Kategori: Perkebunan

Popular

Berita Terbaru

Permalink ke Bupati Pacitan Sebut KRPL Ringankan Keuangan Keluarga
Headline, Perkebunan

Bupati Pacitan Sebut KRPL Ringankan Keuangan Keluarga

KRPL di Pacitan. (Foto: Humas Pemkab Pacitan)

Pacitanku.com, PACITAN – Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) dinilai sangat bermanfaat bagi masyarakat Pacitan.

Demikian disampaikan oleh Bupati Pacitan, Indartato saat penilaian Lomba KRPL tingkat Provinsi Jawa Timur di Desa Nanggungan Kecamatan Pacitan, Rabu (13/09/2017). “KRPL meringankan keuangan keluarga,”katanya.




Penilaian Indartato memang benar, karena dengan adanya KRPL setidaknya warga masyarakat terutama ibu-ibu bisa memenuhi kebutuhan bahan masak sehari-hari dari pekarangannya sendiri. Sehingga bisa menghemat pengeluaran belanja kebutuhan makan.

Senada dengan Bupati yang akrab dipanggil Pak In, Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Pacitan, Luki Indartato, menjelaskan bahwa KRPL sudah ada sejak lama dan selalu rutin diadakan evaluasi setiap tahun melalui perlombaan.

Selanjutnya menurutnya lomba bukanlah merupakan tujuan akhir dari KRPL. “Yang terpenting bagaimana kita bersama khususnya warga PKK bisa memanfaatkan pekarangan dengan menanam KRPL ini dan bermanfaat bagi masyarakat sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan terutama di ekonominya,”ujarnya.

Desa Nanggungan tahun ini melalui KRPL Pademangan Putri maju mewakili Kabupaten Pacitan dalam Lomba KRPL Tingkat Provinsi Jawa Timur. Desa Nanggungan merupakan pemenang lomba KRPL tingkat Kabupaten Pacitan. (Humas Pemkab/RAPP002)

 

Permalink ke Bupati Berharap Pacitan Bisa Ciptakan Produk Coklat dan Permen dari Kakao
Headline, Perkebunan

Bupati Berharap Pacitan Bisa Ciptakan Produk Coklat dan Permen dari Kakao

Indartato saat membuka pelatihan petani Kakao di Pacitan. (Foto: Pemkab Pacitan)

Pacitanku.com, PACITAN – Bupati Pacitan Drs H Indartato MM berharap pengembangan industri kakao di Kabupaten Pacitan terus meningkat. Saat ini, menurut data, untuk lahan tanaman kakao yang ada di Pacitan ini berada diurutan nomor dua terbesar di Jawa Timur setelah Jember.

Untuk memacu target tersebut,  Pemkab melalui Dinas Pertanian menggelar pelatihan petani kakao program pengembangan kakao berkelanjutan. “Jadi nanti ada permen coklat dan coklat dari Pacitan. Karena jika bisa mengembangkan itu nama Pacitan akan terangkat dan perekonomian utamanya juga akan terangkat,”kata Indartato, saat membuka pelatihan petani Kakao di Pacitan pada Selasa (1/8/2017).

Sebagaimana diketahui,  Desa Gembuk Kecamatan Kebonagung merupakan salah satu penghasil kakao yang ada di Pacitan. akan tetapi dalam pengolahannya setelah panen belum maksimal. “Budidaya penanaman kakao di Kabupaten Pacitan sendiri sudah dilaksanakan sejak 10 tahun yang lalu dan terus dikembangkan hingga saat ini,”katanya lagi.




Untuk diketahui, Kakao merupakan salah satu komoditas perkebunan yang penting dalam industri minuman dan makanan. Biji Kakao yang diolah melalui serangkaian proses dapat menghasilkan produk yang dinamakan dengan cokelat, suatu produk makanan maupun minuman yang sangat disukai oleh sebagian besar anak-anak dan remaja.

