dia, dikembangkan dengan konsep wisata alam di hutan pinus. Nantinya dibangun dek untuk foto selfie di beberapa lokasi hutan pinus.




Pengembangan wisata hutan pinus tidak boleh merusak pohon di hutan. “Nanti akan kami pasang peraturan di beberapa lokasi untuk tidak merusak pohon. Pembangunan wahana juga dipastikan tidak merusak pohon dan alam,” jelas Listyo.

Lahan Perhutani yang dimanfaatkan untuk pengembangan wisata itu sekitar 2 hektare. Perhutani menggandeng warga sekitar untuk mengelola wisata hutan pinus itu. Sedangkan untuk Omah Stroberi, Perhutani menyiapkan lahan sekitar 2 hektare di kawasan Sarangan. Lokasi wisata ini menawarkan petik buah stroberi dan berfoto di kebun stroberi.

Di lokasi itu, pengelolaan juga menggandeng warga setempat. Setiap tahun, Perhutani mendapatkan pemasukan dari objek wisata itu senilai Rp10 juta. “Buah stroberinya setiap hari ada. Tapi pengunjungnya masih sedikit karena ini masih proses pengembangan,” kata dia. (RAPP002)

 

Permalink ke Kisah Hidup Boiran Tegalombo, Piawai Mencangkul Meski tak Punya Kaki
Headline, Sosial

Kisah Hidup Boiran Tegalombo, Piawai Mencangkul Meski tak Punya Kaki

Boiran Tegalombo

Pacitanku.com, TEGALOMBO – Hidup betapa pun beratnya harus dijalani dengan penuh tanggungjawab dan syukur. Hal itu yang menjadi pegangan hidup Boiran, seorang pria asal Pacitan yang sejak lahir sudah tidak bisa berjalan. Boiran yang merupakan warga RT/RW 2/XI, Dukuh Weru, Desa Ploso, Kecamatan Tegalombo, Kabupaten Pacitan, ini menumpang hidup di rumah adiknya, Sumini.

Boiran berusia sekitar 70 tahun. Dia tidak ingat kapan tanggal dan tahun lahirnya karena sejak kecil hingga kini dirinya tidak pernah terdata di catatan sipil dan orang tuanya juga tidak pernah membuat akta kelahiran bagi Boiran.

Hingga kini di usia sekitar 70 tahun, Boiran sama sekali tidak pernah memiliki kartu identitas atau kartu tanda penduduk (KTP). “Saya tidak pernah punya KTP. Kata orang-orang mau buat apa membuat KTP, kan saya tidak bisa berjalan,” kata dia dilansir dari Madiunpos.com Minggu (5/2/2017).

Boiran bercerita sudah sejak lahir tidak bisa berjalan karena ada kelainan di kedua kakinya. Kedua kakinya tidak tumbuh sempurna. Karena keterbatasan ekonomi keluarganya, Boiran tidak pernah dibawa ke rumah sakit dan hingga kini kakinya tidak bisa digunakan.

Boiran yang merupakan anak kedua dari lima bersaudara ini awalnya tinggal bersama orang tuanya di Dukuh Weru, Desa Ploso, Kecamatan Tegalombo. Namun, setelah kedua orang tuanya meninggal dunia, Boiran ikut adiknya yang juga tinggal di Dukuh Weru.




Dalam beraktivitas sehari-hari, Boiran menggunakan kedua tangannya untuk berbagai kegiatan mulai untuk makan, minum, hingga berjalan. Itu yang menjadi sebab kedua tangan Boiran tidak pernah bersih dari tanah karena menjadi pijakan untuk berjalan. Aktvitas sehari-hari Boiran adalah mencangkul dan memanjat pohon kelapa.“Tangan saya tidak pernah bersih. Paling kalau makan dibersihkan. Soalnya untuk berjalan dan tangannya tidak diberi alas,” kata dia.

