Mengenal Bupati Pacitan (1) : RS Tedjo Sumarto, Bupati Masa Transisi

oleh -13869 views
Pendopo Kabupaten Pacitan
Pendopo Pemerintah Kabupaten Pacitan. (Foto: Pacitanku.com)

Pacitanku.com, PACITAN—R.S. Tedjo Sumarto adalah Bupati Pacitan terakhir di era orde lama dan sekaligus bupati pertama di era orde baru. Sebagai bupati yang bertugas pada masa pergolakan dan transisi (peralihan) dari era Orla ke Orba, Tedjo disibukkan pada konsolidasi keamanan dan ketertiban umum.

Tedjo yang seorang militer memiliki mandat khusus dan misi keamanan yang tegas dari penguasa Negara ketika itu untuk mengendalikan situasi keamanan di wilayah kekuasaannya. Sehingga belum banyak berbuat untuk menumbuhkembangkan infrastuktur di Pacitan.

Menciptakan ketertiban dan mengendalikan keamanan adalah tugas berat bagi Tedjo. Mengingat Pacitan bagian dari karesidenan Madiun yang didalamnya terdapat pangkalan militer angkatan udara Iswahyudi, sementara wilayah Madiun dan sekitarnya pada saat itu (1963-1965) menjadi pusat konsentrasi gerakan 30 September (G 30 S).

Terciptanya keamanan dan ketertiban masyarakat yang mantap serta stabilitas politik di wilayah Pacitan adalah prestasi besar Tedjo Soemarto dalam memimpin Pacitan, sebagai daerah penyangga pangkalan pertahanan udara TNI Maospati. Clas fisik yang sudah mengarah pada perang sipil di tanah air dialami juga oleh rakyat Pacitan. Tidak sedikit korban G30S/PKI berjatuhan.

Situasi tidak menentu, ekonomi yang morat – marit dan perasaan terluka, dendam antar kelompok adalah kondisi yang dihadapi oleh Bupati Tedjo. Bersama dengan ulama dan tokoh masyarakat, Tedjo berusaha keras untuk memulihkan situasi. Setelah tercipta ketertiban dan terkendalinya keamanan pasca G30S/PKI, tedjo tetap memangku jabatan sebagai bupati Pacitan sampai dengan tahun 1969.

Selama kurang lebih tiga tahun setelah 1965, Tedjo mengendalikan pemerintahan sebagai Bupati dan kepala daerah Kabupaten Pacitan. Bersama dengan berbagai elemen masyarakat dan para petinggi daerah, Tedjo mengawal pemerintahan daerah.

Redaktur : Dwi Purnawan