Dalam pelatihan tersebut juga akan diisi oleh pemateri dari Asosiasi Petani Kakao Indonesia (APKAI), Drs. Arif Zamroni, Pengolah Pasca Panen oleh Pusat Penelitian Kopi dari Kakao Indonesia, Andi Darmawan serta penumbuhan Industri Kakao Menengah/Kecil Daerah oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Pacitan, Joko Rinanto. (Pemkab Pacitan/RAPP002)

Permalink ke Bupati Pacitan Harapkan Semua Unsur Sukseskan Gerakan Tanam Cabai
Headline, Perkebunan

Bupati Pacitan Harapkan Semua Unsur Sukseskan Gerakan Tanam Cabai

Bupati Indartato bersama istri saat pencanangan Segera Tancab, Jumat kemarin. (Foto: Humas Pemkab Pacitan)

Pacitanku.com, PACITAN – Bupati Pacitan Drs H Indartato MM berharap semua unsur di masyarakat Pacitan menyukseskan gerakan Semua Gerak Tanam Cabai (Segera Tancab). Hal itu disampaikan disela agenda peluncuran Segera Tancap di Desa Nanggungan, Kecamatan Pacitan, Jumat kemarin.

Dikatakan Indartato, dirinya  berharap program tersebut dilaksanakan terus menerus. Apalagi sejumlah daerah di Kabupaten Pacitan sudah terbukti sukses dengan Program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL). Nantinya, pelaksanaan program Segera Tancab dapat dipadukan dengan KRPL.

“Ini (Desa Nanggungan) hanya permulaan saja. Nantinya saya harapkan dapat dikembangkan ke seluruh wilayah kecamatan. Tentu saja dengan melibatkan banyak unsur, termasuk PKK dan Dharma Wanita,”katanya, sebagaimana dikutip dari laman Pemkab Pacitan.

Selain itu, Indartato menilai bahwa prgram Segera Tancab ini adalah untuk mengurangi beban permintaan pasar. Disisi lain, gerakan yang satu ini diharapkan juga dapat memenuhi kecukupan pangan keluarga.”Terlebih dalam beberapa bulan kedepan Ramadhan akan tiba. Dan sesuai tradisi, permintaan akan kembali meningkat,”tandasnya lagi.




Senada dengan Indartato, Ketua DPRD Ronny Wahyono yang juga hadir pada kegiatan tersebut mengungkapkan, jika kemudian hasilnya baik, dengan sendirinya, kebutuhan akan terpenuhi. Dampaknya permintaan terhadap pasar juga akan menyusut. Sebab sesuai hukum pasar, stok barang sedikit maka harga akan naik.”Hukum ekonomi akan berlaku. Dimana harga menyesuaikan dengan jumlah barang,”katanya.

Dia berharap, gerakan tersebut diupayakan untuk dikembangkan ke semua wilayah. Tidak harus pada rumah tangga dengan pekarangan luas. Tetapi juga dapat dikembangkan pada lahan sempit dengan teknik penanaman tertentu.

Sebagai informasi, Segera Tancab merupakan sebuah gerakan dari pusat dan dicanangkan sejak bulan November 2016 lalu. Salah satu tujuan utamanya untuk menekan harga komoditas cabai yang tidak terkendali. Dimana saat ini harganya menyentuh angka Rp 135 ribu per kilogram. (RAPP002)

Permalink ke Indartato Harapkan Warga Pacitan Manfaatkan Pekarangan Rumah untuk Tanam Cabai
Headline, Pemerintahan, Perkebunan

Indartato Harapkan Warga Pacitan Manfaatkan Pekarangan Rumah untuk Tanam Cabai

Indartato dan istri saat memanen dalam gerakan tanam cabai, Jumat (24/2/2017). (Foto: Instagram Indartato)

Pacitanku.com, PACITAN – Harga komoditas kebutuhan pokok, seperti cabai yang masih melambung tinggi harus disiasati dengan memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam cabai. Ajakan dan imbauan menanam cabai di pekarangan rumah itu disampaikan oleh Bupati Pacitan Indartato.

Hal ini sekaligus sebagai upaya untuk menyukseskan gerakan tanam cabai yang dicanangkan Pemkab Pacitan. Program gerakan menanam cabai ini digalakkan Pemkab Pacitan guna meningkatkan produksi dan ketersedian cabai di pacitan yang saat ini melambung tinggi.

Melalui akun instagramnya, Indartato mengajak seluruh masyarakat Pacitan untuk memanfaatkan lahan pekarangan rumah ditanami tanaman yang menjadi kebutuhan sehari-hari.