Boiran mengaku selama ini belum pernah menikah dan kemungkinan tidak akan membangun rumah tangga hingga akhir hayatnya. Hingga berusia 70 tahun belum ada perempuan yang diidamkan. Jika pun ada, Boiran mengaku tidak siap untuk menghidupinya.“Saya tidak siap menikah. Mau dikasih makan apa istri saya,” ujar dia.

Selama sekitar 70 tahun hidup, Boiran tidak pernah pergi jauh meninggalkan kampungnya. Boiran hanya sanggup berjalan dengan kedua tangannya hingga 1 km dari rumahnya saat suntuk dan hendak berkumpul dengan tetangga. Selebihnya, dia tidak pernah melihat dunia selain di Desa Ploso.

Dia mengaku pernah keluar dari kampungnya saat sakit dan dirawat di Puskesmas Gemaharjo, Pacitan. Dari kampungnya di puncak bukit Pancur, Boiran hanya bisa membayangkan gemerlapnya perkotaan. Akses dari desa itu sangat sulit, selain tidak ada angkutan umum, jalan masuk kampungnya juga sangat sulit dan terjal.“Saya tidak pernah ke mana-mana. Saya hidupnya ya di kampung ini saja, mentok berjalan di rumah tetangga,” kata dia.

Di rumah itu, Boiran tinggal bersama keluarga adiknya, Sumini, beserta suaminya, Suparman, serta anak dan menantu Sumini. Di rumah yang sangat sederhana itu, Boiran menjalani hari-harinya dengan tenang.“Saya hidup di sini sangat bergantung pada adik. Saya sudah tidak punya siapa-siapa selain mereka,” ujar dia.

 

Bantu share #pacitan . . Masihkah kita harus mengeluh dengan hidup kita saat ini? Lihatlah bapak ini..😭 . . Beliau adalah Pak Boiran walaupun dalam keterbatasan fisik beliau tetap semangat dan pantang menyerah menjalani hidup, mencangkul dan memanjat pohon kelapa adalah aktivitasnya setiap hari. Saya kuat karena Allah beri saya kekuatan, ujar beliau ketika @cakbudi_ tanya tadi di rumahnya di Rt 2 rw 11 dusun berug desa ploso kecamatan tegalombo kab pacitan. Dan beliau menambahkan bahwa belum menikah karena Gak ada yang mau, siapa yang mau mas dengan saya kondisi saya seperti ini. Memang tidak mudah menemukan alamat rumah Pak Boiran karena letaknya sangat jauh di pelosok desa. Kehidupan yang pas-pasan sudah beliau alami sehari-harinya. Kalau Gak kerja ya Gak makan mas , kata beliau. Saya sangat terharu melihat kondisi Pak Boiran makanya jauh-jauh dari Malang ke Pacitan saya rela datang hanya untuk menjumpai beliau. Ringankan hati ULURKAN tangan bantu sesama yuk! .#suisbapeduli

A video posted by PEDULI DHUAFA LANSIA (@cakbudi_) on

Permalink ke Banyak Titik Longsor Sepanjang Jalur Tegalombo, Polres Pacitan Minta Pengendara Waspada
Bencana Alam, Headline

Banyak Titik Longsor Sepanjang Jalur Tegalombo, Polres Pacitan Minta Pengendara Waspada

Longsor terjadi di jalur Tegalombo, kemarin. (Foto: Jatmiko/Info Pacitan)

Pacitanku.com, PACITAN – Gangguan di jalan raya Ponorogo-Pacitan bertambah. Kemarin (2/2), kembali terjadi longsor di titik longsor lama di Desa/Kecamatan Tegalombo. Material longsor menutup hingga setengah badan jalan. Selain longsor, juga ada jalan amblas sepanjang 15 meter di desa yang sama. Sejauh ini titik jalan amblas hanya diberi pengaman tong dan bambu.

