Rupiah Dekati Rp18.000, HIPMI Pacitan Ingatkan Pengusaha Tahan Ekspansi dan Waspadai Lonjakan Harga

oleh -127 Dilihat
Ketua HIPMI Pacitan, Willy Rizki Cahya Pambudi
Ketua HIPMI Pacitan, Willy Rizki Cahya Pambudi, menyoroti dampak nilai tukar rupiah yang mendekati level Rp18.000 per dolar AS terhadap keberlangsungan sektor riil dan potensi lonjakan harga bahan pokok.

Pacitanku.com, PACITAN – Nilai tukar rupiah yang terus tertekan hingga mendekati level Rp18.000 per dolar AS menjadi hantaman serius bagi pelaku usaha.

Menanggapi situasi ini, Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Pacitan, Willy Rizki Cahya Pambudi, mengimbau para pengusaha untuk sementara waktu menahan ekspansi bisnis demi menjaga margin di tengah pelemahan daya beli masyarakat, Jumat (12/6/2026).

Willy menegaskan, tekanan rupiah yang terjadi bersamaan dengan kenaikan suku bunga akan berdampak langsung pada sektor riil. Melambatnya laju produksi, turunnya margin keuntungan, hingga tertahannya penciptaan lapangan kerja baru menjadi ancaman nyata yang harus dihadapi dunia usaha saat ini.

“Saat ini dunia usaha masih bisa bertahan dalam jangka pendek, tetapi napasnya semakin tipis. Jika rupiah terus berada di level tinggi terlalu lama, tekanan ke harga konsumen akan semakin sulit dihindari. Sederhananya, harga pasar akan cenderung naik,” kata Willy, Jumat (12/6/2026) di Pacitan.

Menurutnya, sektor yang paling terdampak adalah industri dengan rasio impor tinggi. Beberapa di antaranya meliputi manufaktur, farmasi, elektronik, otomotif, makanan-minuman berbahan baku impor, hingga tekstil. Kondisi ini juga menekan perusahaan yang memiliki kewajiban utang dalam bentuk dolar AS.

Meski sektor berorientasi ekspor dinilai bisa mendapat keuntungan selisih kurs, Willy menyebut kenyataan di lapangan tidak sesederhana itu. Banyak eksportir yang proses produksi dan logistiknya masih berbasis dolar AS.

“Saat ini banyak pelaku usaha yang kegiatannya masih bergantung pada bahan baku impor, mesin, logistik internasional, dan pembiayaan valuta asing. Dunia usaha sedang berada dalam posisi menahan beban. Di satu sisi, biaya produksi naik karena kurs melemah, namun di sisi lain daya beli masyarakat belum sepenuhnya kuat sehingga pengusaha tidak bisa serta-merta menaikkan harga ke konsumen,” ungkapnya.

Di luar persoalan margin perusahaan, Willy juga menyoroti potensi efek domino fluktuasi mata uang ini terhadap ketahanan ekonomi masyarakat di tingkat bawah.

“Saya lebih mengkhawatirkan kondisi masyarakat kita. Jika ini tetap berlangsung, pasti berimbas pada harga-harga bahan pokok yang melambung tinggi karena terpicu oleh nilai tukar rupiah yang melemah,” pungkas Willy.

Dinamika Kurs Rupiah Pekan Ini

Berdasarkan data transaksi pasar spot, tren nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih menunjukkan volatilitas yang tinggi. Pada perdagangan Jumat (12/6/2026) pagi, mata uang RI dibuka menguat 59 poin atau 0,33 persen di level Rp17.930 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.989.

Fluktuasi ini melanjutkan dinamika hari-hari sebelumnya. Pada Rabu pagi, rupiah sempat bergerak menguat 158 poin ke level Rp17.900 per dolar AS dari sebelumnya Rp18.058.

Sementara itu, pada transaksi Kamis pagi rupiah dibuka di angka Rp17.941, naik tipis dari penutupan sebelumnya di level Rp17.944 per dolar AS. Namun, pada penutupan perdagangan Kamis sore, rupiah kembali melemah 45 poin menjadi Rp17.989 per dolar AS. Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari yang sama juga tercatat melemah ke level Rp17.981 dari sebelumnya Rp17.971 per dolar AS.

No More Posts Available.

No more pages to load.