“Ayo dulur Pacitan, manfaatkan lahan dan pekarangan kita untuk ditanami tanaman yang menjadi kebutuhan sehari-hari. Setidaknya untuk mencukupi kebutuhan sendiri, syukur jika bisa untuk menambah penghasilan,”jelasnya saat menggelar Gerakan menanam cabe di Desa Nanggungan, Kecamatan Pacitan pada Jumat (24/02/2017)




Ajakan untuk menanam kebutuhan pokok, terutama cabai ini disambut positif sejumlah kalangan. Kegiatan gerakan menanam cabai tersebut juga dihadiri jajaran pimpinan Kabupaten dan pimpinan Kecamatan Pacitan.

“Seperti diketahui bahwa harga cabai saat ini tinggi di pasaran. Untuk mengatasi gejolak harga cabai ini, pemerintah mendorong masyarakat dan petani menanam cabai minimal untuk konsumsi sendiri,” kata Kapolsek Pacitan, Ajun Komisaris Polisi Wahyudi yang ikut serta dalam penanaman cabai itu.

Dalam kegiatan tanam cabai itu, Indartato dan sejumlah undangan menanam sekaligus memanen cabai yang sudah ada di Desa Nanggungan.

Sebelum gerakan ini dicanangkan Bupati, salah satu anggota Forum Pacitan Sehat, Anang Sukanto juga telah mampu memanfaatkan lahan sempit di pekarangan rumahnya untuk menanam cabai dengan sistem polybag.

Sebagaimana diketahui, harga cabai rawit di Kabupaten Pacitan  mengalami kenaikan, dari sebelumnya hanya sekitar Rp60.000/kilogram kini tembus di kisaran Rp100.000/kilogram. Sementara, harga cabai keriting Rp. 50.000/kilogram dan cabai kering dihargai Rp.60.000/kilogram. (RAPP002)

Permalink ke Lahan Kritis di Pacitan yang Butuh Penanganan Capai 18 Ribu Hektar
Headline, Perkebunan

Lahan Kritis di Pacitan yang Butuh Penanganan Capai 18 Ribu Hektar

Hutan di Pacitan. (Dok.Pacitanku)

Hutan di Pacitan. (Dok.Pacitanku)

Pacitanku.com, KEBONAGUNG – Pekerjaan rumah Pemerintah Kabupaten Pacitan untuk menatasi lahan kritis dalam rangka pelestarian hutan masih menumpuk. Hal itu dibuktikan dengan fakta bahwa masih ribuan hektar lahan kritis di Pacitan yang butuh penanganan.

Mengatasi hal tersebut, Wakil Bupati Pacitan Yudi Sumbogo menyampaikan bahwa Pemkab Pacitan akan terus mendukung upaya pelestarian hutan di wilayahnya. Hal tersebut disampaikan Sumbogo saat membuka acara Peningkatan Peran Serta Masyarakat (PPSM) Dalam dalam Rehabilitasi Hutan dan Lahan Di Desa Mantren Kecamatan Kebunagung, Rabu (7/12) kemarin.

“Peran masyarakat menjadi kunci utama dalam menjaga kelestarian lahan dan hutan di Pacitan, lebih dari 80 persen hutan Pacitan adalah hutan rakyat yang pengelolaanya sangat bergantung kepada masyarakat,”katanya, dilansir dari laman Pemkab Pacitan.

Menurut Mbogo, pemerintah akan terus mendorong agar konsep kemitraan ini berjalan dengan baik. Bahkan jika perlu membentuk kelembagaan yang kuat bersama masyarakat untuk menjaga alam Pacitan tetap hijau. :Maskipun nanti Dinas Kehutanan Dan Perkebunan ikut Provinsi namun pemkab akan terus memberikan suport agar hutan di Pacitan tetap lestari,”tandasnya.




Lebih lanjut, Sumbogo menyebut bahwa membudayakan masyarakat dalam menjaga kelestarian hutan memang tidak mudah. Ini karena banyak masyarakat Pacitan yang bergantung pada alam sebagai sumber pendapatan. “Besarnya kebutuhan  ekonomi yang seyogyanya sebanding lurus dengan kepentingan ekologi inilah yang harus dimengerti masyarakat,”katanya lagi.