Pengguna jalan diminta hati-hati ketika melintas. ‘’Hampir sepanjang jalan raya Ponorogo-Pacitan di Tegalombo itu rawan longsor dan amblas. Harus waspada meski tidak ada titik baru,’’ ungkap Kasatlantas Polres Pacitan, AKP Jumianto Nugroho, dilansir dari Radar Madiun, Sabtu (4/2/2017).

Data terakhir yang dimiliki Nugroho, dua titik longsor dan amblas di Tegalombo merupakan yang paling gres terjadi. Selain kedua titik, ada sekitar lima titik longsor lain di sepanjang jalan Ponorogo-Pacitan dari Tegalombo, Arjosari, hingga masuk wilayah Kecamatan Pacitan.

Menurut Nugroho, geografi di sepanjang jalan tersebut yang berupa tebing memang menimbulkan ancaman longsor dan tanah amblas. ‘’Untuk itu, ketika hujan atau malam, wajib lebih berhati-hati. Lebih baik menunggu reda baru melintas ketika di dekat titik longsoran atau tanah amblas,’’ sarannya.

Kondisi rawan tersebut mau tidak mau membuat Nugroho turun tangan. Pihaknya sejauh ini sudah menambah lima papan imbauan di sepanjang jalan raya tersebut. Papan imbauan dipasang di sekitar titik terjadinya longsoran. Harapannya, pengguna jalan lebih waspada usai membaca imbauan tersebut. ‘’Kami beri penjelasan sepanjang berapa kilometer titik rawan longsornya. Agar pengguna jalan dapat lebih detil mengetahui kondisi jalan yang dihadapi,’’ terangnya.




Selain papan imbauan, satlantas juga memasang stiker fosfor. Stiker tersebut dipasang di pengaman tepi jalan dan di atas badan jalan, mulai dari Gemaharjo, Tegalombo, hingga masuk ke wilayah Pacitan. Sebab, kondisi jalan ketika malam jauh lebih berbahaya karena minim penerangan jalan.

Pun, ada beberapa titik yang tidak memiliki pengaman di tepi jurang. Dengan adanya stiker fosfor itu, diharap dapat menjadi panduan lantaran bisa menyala ketika disorot lampu kendaraan. ‘’Stiker fosfor itu seperti panduan bagi pengguna jalan karena peneranganya memang minim di sepanjang jalur Ponorogo-Pacitan,’’ ujar Nugroho. 

Permalink ke Kepala Puskesmas Tegalombo: Makan Ikan Tingkatkan Kecerdasan Anak
Headline, Pendidikan, Perikanan

Kepala Puskesmas Tegalombo: Makan Ikan Tingkatkan Kecerdasan Anak

Camat Tegalombo dan Dokter Puskesmas Tegalombo saat sosialisasi gemari. (Foto: kecamatan Tegalombo)

Pacitanku.com, TEGALOMBO – Kepala Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Kecamatan Tegalombo, dr Rosyid Ashari berharap gerakan makan ikan (Gemari) yang dicanangkan Pemerintah Pusat bisa terus dilakukan, terutama oleh anak-anak. Hal tersebut disampaikan Rosyid saat melakukan sosialisasi Gemari di Taman Kanak-Kanak (TK) Mardi Putra I Tegalombo pada Selasa (24/1/2017) kemarin.

Menurut Rosyid, usia emas calon penerus generasi bangsa  harus selalu diperhatikan oleh semua pihak. Untuk itulah, Puskesmas Tegalombo mengadakan sosialisasi ke semua sekolah mulai PAUD/TK sampai dengan  sekolah lanjutan.

“Betapa pentingnya nilai gizi dalam ikan yang dikonsumsi oleh anak-anak kita guna meningkatkan kecerdasan,”kata Rosyid, sebagaimana dikutip dari laman Kecamatan Tegalombo, Rabu (25/1/2017).

Senada dengan Rosyid, Camat Tegalombo Djoko Putro Utomo menyebut bahwa  betapa pentingnya anak-anak sebagai generasi bangsa yang cerdas yang salah satunya adalah gemar makan ikan.