Sementara, Kepala Bidang Kehutanan, Dinas Kehutanan dan Perkebunan, Wardoyo dalam kesempatan yang sama menyampaikan bahwa masyarakat juga disarankan untuk menanami lahanya dengan tanaman penyangga air. “Semisal, Trembesi, aren, bendo, pucung dan gayam. Jenis tanaman tersebut selain dapat dimanfaatkan hasilnya juga sebagai penyimpan air yang kuat,”ujarnya.

Lebih lanjut, Wardoyo menyampaikan bahwa masih banyak lahan kritis di Pacitan yang membutuhkan penanganan.

“Saat ini lahan kritis yang masih membutuhkan penanganan mencapai 18 ribu hektar. Lahan tersebut kebanyakan berada di bukit curam dengan lahan yang kurang produktif karena tanahnya cadas, banyak berada di kawasan utara seperti Tegalombo, Arjosari dan Nawangan,”ungkapnya.

Sebagai informasi, pencanangan PPSM RHL di Desa Mantren Kecamatan Kebunangung diikuti oleh seluruh elemen masyarakat. Selain Forum komunikasi pimpinan daerah hadir juga mitra pemerintah dalam pengelolaan hutan dan perkebunan. Dalam kesempatan tersebut ditanam kurang lebih 10 ribu bibit pohon dengan jenis, Trembesi, Sengon Jabon dan Mahoni. (Riz/RAPP002)

Permalink ke APKAI Bangun 10 Demplot Kakao di Pacitan dan 4 Daerah Lain di Jatim
Perkebunan

APKAI Bangun 10 Demplot Kakao di Pacitan dan 4 Daerah Lain di Jatim

Kebun Kakao. (Foto : Mongabay)

Kebun Kakao. (Foto : Mongabay)

Pacitanku.com, SURABAYA – Asosiasi Petani Kakao Indonesia (APKAI) akan membangun 10 demonstration plot (demplot) kakao di Jawa Timur pada 2016 ini. Hal itu menyusul adanya peningkatan permintaan kakao di Jatim. Demplot merupakan kebun percontohan, di mana dengan demplot ini petani turut membudidayakan kakao di Jatim.

“Setiap tahun produksi Kakao kami selalu minus tiga persen, karena saat ini kakao sebagai salah satu komoditas yang trending topic,” ujar Ketua Umum Apkai Arif Zamroni, di Surabaya, Senin 15 Agustus.

Sejauh ini, kata Arif, kakao asal Indonesia telah diekspor ke beberapa negara. Di antaranya, Timur Tengah, Korea, Turki, Tiongkok, Taiwan, Singapura, dan beberapa negatra lain di ASEAN. Meningkatnya kakao ini karena komoditas multifungsi. “Selain dapat digunakan untuk kosmetik, juga dapat digunakan untuk makanan, dan kesehatan. Saat ini Indonesia merupakan komoditas terbesar di Asia dan terbesar ke tiga dunia,” tambah dia.

Menurutnya, semakin berkembangnya kakao justru membuat banyak petani yang lebih memilih menjual kakao ke dalam negeri karena biaya ekspor kakao masih tinggi, yakni selisih lima persen dibanding pasar dalam negeri. “Apalagi saat ini, pabrik kakao multinasional dari Singapura dan Malaysia telah didirikan di Jatim,” kata Arif.

Untuk memenuhi permintaan kakao, kata dia, pihaknya akan membangun 10 demplot di lima kabupaten di Jatim yakni di Pacitan, Blitar, Trenggalek, Malang, dan Bondowoso. Pembangunandemplot ini juga merupakan salah satu bentuk kerja sama dengan Uni Eropa. “Demplot ini nantinya juga bisa berupa rehabilitasi, revitalisasi atau penanaman lahan baru khususnya bagi petani,” ujarnya.

Dengan adanya demplot ini diaharapkan produksi kakao per hektare (ha) per tahun sekitar 500 kilogram (kg), akan menjadi satu ton per ha per tahun. Sedangkan produksi kakao secara nasional mencapai 10 hingga 20 ton per hari. Dengan jumlah tersebut, maka permintaan kakao baik dalam negeri maupun luar negeri dapat teratasi. “Sebenarnya perubahaannya tidak terlalu signifikan, apalagi demplot tersebut hanya sekitar empat tahun, tapi paling tidak petani yang sebelumnya tidak tanam kakao jadi tertarik,” pungkasnya. (Metrotvnews)