Sebagaimana diketahui, wilayah Kabupaten Pacitan yang berada di pesisir selatan Jawa cukup potensial untuk pengembangan perikanan. Baik perikanan laut maupun darat. Khususnya untuk peningkatan gizi dan kualitas pangan keluarga.

Beberapa waktu lalu, Ketua Forikan Pacitan Luky Indartato menyampaikan bahwa anak-anak akan memiliki kecerdasan lebih baik dengan mengkonsumsi ikan secara rutin. Sehingga, kata Luky, dibutuhkan kerjasama yang baik antara guru di sekolah dan para orang tua. Hal tersebut penting karena faktor kebiasaan.

Dimana pada anak-anak kebiasaan makan secara teratur sulit dilakukan. Sebab mereka lebih fokus untuk bermain. “Di tingkat PAUD sepekan sekali ada kegiatan makan bersama. Anak-anak akan lebih senang jika gurunya yang memberi contoh,”katanya saat itu.

Guna merangsang minat mengkonsumsi ikan pada anak-anak perlu sebuah inovasi. Salah satunya dengan upaya kreatif. Yakni menganekaragamkan menu makanan berbahan dasar ikan. Sehingga minat anak-anak akan bertambah. Beberapa jenis olahan makanan yang telah populer diantaranya tahu tuna, otak-otak ikan, maupun bakso tuna.

Di Pacitan, kini telah ada 70 kelompok perajin makanan olahan berbasis ikan. Kelompok-kelmpk tersebut meruakan binaan dari Dinas Kelautan dan Perikanan yang berawal dari kelompok ibu-ibu nelayan. Melalui terobosan tersebut Luki Indartato berharap konsumsi ikan di Pacitan semakin meningkat. “Saat ini angka konsumsi ikan kita baru 16,26 kg per kapita setiap tahun dan kita optimis semakin lama semakin meningkat,”kata Luky lagi.

Secara nasional, konsumsi ikan Indonesia sebesar 32,24 kg/kapita/tahun, berada di peringkat kelima setelah Malaysia sebesar 58,1 kg/kapita/tahun,  Myanmar sebanyak 55 kg/kapita/tahun, Vietnam sebanyak 33,20 kg/kapita/tahun dan Filipina sebesar 32,70 kg/kapita/tahun. Oleh karena itu, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menggiatkan masyarakat mengkonsumsi ikan dengan Gemari.

KKP merasa optimis kampanye ini bisa membantu mengurangi ketergantungan konsumsi masyarakat Indonesia terhadap daging sapi yang saat ini harganya tinggi. Hal itu, karena ikan mengandung gizi yang sangat baik tapi harganya lebih terjangkau.

Pernyataan tersebut diungkapkan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, Minggu (25/6/2016). Menurut dia, dengan banyak mengonsumsi ikan, maka intelegensia anak-anak akan meningkat dan itu bagus untuk masa depan bangsa.“Karena itu ayo makan ikan mulai dari sekarang. Masyarakat Indonesia harus gemar lagi makan ikan dari sekarang,” ungkap dia di sela pasar ikan murah yang digelar kemarin.

Susi mengatakan, ketergantungan masyarakat selama ini terhadap daging sapi, juga seharusnya bisa dikurangi secara bertahap. Hal itu, karena harga daging sapi saat ini terhitung mahal dan berbanding terbalik dengan harga ikan yang sangat terjangkau untuk semua kalangan masyaakat.“Jelas ini menguntungkan masyarakat. Karena harga beli jadi lebih terjangkau. Ini harus dimanfaatkan dengan baik,” tutur dia.

Dengan kondisi sekarang, Susi menyebut, daya konsumsi masyarakat Indonesia terhadap ikan masih jauh di bawah rerata masyarakat Jepang. Saat ini, tingkat konsumsi ikan di Indonesia masih sekitar 40 kilogram per tahun per orang, dan sementara di Jepang sudah mencapai 80 kg per orang per tahun. “Itu jumlah yang rendah. Kita harus bisa meningkatkan daya konsumsi ikan. Karenanya, kita harus gemar makan ikan,” jelas dia.

Susi meyakini, semakin banyak mengonsumsi ikan, maka semakin banyak kandungan baik yang ada di dalam ikan bisa dinikmati oleh masyarakat. Jika itu terjadi, maka generasi bangsa Indonesia akan bertumbuh dengan sangat baik karena memiliki intelegensia yang mumpuni. (RAPP002)

Permalink ke Curug Gringsing Tegalombo Potensial Dikembangkan Jadi Obyek Wisata Baru
Alam, Headline

Curug Gringsing Tegalombo Potensial Dikembangkan Jadi Obyek Wisata Baru

Camat Tegalombo bersama jajaran saat berkunjung ke Curug Gringsing, Desa Ploso Tegalombo. (Foto: Djoko Putro Utomo/FB)

Pacitanku.com, TEGALOMBO – Alam di Kabupaten Pacitan seolah tak berhenti untuk menghadirkan pesonanya. Selain pesona pantai, kini berbagai panorama alam juga menambah banyaknya potensi yang bisa dikembangkan, salah satunya adalah curug atau air terjun.

Di wilayah Pacitan bagian utara, tepatnya di Kecamatan Tegalombo, ada peluang untuk mengembangkan potensi alam yang melimpah, salah satunya adalah air terjun atau curug Gringsing, yang terletak di Dusun Krajan, Desa Ploso, Tegalombo.

Berada di kawasan pegunungan yang berbatasan denganKabupaten Ponorogo, kawasan Curug Gringsing masih sangat alami. Di saat musim hujan seperti saat ini, volume air yang meningkat menjadikan panorama air terjun yang jath ke sungai dibawahnya menjadi pemandangan yang memikiat. Ditambah, bebatuan besar di belakang air yang jatuh tersebut menambah eloknya pemandangan.

Namun demikian, saat ini, jika berkunjung ke kawasan tersebut, harus jalan kaki sepanjang 1,5 Km dari jalan utama di Desa Ploso. Hal itu dikarenakan belum ada jalan yang memadai menuju ke lokasi Curug.

Camat Donorojo Djoko Putro Utomo usai berkunjung ke kawasan curug Gringsing, Jumat (6/1/2017) lalu menyebut bahwa kawasan ini bisa dikembangkan menjadi potensi wisata di Desa Ploso, Tegalombo.




“Potensi wisata air terjun gringsing desa ploso Tegalombo potensinya, bagus mantap silahkan kunjungi, dari perempatan terminal Gemaharjo ambil arah desa ploso kurang lebih 4 km, udaranya segar airnya bagus, kedepan bisa dikelola warga untuk kesejahtaraan masyarakat,”kata Djoko Putro Utomo.

Menurut Camat yang juga pernah sukses merintis Festival Dayung Ngiroboyo ini, dirinya meminta kepala Desa Ploso untuk mengembangkan Curug Gringsing menjadi kawasan wisata yang bermanfaat untuk masyarakat.”Potensial sekali untuk dikembangkan dan masih sangat perlu untuk dipromosikan,”kata Djoko sebagaimana dikutip dari laman Kecamatan Tegalombo.

Selain di Tegalombo, potensi curug atau air terjun yang kemungkinan bisa dikembangkan adalah curug Surupan di Tulakan dan Curug Sabun Saren, yang terletak di Desa Petungsinarang, Kecamatan Bandar, Pacitan. Potensi curug atau air terjun yang bisa dikembangkan juga terdapat di beberapa titik di Kecamatan Punung. (RAPP002)

Seger @amad.zainy – juruk.gringsing.ploso.tegalombo.pacitan..lokasi air terjun.wisata baru.. #Pacitanku

A photo posted by www.pacitanku.com (@pacitanku) on